
Setelah membersihkan diri dan Dina meraskan dirinya lebih sehat mereka segera cek out dari hotel dan berangkat menuju Resto yang tidak jauh dari hotel. Resto yang ada di Bogor konsepnya adalah resto dengan konsep hutan tropis, resto berada di sekitaran pohon pohon besar yang terawat suasana terasa sejuk, yang menjadi kepala resto di bogor adalah seorang wanita yang usianya tidak terlalu jauh dari Dina lebih tua dua tahun dari Dina. namanya bu Ambar tubuhnya kecil namun energik, semua hal tertata rapi dari pernik yang paling kecil. Dina yang kurang sehat hanya duduk di saung kecil resto sambi memainkan gawainya sedangkan Ardi dan bu Ambar mengelilingi resto, seperti biasa Ardi mencatat dan mengabadikan setiap sudut resto yang menjadi perhatiannya, sambil berjalan berkeliling " pak Ardi saya setuju bapak sama bu Dina, bu Dina jadi keliatan adem sama bapak " kata bu Ambar. "emang dulu bu Dina galak bu" kata Ardi menyelidik "galaknya pake banget pak, datang itu pastinya banyak marahnya dari pada enggaknya semua dianggap salah, tapi hari ini saya surprise banget, saya dukung seratus persen pak, kalau bapak jadi suaminya bu Dina resto kita ini tambah maju pak. "doakan saja bu semoga jodoh yah " kata Ardi pada bu Ambar " Aamiin..." jawab bu Ambar "dari Dimas, pak Sanusi sampai ke ibu semuanya mendukung, tapi apakah hati bu Dina juga mendukung buat menyambut hati saya" ujar Ardi. "mendukung pak dari tatapan mata bu Dina ke bapak ada yang beda ada rasa cinta" kata bu Ambar menguatkan argumennya. " bisa saja ibu ini doakan saja yah bu semoga jodoh karena kalau jodoh enggak bakal ke mana mana.
Setelah berkeliling bu Ambar dan satu pelayannya melaporkan mulai dari omset, strategi pemasaran sampai kiat kiat mereka menggaet pelanggan untuk datang ke resto, resto tidak mengalami penurunan yang signifikan resto masih berjalan dengan omset yang stabil. Dina hanya memperhatikan laporan dari bu Ambar tidak menanggapi apa lagi menyanggah perutnya masih terasa mual, ia tidak ingin mengganggu Ardi yang sedang serius menyimak semua laporan yang disampaikan oleh bu Ambar. " Alhamdulillah bu Ambar resto ini omsetnya stabil kita perlu strategi untuk meningkatkan omset sehingga pelanggannya bertambah, kalau saya cenderung agar tempat ini diviralkan sehingga warga dari luar kota akan datang berbondong bondong ke resto ini nanti akan ada sedikit yang saya ubah dari segi tata letak dan penampilannya. nanti kita akan meeting bersama di kantor pusat waktunya kapan nanti akan saya shre di grup WA, ibu sudah masuk grup kan" ujar Ardi memberikan pandangan "iya pak saya sudah masuk grup WA" kata bu Ambar. "sayang kamu kenapa pucat banget" kata Ardi yang melihat Dina terlihat pucat, perlahan Ardi mendekati Dina dan meraba dahinya yang panas, Dina memegang lengan kekar Ardi" mas aku enggak kuat " kata Dina lalu tak sadarkan diri "Sayang bangun..." ujar Ardi semakin cemas dibopongnya Dina dalam pelukannya dan dibawanya ke dalam mobil, "Bu Ambar bantu saya antar saya ke rumah sakit, dengan cekatan bu Ambar memgambil alih kemudi dan mengemudikan mobil menuju rumah sakit sedangkan Ardi yang memangku Dina "sayang istigfar ayo semangat kamu harus sehat jangan sakit" kata Ardi hatinya sedih wanita yang dicintainya itu tak sadarkan diri.Tak lama mobil memasuki rumah sakit dengan cepat Ardi yang membopong Dina berlari menuju ruang IGD yang disambut cekatan oleh perawat yang bertugas, lalu Ardi menjelaskan kondisi Dina pada dokter jaga. "Kondisi ibu lemah pak harus dirawat " kata dokter jaga, ini suratnya untuk minta kamar perawatan," lanjut dokter jaga tersebut, Ardi bergegas menuju pendaftaran ruang rawat inap, bu Ambar yang membawa tas Dina menyerahkan tas tersebut, " KTP, sama kartu asuransi ibu ada di dalam pak" kata bu Ambar menenangkan kepanikan Ardi "bapak urus saja dulu untuk rawat inapnya biar ibu saya jaga" sambung bu Ambar.
Setelah urusan ruang rawat selesai Dina sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP karena kelas asuransi swasta yang dimilikinya. Dina masih terbaring lemah tak sadarkan diri. " bu Ambar saya harus menghubungi siapa yah keluarganya bu Dina, bu Dina hanya cerita punya paman di Tasikmalaya. "
__ADS_1
" Ya itu pak keluarganya ibu satu satunya" saut bu Ambar "Punya no hp nya bu?" tanya Ardi. "Saya enggak punya pak, kita cek aja di hp ibu, semoga enggak dikunci." jawab bu Ambar. Ardi membuka HP Dina lalu mencari no kontak pamannya tertera di situ Mang Obet. "iya pak itu nama pamannya mang obet pernah ke Bogor waktu itu sama ibu" lanjut bu Ambar. karena yakin dengan nama tersebut Ardi mulai menelepon. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," " waalaikumslam warahmatullahi wabarakatuh"
" betul ini mang obet pamannya bu Dina"
"iya betul ada Apa yah"
__ADS_1
"Ya Allah Dina... pasti magh nya kambuh lagi"
"iya mang ini enggak sadarkan diri"
"Ya Allah ... "tolong jagain Dina yah, saya segera berangkat ke Bogor, maaf ini dengan siapa yah"
__ADS_1
"Saya Ardi mang, yang akan menjaga Dina"
"Baik saya segera berangkat Asaalamualaikum" telepon ditutup Ardi menatap Dina yang masih terpejam. " bu Ambar pulang saja nanti kalau saya butuh apa apa bu Ambar segera ke sini yah" kata Ardi. " iya pak telepon saja, ini kunci mobilnya saya dijemput sama anak saya pak, mari pak Assalamualaikum" kata bu Ambar berpamitan. Ardi segera menelepon Anisa. "Assalamualaiku warahmatullahi wabaraktuh sayang maaf mas belum bisa pulang, bu Dina sakit harus dirawat di rumah sakit dan mas harus memgurus rawat bu Dina juga melanjutkan ke resto yang lain, mas belum tahu bisa pulang kapan" kata Ardi menjelaskan kepada Anisa. " Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ya mas enggak pa pa semoga bu Dina cepat sehat, mas juga harus sehat yah" kata Anisa di ujung telepon "sudah yah nanti mas telepon lagi wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." kata Ardi memutup telepon. Perlahan Ardi mendekati Dina yang masih belum sadarkan diri. "sayang cepat sehat ya.... aku ingin segera melamarmu dan menikahimu agar aku bisa tetap menjagamu...." kata Ardi perlahan. sambil duduk di samping Dina, dilihatnya jam telah menunjukkan jam tiga belas tiga puluh dirinya belum menunaikan sholat segera ia beranjak ke kamarandi yang ada di dalam kamar ViP tetsebut, ia tunaikan sholat duhur di kamar tersebut setelah sholat Ardi mengaji dengan suara perlahan setetes air mata bergulir dari bola matanya hatinya ikut larut tetesan air mata yang memgalir tampak jatuh di telapak tangan Dina yang putih halus, secara reflek tangan itu bergerak perlahan. "Mas Ardi jangan tinggalkan Dina mas" kata Dina perlahan. "Aku ada di sini sayang, aku tidak meninggalkanmu" kata Ardi... Dina tersenyum " Mas aku ada di mana? " tanya Dina. " Di rumah sakit sayang" jawab Ardi "Maaf yah mas aku merepotkanmu" kata Dina. "Tidak ada yang merepotkanku, karena aku ada untuk menjagamu" kata Ardi perlahan. "Faradina Nugraha.. maukah kamu menjadi istriku? walaupun menjadi istri kedua tapi kau tetap akan ku jaga sebagaimana istri pertamaku yang ku jaga pula" ujar Ardi meluapkan perasaannya. Dina hanya tersenyum dan mengangguk perlahan, hatinya diliputi kebahagiaan.