Kenapa Harus dia?

Kenapa Harus dia?
Bab.39 Niat Ilyas


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kita baru akan menyadari seberapa besar dirinya saat ia sudah tidak ada disisi kita lagi..


Yudi terduduk lemas dilantai. Benarkah harapannya untuk membawa Nisa kembali padanya telah pupus?


Haruskah sekarang ia menyadari kalau Nisa sudah pergi jauh, dan sangat sulit untuk digapai lagi?


“Nisa kamu gak apa-apa?” tanya Ilyas pada Nisa, mata nya memindai setiap inci tubuh Nisa.


“Aku gak apa-apa mas!” jawab Nisa pelan.


“Maaf aku gak tahu kalau Yudi lah masa lalu kamu Nis, sekarang kamu pulang lah atau istirahat dimana aja...Soal Yudi biar aku yang urus!” kata Ilyas lagi. Johan masih memperhatikan Nisa dan Ilyas yang tampak intim, terlihat jelas kalau Ilyas begitu mengkhawatirkan Nisa. Johan mengambil nafas dalam-dalam dan meminta karyawan lain untuk bubar.


Tinggallah Yudi sendirian disana, tatapan nya masih kosong.


“Minumlah!” Ilyas menyodorkan sebotol air mineral kewajah nya. Yudi mendongak dan menatap Ilyas lama. Setelah itu ia pun mengambil air minum yang diberikan Ilyas lalu meminumnya hingga tandas.


“Sejak kapan Lo suka sama Nisa?” tanya Yudi pada Ilyas, kini mereka sudah duduk dibawah pohon dekat dengan Cafe. Sementara Nisa ia lebih memilih untuk beristirahat diruang ganti.


“Sejak dia datang kesini! Tapi gue gak berani ngomong apapun, perasaan itu gue pendam lama . Tapi dua hari yang lalu gue mutusin untuk ngungkapin keseriusan gue...Dan semua diluar kendali gue.. rasa sakit yang udah lo ciptain, mendarah daging di hatinya sampai trauma!”


“Mak-sud lo?”


“Dia syock berat waktu gue ngelamar dia, tubuhnya bergetar dan keringat membanjiri tubuhnya. Setelah itu dia pingsan! Dan lo tahu apa yang dia bilang dalam kekalutan itu??” Yudi menggeleng.


Ilyas menceritakan kejadian malam itu, malam dimana ia memberanikan diri untuk melamar Nisa. Yudi mencelos.. sesakit itu rasa yang ia timbulkan sampai membuat trauma yang begitu dalam.

__ADS_1


‘Maafkan aku Nisa..’ lirih nya dalam hati. Hanya itu yang mampu Yudi ucapkan. Sudah banyak luka yang ia buat, sampai Nisa semenderita itu karena nya.


”Yud.. Seberapa besar rasa cinta Lo buat Nisa?”


“Sangat besar! Gue beneran cinta sama dia Yas! Gue nyesel, gue..” Yudi kembali menitikkan air mata nya.


“Kalau Lo beneran cinta sama dia, apa Lo tega ngeliat dia begitu terus?? gue gak tahu seberapa dalam rasa sakit nya, tapi.. Luka itu terlihat jelas Dimata nya Yud! gue gak sanggup, gue pengen lindungi dia..” kini Ilyas menatap Yudi dengan kesungguhan hati. Ia tak ingin Nisa merasakan sakit itu sendirian.


“Gue harus mundur?”


“Untuk saat ini itu yang harus Lo lakuin!”


“Dan elo yang maju? klise banget alasan elo buat nyingkirin gue Yas! gue masih begitu yakin kalau Nisa masih cinta banget sama gue,” Jawab Yudi tak mau kalah. Jelas ia tak mau kalah dari Ilyas.


Ilyas membuang nafas nya dengan kasar, rasanya percuma dan sia-sia saja membicarakan hal ini pada Yudi. Yang tadi nya Ilyas berharap Yudi bakal mengerti maksud nya, tapi namanya juga orang egois dan mau menang sendiri. Selalu lah menganggap dirinya paling benar sekali.


“Dengan lo bilang kalau Nisa begitu sakit hati sama gue, gue jadi tambah yakin kalau dia masih sayang sama gue!! batu kalau tersiram air lama-lama bakal pecah juga ya, Jadi lo nggak berhak ngelarang gue untuk deketin Nisa!”


Ilyas langsung beranjak pergi dari sana, rasanya malas untuk bicara lebih lama dengan Yudi. Bukan karena ia cemburu.. tapi ia jengah dengan sikap sombong dari teman masa SMA nya dulu.


Sedangkan Nisa, ia meringkuk sendirian di ruang ganti. Johan hanya menatapnya dengan nanar. Andai saja ia bisa datang dan memeluk Nisa untuk menenangkannya.


Ilyas datang dan menanyakan pada Johan di mana keberadaan Nisa,Johan langsung memberi isyarat pada Ilyas Kalau Nisa ada di dalam.


“Nisa..” panggil Ilyas. Nisa menoleh ke arah Ilyas.

__ADS_1


“Mas..”


“Maaf karena tadi aku mengatakan kalau aku calon suami mu.." Nisa menatap kearah lain sebelum akhirnya dia kembali menatap Ilyas lagi.


"Gak apa-apa mas! maaf sudah membuat keributan disini."


"Jangan bilang begitu, kalau saja aku tahu dari awal kalau Yudi itulah penyebab semua luka mu, maka aku takkan mengizinkan dia untuk disini walau sedetik saja!"


"Semua sudah terjadi, apapun itu... Mas gak salah, maaf kalau aku sudah membuat keributan disini.”


“Gak ada yang bikin keributan Nisa, apa kamu bisa melanjutkan pekerjaan, jika tidak kamu bisa pulang dan istirahat.” ujar Ilyas, ia tahu kalau saat ini hati Nisa sedang tidak baik-baik saja.


Nisa menggeleng lemah, jika ia pulang.. Apa kata teman-temannya, ia bisa dianggap tidak profesional dalam bekerja. mereka pasti berpikir kalau dia mendapat perlakuan yang beda dari yang lain.


“Enggak usah Mas, aku lanjut kerja aja!”


“Bener?” tanya Ilyas sekali lagi untuk memastikan.


“Bener, ya udah.. mungkin udah cukup waktu istirahat ku.. Aku mau lanjut kerja lagi mas!”


Ilyas diam, ia tak menjawab ucapan Nisa yang mulai beranjak dari tempat duduk nya. Ia melihat kecermin sebentar untuk memeriksa hijab nya. Setelah dirasa cukup ia pun langsung keluar.


Begitu ia sampai di meja kasir, Mila menatap nya tak suka. Sementara Naima langsung memeluk nya. Ada air mata disana.


“Nis, aku gak tahu masalah kamu cukup pelik. aku setuju kok kalau seandainya kamu nikah sama Pak Ilyas. kalian cocok .. dan aku perhatikan selama ini memang baik lihat sering sekali mencuri-curi pandang padamu, apalagi saat kamu sedang berdua dengan Johan. jelas ada kecemburuan di sana!” papar Naima, hati bisa menghangat selama ini dia memang merindukan seluruh sahabat setelah bersahabatannya dengan di sianjur dia tak pernah lagi punya sahabat perempuan selain dari Nining dan Eka. saat ini kedua sahabatnya itu sedang berada di desa jarang sekali berkomunikasi apalagi sejak keduanya memulai hidup baru dengan menikah.

__ADS_1


“Halah palingan juga drama doang buat menarik perhatian Pak Ilyas kan?” sahut Mila tak suka. karena memang selama dia masuk ke Cafe itu, Mila selalu mengincar Ilyas.. ia sampai menyebarkan berita bohong kalau Ilyas sering menghubunginya malam hari, padahal tidak sama sekali dan sekarang Mila mendengar kalau Nisa calon istrinya Ilyas?? Tentu hatinya murka mendengar semua itu.


“Memangnya kamu, yang temennya cuman ngarang cerita doang, nggak malu apa!”


__ADS_2