Kepak Sayap Yang Patah

Kepak Sayap Yang Patah
Meeting


__ADS_3

Tepat jam sepuluh Ardi masuk ke ruangan Dina. "Ayo sayang sudah jam 10..." dilihatnya Ayu dan Dina yang masih asyiikk mengobrol dengan tawa dan canda.


" Yu aku mau meeting, kamu mau menunggu aku di ruanganku" kata Dina pada Ayu sambil merapihkan hijabnya di cermin yang ada di ruangannya, menyapu bibirnya dengan lipstik dan mengambil laptopnya. yang berada di meja kerjanya. " Ogah akh nungguin kamu meeting mah pastinya akan lama, aku mau pulang aja, besok kita ngobrol lagi yah " kata Ayu sambil beranjak keluar ruangan, dan tersenyum pada Ardi.


Dina pun berjalan mengikuti Ardi menuju lift tujuannya ruang meeting yang ada di lantai empat.

__ADS_1


Di dalam ruang meeting sudah duduk menunggu pak Budi, bu Indari dan pak Satrio yang wajahnya terlihat tidak menyukai kehadiran Ardi dan Dina, ia mengepalkan tangannya tanda menahan kemarahannya. "Selamat bu Dina dan pak Ardi semoga menjadi keluarga yang sakinah Mawaddah Warrahmah" kata Pak Budi sambil tersenyum pada Ardi dan Dina. "Maaf tadi pagi saya tidak ikut memyambut memberikan ucapan selamat, karena ada beberapa bahan yang harus saya pilih dan pesan dari suplaier" sambung Pak Budi pula, sambil menjabat tangan Ardi dan menangkupakan tangannya untuk Dina. "Iya pak budi tidak apa apa, terima kasih ucapan selamatnya" kata Dina sambil tersenyum. " Baik bapak ibu sekalian kita akan memulai meeting kita, untuk itu pak Ardi selaku manager akan memperentasikan rencana kerja untuk meningkatkan penjualan dari catering dan juga resto, silahkan pak Ardi" Kata Dina sambil menatap mesra Ardi, Ardi tersenyum dan balik menatap penuh cinta pada Dina, ekor mata Satrio yang melihat itu semua mengepal namun ditahannya, ia harus bersikap biasa.


" Terima kasih atas kesempatan ini baiklah saya akan menjelaskan rencana program yang akan kita laksanakan untuk meningkatkan penjualan dari catering dan resto resto" tutur Ardi sambil membuka laptopnya dan menyambungkannya ke layar OHF yang tersedia di ruang meeting tersebut, ketika slide pertama terbuka, Ardi menjelaskannya satu persatu secara terperinci, sesekali ia bertanya kepada pak Budi tentang ketersediaan bahan serta menanyakan suplaier yang bisa menyediakan bahan berkualitas dengan harga yang bisa ditekan, dengan terperinci pak Budi menjelaskan semua hal tentang bahan dan suplaier yang bisa menyediakan itu semua, lalu Ardi pun bertanya tentang keuangan kepada bu Indari dari segi pemasukan dan pengeluaran, beberapa pos yang menurut Ardi tak diperlukan ia perketat untuk diseleksi, beberapa pos keuangan yang perlu ditambah ia tambahkan, bu Indari sesekali menjelaskan pos pos pengeluaran yang bisa ditekan dan juga resiko bila ada beberapa pos yang harus tidak dikeluarkan, Ardi mengangguk lalu menjelaskan secara terperinci sehingga bu Indari memahami secara resiko dan kemungkinan yang akan dihadapinya dalam mengatur keuangan perusahaan.


Dina memperhatikan dengan seksama jalannya meeting, sesekali ia mengambil foto melalui ponselnya, ia suka gaya bicara Ardi yang terlihat tegas, terperinci terlihat kecerdasaan suaminya ketika membahas program yang akan dilakukannya,

__ADS_1


"Pak satrio ketika tangan kita berada di atas secara matematika memang terlihat hitungannya mengurangi bukan menambahkan tapi matematika Allah itu berbeda ketika kita memberi maka berpuluh lipat order akan datang pada kita, kita bisa menggandeng lembaga sosial untuk membantu kita menyalurkannya dan juga mengajak partisipasi masyarakat yang mau membantu yatim du'afa dengan cara membeli setiap paket nasi yang kita buat dengan harga yang tidak terlalu mahal namun dengan kualitas yang tetap baik, saya sudah hitung secara rinci keuntungan dari satu box paket tersebut" tutur Ardi menjelaskan,


Satrio diam setelah mendapatkan penjelasan dari Ardi, lalu ia mencari celah pada startegi penjualan yang lain. "Pak apakah penjualan dengan gerobak kaki lima tidak menurunkan citra resto kita, menurut saya ciri khas resto kita yang berkelas akan terkikis karena gaya penjualan kita yang bergaya kaki lima tersebut" kata Satrio masih ingin menjegal program penjualan yang direncanakan Ardi. "Menurut saya tidak, nama gerobak kaki lima kita akan kita usung lebih dekat dengan pelanggan, rasa nikmat ala resto tanpa menguras kantong, kata Ardi sambil memperlihatkan slogan dan gambar gerobak kaki lima yang sedang dijelaskannya. "Program gerobak akan saya terapkan pada satu resto yang tutup, yang akan menjadi percontohan pertama, kita evaluasi setiap harinya saya minta pak Satrio memantaunya secara terperinci" ujar Ardi sambil tersenyum. "Baik pak akan saya laksanakan" jawab satrio ada rencana yang akan dibuatnya, "kau tidak akan sukses dengan ide tersebut, sebelum jalan akan kubuat kau tak lagi dipercaya oleh Dina" dalam hati satrio menyusun rencana jahatnya. " Saya rasa program yang akan kita lakukan ini dapat meningkatkan penjualan, kita akan mulai program tersebut setelah kita akan meeting besar dengan seluruh kepala resto, bu Indari tolong booking hotel untuk penginapan kepala kepala resto, untuk meeting kita tetap di kantor saja, booking hotel yang tidak terlalu jauh dari kantor agar mobilitas antar jemput tidak terlalu jauh" kata Dina sambil tersenyum yakin.


"Apa sebaiknya kita meeting satu paket bu di hotelnya" sela satrio. "Saya sudah hitung pengeluarannya lebih besar bila kita meeting langsung di hotel, kalau kita meeting di kantor kita selain lebih kecil pengeluarannya kita juga lebih nyaman, menu makan siang langsung dari catering kita sendiri" kata Dina menjelaskan. "Betul bu secara pengeluaran meeting di kantor lebih sedikit pengeluarannya, saya akan siapkan menu menu spesial andalan catering kita untuk acara meeting dengan kepala kepala resto" timpal pak Budi mendukung keputusan bu Dina. "Oke pak Budi meeting akan dilaksankan dua minggu ke depan, nanti saya infokan untuk tanggal tepatnya, saya dan pak Ardi masih akan keliling dulu ke resto minggu minggu ini, siang ini saya dan pak Ardi akan ke Cianjur, seharusnya kemarin sudah ke sana namun karena saya sakit jadi tertunda, untuk hari senin saya dan pak Ardi akan ke daerah bandung dan Jawa Tengah" kata Dina menjelaskan agenda kerjanya. "baik bapak ibu saya rasa meeting kita sudah selesai, saya akan shre deadline kerja yang harus kita selesaikan sesuai kalender kerja" kata Ardi menutup meeting. "Oh iya tambahan lagi setiap waktu sholat, seluruh karyawan akan melaksanakan sholat berjamaah di Lantai empat ini, kita bisa berjamaah, dan mengadakan cermah agama di hari jumat sore setelah sholat Ashar" lanjut Ardi sambil tersenyum. "saya setuju sekali pak Ardi, sholat berjamaah kita galakkan di kantor kita ini, saya akan buat struktur kepengurusan Rohis di perusahaan kita ini" timpal pak Budi yang merasa senang dengan program keagamaan yang dilontarkan Ardi, Budi memang paling agamis di perusahaan selain usianya yang paling tua ia selalu mengajak karyawan melakukan rutinitas ibadah dengan baik, ketika Ardi membuat program tersebut hatinya gembira karena itu yang sangat ia inginkan. "Terima kasih pak Budi saya tunggu struktur kepengurusannya dan program kerohanian islamnya" kata Ardi dengan raut senang karena keinginannya itu mendapat dukungan. "Baik kita tutup dengan hamdalllah meeting kita hari ini" tutup Ardi dengan salam.

__ADS_1


Dina menatap Ardi penuh cinta setelah mereka tinggal berdua di ruangan meeting tersebut. "Sayang kamu tampan sekali ketika menjelaskan program tadi" kata Dina sambil memperlihatkan foto Ardi dari ponselnya. "Pasti dong aku selalu tampan untukmu" seloroh Ardi sambil tertawa kecil, "Ini juga ada yang cantik kalau lagi berbicara membuat hatiku tambah mencintainya" lanjut Ardi sambil memperlihatkan foto Dina yang tadi tengah berbicara. "Mas nyuri foto aku yah..." kata Dina sambil merangkul manja Pada Ardi. "Banyak fotomu di ponsel ini berbagai pose" kata Ardi sambil memperlihatkan foto foto Dina, yang diambilnya secara diam diam. "Mas nanti ketahuan mbak Anisa, bisa perang dunia ketiga itu" ujar Dina pelan.


"Tenang ini di ponsel kerja yang kau berikan, sudah aku kunci tak akan ada yang bisa membukanya termasuk kamu sayang" kata Ardi sambil tertawa. "Ow...ow.. hemmm jangan jangan ada yang ketiga yang akan kau sembunyikan" ujar Dina sambil cemberut. "Kalau iya bagaimana?" goda Ardi sambil mengedipkan matanya. "Jahaat.... cukup kau bagi hatimu untuk mbak Anisa dan aku" kata Dina sambil cemberut. "Tentu sayang dengan dua saja aku bingung mengatur hati kalian apa lagi tiga" jawab Ardi sambil menarik tubuh Dina ke dalam pelukannya. "Kau tidak cemburu dengan Anisa.." tanya Ardi pada Dina yang masih dalam pelukannya. "Secara normal aku cemburu sayang tapi secara akal pikiran aku menepisnya, aku hanya orang kedua yang hadir dalam kehidupanmu, aku menerimanya sebagai takdirku" jawab Dina perlahan. "Sudah siang sayang kita harus bersiap siap setelah sholat duhur dan makan siang kita berangkat ke Cianjur" kata Ardi lalu melepaskan pelukannya dan membantu Dina membawakan laptopnya, selain membawa laptopnya sendiri.


__ADS_2