
Tepat jam delapan pagi Ardi sudah berada di Kantor PT. Faradina Catering and Resto. dengan pakaiannya yang rapi dan klimis lengkap dengan berkas lamaran dalam map yang tersusun rapi. dengan percaya diri ia memasuki gedung kantor yang tidak terlalu besar hanya terdiri dari lima lantai, di halaman kantor terdapat 5 mobil van yang bertuliskan PT. Faradina Catering & Resto beserta berbagai gambar makanan khas yang disajikan oleh perusahan tersebut. Ardi disambut oleh seorang resepsionist berhijab yang tersenyum manis. "Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh"salam Ardi. "wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya pak bisa saya bantu" jawab resepsionis tersebut masih dengan senyumnya "saya Ardi mau bertemu ibu Faradina" kata Ardi dengan suaranya yang lembut namun terdengar ketegasan di nadany. "oh pak Ardi, bapak sudah ditunggu ibu Dina di ruangannya, mari saya antar pak" jawab resepsionis berhijab tersebut, sambil mempersilahkan dan mengantar Ardi menuju lift, dan menekan tombol lift ke lantai tiga, setelah sampai di lantai tiga ada dua ruangan yang terpisah, mari pak silahkan ini ruangan ibu Dina. lalu resepsionist tersebut mengetuk pintu "bu ada pak Ardi" katanya. "ya masuk" ujar suara lembut yang cukup akrab di telinga Ardi. "apa kabar mas Ardi ? " kata Dina sambil tersenyum di atas kursi direktur, di ruangan yang luas tertata rapi bernuansa hijau muda yang soft dengan sofa tamu yang bernuansa warna yang sama. " ayo mas silahkan duduk" lanjutnya dengan suara renyahnya. "ups ya" saut Ardi yang masih berdiri menatap sosok cantik dengan pakaian kerjanya yang elegan membuatnya semakin cantik dan mempesona. "Astagfirullah.."gumam Ardi yang hampir lupa diri, lalu pandangannya menunduk. dan melangkah ke sofa tamu yang tersedia. "mas Ardi mau minum apa?" tanya Dina masih dengan senyumnya yang merekah dengan hiasan lipstik yang soft dan natural terlihat alami. "enggak usah repot repot " jawab Ardi. "kopi yah ? aku ada kopi asli dari Aceh, tunggu yah mas" kata Dina sambil menelpon OB untuk dibuatkan kopi aceh. lalu Dina duduk di sofa berhadapan dengan Ardi. "inilah kantorku mas, kantor yang dibangun oleh almarhum ayah dan ibu, aku satu satunya penerus usaha ini, tidak ada yg lain, aku hanya punya paman dan bibi yang saat ini tinggal di Tasik mereka mengelola salah satu resto dan penginapan, hanya mereka saudaraku saat ini mas, aku anak tunggal mas, kadang aku sedih melihat diri sendiri yang tidak punya saudara kandung namun aku harus tetap bersyukur karena Allah telah menganugrahi kehidupanku yang lebih baik dari orang lain. eh maaf mas aku jadi cerita kehidupanku" tutur Dina sambil menghela napas dan tertawa kecil. "ngk papa cerita saja, karena dengan cerita segala keluh kesah akan keluar dan membuat plong di dalam dirimu"kata Ardi sambil tersenyum. wanita cantik ini ternyata seorang yang sukses namun gersang karena orang tuanya telah tiada tidak punya saudara kandung yang bisa membuat hari harinya tetap ceria, saat itu rasa syukur Ardi akan kehidupannya begitu berarti, karena di depannya bersiri sosok wanita yang uang ada dalam genggamannya namun hatinya gersang karena ketiadaan saudara kandung. "mohon maaf suami bagaimana?"tanya Ardi hati hati. "aku enggak punya suami mas sudah ke laut" kata Dina dengan suara getir. "aku sudah bercerai mas dua tahun yang lalu "dia bukan suami yang baik, pernikahanku hanya bertahan dua tahun mas, tidak ada anak bisa jadi yang membuat kami berpisah, setiap hari selalu saja bertengkar banyak hal yang membuat perbedaan dan jurang yang dalam dalam pernikahan yang telah aku jalani, akhirnya perceraian yang menjadi solusinya, akh sudahlah mas jadi curhat banyak" tutur Dina sambil menghela napas panjang. " maaf aku yang buka luka lamamu" kata Ardi sambil menempelkan kedua tangannya di dada. "permisi bu, kopinya" kata seorang OB yang sebelumnya mengetuk pintu, lalu di letakkannya dua cangkir kopi di atas meja tamu tersebut. "oh iya mas, aku minta mas bantuin aku yah, usahaku sekarang lagi agak merosot, dari sepuluh resto yang aku kelola ada tiga resto sementara ini aku tutup, aku percaya mas bisa bantuin aku, mas jadi manager " ujar Dina sambil tersenyum dan matanya menyiratkan tanda penuh harapan. "mengapa percaya sama aku orang yang baru kamu kenal, aku belum tentu bisa memenuhi sesuai keinginanmu" kata Ardi perlahan, ada rasa yang sulit ia ungkapkan karena kepercayaan yang dihadirkan oleh Dina kepadanya. "entahlah mas, kata hati aku saja yang langsung merasa sreg dan percaya dengan mas Ardi" jawab Dina sambil tersenyum kecil, ada pendar istimewa di hatinya setiap melihat Ardi, namun berusaha ia tahan karena ia tahu Ardi adalah sosok laki laki baik yang mencintai istri dan anak anaknya, ia dapat menilai dari sedikit cerita yang diutarakan Ardi padanya saat masih di Danau. "apa itu mas? " tanya Dina sambil menunjuk map yang dipegang oleh Ardi. " ini berkas lamaranku untuk PT. Faradina catering and Resto, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan ibu Direktur utama" jawab Ardi sambil memyerahkan berkas lamarannya. "hemm sini saya lihat berkasnya" ujar Dina dengan mimik serius, dan mulai membaca curiculum vitae yang ada di berkas lamaran tersebut. "wah penghargaannya tiga tahun berturut turut sebagai marketing terbaik, tidak salah kan filing saya memilih anda sebagai manager agar resto resto saya bisa kembali beroprasi" kata Dina dengan mimik tetap serius. "jangan terlalu memuji bisa jadi anda salah memilih, kalau salah saya harap anda tidak kecewa dan marah" jawab Ardi dengan mimik serius pula, akhirnya tawa mereka pecah. "ok mas aku serius nih, mulai hari ini mas sudah mulai kerja yah, ayo aku anter ke ruangan mas" kata Dina sambil mengajak Ardi menuju ruangannya, ruangannya terletak di sebelah ruangan Dina, hanya ruangannya lebih kecil. " ini ruanganmu mas, ini ada laptop yang bisa mas gunakan, semua data tentang perusahan ini ada di dalam laptop mas bisa pelajari dulu nanti siang kita meeting bersama staf yang lain biar mas saya kenalkan dengan seluruh karyawan yang ada di sini" tutur Dina menjelaskan. "terima kasih atas kepercayaanmu pada saya Din... saya akan jaga kepercayaan ini sebaik mungkin dan akan berusaha meningkatkan penjualan sehingga menambah omset perusahaan" kata Ardi sambil menatap Dina. "aku percaya mas Ardi pasti bisa" kata Dina sambil tersenyum. " mas aku permisi dulu yah, silahkan bekerja" lanjut Dina sambil membuka pintu ruangan untuk keluar ruangan menuju ruangannya. Ardi tersenyum menatap ruangan yang mulai saat ini akan menjadi ruangan kerjanya. dengan segera ditelp lah istrinya Anisa, mengabarkan bahwa ia telah bekerja sebagai manager di PT. Faradina Catering & resto.