
Adzan subuh berkumandang dengan segera Ardi bangun dan menunaikan sholat subuh, setelah sholat ditelpnya Dina. "iya mas ." sahut Dina masih setengah sadar. "ayo bangun sholat subuh" kata Ardi. " iya mas ini mau sholat subuh" jawab Dina di ujung telepon. setelah membangunkan Dina, Ardipun menelepon Anisa istrinya. "iya mas Anis sudah bangun sudah solat subuh, ini lagi baca zikir Almatsurot" ujar Anisa di ujung telepon. Ardi tersenyum. "iya sayang salam buat Aish nanti mas pulang bawa oleh oleh" kata Ardi lalu menutup teleponnya. setelah menyelesaikan bacaan Qur'annya, Ardi beranjak keluar dan mengetuk pintu kamar Dina " Asslamualikum warahmatullahi wabarakatuh" perlahan dibuka oleh Dina pintu kamarnya, wanita itu masih mengenakan mukena putihnya lalu berbaring kembali di tempat tidur. "maaf mas perut ku sakit, aku sambil tiduran yah" kata Dina mukanya terlihat pucat menahan nyeri di perutnya.
"kita ke dokter yah" kata Ardi dengan wajah cemas. " tidak usah mas nanti juga sembuh, aku hanya sakit perut karena magh ku kambuh, tolong ambilkan obat di tas kecil ku itu mas " kata Dina pada Ardi, dengan cekatan Ardi membuka tas kecil Dina lalu mengambil obat yang ada ditasnya tersebut. "tunggu sebentar aku panaskan airnya dulu, Ardi lalu memanaskan air dalam teko listrik yang tersedia dalam ruangan kamar tersebut. dibuatkannya teh hangat untuk Dina yang masih meringis kesakitan. "minum tehnya dulu sayang...." kata Ardi sambil menyodorkan segelas teh hangat, dengan perlahan dibantu Ardi Dina meminum teh hangat tersebut.
" mas teh hangatnya aku mau lagi"
"ok tunggu yah sayang mas buatkan lagi" kata Ardi tanpa ia menyadari sudah mengucapkan kata sayang pada Dina,
__ADS_1
Dina yang mendengar ungkapan itu tersenyum.
"ini tehnya pelan pelan minumnya, obatnya sudah diminum kan, sudah istirahat lagi"
lalu Ardi menyelimuti Dina,
"iya sayang " jawab Ardi.
__ADS_1
"mas bener sayang sama aku " tanya Dina, dengan wajah merah Ardi mengangguk, "sebenarnya rasa ini tidak boleh hadir di antara kita, karena aku tidak ingin menyakitimu dan juga menyakiti Anisa, namun semalaman aku berpikir ingin melindungimu dan juga tetap menjaga keluargaku, rasanya tidak baik bila harus berduaan dengan orang yang bukan mahram, seperti kita ini ada rasa bersalah yang mas rasakan namun mas juga tak ingin pergi dari sisimu ada rasa ingin melindungimu membuatmu bahagia mempunyai keluarga, tapi apakah dirimu mau menjadi istri kedua mas, saling menyayangi antara dirimu dengan Anisa, dirimu dengan anak anak mas, sehingga keinginanmu mempunyai keluarga dapat diraih, dan rasa cinta yang tumbuh di hati mas kepada mu akan tumbuh indah" kata Ardi
"entahlah mas aku belum bisa memutuskan, biarlah kita jalani ini seperti biasa, aku tidak ingin menyakiti hati mbak Anisa, walau pun aku tidak menampik bahwa aku menyukaimu" kata Dina perlahan. "iya sayang aku juga harus ijin dulu dengan Anisa agar pernikahan yang nanti akan kita jalani adalah pernikahan yang tidak saling menyakiti antara kita bertiga aku bisa menjaga kalian berdua membangun biduk rumah tangga yang dibenarkan oleh Allah namun aku juga harus memdapatkan ridho dari istri pertamaku.
Hari semakin siang Dina terlelap dalam selimut hangat pendar pendar cinta antar mereka berdua telah terungkap tidak ada yang saling ditutupi, namun keraguan dalam hati Dina masih ada karena ia sadar Ardi bukan lah laki laki single yang dapat dengan mudah menikahinya Ardi mempunyai istri dengan empat orang anak, walaupun hatinya sudah siap berbagi namun apakah Anisa Ridho untuk berbagi suami dengannya.
Ardi menelepon bagian pantry untuk membawakan sarapannya ke kamar, karena melihat kondisi Dina yang masih lemas.
__ADS_1
setelah sarapan dihidangkan di dalam kamar Ardi membangunkan Dina "sayang bangun sarapan dulu" kata Ardi perlahan "iya mas " kata Dina dengan suara perlahan " mas suapin yah ini ada bubur sengaja mas pesan untuk sarapanmu. kata Ardi lembut lalu mengangkat tubuh dina untuk menyender dibantal yang telah ia susun " ayo minum dulu air hangatnya" kata Ardi sambil menyodorkan segelas teh hangat, lalu mulai menyuapi Dina dengan perlahan, ayo makan yang banyak sayang biar cepat sehat" kalau enggak kuat baiknya istirahat saja untuk hari ini biar aku yang ke resto lalu langsung pulang" Kata Ardi pada Dina. "tenang mas aku kuat karena ada kamu yang sudah memberikan aku kekuatan" kata Dina "sekitar jam 10 nanti kita cek out lallu ke resto bogor lanjut ke Cianjur, aku pasti sehat" kata Dina meyakinkan Ardi. "oke ayo makan lagi harus habis yah, karena kalau cantikku sakit rasanya hatiku ikut sakit" ujar Ardi sambil melirik "gombal .... mas Ardi bisa gombal juga hahahah..." kata Dina sambil tertawa. mereka berdua tertawa gembira sehingga menambah semangat Dina untuk segera menghabiskan bubur yang disuapi Ardi dengan lembut. hati Dina semkin bergetar mendapatkan perhatian yang begitu indah dari Ardi.