
Setelah menutup telepon dari Ardi,
Anisa mentapa langit langit kamarnya menekuri setiap hal yang dirasakan oleh hatinya saat ini, tak seperti biasanya Ardi menonaktifkan telepon selularnya sesibuk apapun ketika ia berada di luar kota sekalipun ia pasti tetap akan mengaktifkan telepon selularnya, setiap saat ia pasti akan mengabarkan kegiatannya, namun saat ini Anisa merasa kehilangan sosok Ardi, sosok yang selalu menggodanya bila berjauhan dengan chat chat yang membuat pipinya memerah, chat yang ia kirimkan pun tak pernah dibukanya, namun pikiran negatifnya segera ditepis ia yakin Ardi sedang sibuk dan tak bisa diganggu dan ia sadar semua kesibukan Ardi adalah bentuk perjuangannya untuk dirinya dan juga keempat anak anaknya yang sedang membutuhkan biyaya pendidikan yang tidak sedikit,
" Bunda.... " panggil Aisyah.
" Iya sayang ada apa" jawab Anisa dengan lembut. "Aish kangen ayah bunda..." kata Aisyah sambil memeluk Anisa.
Aisyah memang sangat dekat dengan Ardi. "Aish boleh Vidio Call sama ayah ? bunda.." sambung Aisyah.
" Tentu sayang" jawab Anisa lalu menyerahkan telepon selularnya pada Aisyah. Dengan segera Aisyah menelepon Ardi dengan mode Vidio Call.
"Assalamualaikum.. ayah... Aish..kangen" kata Aisyah ketika melihat wajah ayahnya di layar telelon selular.
"Sama ayah juga kangen Aish, besok malam ayah pulang yah sayang, kita kan mau pergi jenguk mbak Amirah dan mas Asraf"jawab Ardi sambil tersenyum.
"Iya ayah Aish sudah enggak sabar ingin ketemu ayah dan jalan jalan sambil jenguk mbak Amirah dan mas Asraf" kata Aisyah sambil menatap penuh rindu pada Ardi, ada haru yang bergelayut di hati Ardi ketika menatap wajah mungil putri kecilnya itu.
"Sabar yah sayang.." jawab Ardi.
"Ayah jangan lupa ole olenya yah ...yang banyak " kata Aisyah sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Tentu sayang nanti ayah belikan yang banyak buat Aish yah" jawab Ardi sambil tersenyum. "Sayang sudah dulu yah, peluk ayah dari jauh, Assalamualaikum" Sambung Ardi mengakhiri Vidio Call dengan Aisyah putri kecilnya.
"Iya ayah dadah... waalaikumsalam" jawab Aisyah menutup teleponnya.
Anisa yang memperhatikan Aisyab putrinya tersebut tersenyum sambil berkata.
"Sudah hilangkan kangennya"
"Aku masih kangen bunda... karena belum ketemu sama ayah" jawab Aisyah sambil cemberut.
"Sabar yah sayang ayah keluar kota sedang bekerja sedang berjuang mencari rezeki untuk kita semua, Aish doakan saja agar ayah selalu sehat dan dimudahkan dalam pekerjaannya" kata Anisa dengan lembut tangannya membelai rambut panjang Aisyah. "Iya bunda aku selalu berdoa untuk ayah dan bunda" tutur Aisyah sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya bunda ini aku mau mandi" jawab Aisyah lalu ia berlari ke kamar mandi, sepeninggal Aisyah mandi, Anisa membuka album foto pernikahannya dengan Ardi, ia jadi mengingat awal perkenalannya dengan Ardi.
Ardi laki laki solih yang selalu rajin berangkat ke masjid di setiap waktu sholatnya, Ardi kost tidak jauh dari rumahnya, saat itu Ardi masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan elektronik di kawasan Tangerang, malam harinya Ardi kuliah strata satu di Fakuktas Ekonomi, yang tidak jauh dari tempatnya bekerja, sedangkan Anisa kuliah di Fakultas Pendidikan sambil mengajar di Taman kanak kanak.
Perkenalannya dengan Ardi cukup singkat, setelah mereka merasa cocok akhirnya mereka menikah, kehidupannya bersama Ardi begitu membahagiakannya, Ardi yang perhatian membuatnya nyaman mereka berdua saling mendukung, jarang sekali mereka bertengkar kalaupun ada pertengkaran pada akhirnya mereka berdua akan berbaikan kembali,
Ardi lebih banyak mengalah berbedaan usia yang terpaut lima tahun menjadikan Ardi lebih dewasa memyingkapi segala permasalahan yang hadir dalam rumah tangganya. Lamunan Anisa terhenti, ketika dering ponselnya berbunyi.
"Assalamualaikum bunda...."salam Ammar putra sulungnya. "Wa'alaikumsalam warahmatullahinwabarakatuh" jawab Anisa dengan salam yang lengkap. " mas Ammar apa kabar sayang.. ?" tanya Anisa rasa rindunya pada putra sulungnya begitu membahana,
__ADS_1
" Mas Ammar baik baik saja bunda, mas Ammar malam ini pulang bunda, mas naik kereta jam 18.00 bunda" jawab Ammar,
" Mas Ammar enggak bilang bunda kalau mas Ammar mau pulang malam ini" tanya Anisa. "Iya bunda, mas Ammar pulang bareng teman ada penelitian kampus di Jakarta bunda, jadi mas pulang malam ini, maaf mas enggak mengabarkan bunda"kata Ammar,
"Tapi ayah lagi di luar kota nak, nanti yang jemput mas ke stasiun senen siapa?" kata Anisa ada perasaan sesal karena ia tidak mempunyai keberanian belajar mengemudikan kendaraan roda empat yang terparkir diam di rumahnya.
"Tenang bunda.. mas Ammar nanti pulang dijemput oleh Orang tuanya Adhim teman mas Ammar" jawab Ammar meyakinkan Anisa.
"Ya udah hati hati yah sayang, sabtu dan minggu berarti mas Ammar bisa ikut ayah dan bunda jenguk Amirah dan Asraf" kata Anisa pula.
"Iya bunda mas Ammar bisa ikutan jenguk, penelitian kampusnya mulai hari senin bunda" tutur Ammar pada Anisa di ujung telepon. "bunda sudah yah, doakan perjalanan pulang mas Ammar biar lancar dan selamat, Assalamualaikum" kata Ammar mengakhiri teleponnya.
"Iya sayang selalu bunda doakan waalaikumsalam" jawab Anisa menutup teleponnya.
Dari kamar sebelah Aisyah berteriak memanggilnya.
"Bundaaa... jilbab aku yang warna merah mana yah?"
"Ada nak di keranjang gosokan" saut Anisa sambil beranjak menuju kamar Aisyah.
Putri kecilnya itu memang masih selalu harus dilayaninya, Ia dan Ardi memang selalu memanjakan Aisyah putri kecilnya itu.
__ADS_1