
Siang itu Matahari bersinar terik awan putih menggumpal menghiasi langit yang biru indah dipandang seindah hati Dina yang bersenandung mengikuti alunan lagu yang disenandungkan Rosa penyanyi yang menjadi idola Dina, disebelahnya Ardi mengemudikan Pajero mobil dinas yang baru didapatnya dengan tenang dan fokus menatap jalan yang tidak terlalu padat.
"Sayang hari sabtu dan minggu mas akan menjenguk anak anak ke Pondoknya, kamu enggak pa pa kan mas tinggal dulu" kata Ardi sambil matanya melirik ke arah Dina yang masih asyik bersenandung.
"Ya mas ?" kata Dina matanya menatap Ardi yang masih fokus ke jalan.
"Hari sabtu dan minggu besok mas mau jenguk anak anak ke pondoknya, kamu enggak pa pa kan mas tinggal" kata Ardi mengulangi pertanyaannya lagi.
"Oh.. enggak pa pa sayang jenguklah anak anak, nanti aku titip makanan yah buat mereka" jawab Dina dengan senyumnya yang meyakinkan Ardi.
"Enggak usah repot repot sayang keperluan anak anak sudah disiapkan oleh Anisa" kata Ardi.
" Enggak pa pa mas anak anakmu adalah anak anakku juga, suatu saat aku juga akan ingin ikut menjenguk anak anak ya, waktu menjenguk Asaf aku senang sekai mas, aku seperti seorang ibu yang menjenguk putranya" tutur Dina matanya berbinar cerah. "Terima kasih sayang atas semua pengertian dan cintamu padaku dan anak anakku" kata Ardi sambil menggengam lembut tangan halus Dina.
"Ketika aku mencintaimu mas aku tahu siapa mas, mas adalah seorang ayah dan suami bagi mbak Anisa ketika aku masuk dalam kehidupanmu maka aku pun harus menerima keadaanmu dan mencintai semua yang ada pada dirimu termasuk anak anakmu" kata Dina lembut dan membalas dengan erat genggaman Ardi di telapak tangannya. "Sayang aku bahagia menjadi bagian dari kehidupanmu" kata Ardi tangan kirinya meraih pundak Dina dan menyandarkannya di bahu Ardi.
Dina larut dalam dekapan Ardi, hatinya dipenuhi bunga bunga cinta. mereka berdua larut dalam pesona cinta yang telah hadir dan menghiasi kehidupan mereka saat ini.
__ADS_1
" Sayang ..tadi aku dengar kau dan Ayu seolah membicarakanku, kalau aku boleh tahu apa yang kalian bicarakan" tanya Ardi perlahan. "Bilang enggak yah... aku takut mas marah" jawab Dina sambil melepas rangkulan Ardi dan duduk menyandar di kursinya.
"Aku tidak akan marah sayang" kata Ardi meyakinkan keraguan Dina.
"Janji yah jangan marah.." kata Dina lagi untuk meyakinkan hatinya.
"Tentu sayang mas enggak akan marah" kata Ardi tangannya meraih tanggan Dina dan kembali menggenggamnya.
"Mas... sebenarnya aku sudah mengenal siapa diri mas Ardi, sebelum mas Ardi membantu memfoto aku di danau itu, aku selalu melihatmu mas di setiap minggu pagi di danau itu, buatku danau itu danau penuh kenangan di mana aku mulai menyukaimu, diam diam aku mengambil fotomu dan menyuru orang kepercayaanku untuk mencari tahu siap sebenarnya kamu mas, apa pekerjaanmu, di mana alamatmu dan semuanya tentangmu" tutur Dina matanya menunduk dan menekuri lantai kendaraan, Ardi yang mendengar penuturan itu lalu menghentikan kendaraannya, di pinggir jalan menghela napasnya dan menyandarkan punggungnya, matanya terpejam mencerna semua keterusterangan Dina.
"Maafkan aku mas, aku lancang telah memata mataimu " kata Dina pelan, butir air mata mulai menetes di kedua pipinya.
Ardi menarik napas lalu menarik tubuh Dina dalam pelukannya.
"Sayang aku tersanjung akan cintamu, walaupun aku tersentak mendengar penuturanmu" kata Ardi sambil mengusap bulir bening dari mata Dina.
"Betapa indahnya aku dicintai oleh wanita cantik yang baik hatinya sepertimu, ku harap kau memahami posisiku kau ku jadikan yang kedua di hatiku tapi tetap menjadi bagian yang terindah dalam hidupku, Faradinaku sayang, cintailah aku dengan segala kekurangannya, sempurnakanlah aku dengan segala kelebihan yang kau miliki aku bukan laki laki yang berpunya aku hanya punya hati dan tekad untuk membahagiakanmu, melindungimu dan menuntunmu untuk selalu bersyukur kepada Allah Pemilik Segala Kehidupan" tutur Ardi dengan suaranya yang lembut, membuat hati Dina semakin bergetar disandarkan kepalanya pada dada bidang milik laki laki yang ia cintai itu, lalu satu kecupan mendarat di kening Dina, perlahan Ardi kembali melajukan kendaraannya sambil tangannya tetap merangkul dan menyandarkan Dina pada pundaknya yang kekar.
__ADS_1
"Terima kasih sayang..." kata Dina di telinga Ardi secara perlahan.
"Sama sama sayang..." mereka berdua larut dalam keindahan cinta.
"Mas kita berhenti di Cafe dulu yah" kata Dina. "Ya sayang, mas tahu cafe yang nyaman di sekitaran sini " kata Ardi ketika mobil mereka sudah mulai keluar dari tol menuju arah puncak.
Di salah satu cafe Ardi dan Dina duduk sambil menyeruput kopi hangat yang tersaji, keduanya asyik dengan telepon selularnya. Ardi mengaktifkan telepon selularnya yang sudah seharian ia non aktifkan dilihatnya banyak panggilan masuk diantaranya dari Anisa, hatinya terhenyak ia telah mengabaikan istrinya yang pertama Anisa, wajah lembutnya terbayang di pelupuk matanya.
"Maafkan aku sayang" dalam hati Ardi. "Sayang aku telp Anisa dulu ya" kata Ardi perlahan pada Dina lalu ia beranjak agak menjauh dari Dina,
Dina hanya mengangguk pelan.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, maaf sayang HP nya baru mas aktifkan lagi, ada apa sayang" tanya Ardi pada Anisa di ujung telepon.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatu, iya mas maaf Anis mengganggu mas yah, cuman mau ngabarin bu Inge telepon mas katanya HP mas enggak aktif terus lalu bu Inge telp Anis, sudah Anis jelaskan mas sekarang sedang sibuk"kata Anisa dengan suaranya yang lembut, Ardi mulai rindu istrinya itu. "maafkan mas yah, karena kesibukan mas telepon tadi mas non aktifkan, ya jawab saja begitu mas belum sempat telepon bu Inge nanti mas telp langsung bu Ingenya, semua baik baik saja kan sayang, besok malam mas pulang, jangan lupa siapkan keperluan buat ke pondok" kata Ardi. "Iya mas sudah Anis siapkan"
"Sudah yah sayang... Mas selalu merindukanmu " kata Ardi pada Anisa.
__ADS_1
"Mas tutup teleponnya yah Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh" kata Ardi mengakhiri teleponnya pada Anisa. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh, hati hati yah mas" jawab Anisa lalu telepon ditutup.