Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.36 Gejolak batin


__ADS_3

Sinta masih menyimak apapun yang Nisa ucapkan, dari kata-kata yang keluar begitu saja, membuat Sinta yakin kalau Nisa pernah sangat mencintai mantan calon suami nya itu.


Sepertinya luka yang ditorehkan mantannya begitu membekas dan sulit hilang dari hati nya.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Nisa mengangguk.


“Apa yang kamu rasakan sekarang ini, setelah menceritakan semua nya padaku?”


“Entahlah mbak, mungkin ada rasa sedikit lega karena aku membaginya dengan mbak.. tapi hanya sedikit, maaf mbak.. Aku juga bingung dengan gejolak batin ini,


Bagiku, pengkhianatan itu sangat fatal, meski seluruh bagian dari diriku ini masih ingin bertahan, tapi sekeping hati ku yang lain menolak! Aku gak bisa egois membiarkan anak itu lahir tanpa Ayah, sebab itu aku memutuskan membatalkan pernikahan kami!”


“Nisa.. mungkin aku belum pernah ada diposisi kamu.. tapi kalaupun saat itu kamu mempertahankan hubungan kalian untuk sampai ke jenjang yang lebih serius, kamu justru akan merasakan hal yang jauh diluar nalar kamu, menurut saya.. keputusan kamu untuk mengakhiri hubungan itu sudah tepat! karena apa.. karena kamu akan merasakan takut akan kesakitan yang terulang, kepercayaan yang sirna dan rasa was-was selalu membayangi hubungan kalian!


memang, semua orang berhak untuk berubah dan mendapatkan kesempatan kedua! tapi tidak menutup kemungkinan orang itu akan mengulangi kesalahannya kan?” jawab Sinta.


Nisa membuang pandangannya kearah lain, dan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan, lolos begitu saja. Semua orang punya kesempatan kedua, tapi ia juga berpeluang melakukan hal yang sama dikemudian hari. Kalau saja ia tidak bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah ia perbuat dengan Desi. Tidak menutup kemungkinan semua itu juga akan terjadi pada nya kan.


‘Enggak! aku sudah berhasil berjalan sejauh ini, dan melepaskan mas Yudi pada orang yang semestinya, jangan lemah Nisa.. Please jangan lemah.. berjuang lah untuk dirimu sendiri, berjuang lah untuk senyum ibu dan kakek.. dan orang-orang yang tulus menyayangi mu.. Ayolah.. kamu pasti bisa.. Hapus luka itu dari dalam sana ya Allah.. biarkan aku juga merasakan hal yang bahagia!’ lirih Nisa dengan mata yang terpejam.


“Nisa...” panggil Sinta. Nisa tersentak, dan bangun dari lamunan nya.


“maaf mbak Sinta..”


“Gak apa-apa.. apa yang kamu rasakan sekarang?”


“Aku menyadari satu hal mbak, melihat kondisi mas Yudi saat ini, jujur aku sempat goyah.. tapi kata-kata mbak barusan menyadarkan aku untuk tidak bertindak seperti itu, keputusan ku sudah tepat, mungkin aku belum ikhlas dengan kejadian yang menimpa ku dulu, hingga aku masih merasakan ketakutan itu.. aku akan coba pelan-pelan mbak!” Sinta tersenyum mendengar perkataan Nisa.


“Saat seseorang mendapatkan rasa sakit yang luar biasa, ada hal baik dibalik semua itu, misal nya.. dalam kasus kamu, bisa jadi Allah sudah menyiapkan seseorang atau jodoh yang jauh lebih baik dari Yudi, lebih bijaksana, lebih bisa menghargai kamu sebagai wanita nya, dan hanya cukup dengan kamu seorang!” Sinta mengambil tangan Nisa dan menggenggam nya.


“Nisa, jangan lemahkan dirimu untuk orang-orang yang tidak pantas mendapatkan kamu.. berprasangka baik aja sama Allah,” sambung Sinta lagi.


“Makasih banyak mbak.. aku lebih lega sekarang, apa ada sesi konsultasi selanjut nya?”


“Gimana mau nya kamu aja Nis, kapan pun kamu butuh, saya siap dan selalu bisa,” jawab Sinta dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


“Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya mbak..”


“Oke.. hati-hati dijalan..” Nisa mengangguk lalu berjalan keluar,


“Nisa.. kata-kata saya barusan, tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan saya dengan Ilyas ya.. semua terserah kamu.. dengan siapapun kamu menikah kelak.. semoga kamu bisa bahagia dan menemukan orang yang tepat,” ucap Sinta sebelum Nisa benar-benar keluar dari ruangannya. Nisa mengulas senyumnya, ia cukup terkesan dengan Sinta memperlakukan diri nya, ia tak memaksa dirinya untuk menerima Ilyas karena mereka sepupuan.


Saat Nisa keluar dari ruangan Sinta, Ilyas masih setia menunggu disana sambil memainkan ponsel.


“Mas?” panggil Nisa pelan.


Ilyas mendongak dan melihat wanita nya ternyata sudah selesai.


“Sudah selesai?”


“Sudah.. mbak Sinta gak ikut keluar karena sudah ada orang lain yang menunggu untuk konsultasi padanya,”


“Gak apa-apa.. kita pulang sekarang?”


“Boleh..”


“Emm, Nis.. Gimana perasaan kamu sekarang?” tanya Ilyas hati-hati.


Sedangkan Nisa berasa salah tingkah, ia pikir jika Ilyas menanyakan perasaan balasan untuk nya karena pernyataan Ilyas tadi malam.


“Ma-ksud nya?”


“Kok gugup sih? aku cuma nanya.. gimana perasaan kamu setelah bertemu dengan Sinta? gak ada maksud lain Nis,”


“Oohh.. maaf mas...aku pikir_”


“Tentang tadi malam?” Nisa mengangguk malu.


“Jangan dibahas kalau kamu belum siap Nis.. aku gak akan pernah maksa kamu, kita masih bisa berteman lebih dulu sebelum memulai untuk berumah tangga,” balas Ilyas dengan lembut.


Nisa diam tak menjawab, tapi dia teringat dengan kata-kata Mila, kalau mereka saat ini tengah dekat.

__ADS_1


“Tapi bukannya mas lagi dekat dengan mbak Mila ya?”


“Mila??” Nisa mengangguk.


“Mila yang anak baru itu?”


“Iya..”


“Kata siapa?”


“Di cafe lagi rame soal itu mas,”


“Ya ampun Nis, sejak kapan gosip itu merebak?”


“Kurang tahu sih pastinya kapan, tapi mbak Mila juga cerita kok, kalau mas sering kirim pesan ke dia,” jawab Nisa polos.


Ilyas tergelak mendengar jawaban Nisa, entah kenapa dia merasa Nisa seperti sedang cemburu, entah itu hanya perasaan nya saja, atau memang seperti itulah kebenaran nya.


“Kok malah kekeh sih mas, serius loh,”


“Nomor ponsel nya saja aku gak punya, gimana bisa aku kirim pesan ke dia,”


“Ya mana tahu, kan itu urusan kalian berdua..”


“Terus kamu sendiri katanya lagi deket sama Johan?”


“Ya.. dia memang sudah mengutarakan isi hatinya sih, tapi aku masih menganggap nya teman biasa aja!” kini gantian Ilyas yang bungkam, tidak dipungkiri kalau saat ini ia merasa cemburu, hatinya seperti disiram dengan air panas, sangat ngilu.


Nisa melirik Ilyas, tak ada tanda-tanda dari laki-laki disampingnya ini untuk menjawab nya, ‘Apa mas Yas cemburu?’


“Mau makan malam dulu, atau langsung pulang Nis?” tanya Ilyas, Nisa melihat arloji ditangannya, jam sudah menunjukan pukul 9 malam, tidak mungkin jika harus makan malam lagi.


“Langsung pulang aja deh, aku takut yang dirumah pada nungguin, udah jam 9 juga,”


“Oke!” Ilyas bungkam lagi, membuat Nisa jadi serba salah. Ingin bertanya tapi bingung harus bertanya apa. Sampai akhir nya saat memasuki komplek perumahan pakde nya, tanpa sengaja Ilyas menabrak polisi tidur dan hal itu sontak membuat Nisa kaget. Ilyas menatap Nisa begitu juga sebaliknya, mata mereka bertemu.

__ADS_1


“Kamu gak apa-apa?”


__ADS_2