
Di minggu pagi seperti biasa Ardi mengayuh sepedanya untuk melemaskan otot otot kakinya yang kaku, olah raga santai ini sudah menjadi menu wajibnya di setiap minggu pagi bila tidak acara keluar kota.
Perlahan diselusurinya jalan Perumahan yang tersambung dengan jalan perkampungan yang sejuk dan asri tujuannya ke arah danau yang tidak terlalu jauh dari rumahnya walau tidak jauh tetap saja membuatnya berkeringat.
Sambil mengayuh sepedahnya pikirannya melayang pada Anisa istrinya yang setelah subuh tadi melontarkan kata kata yang membuatnya menarik napas berat,
yah semenjak pandemi melanda negeri ini semua usahanya benar benar tidak lagi dapat dijalani.
Ardi seorang Marketing di bidang jasa keuangan. Komisi yang didapatkannya sebagai marketing sebelumnya memang mencukupi untuk semua kebutuhan hidupnya bersama Anisa dan keempat anak anaknya. Anaknya yang pertama Amar saat ini sedang kuliah di kota Gudeg Jogjakarta,
anak keduanya Amirah sedang mondok di salah satu pondok pesantren modern di daerah Banten, begitu pun dengan Asraf anak ketiganya yang juga sedang mondok di salah satu Pondok Pesantren di daerah Bogor, sedangkan si bungsu Aisyah masih kelas empat di Sekolah Dasar Islam Terpadu yang tidak jauh dari rumahnya.
Sebelumnya semua biyaya kuliah dan sekolah keempat anaknya tidak pernah menjadi kendala semua dapat diatasi oleh Ardi seorang.
Penghasilannya sebagai marketing bisa memiliki rumah di perumahan cluster dan satu unit mobil keluarga.
Anisa istrinya adalah perempuan yang lembut yang berprofesi sebagai seorang guru Taman Kanak Kanak Islam yang juga mempunyai keakhlian membuat berbagai kue dan puding.
Bila menjelang hari raya pesanan kue kue kering akan memenuhi dapur rumahnya yang minimalis.
__ADS_1
Saat ini pekerjaan Ardi hanyalah mengantar pesanan kue dan puding buatan istrinya kepada para pelanggan atau mengantar istrinya ke pasar atau sekolah.
Anisa yang lembut hari ini berbicara begitu menusuk hatinya. "Mas aku sudah lelah berpikir bagaimana untuk bayar sekolah anak anak, untuk hidup sehari hari, bayar listrik, bayar air, internet semua ada di pundakku, pesanan kue dan puding saat ini sudah tidak banyak , kamu ngapain kek... kerja apa kek... jangan diam saja.. berpikir bagaimana caranya mengatasi semua ini.."keluh Anisa sambil menangis terisak isak.
Ardi hanya diam menatap istrinya yang telah dua puluh tahun menemaninya.
Ardi sadar dia salah, saat ini dia merasa begitu tiada berguna, komisi yang biasa diterimanya setiap bulan kini tidak ada lagi, rekeningnya semakin menipis karena tidak ada lagi calon nasabah yang ia dapatkan.
Team marketingnya pun sama semua lesu semua banting setir jualan apa pun yang bisa dijual saat ini, saat ekonomi menukik turun dengan tajam.
Tanpa terasa sampailah Ardi di Danau, air danau terlihat mengkilat tertimpa matahari pagi yang mulai menampakkan diri, disandarkannya sepeda di pohon yang tumbuh di tepi danau, banyak pohon pohon besar yang tumbuh sehingga membuat sejuk suasana sekitaran danau, tidak banyak yang bersantai di minggu pagi itu, ada sepasang suami istri dan dua anaknya yang duduk santai di atas tikar sambil menikmati makanan.
Sepasang muda mudi duduk berdua merapat sambil tertawa ceria, beberapa orang terlihat bercengkrama sambil duduk santai di pinggiran danau yang teduh.
"Maaf pak bisa minta tolong fotokan saya" saut seorang wanita sambil menyodorkan Handphonenya kepada Ardi,
"Oh iya bu... sini saya fotokan"
dengan berbagai gaya wanita yang tinggi langsing berbalut pakaian olah raga berwarna biru muda dengan kombinasi jilbab senada bergaya sambil tersenyum mengarah ke kamera Handphone.
__ADS_1
" sudah bu, mau difoto di mana lagi bu ayo saya fotokan lagi" seru Ardi sambil tersenyum ramah, tubuh Ardi yang tinggi dengan tubuhnya yang terlihat kekar, menambah nilai ketampanannya di usianya yang ke empat puluh lima tahun.
" Iya boleh pak di pohon pohon itu kayaknya bagus yah pak" jawab wanita cantik tersebut dengan senyumnya yang merekah,
wajahnya yang putih terlihat tak membosankan untuk dipandang.
Setelah puas berfoto, diambilnya Handphone canggih yang harganya cukup merogoh kantong sangat dalam itu dari tangan Ardi
" Terima kasih pak, sudah mau motoin saya, saya lihat bapak sendirian saja ngk bareng istri ? " tanyanya pada Ardi.
" Iya bu sendiri setiap minggu pagi saya rutin bersepeda, keliling sekitar sini paling suka ke danau ini sejuk" jawab Ardi sambil tersenyum.
"Nama saya Faradina Nugraha cukup panggil Dina pak jangan panggil ibu kayaknya tua banget saya yah" timpal wanita cantik yang ternyata bernama Dina tersebut sambil menempelkan kedua tangannya di dada. "Nama saya Ardi bu.. eh Dina..." jawab Ardi
" Saya panggil mas Ardi yah, usianya pasti lebih tua dari saya... hahahah.. maaf ya mas" "Yah ngk papa bu Dina... ups.. Dina, sendirian juga bersepedanya, mana suaminya? tanya Ardi.
" Ada mas tapi masih di awang awang hahahah..." seru Dina dengan tawanya yang terdengar parau.
"Ok Dina hari semakin siang saya harus segera pulang next time kita bisa ketemu lagi ok, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh" pamit Ardi pada Dina.
__ADS_1
" Iya mas Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... salam buat istrinya mas"
Ardi berlalu sambil menggangguk.