
Melihat keberadaan Resto di Depok, tidak jauh beda dengan yang ada di Tangerang Resto masih tetap berjalan walau penghasilan yang didapat sedikit menurun, Ardi mendengarkan laporan dari kepala resto yang ada di depok, semua hal seperti biasa dicatatnya dalam note di ponsel pintarnya. sambil mencicipi makan siang yang disajikan resto Ardi mencatat apa yang dirasakan, apa yang diamati dari pelayan yang melayani pelanggan dan sebaginya ada beberapa catatan yang dirangkum dari setiap resto. Dina hanya tersenyum memperhatikan keseriusan Ardi merekam dan mencatat semua laporan dan berbagai hal yang dilihatnya. mereka berdiskusi dengan santai, kepala cabang Resto di Depok adalah Pak Sanusi usianya lebih tua dari Ardi bicaranya hati hati pengalamannya tentang berbagai resto banyak dikuasainya Ardi mengakui kelebihan pak Sanusi, ketika mereka berjalan memgelilingi resto yang menyatu dengan alam dan pemancingan ini Mereka berdua terlibat obrolan ringan namun penuh nilai mengenai perkembangan resto dengan konsep pemancingan ini. "Pak Ardi bawa nuansa positif buat bu Dina" kata Pak Sanusi
" maksudnya pak?" tanya Ardi mengernyitkan dahinya" Bu Dina terlihat lebih ceria, tidak serius dan garang seperti biasanya" jawab pak Sanusi. "memang biasanya bu Dina seperti apa pak ?" selidik Ardi pada pak Sanusi "kalau datang enggak ada ramah ramahnya semua tegang, kok sama bapak kelihatan lebih ramah dan ceria" ujar pak Sanusi. "saya rasa pak Ardi cocok kalau jadi suaminya bu Dina" lanjut pak sanusi sambil tetsenyum kecil. "begitu yah pak hahaha" jawab Ardi sambil tertawa.
__ADS_1
Selesai menerima laporan dan meninjau resto Ardi dan Dina melanjutkan perjalannya menuju Bogor. " mas nanti kita berhenti di mini market ya" ujar Dina pada Ardi. "mau beli apa memangnya" tanja Ardi sambil matanya tetap fokus mengemudikan mobil CRV milik Dina. " aku mau beli keperluan buat Asraf, kita sambil jenguk yah.." kata Dina semangat. "enggak capek mau nengok Asraf pesantrennya naik ke atas gunung dekat dengan wisata air terjun. " wah asyik tuh sekalian kita ke tempat air terjun di sore hari" lanjut Dina sambil tersenyum. "Hemmm oke lah" jawab Ardi
Ketika melewati mini market Ardi memarkirkan kendaraannya, dengan segera Dina keluar dan memasuki mini market diambilnya berbagai makanan ringan, susu, mie instan, sedangkan Ardi mengambil sabun, sampo dan odol yang biasa dibelikan Anisa untuk Asraf, "banyak banget makanannya, kurangin jangan banyak banyak" kata Ardi pada Dina. "ikh enggak boleh pelit sama anak biar Asrafnya senang dan betah" jawab Dina menuju kasir dan membayar semua yang dibelinya termasuk odol, sampo dan sabun yang diambil oleh Ardi. "Loh biar aku aja yang bayar" kata Ardi sambil memgeluarkan dompetnya. " Oh no kali ini biar aku yang bayar, aku lagi menikmati menjadi orang tua yang anaknya di pondok" kata Dina sambil memasukkan kembalian ke dalam dompetnya. lalu keluar mini market di depan mini market ada beberapa penjual gorengan dan donat berbagai rasa, dibelinya dan dibawanya dua bungkus cemilan tersebut. lalu diletakkannya di jok belakang. setelah selesai mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Asraf yang terletak di daerah perbukitan, dengan sigap Ardi mengemudikan CRV menembus kemacetan lalu lintas. Ketika terdengar suara Adzan Ashar Ardi segera mencari masjid dan memarkirkan kendaraannya untuk sholat Ashar tepat waktu. Dina tersenyum melihat kesalehan yang begitu kentara terlihat pada diri Ardi, ada rasa getar yang tak bisa hilang dari hatinya, entahlah ingin ditepisnya namun ia merasa ada kebahagian yang menyelusup ketika kebersamaan itu terjalin bersama Ardi.
__ADS_1
" Ayah... " seru seorang anak yang berlari menuju Ardi dan memeluknya. "Ayah bikin kejutan buat Asraf yah" kata Asraf masih dalam pelukan Ardi. "Kejutan yang tidak disengaja" jawab Ardi. "oh iya kenalkan atasan ayah bu Dina, ayo salim nak, karena bu Dina yang memaksa ayah untuk menjenguk Asraf setelah Asraf tadi menelepon Ayah" lanjut Ardi pada Asraf, Asraf lalu menyalami Dina memcium tangannya. "Terima kasih bu sudah memaksa ayah menjenguk Asraf" kata Asraf pada Dina. "Ini ibu belikan makanan buat Asraf" kata Dina sambil menyerahkan dua kantong makanan dari mini market dan dua kantong cemilan yang dibelinya di luar mini market. " Alhamdulillah makanan Asraf banyak nih" terima kasih ayah " kata Asraf sambil memeluk kembali ayahnya. " tapi nanti ayah tetap ke sini lagi kan hari minggu sama bunda, aku kan kangen sama bunda ayah" kata Asraf sambil mengelendot manja pada ayahnya. "Iya In Syaa Allah nanti ayah ke sini lagi, ayah enggak lama yah sebab ayah sambil kerja, nanti kalau sama bunda dan Aish ayah akan lebih lama di sini" kata Ardi pada Asraf. "Betah enggak Asraf di sini, ibu lihat tempatnya sejuk dan nyaman" kata Dina menimpali. " Betah banget bu, airnya banyak dan sejuk tapi bikin lapar bu makanya makanan Asraf cepat habis karena Asraf banyak ngemil" jawab Asraf sambil tertawa. "Pantesan badannya tambah endut " celetuk Ardi pada Asraf. "Ini bukan gendut ayah tapi masa pertumbuhan, supaya Asraf menjadi lebih besar dan gagah" kata Asraf membela diri. mereka bertiga tertawa terlihat akrab, Asraf memang anak yang ceria dan sangat dekat dengan Ardi, wajahnya pun sangat mirip dengan Ardi. "Ok nak ayah harus berangkat lagi, jaga kesehatannya tetap fokus belajarnya jangan lupa target hafalan Qur'annya yah" kata Ardi pada Asraf.
"Iya Ayah " jawab Asraf sambil mencium punggung tangan ayahnya dan memeluknya, lalu Asraf mencium punggung tangan Dina. "Terima kasih yah bu sudah nengok Asraf terima kasih juga makanannya" kata Asraf.
__ADS_1
" Iya nak sama sama" kata Dina lalu memasuki mobil CRV nya, perlahan mobil CRV tersebut melaju meninggalkan Asraf yang melambaikan tangannya.