Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.17 Tutup lembaran lama


__ADS_3

Pakde Malik mengusap lembut pipi ku, wajah nya benar sekali menampakkan kecemasan sama seperti Ibu, lalu Bude Lastri , istrinya pakde Malik datang juga ikut memeluk ku.


Pakde Malik dan bude Lastri memang tidak punya anak perempuan, anak nya hanya dua dan itupun laki-laki semua. Satu sudah menikah mas Fauzan dan yang kedua masih seusia ku, Gibran.


“Ayoo sayang?” ajak bude Lastri, dan setelah kami sudah diambang pintu, barulah Gibran muncul. Ia juga menyalami kakek kami serta ibuku.


Yahya dan Fadil juga tidak diizinkan pulang ke desa malam ini, besok subuh barulah mereka boleh berangkat lagi, mereka disuruh istirahat dikamar tamu dulu. Malam itu setelah kami dijamu makan malam , kakek mulai bicara serius.


“Lik, sepertinya Nisa bakal lama disini! katanya dia mau cari kerja juga, biar gak nganggur dan bisa bantuin ibunya di desa!” pakde menatapku.


“Gak masalah pak, malah aku gak mau mau Nisa itu balik ke desa lagi, laki-laki brengsek itu pasti akan terus mengganggu dia,” terang pakde Malik.


“Udah kek, kakek tenang aja.. besok aku bakal antar Nisa ketempat temen aku yang punya salah satu cafe terbaik disini, dia baru buka cabang, dan masih butuh pekerja yang banyak.” tambah mas Gibran


“Serius mas?”


“Iya Nisa.. udah kamu tenang aja kalau soal kerjaan, berhubung kamu cuma tamatan SMK aja, jadi ya bekerja sebagai waiters aja adanya saat ini, nanti kalau misal nya ada kerjaan di pabrik atau gudang gitu bakal aku kasih tahu juga!” jelasnya lagi.


“Kamu sendiri kerja dimana mas Gibran?”


“Aku kan lanjut kuliah Nis, tapi ya kerja sambilan juga di salah satu perusahaan , hanya staff disana ,”


“Harus tetap bersyukur.. apapun pekerjaan nya yang penting halal!” tukas kakek. Mas Gibran hanya mengangguk kan kepala nya saja.


“Iya kek.. Kamu harus bisa lupain kejadian menjijikan itu Nis.. aku benci banget ada laki-laki yang seenak nya begitu, uantung aku tidak ada disana, kalau tidak sudah habis babak belur dia aku buat!” kata Mas Gibran lagi, kelihatan memang kalau raut wajah nya marah, aku tidak punya saudara kandung, hanya anak tunggal saja.. jadi kakak sepupu ku ini lah yang jadi pelindung ku, mas Fauza dan mas Gibran anak dari pakde Malik, sedangkan Mas Andre dan Kak Tiara adalah anak dari pakde Warno.

__ADS_1


“Sudahlah mas, sudah aku putuskan untuk menutup semua lembaran usang ku raoat-rapat, tolong jangan ingatkan atau memaksa ku membuka nya lagi. Aku ingin membuka lembaran baru.. ” jawabku penuh tekad.


“Bagus sayang.. Masya Allah.. tadi nya bude ragu banget, karena banyak loh mental seseorang yang gak kuat diuji seperti ini, ada yang melampiaskan nya dengan bunuh diri, kan banyak tuh berita di tv yang menyiarkan kabar bunuh diri nya seseorang disebab kan karena putus cinta!” sahut bude Lastri.


“Iya mbak.. aku juga punya pikiran yang sama, aku takut banget kalau Nisa Sampek nekat gitu.. Alhamdulillah nya anak ku kuat mbak!” tambah Ibuku.


“Terkadang musuh terbesar kita itu ya orang-orang terdekat kita sendiri,” sela pakde Malik.


Benar sih yang ia katakan, musuh terbesar kita itu adalah orang-orang terdekat kita, benar juga yang dikatakan bude Lastri, kalau mungkin ada sebagian orang yang tidak kuat mental nya diperlakukan seperti ini, Alhamdulillah Allah masih memberi ku kewarasan untuk berfikir secara sehat, bodoh sekali yang mengatakan jika aku tidak bisa hidup tanpanya, hingga rela tetap bersama meski selalu makan hati.


Tapi aku bukan tipe perempuan yang seperti itu, aku akan berontak kalau aku merasa itu sudah salah dan melewati jalur. Meski orang-orang didesa mengatakan.. kalau aku sanggup menghadiri pesta pernikahan mantan calon suamiku, padahal jika ditilik.. aku tak sekuat itu , namun aku juga tidak bodoh.. aku datang kepesta pernikahan mereka karena ingin memastikan Yudi dan Desi sah menikah secara resmi maupun agama. Aku tidak mau dituding masih menangisi dan meratapi keadaan yang dibuat oleh Yudi, tidak sama sekali.


Dunia itu masih luas.. mungkin.. akan butuh waktu untukku membuka hati kembali..


Dirumah Desi


Yudi memasuki kamar pengantin mereka, Desi melengkungkan bibir nya karena bahagia, sedangkan Yudi menunjukan wajah yang berbanding terbalik. Wajah nya lesu bahkan tidak semangat sama sekali.


“Mas..Kamu bahagia gak?” Yudi menatap malas pada Desi yang kini mulai melepas perhiasan yang menempel di rambut nya.


“Kau gila Des! ini bukan kesepakatan kita!”


“Iya tapi aku sayang sama kamu mas, ya aku gak mau lah.. kamu nikah sama Nisa!” jawabnya enteng,membuat darah Yudi agak mendidih.


“Kau bilang kita hanya saling memuaskan satu sama lain, lalu kenapa kau bisa hamil.. aku gak yakin kalau itu anak ku!”

__ADS_1


“Jaga bicara mu ya.. hanya kau yang terakhir menyentuh ku, jangan mengelak dari tanggung jawab, lagian aku bosan hanya jadi simpanan mu! sedangkan Nisa yang menikmati semua nya,”


Yudi beranjak dari tempat tidur dan mencekal kuat lengan Desi, hingga gadis itu meringis kesakitan.


“Sudah untung aku masih sering memberikan mu uang, aku menyentuh mu juga tidak gratis! dan aku tetap butuh Nisa sebagai Ibu yang baik buat anak-anak ku kelak!”


“Lepas mas! jangan munafik lah, kalau kemarin saat di balai desa aku bilang bahkan kau sudah sangat sering menyentuh ku apa yang bakal orangtua mu rasakan, dan gadis yang kau cintai itu.. si Nisa!! dia bakal jijik liat kamu tau gak!” Yudi menyugar rambut nya dengan kasar, ia frustasi karena harapan nya untuk menikah dengan Nisa tidak terwujud.


Desi datang perlahan dan mendekati suami nya, kini ia sudah berganti pakaian dengan baju tidur yang sangat tipis, perut nya yang sudah sedikit menonjol itu tidak ia pedulikan lagi.


Namun karena Yudi berasa kesal, ia menepis semua godaan Desi dan menyentaknya dengan kasar.


“Please mas.. aku kangen banget disentuh sama kamu!”


“Kalau aja saat ini aku nikah sama Nisa, kita masih bisa seperti dulu Des.. karena berhubungan secara diam-diam itu lebih menantang, aku gak ada minat untuk nikah sama kamu!” Balas Yudi lalu ia pergi kekamar mandi.


Desi mendengus kesal, sudah menikah pun penghalang nya tetap satu yaitu Nisa!


Tetap saja Nusa lebih unggul darinya, meski segala cara telah ia coba untuk membuat semua yang menyukai Nisa beralih pada dirinya.


Nisa berganti pakaian piyama biasa dan keluar kamar menghampiri ibunya yang membuat Teh di dapur.


“Bu.. aku mau dong teh nya.. sama roti ya kalau ada.. dari tadi aku belum makan!”


“Ini kan malam pengantin mu, kok kamu diluar?”

__ADS_1


__ADS_2