
Nisa terpelongo mendengar Ilyas meminta nya memanggil mas. Agak aneh menurutnya, apalagi Nisa kembali teringat dengan kata-kata Gibran kalau sebenarnya Ilyas menyukai dirinya.
‘Ya Tuhan.. perasaan macam apa ini,’ gumam Nisa dalam hati. Nisa berasa hatinya seperti ditabuh oleh gendang yang saling bersahut-sahutan. Ilyas yang paham kalau Nisa merasa canggung pun sadar akan hal itu.
“Maaf Nis, kalau kamu merasa tidak nyaman, gak usah dipaksain.. senyaman nya kamu aja manggil aku apa,” ucap Ilyas pada akhirnya. Ia. sadar jika dia tidak boleh terburu-buru memaksakan kehendak nya.
“Iya gak apa-apa pak, eh.. maksud nya mas!” jawab Nisa agak malu-malu, membuat senyum Ilyas mengembang dengan sempurna.
“Mas mau bicara apa? maaf sebelumnya.. tapi rasanya gak enak kita bicara berdua disini, sementara om dan Tante serta mas Gibran ada didalam,” Ia ingat nasehat Gibran, jika sedang berduaan dengan lawan jenis ,maka yang ketiga nya itu setan.
“Emm.. oke.. aku akan mengatakan sesuatu, tapi tolong Nis, jangan disela dulu sampai aku selesai ya?” kata Ilyas, bukan tanpa alasan dia memberi syarat seperti itu, karena jika dia sedang bicara serius lalu di sela, makanya semua isi kepala nya akan buyar, dan jadi tidak fokus. Apalagi ini mengenai masalah masa depannya.
Nisa mengangguk tanda setuju. Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasa agak gugup dengan apa yang akan dikatakan Ilyas, entah mengapa dalam hatinya merasa deg-degan seperti Ilyas akan melamar nya saja.
“Nis, aku tahu mungkin ini terkesan tidak sopan atau apalah menurut kamu, tapi aku jujur.. kalau aku itu.. menyukai kamu! dan aku ingin kamu jadi istriku!”
Deg!
Hati Nisa tidak siap menerima serangan mendadak seperti ini.
__ADS_1
“Maksudnya pak? eh.. mas!”
“Aku ingin menikahi kamu Nis!” jawab Ilyas dengan lantang, mendadak lutut Nisa menjadi lemas, tiba-tiba bayangan tentang Yudi melamarnya dulu kembali berputar di otak nya. Setelah itu pengakuan mang Adi serta bik Nur yang mengatakan kalau Desi hamil anak calon suami nya kembali menggema di telinga nya. Hingga Nisa sampai mengeluarkan keringat dingin, dan ia menutup telinga nya dengan kedua telapak tangannya. Ilyas bingung, kenapa respon Nisa seperti ini. Ia ingin menyentuh pundak Nisa namun ia urungkan, segera ia berlari untuk memanggil Gibran dan kedua orang tuanya.
“Gibran! tolongin Nisa!” teriak Ilyas dengan lantang dan tergesa-gesa, membuat Gibran langsung terlonjak kaget, ia langsung berhambur keluar untuk menghampiri Nisa, begitu juga dengan Bu Arumi dan Pak Bahari. Mereka juga cemas akan keadaan Nisa yang tidak tahu kenapa, sampai membuat Ilyas begitu cemas.
Gibran mendapati Nisa yang sudah terduduk lemas diatas rumput dengan keringat dingin dan kedua tangan yang menutupi telinga yang berbalut hijab panjang itu.
“Ya Allah Nis, kamu kenapa?” tanya Gibran panik. Nisa seperti orang bingung.
“Desi mas.. Desi hamil anak mas Yudi! mereka berdua sudah mengkhianati aku.. enggak! aku gak mau nikah sama Mas Yudi, jauhkan dia dari aku mas!” teriak Nisa dengan histeris membuat Bu Arumi dan Pak Bahari saling berpandangan.
Gibran langsung memeluk adik sepupunya itu, ia mencoba menenangkan Nisa.
‘Sesakit itu kah masa lalu mu Nis.. sampai trauma itu hadir! maaf, karena aku kau kembali mengingat laki-laki brengsek itu!’ lirih Ilyas.
“Yas.. memang nya kenapa , sampai Nisa seperti itu?” bisik Bu Arumi.
“Tadi Yas mengutarakan niat baik Yas untuk melamar Nisa ma.. tiba-tiba Nisa langsung panik dan histeris begitu, Yas juga bingung dia kenapa, tapi mendengar ucapan nya dengan Gibran barusan, sepertinya Nisa itu trauma dengan kata-kata menikah,” jawab Yas. Praduga nya tentang Nisa trauma semakin besar. Sungguh luar biasa laki-laki itu menyakiti Nisa, sampai setelah bertahun-tahun pun luka itu masih begitu membekas dihatinya.
__ADS_1
“Memangnya Nisa pernah Nikah?”
“Enggak ma, tapi batal nikah! Dua tahun yang lalu, Nisa sempet mau nikah sama pemuda di desa nya, tepat tiga hari sebelum hari H, Nisa tahu kenyataan yang buat dia syock berat,” akhirnya Ilyas menceritakan seluruh cerita yang ia dengar dari Gibran, tanpa mengurangi ataupun menambahi.
“Astaghfirullah, kok kayak di film-film gitu sih Yas kisah nya Nisa, pasti sakit banget kalau ada diposisi nya waktu itu!”
“Ya jelas lah ma sakit, kalau enggak , gak mungkin dia sampai setrauma ini kan,”
Bu Arumi dan pak Bahari merasa kasihan dengan nasib yang dialami Nisa. Nisa sudah memejamkan matanya, dan Gibran membawa nya masuk kedalam mobil, dengan sangat hati-hati.
“Maaf atas kejadian ini ya om, Tante.. jujur, saya sebagai kakak sepupunya juga baru tahu dan baru pertama ini melihat Nisa seperti ini, mungkin trauma nya masih ada Yas,” kata Gibran, setelah meletakkan Nisa didalam mobil.
“Gak apa-apa Gib, gue minta maaf.. karena tadi gara-gara gue ngelamar Nisa, dia jadi syock berat gini..”
“Iya Nak Gibran, kami bisa ngerti kok.. kasihan Nisa, apa gak sebaiknya dibawa ke psikiater aja? kalau terus-terusan begini ,.dia gak akan bisa lupa sama masa lalu nya.. dan akan sulit untuk masa depannya, maaf bukan maksud gimana-gimana, tapi ini semua demi kebaikan nak Nisa,. ke psikiater bukan berarti dia sakit jiwa kan? tapi setidaknya dia lebih bisa mengontrol emosi nya dan rasa takut nya itu!” usul Pak Bahari dengan hati-hati, ia takut jika Gibran akan tersinggung dengan maksudnya.
“Iya bener Gib, saran papa gue ada bener nya, kita harus bisa bantu Nisa keluar dari masa lalu nya,” sambung Ilyas.
“Oke.. nanti di obrolin dulu sama Bulek Susan, kakek juga bapak , gimana pun ini harus di diskusikan, dan terutama Nisa nya, apa dia mau ke psikiater atau enggak,” jawab Gibran, usulan Pak Bahari tidak salah. Seperti nya Nisa harus dibawa kesana, selama ini Gibran sama sekali tidak menyangka kalau Nisa masih menyimpan luka itu dengan sangat dalam, hingga menimbulkan trauma.
__ADS_1
Nisa hanya trauma dengan kata-kata ajakan untuk menikah, akan kah kata-kata itu membuka akses luka lama nya. Yang sebenarnya Nisa sendiri tidak menginginkan hal itu terjadi. Itu juga sebab nya dia menolak menikah cepat?
Seluruh pertanyaan itu berputar di kepala Gibran. Saat ini ibunya Nisa , kakek serta bapak nya harus tahu dulu kondisi emosi Nisa.