
Ardi dengan tenang mengemudikan mobil CRV milik Dina sedangkan Dina duduk di sampingnya sambil asyik memainkan gawainya, " aku sudah pasang gps yah mas jadi ikutin aja GPS nya, kita ke yang dekat dulu" kata Dina matanya masih menatap layar gawainya. " oh iya mas, boleh tanya kan ? mas sudah berapa lama menikah" tanya Dina sambil meletakkan gawainya dalam tas kerjanya. " sudah lama sekitar dua puluh tahun, anakku empat orang sudah besar besar yang paling kecil kelas empat Sekolah Dasar " kata Ardi sambil tetap tenang mengemudikan kendaraan, " enak yah mas punya keluarga ada tempat untuk pulang, aku juga kepengen punya keluarga, punya anak ketika sampai rumah tidak sendirian, kalau sakit ada yang nemeninin" kata Dina sambil memghela napas panjang. "nanti juga kau akan mendapatkan keluarga yang bahagia, apa perlu aku cariin jodoh" kata Ardi sambil tersenyum menghibur. " aku trauma mas untuk rumah tangga lagi, kadang aku meeindukan punya keluarga namun bila mengingat kekerasan fisik yang pernah aku dapatkan selama rumah tangga aku menyerah mas" keluh Anisa, sambil mengenang masa lalu kehidupannya. " tidak semua laki laki sama seperti itu, kalau kau selalu minta kepada Allah dan meningkatkan ibadahmu pasti jodoh yang baik akan memghampirimu" ujar Ardi sambil menasehati. "kalau boleh aku tahu kekerasan apa yang dilakukan suamimu, sehingga dirimu trauma" kata Ardi perlahan sambil matanya tetap fokus menatap jalan. " dia laki laki sakit jiwa mas, kalau mau berhubungan dia selalu memukuli aku, dia akan merasa puas kalau melihat aku kesakitan, padahal awal pernikahan baik baik saja, namun setelah satu tahun ia selalu kasar, apa pun harus aku turuti, lama lama aku tidak tahan mas, aku minta cerai, ada konsekwensi yang aku ambil aku menyerahkan satu resto beserta satu unit mobil, tapi biarlah yang penting aku lepas darinya" ujar Dina sambil memghela menceritakan akhir rumah tangganya. " memang usaha mantan suami apa " ujar Ardi. " awalnya aku mengenalnya ia punya beberapa coffe shop namun selama berumah tangga dengan aku coffe shopnya bangkrut, semua usahanya tutup semenjak bangkrut tersebut ia semakin kasar dan menyalahkanku dia merasa aku lah penyebab kebangkrutan usahanya apa lagi keluarga besarnya seolah menyalahkan aku yang mandul " jawab Dina perlahan, " aku memang perempuan mandul mas tidak bisa punya anak "Lanjut Dina mengeluh. "belum tentu memang sudah periksa kalau memang mandul ?" tanya Ardi, Dina menggeleng " aku belum pernah periksa mas" jawab Dina "jadi stop mengatakan sebagai perempuan mandul" kata Ardi pada Dina. Perlahan Mobil yang dikendarai memasuki Resto,
__ADS_1
resto berada di kawasan perkantoran, suasana resto dibuat senyaman mungkin dari parkiran sampai ke dalamnya. di halaman resto mereka disambut beberapa karyawan " selamat datang bu Dina .." kata Seorang laki laki muda. "kenalkan ini pak Ardiansyah Manager kita saat ini" kata Dina memgenalkan Ardi pada karyawan yang menyambut mereka. "pak Ardi saya Dimas pak, kepala resto cabang Tangerang, selamat datang pak , mari pak silahkan" ujar Dimas laki laki muda energik yang dengan ramah mengajak mereka memasuki resto yang asri dengan taman taman yang indah, konsep resto ini bergaya lesehan dengan kolam ikan di dekat tempat tempat lesehan. Dimas ditemani satu karyawan melaporkan kondisi resto yang masih beroprasi walau pendapatannya menurun, Ardi mendengarkan secara seksama berbagai hal yang dilaporkan dicatatnya dalam note di ponselnya. ketika dilihatnya jam menunjukan jam sembilan tiga puluh menit, Ardi permisi melaksanakan sholat duha di musolah resto, diantar Dimas menuju musolah sambil tetap memgobrol " pak maaf, kayaknya bapak cocok deh jadi suaminya bu Dina" kata Dimas perlahan
__ADS_1
"ups masa sih... mana mau bu Dina sama saya" kata Ardi sambil tersenyum. " bu Dina kelihatan lebih ceria dan bahagia bersama bapak " kata Dimas sambil tertawa. biasanya kalau datang serius, galak enggak boleh ada salah sedikit" lanjut Dimas, "masa sih yang bener" kata Ardi menyelidiki. "bener pak saya mendukung bapak jadi suaminya bu Dina biar bu Dina nya ceria ramah tidak garang seperti biasanya" kata Dimas memberikan dukungan." oke saya sholat Duha dulu yah Dim, udah sholat duha belum, kalau belum ayo sana wudhu solat duha juga" ujar Ardi kepada Dimas. "iya pak ini mau ..." kata Dimas sambil memggulung celana panjangnya dan mengambil air wudhu. Selesai sholat duha berbagai saran dan masukan diberikan Ardi.
__ADS_1
Ardi dan Dina melanjutkan perjalannya menuju Depok. "mas tadi cocok cocok itu apa penasaran nih " ujar Dina dengan menatap serius Ardi yang tetsenyum kecil. "enggak ada apa apa" saut Ardi sambil tersenyum dan matanya tetap fokus pada jalan raya yang semakin padat, Ardi konsentrasi memgemudikan mobilnya, terdengar dering ponsel dari telepon selular miliknya, lalu dijawabnya telepon dengan mengklik tombol head shet bluetooth di ujung telepon terdengar suara Asraf anaknya yang sedang mondok di daerah bogor" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ayah apa kabar kapan ayah dan bunda ke pondok Asraf udah kangen" kata Asraf di ujung telepon" In Syaa Allah kalau tidak hari sabtu atau minggu yah ayah belum bilang sama bunda" jawab Ardi. "ayah Asraf sudah enggak punya uang, makanan sudah habis, nanti bawakan yah jangan lupa perlengkapan mandi sabun, odol sama sampo sudah tinggal sedikit" lanjut Asraf pada ayahnya. "iya nanti ayah belikan Asraf tulis aja ke WA ayah nanti semua ayah belikan, yang penting sekarang Asraf tetap jaga kesehatannya, belajar yang benar dan selalu menurut pada ustad dan ustadzah di pondok yah" nasihat Ardi pada Asraf putranya. " iya yah pasti, sudah dulu ya ayah salam buat bunda, salam kangen dari Asraf, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" kata Asraf mengakhiri teleponnya. "Wa"alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Ardi sambil menutup telepon selularnya. "itu anakmu yang keberapa mas" tanya Dina pada Ardi. "itu Asraf anakku yang ketiga sekarang lagi mondok di Bogor" jawab Ardi. "di Bogor ayo sekalian kita tengok mas kita kan mau ke Bogor juga, kasihan itu makanan sama uangnya sudah habis" Kata Dina memberi saran, " enggak usahlah nanti terlalu malam kita sampe di Resto bogor" jawab Ardi. "enggak masalah mas, aku sudah biasa pulang malam, enggak ada yang nungguin" saut Dina dengan senyumnya. "oke kita lihat nanti yah, di kejauhan terdengar Adzan Dzuhur berkumandang. "kita ke masjid dulu yah" kata Ardi tanpa menunggu jawaban dari Dina mobil dimasukkan ke pekarangan masjid yang mereka lewati. Sholat tepat waktu selalu menjadi kebiasaan dari Ardi, hal ini yang Membuat Dina semakin kagum akan kesolehan laki laki yang saat ini menjadi manager di Perusahaan miliknya.
__ADS_1