
"Pokoknya aku akan setiap waktu mengantar dan juga menjemputmu kuliah. Kenapa kamu terus menolak ? kamu malu kalau diantar jemput denganku ? atau ada yang kamu sembunyikan ? aku tidak mau menerima penolakan untuk hal seperti ini Alya" sarkas Kaffa sambil mengakhiri panggilan telepon itu
Alya seketika terdiam mendengar perkataan pria yang dicintainya itu. Namun ia lebih memilih untuk menurutinya dan tak terlalu menghiraukan perasaan hatinya yang tak karuan.
Mulai keesokan harinya, Alya dijemput dan diantar Kaffa. Sebenarnya Kaffa melakukan itu semua dengan harapan kalau sewaktu-waktu ia bisa bertemu lagi dengan Abira meskipun hanya sekilas. Karena tidak mungkin untuk Kaffa jika harus terus menerus dengan sengaja menanyakan tentang Abira pada Alya.
Namun usaha Kaffa itu tidak pernah membuahkan hasil. Alya memilih untuk tetap pada pendiriannya namun juga tidak mengecewakan keinginan Kaffa padanya. Alya meminta diantar lebih awal dari jam kuliahnya dan dijemput paling akhir setelah semua teman-temannya pulang. Semua itu Alya lakukan tetaplah seperti dulu supaya tidak ada teman-teman kelasnya yang melihat mereka. Alya juga melakukan semua itu tanpa sepengetahuan Kaffa.
"Kaf, kamu duluan aja ke perpus ya. Aku mau menemani Malika sebentar ke prodi. Nanti kami menyusul kesana" pesan WhatsApp Alya kepada Kaffa yang sudah lebih dulu sampai di perpus bersama temannya, Aldi
Karena bosan menunggu, Kaffa keliling perpus mencari buku, berharap ada buku yang menarik perhatiannya untuk dia baca. Namun ketika sudah ada dipenghujung sudut perpus, tiba-tiba...
"Abira.. dia disini.. pantas saja aku tidak pernah melihatnya kalau dia memilih tempat seperti ini" gumam hati Kaffa sambil memandangi Abira dibalik rak buku
Tanpa berfikir panjang, Kaffa langsung menghampiri Abira karena memang kesempatan itulah yang sedang dia usahakan selama ini.
"Bira" sapa Kaffa dengan ragu
"Apa kabar ? apa kamu masih ingat aku ?
"Hmm.." jawab Abira singkat setelah sedikit melihat ke arah Kaffa dan kemudian menundukkan kembali pandangan nya kepada buku yang sedang dia baca
"Kamu lagi baca buku apa ?" tanya Kaffa basa basi
Tanpa menjawab Abira tetap saja fokus pada bukunya.
"Oh iya, aku waktu itu memanggil mu. Tapi kamu pergi begitu aja. Ingat tidak didepan gedung ? aku tidak menyangka kalau kamu juga kuliah disini. Aku hampir tidak mengenali mu, secara kita sudah lama sekali tidak bertemu"
"Aku buru-buru" jawab Abira lagi singkat dengan tetap fokus pada bukunya
"Kaffa. Ternyata kamu disini, Alya mencari mu" ucap Aldi yang baru berada diantara mereka
Tanpa menghiraukan Abira, keduanya langsung pergi meninggalkannya.
"Ahh dia tetap Abira yang dulu. Perempuan dingin" gumam batin Kaffa
"Siapa perempuan itu ?" tanya Aldi yang memecahkan lamunan Kaffa
"teman"
"ck ! teman.. teman yang mana ? aku tau teman perempuan mu sangat banyak. Tapi aku tidak pernah melihat dia. Dengan caranya bersikap sedingin itu padamu, aku tau kamu sedang berusaha menaklukkan nya" ucap Aldi meledek temannya
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun Kaffa hanya melihat kearah Aldi yang terus menggoda nya.
Tampak dari kejauhan ada Alya yang terus memperhatikan mereka, karena Alya juga ikut mencari keberadaan Kaffa. Tersentak Alya kaget, sedang apa Kaffa dan Abira disana.
"Kaffa.. Abira.. kenapa mereka berdua disini ? apa mereka berjanji untuk bertemu ? mau apa mereka ? apa belakangan ini mereka sudah sering bertemu ? tapi Abira.." gumam batin Alya yang masih berdiri mematung memandangi Abira dari kejauhan, ia menghujani pikirannya dengan begitu banyak pertanyaan
"Abira.. sedang apa dia bersama Kaffa ? apa mereka saling kenal ?" ucap Malika yang memecahkan lamunan Alya
"Sudahlah ayo kita pergi" jawab Alya yang tidak mau ambil pusing pemandangan yang baru saja dilihatnya
Akan tetapi tetap saja, meskipun mereka semua sedang bercengkrama, namun Abira tetap mengusik pikiran Alya yang masih penasaran akan semuanya.
"Kamu bertemu Abira tadi ?" tanya Alya yang sudah tidak tahan
"Ohh kamu melihatnya ?, Iya tadi karena bosan menunggu aku keliling, ketika sedang mencari buku tak sengaja melihat dia disudut itu. Ya aku sapa. Hanya singkat sekali, tidak lama. Menurut ku dia masih sama seperti dulu. Jutek. Bahkan dia hanya mengucapkan dua kata saja. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Aldi" jawab Kaffa sambil melirik kearah Aldi
Aldi yang sedang sibuk dengan laptopnya hanya mengangguk membenarkan perkataan yang diucapkan temannya itu. Meskipun ia sendiri tidak tau itu benar atau tidak. Aldi tau betul hubungan temannya dengan Alya. Demi menghindari pertikaian ia lebih memilih untuk damai.
Melihat itu Alya menjadi lega. Entah itu memang hanya sekedar penasaran atau justru kecemburuan. Bagaimana tidak, ia tak pernah sebelumnya melihat Abira dan Kaffa bersama. Tapi kepercayaan nya meruntuhkan itu semua.
***
Malam harinya dikosan.
"Alya, kamu kenapa ?" tanya Malika dan Fara secara bersamaan mendekat kearah sahabatnya yang merintih kesakitan
Tanpa menjawab Alya terus mengerang kesakitan. Tanpa fikir panjang pula Malika langsung menelpon Kaffa untuk membantu mereka, karena ia sadar Alya harus dibawa kerumah sakit saat itu juga.
Dan benar saja, ketika dirumah sakit dokter mengatakan bahwa kondisi Alya semakin parah karena penyakitnya. Kebersamaan Alya dan Kaffa selama ini membutakan nya kalau ia punya penyakit serius yang harus diberi perhatian lebih. Tapi Alya merasa cukup dengan hanya menkonsumsi obat-obatan saja.
Tiba-tiba keheningan mereka pecah mendengar telepon Alya berdering karena ada panggilan masuk. Malika yang memegang handphone Alya kaget bahwa ibunya menelepon, Malika bingung harus mengatakan apa. Tapi Fara mengisyaratkan kepada nya bahwa ia harus mengangkat nya. Naluri seorang ibu memang sangat kuat kepada anaknya
"Hallo nduk"
"Hallo nak"
"Hallo Bu, ini Malika"
"Ohh.. Malika.. Alya ne nang ndi nduk ?"
"Ohh.. Malika.. Alya nya mana nak ?"
__ADS_1
"Alya baru saja masuk rumah sakit Bu" dengan terpaksa dan keraguan Malika mengucapkan itu
"opo ? omah sakit ?" jawab ibu Alya yang terkejut
Kaffa, Malika, Fara bahkan Anggun dan juga Nisa tampak setia menunggu Alya semalaman yang belum juga sadar. Tidak lama kemudian, orang yang mereka tunggu tunggu pun sampai. Benar, ibunya Alya.
Dokter mengatakan bahwa Alya harus melakukan kemoterapi untuk membunuh sel tumor yang ada pada ***********. Dokter tidak bisa mengambil tindakan begitu saja tanpa persetujuan dari keluarga pasien karena dari semalam Alya hanya ditemani oleh teman-temannya saja. Sampai di pagi hari Ibu Alya datang.
Mendengar Alya harus di kemo, Ibunya tidak menyetujui itu. Menurutnya kemoterapi hanya akan menghancurkan tubuh anaknya perlahan-lahan. Ibu Alya berfikir akan mengobati anaknya secara herbal saja dan itu lebih baik. Sambil menangis tersedu-sedu ibu Alya menolak saran dari dokter. Tapi Kaffa disana melihat itu tampak geram.
"Bu. Maaf Alya harus di kemo. Ikutilah saran dokter supaya Alya bisa sembuh" ucap Kaffa yang seketika menghentikan tangis ibu Alya
"kamu siapa?"
"Aku Kaffa Bu"
Sambil keras mengingat didalam tangisnya, Ibu Alya sadar bahwa dialah orang yang selama ini diceritakan putrinya. Laki-laki yang sedang dekat dengan putrinya.
"Kemoterapi akan merusak tubuh anak saya. Dia masih gadis. Ibu nggak mau itu terjadi pada Alya. Ibu pilih ikhtiar dengan obat herbal saja. Itu akan lebih menyehatkan dia"
"Obat herbal ? Bu selama ini Alya selalu meminum obat-obat nya dari dokter, tapi ibu lihat ? kondisi Alya justru tidak membaik"
"Kamu siapa ? Alya anak saya dan saya berhak atas hidupnya saat ini. Saya tau yang terbaik untuknya" jawab Ibu Alya yang sedikit kesal dengan Kaffa yang mencela keputusan nya
"Baiklah kalau begitu, izinkan aku menikahi Alya Bu. Biar aku yang mengambil keputusan untuk nya" sarkas Kaffa
Mata semua orang terbelalak kaget kearah Kaffa setelah mendengar pernyataan nya itu.
"Saya fikir anak saya sudah salah memilih" jawab Ibu Alya yang terlihat sangat geram melihat kelancangan Kaffa padanya
" Bocah iki ora sopan ! ing wektu koyo ngene dheweke mikir arep rabi. Sepiro adoh hubungane karo anakku ? kaya-kaya keputusanku iki salah, kaya-kaya dheweke duwe hak penuh marang Alya !"
"Anak ini sangat tidak sopan, disaat seperti ini dia memikirkan untuk menikah. Sejauh apa hubungan dia dengan putriku ? seakan keputusan ku ini buruk, seakan dia berhak sepenuhnya atas Alya" gumam batin ibu Alya yang masih memandang Kaffa dengan geram
"Tolong jangan ribut" Alya berucap lirih dari sadarnya yang justru langsung melihat dua orang yang dia sayangi bertengkar
"Alya.." ucap serempak semua orang yang berada disana
.
.
__ADS_1
.
bersambung..