
“Siapa yang ingin kalian sembuhkan?” tanya Nisa yang tiba-tiba muncul dan berdiri didepan pintu kamar nya.
“Nisa?” panggil Susan, air mata nya kini sudah tidak terbendung lagi. Gadis kecil yang begitu sangat ia sayangi sepenuh hati, kini harus mengalami hal seperti ini.
“Ibu, sama kakek kapan datang? kok aku gak tahu??” Nisa berjalan menghampiri ibunya yang mengusap air mata disudut mata nya. Nisa memeluk nya dengan erat. Setelah itu ia pun menyalami kakek nya dengan takzim.
“Kami baru sampai Nis, dan kebetulan kamu sedang tidur, jadi kami biarkan kamu istirahat dulu.” jawab kek Wardi.
“Kalian tadi sedang membicarakan aku ya??” tanya Nisa lagi, sebenarnya ia juga sudah tahu jika keluarga nya sedang mendiskusikan dirinya.
“Emm...itu,” Gibran agak tergagap dan bingung menjawab pertanyaan adik sepupunya, jika ia jujur Gibran takut hal itu akan melukai dan menyinggung perasaan Nisa.
“Bawa aku ke psikiater?” tembak Nisa langsung pada intinya.
“Ka-mu tahu?” Balas Gibran lagi.
Nisa mengambil nafas nya dalam-dalam, dan membuang nya dengan pelan, ia mengatur ritme jantung nya yang mendadak kembali berdetak dengan cepat. Setiap akan membahas soal ini, pasti ia akan merasakan respon lain dari dalam jantung nya sana.
“Aku tahu mas! ini juga gak jauh-jauh dengan kejadian tadi malam kan?”
“Iya Nis! maaf bukan kami sok tahu atau lebih berhak dari dirimu sendiri, tapi kami memikirkan tentang masa depan kamu! sampai kapan kamu akan seperti ini, mengalami trauma yang gak tahu dimana ujung nya, jujur mas kaget loh! mas kira kamu udah lupa sama kejadian 2 tahun yang lalu itu!” terang Gibran, Nisa beranjak dari tempat duduk nya dan kini ia berdiri tepat di dekat jendela, menikmati semilir angin yang berhembus, dan itu membuat nya tenang.
“Apa ada manusia yang cepat lupa dengan hal yang begitu sangat membuat nya menderita?” balas Nisa.
Semua orang diam, bingung harus menjawab apa.
“Apa kamu masih mencintai Yudi?” tanya Fauzi Yang sejak tadi diam dan hanya menyimak obrolan para tetua. Tapi kini ia yang langsung menanyai permasalahan yang diderita adik nya itu.
“Bagaimana pun, dia laki-laki yang pernah sangat aku cintai mas! terlepas dari semua rasa sakit yang dia berikan!” jawab Nisa, kini air mata nya juga ikut bersuara.
“Lalu sekarang?”
“Entahlah.. Aku bingung mendeskripsikan bagaimana perasaan ku saat ini, apa aku masih mencintai dia ,atau sakit nya yang masih berasa, aku gak tahu mas!
__ADS_1
Berulang kali aku coba, untuk melupakan semua kejadian itu, dan aku coba buka hati lagi untuk yang baru, tapi.. bukannya sembuh, justru rasa sakit nya semakin menyiksa ku!
Ketakutan akan terulang kejadian yang sama, itu hal utama nya.. Aku takut dalam segala hal mas! Aku takut pasanganku kelak juga akan mengkhianati aku sama seperti yang dilakukan oleh Yudi!”
“Gak semua laki-laki itu sama Nis! Ilyas contohnya.. dia begitu sangat menyayangi kamu!”
“Tapi aku takut buat dia kecewa mas! karena bayang-bayang masa lalu ku, masih ada sampai sekarang!”
“Kalau begitu lepaskan!” sahut Gibran. Nisa menoleh kearah kakak sepupunya dengan mata sayu nya.
“Aku udah coba mas! tapi gak bisa!”
“Kamu coba lagi! sampai kamu bisa,” Nisa bergeming.
“Jangan mau diperbudak dengan rasa takut karena masa lalu mu itu Nisa! lihat mas, mas juga pernah merasakan apa kamu rasain, tapi mas coba bangkit, gak mau terus-menerus menangisi hal yang gak patut kita tangisi! ayolah.. hidup kita masih panjang! masih begitu banyak proses nya.”
“Tapi..”
“Gak ada tapi-tapian.. mulai sekarang kamu harus coba berkali-kali supaya hati kamu bisa lupa,”
“Ikut ke psikiater, seperti saran dari keluarga Ilyas!”
“Keluarga dan pak Ilyas sendiri sekarang tahu kan gimana pahit nya masa lalu ku, apa mereka masih menginginkan aku mas?”
“Dari respon yang mas terima semalam, Ilyas gak berubah pikiran sama sekali kok, bahkan pagi ini dia juga telepon mas, untuk menanyakan bagaimana kabar dan kondisi kamu!”
“Suruh anak itu kemari Gib.. kakek mau ketemu!” balas Wardi.
“Iya kek, nanti Gibran hubungi.. Nah sekarang keputusan kamu gimana Nis? gak usah mikir kalau Ilyas pasti jodoh kamu, dengan siapapun kamu menikah kelak, tanamkan dalam hati kamu, kalau gak semua laki-laki sama. Percaya lah suatu saat kau akan menemukan laki-laki yang tepat!”
“Ya sudah, aku mau ke psikiater,”
*
__ADS_1
*
“Cafe nya Ilyas dimana ya?” gumam nya sendirian, laki-laki bertubuh tegap dengan rambut panjang yang diikat serta bewok dan kumis disekitar wajah nya itu beberapa kali mengecek ponsel nya.
Wajah gagah dan tampan yang dulu sering di puja-puja banyak wanita kini tidak terurus, hanya wajah sangar seperti preman yang nampak sekarang.
Ya.. dia adalah Yudi, dan kini laki-laki itu tengah berada dikota untuk mencari tahu keberadaan Nisa dimana, hidup nya benar-benar hancur berantakan sejak Nisa pergi dari hidup nya.
“Akhirnya dapat juga!” kata nya lagi seorang diri. Yudi dan Ilyas memang berteman baik saat mereka berdua duduk dibangku sekolah menengah atas. Karena pada saat itu Yudi lebih memilih sekolah di kota dari pada dipinggiran desa nya.
Cukup lama Yudi mondar mandir untuk mencari tahu dimana alamat Cafe milik sahabat nya itu, setelah bertanya dengan beberapa teman nya di kota, akhirnya Yudi menemukan alamat nya.
Begitu ia sampai di cafe Ilyas, ia bertanya dengan karyawan yaitu Mila yang kebetulan sedang mengantar kan pesanan pengunjung.
“Maaf mbak! Ilyas nya ada.. saya minta tolong sampaikan pada Ilyas, kalau saya sahabat lama nya Yudi,”
“Ohh, sebentar ya mas! saya tanya dulu!” Mila langsung berjalan menuju ruangan Ilyas.
“Silahkan ikut saya mas,” Mila membawa Yudi keruangan nya.
“Hei Yas, apa kabar?” Sapa Yudi begitu ia masuk kedalam ruangan Ilyas.
“Kabar baik Alhamdulillah Yud.. Lo sendiri gimana?” balas Ilyas, ia langsung mempersilahkan Yudi duduk, tak lama Mila masuk lagi dengan dua cappucino dingin serta Snack.
“Ya beginilah, hidup gue ancur Yas!”
“Maksud nya?? Lo ada masalah?”
“Berat banget masalah gue, makanya gue ke kota, ya salah satu nya mau nyelesein masalah gue itu,”
“Emang Lo ada masalah apa? bukannya keluarga Lo ekonomi nya kuat ya?” tanya Yas penasaran, karena setahu dia, Yudi termasuk orang yang terpandang di desa nya. Usaha orang tua nya juga banyak, jadi mustahil kalau dia kesulitan uang saat ini.
“Bukan lah, bukan soal ekonomi..”
__ADS_1
“Terus?
“Soal masa depan gue!”