
Motor yang dikendarai Ardi memasuki halaman cafe yang tidak terlalu besar namun cukup luas untuk empat mobil dan beberapa motor.
Cafe Delima tempat favorit Ardi dan teman temannya untuk sekedar meeting kecil membahas berbagai langkah untuk meningkatkan produksinya waktu itu, atau sekedar tempat bertemu mengobrol ringan apa pun, semasa mereka masih aktif minimal satu kali satu pekan mereka akan berkumpul bersama di Cafe Delima, sehingga beberapa pelayan yang ada di situ mengenal mereka, Cafe Delima dijadikan tempat favorit selain suasana tempatnya yang tenang dan sejuk karena di sekitar cafe tumbuh pohon pohon besar yang rindang juga harga makanan dan minumannya tidak menguras kantong, harganya sangat bersahabat untuk ukuran Ardi dan teman temannya sehingga menambah nilai plus.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam Ardi kepada Herman dan Agus yang sudah menunggunya dan duduk santai di sudut cafe tempat duduk yang selalu menjadi tempat kumpul mereka. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Herman dan Agus bersamaan, di depan meja mereka ada dua gelas jus alpukat dan sepiring risoles mayo.
"Apa kabar bos ?" tanya Herman sambil menyalami tangan Ardi.
" Alhamdulillah baik" jawab Ardi, sambil menyambut uluran tangan Agus yang sedang tersenyum kecil melihatnya.
"Bagaimana dengan kalian ?" lanjut Ardi lagi. "Seperti yang ente lihat bro kita berdua sehat dan masih bersyukur bisa menikmati kehidupan di tengah pandemi, suttt seharusnya jaga jarak kita dan tidak bersalaman" jawab Agus sambil tertawa kecil.
"Semoga kita sehat semua"timpal Herman. "Rasanya sulit kalau kita bertemu dan ngumpul untuk jaga jarak dan tidak bersalaman, semoga enggak ada yg bawa virus dan kita semua terhindar dari wabah" lanjut Herman
"Aamiin.." saut Agus dan Ardi bersamaan. "Mau minum apa bro? pesanlah, Alhamdulillah lagi dapat rezeki nanti biar aku yang bayar" kata Agus pada Ardi.
"Wes..mantap, bisa pesan banyak ini" jawab Ardi.
"Boleh...silahkan masih cukuplah buat sepiring nasi goreng " jawab Agus sambil tertawa kecil.
"Masih kenyang, nanti saja nasi gorengnya sekarang segelas capucino saja" timpal Ardi. "Ok.."jawab Agus sambil tangannya melambai pada pelayan.
"Capuchinonya satu yah mbak"pesan Agus pada Pelayan cafe delima yang menghampirinya
"Baik pak... ada lagi yang lain pak?" kata pelayan cafe.
"Cukup itu saja dulu, nanti kalau ada di pesan tambahan saja" ujar Agus, pelayan cafe menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah dan beranjak mengambil pesanan mereka.
"Apa usahanya mas Agus saat ini, boleh ajak ajak saya nih" tanya Ardi pada Agus.
__ADS_1
"Jualan on line kecil kecilan pak apa saja, sudah ada akun juga di beberapa situs penjualan on line" jawab Agus.
"Kalau mau ikutan jualan ayo ... " lanjut Agus pada Ardi.
"Ok siap tapi ajarin saya yah, maklum saya ngk terlalu mahir sama dunia on line" kata Ardi merendahkan diri.
"Enggak mahir tapi statusnya tiap hari berseliweran" seloroh Herman sambil tertawa "Status mah beda sama jualan" jawab Ardi membela diri.
"Kalo ente ngapain aja kang Herman?" tanya Ardi pada Herman sahabatnya dari sekolah Menengah Atas yang selalu bersama sehingga ia tak pernah formal dengan Herman, sedangkan Agus adalah teman Herman sehingga Ardi agak formal ketika menyapanya, karena keakrabannya baru terjalin ketika mereka sama sama terjun di dunia marketing bidang jasa keuangan, tepatnya di perencana keuangan.
"Ane jualan keliling bro, jualan ayam olahan, produknya ane ambil di agen, yang laku ane setor duit, yang ngk laku produknya ane pulangin. lumayan dapet 15 persen keuntungannya buat kita"papar Herman pada Ardi.
"Wah boleh tuh ngk perlu modal barang, kayaknya perlu dicoba" kata Ardi.
"Beneran mau panas panasan keliling jualan, secara ente ganteng, body sterek, bikin emak emak berdaster entar bukannya beli ayam tapi terpesona ngeliatin yang jualannya"seloroh Herman
"Katanya pak Syahrul mau ke sini ?" tanya Ardi pada Herman dan Agus.
"Bentar lagi kayaknya sampe beliau tadi abis meeting on line dengan perusahaan" kata Agus pada Ardi.
Di halaman cafe masuklah mobil mewah berwarna putih, ketika mobil berhenti turunlah seorang laki laki perlente dengan kaos yang terkesan santai, wajahnya bersih dengan karisma dan percaya diri dia memasuki cafe delima.
"Nah itu pak Syahrul "seru Herman yang tangannya melambai ke arah pintu cafe. "Assalamualaikum wrahmatullahi wabarakatu"salam Pak Syahrul kepada mereka bertiga.
" Waalaikumsalam warahmatullhi wabaraktuh" jawab mereka bertiga dengan kompaknya.
"Apa kabar pak ? " tanya Ardi kepada pak Syahrul.
"Alhamdulillah baik Pak Ardi" jawab Pak Syahrul.
__ADS_1
" Pak Ardi ke mana aja ditanyain bu Inge tuh, meeting on line ngk pernah hadir" tanya Pak Syahrul.
"Saya lagi off dulu pak" jawab Ardi.
"Kenapa Pak Ardi" tanya Pak Syahrul.
"Saya kecewa sama perusahaan pak komisi saya ditahan hanya karena saya belum mendapatkan nasabah dan team saya bubar, di saat pandemi nyari calon nasabah itu lebih rumit pak, apa lagi komisi saya ditahan padahal komisi tersebut untuk membantu aktivitas saya." keluh Ardi sambil menghela napas panjang.
"Nanti akan saya bicarakan dengan bu Inge" jawab pak Sahrul.
"Semoga bu Inge bisa membantu dan komisimu bisa cair lagi" jawab Pak Sahrul menghibur Ardi.
"Nanti aktif lagi yah Pak Ardi tuh agen kebanggan bu Inge, penghargaan yang didapat Pak Ardi banyak bisa mengantar Pak Ardi jalan jalan dalam dan luar negeri" lanjut Pak Syahrul
"Entahlah pak apalah artinya penghargaan yang terpajang di rumah saya bila saat ini saya tidak dapat membantu membiyayai anak anak saya sekolah." jawab Ardi masih dengan keluhannya.
Sedangkan Herman dan Agus hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
"Pasti bisa bangkit lagi Pak Ardi ... saya percaya kekuatan motivasi diri pak Ardi sangat kuat " ujar Pak Syahrul menguatkan hati dan pikiran Ardi yang sedang galau dengan perekonomian keluarganya.
"Oh iya bagaimana kabarnya Pak Herman dan Pak Agus? semoga masih tetap mau bergabung dan bergerak lagi saya yakin bapak bapak semua akan aktif bergerak lagi seperti dulu dengan team work yang aktif dan selalu menjadi kebanggan bagi saya dan bu Inge" ujar Pak Syahrul menyemangati mereka. "In Syaa Allah pak .... kami tergantung bos Ardi" jawab Herman.
"Tuh Pak Ardi teamnya masih siap untuk bergerak lagi" saut Pak Syahrul kepada Ardi. "Nanti saya bicarakan dengan semua personil team pak, nanti akan saya infokan kesiapan team" jawab Ardi.
"Ayo kita makan saja mau pada pesan apa nasi gorengkah atau apa, jangan cuman minum nanti saya yang bayar " kata Pak Syahrul sambil melihat lihat menu di buku menu yang ada di atas meja.
"Wah pak gagal ini pak Agus yang mau bayarin kita kita makan, lain kali tetap saya tagih yah pak Agus" kata Herman sambil mencolek bahu Agus.
"Tenang lain kali saya yg bayar, saat ini kesempatan membayar saya serahkan ke pak Syahrul" ujar Agus sambil nyengir. mereka berempat lalu asyik mengobrol tentang segala hal sampai magrib menjelang.
__ADS_1