Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.26 Bukan siapa-siapa lagi


__ADS_3

“Jadi kamu ke kota dan berpacaran dengan laki-laki ini Nis?” sergah mas Yudi, yang tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan kami, lagi... mata semua orang tertuju pada kami, padahal saat ini mbak Intan dan mas Anton baru saja melakukan ijab Qabul.


Aku melihat sekilas ke arah mas Gibran, untuk melihat bagaimana reaksi nya. Ternyata ia santai menanggapi mas Yudi yang seperti sedang menggebu-gebu emosi nya.


“Jaga bicara kamu ya mas! jangan asal nuduh!”


“Halah! kamu gak maafin aku karna kamu udah punya cadangan kan? dasar perempuan murahan, kamu gak ada bedanya sama Desi Nis!”


PLAAAK!


Aku menampar keras pipi mas Yudi, terserah jika orang-orang sekarang melihat kami, aku muak sekali dengan tuduhan nya itu, dulu.. saat kejadian dengan Fadil, aku diam tak berani bersuara. Tapi sekarang rasanya aku jengah, dia yang mengkhianati aku, lantas sekarang dia menuduh ku berbuat hal yang sama?


Mas Gibran juga nampak kaget melihat reaksi spontan yang aku lakukan, selama ini bahkan aku tidak pernah berkata kasar didepan mereka.


“Kamu nampar aku Nis..” ucap mas Yudi dengan parau, sambil memegangi pipi nya bekas aku tampar tadi.


“Iya.. kenapa? kamu gak terima?” jawab ku lantang, Ibu yang berdiri dibelakang bude Lastri menatap ku nanar. maaf Bu.. kali ini aku tidak bisa menahan diriku lagi. Amarah selama 2 tahun ini akan aku perjelas hari ini.


“Nis kamu itu masih tun_”


“Mantan mas! mantan tunangan.. jangan menganggap, kau masih memiliki aku! kamu lupa apa yang udah kamu lakuin??” tanya ku geram, mas Yudi bergeming, bibir nya ia katupkan rapat-rapat, seolah tak berani bersuara.


“Secinta apa aku dulu sama kamu hah? kamu larang aku untuk Deket sama temen laki-laki.. aku turutin, karena aku menghargai kamu sebagai pasangan ku, calon imam ku! tapi apa yang kamu lakuin mas? kamu selingkuh! bahkan menghamili temen aku sendiri, kamu ingat aku gak saat kamu enak-enak sama dia!” ku tunjuk wajah Desi yang pucat pasi, suasana mendadak hening, perhatian yang tadi nya tertuju pada pengantin, kini malah berbalik ke arah kami. Maafkan aku pakde.. Aku merusak acara sakral ini dengan drama yang sangat-sangat aku hindari.

__ADS_1


“Nis.. Aku masih sayang sama kamu, aku akui aku khilaf.. aku terpedaya sama bujuk rayu dia Nis.. tolong dengarkan aku!”


“Khilaf?? kamu bilang kamu khilaf mas?Sampek berulang kali dan menghasilkan benih gitu?” ejek ku padanya, Desi melengos sambil mencebikkan bibir nya. Mungkin ia tak terima dengan kalimat sarkas yang keluar dari mulut ku.


“Bukan be_”


“Sudahlah.. aku ada disini bukan untuk mendengarkan semua penjelasan mu, tapi untuk mbak Intan dan mas Anton, sadar mas.. kamu sudah punya anak sekarang, jadilah Ayah yang bertanggung jawab pada keluarga mu!”


“Mas Yudi sangat bertanggung jawab pada kami kok! kamu jangan mengejek rumah tangga ku Nis! urus saja hidup mu yang tak laku-laku itu, kamu masih betah sendiri sampai sekarang itu karena belum bisa move on kan?” sahut Desi, mungkin ia tak terima jika suami nya aku permalukan disini, ku lirik mas Yudi yang tiba-tiba melebarkan mata nya mendengar Desi, ada raut yang tiba-tiba terang disana.


“Kamu sungguh belum bisa move on dari ku Nis.. sudah kuduga, sebab itu aku mau kita kembali seperti dulu.. aku akan mencerahkan Desi Nis.. demi kita!” tangan mas Yudi terulur dan ingin meraih tangan ku, namun mas Gibran sudah lebih dulu berada di hadapan ku, menepis tangan mas Yudi.


“Jangan mimpi!! kamu kira hati adikku terbuat dari apa?” sergah mas Gibran.


“Ya.. dia adik ku, dan aku adalah Gibran.. anak kedua dari pakde nya Nisa,” Mas Yudi membulat kan matanya, mungkin ia terkejut dan malu karena sudah salah sangka.


“Kamu apa-apaan sih mas! kok malah mau balik sama Nisa, kamu gak mikirin kami berdua?”


“Tenang aja Des, aku juga gak mau balik sama laki-laki yang hobi selingkuh kayak dia, Justru aku berterima kasih karena kau sudah merampas laki-laki seperti dia!” jawab ku dengan menatap sinis ke arah mas Yudi.


“Nisa... apa aku gak berhak dapat kesempatan kedua?” tanya mas Yudi dengan suara yang begitu lirih.


“Maaf mas, tapi hatiku terlalu sakit! stop menganggu ku dan fokuslah pada keluarga mu!” jawabku, lantas aku pergi dari sana.. kasihan jika mbak Intan dan mas Anton harus menunda acara mereka gara-gara aku.

__ADS_1


Ibu mengejar ku sampai kedalam rumah.


“Nisa?” panggil ibu.. aku membalikkan badan dan kulihat ada Bu Santi juga disana.


“Ibu.. Bu Santi?”


“Maafkan sikap Yudi ya Nis.. Ibu juga bingung harus bagaimana, selama 2 tahun ini, ia bersikap acuh pada dirinya sendiri dan juga Desi.. bahkan kehadiran Farlina, tidak mengubah apapun!


Ia tidak pernah pergi bekerja, sampai-sampai ia harus dipecat gara-gara itu! setiap hari ia dan Desi selalu ribut, dan yang diributkan itu kamu.. Ibu sama bapak gak tahu lagi harus bagaimana Nis, mau kamu bantu ibu?” tatapan Bu Santi mengiba, aku jadi bingung dan gusar .. bantuan apa yang dimaksud dengan ibu nya mas Yudi ini.


“Maksud mu bagaimana mbak Santi?”


“Iya Bu.. maksud ibu? bantuan apa?” tanya ku yang sudah sangat penasaran, ku lihat ia meneguk ludah nya sendiri, seperti nya permintaan nya juga agak berat hingga dia sampai gugup seperti itu.


“Kalau memungkinkan.. Cepat lah menikah Nis.. agar Yudi berhenti menganggu dan berharap padamu!”


“Apa??” aku sedikit terkejut dengan permintaan mantan calon mertua ku ini, aku kira dia akan meminta ku untuk menikah dengan anak nya, tapi ternyata... permintaan lain yang justru sulit saat ini, hatiku masih terasa sakit, mustahil akan sembuh dalam waktu yang singkat, dan lagi.. sampai sekarang aku belum punya siapa-siapa yang dekat dengan ku saat ini. Aku menarik nafas dalam-dalam.


“Bu.. pernikahan itu hal yang sangat sakral, dan jujur saat ini aku belum memikirkan untuk menikah, karena jujur aku belum punya teman dekat saat ini,”


“Ibu tahu.. tapi pikirkan kata-kata ibu barusan ya.. ibu do‘akan kamu cepat dapat jodoh yang jauh lebih baik sikap dan sifat nya dari Yudi!” tambah Bu Santi lagi, aku diam tak menjawab ucapannya.


Melihat aku yang diam tak menjawab, Buk Santi datang mendekati ku. Ia mengusap pipi ku dengan lembut.

__ADS_1


“Jangan trauma dengan pernikahan ya Nak.. percayalah Allah sudah menyiapkan seseorang yang jauh lebih baik lagi, ibu percaya itu!”


__ADS_2