Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Laki-laki egois


__ADS_3

Keesokan harinya dikampus...


Abira terlihat sangat tidak bersemangat setelah kemarin melewati malam panjang karena menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Siapa yang tidak hadir hari ini" tanya Bu dosen


"Alya Bu" anak-anak menjawab bersamaan


Mendengar itu, Abira langsung melihat disekitar nya. Sorot matanya tidak menemukan keberadaan Alya di kursi manapun. Ternyata benar Alya tidak masuk kuliah hari itu.


"Kenapa ?" tanya Bu dosen lagi


"Sakit Bu, beberapa hari lalu sempat pingsan dikelas dan kemarin juga baru keluar dari rumah sakit. Karena kondisinya yang masih tidak memungkinkan, jadi sementara waktu belum bisa mengikuti pelajaran Bu" terang Malika


Abira yang tidak bersemangat semakin lemas mendengar perkataan Malika. Pikirannya mulai kacau, keadaan rumit yang sedang ia alami menguras seluruh energinya. Tubuhnya ada dikelas, namun pikirannya tidak bisa terfokus memperhatikan materi yang sedang dosen paparkan. Namun ia tetap mengikuti perkuliahan sampai waktu jam mata kuliah itu habis.


"Ra" sapa Rosa yang duduk disebelah Abira


"Ra kamu baik-baik aja kan Ra ? tanganmu dingin banget Ra" tanya Rosa memegang tangan Abira dan menatap wajahnya dengan lekat


"Aku nggak papa Ros" jawab Abira tersenyum agar menghilangkan kekhawatiran temannya


"Tapi muka kamu pucat banget Ra. Kamu habis ini mau kemana ? mata kuliah selanjutnya dimulai siang nanti, masih 4 jam lagi. Kita ke kosan ku aja yuk istirahat, nggak ada siapa-siapa kok Ra, temen kos ku semuanya lagi kuliah" pinta Rosa penuh harap


Sebenarnya Abira tidak ingin merepotkan temannya. Namun apa daya tubuhnya saat itu memang sangat lemah.


"Iya Ros kita ke kosan mu"


Melihat Abira yang terus murung berdiam diri dengan wajah pucat nya membuat Rosa semakin khawatir. Ia tau betul bagaimana sahabatnya itu. Abira tidak akan mau berbagi rasa sakit kepada orang lain sekalipun itu dirinya sendiri.


"Ra kamu beneran nggak papa ? kamu mikirin apa Ra ? kalo ada masalah cerita sama aku" ucap Rosa


"Aku nggak papa Rosa"


"Kamu anggap aku ini apa sih Ra. Aku tau kamu nggak akan pernah berbagi apa yang lagi kamu rasakan sekarang. Tapi kamu nggak bisa siksa diri kayak gitu Ra, semuanya nggak bisa kamu pendam sendiri karena ujungnya kamu akan sakit. Cerita ra !" paksa Rosa


Seketika Abira sudah tidak bisa lagi membendung sakit yang tertahan di dadanya. Air matanya keluar mengalir begitu saja. Melihat itu pun Rosa ikut menangis meskipun Abira belum menceritakan apapun, itu adalah kali pertama ia mendapati Abira dalam kondisi lemah seolah tak berdaya.


Dengan tangisan yang tersedu-sedu Abira mencoba menceritakan semuanya kepada Rosa. Dari awal ia mengenal Kaffa, perjalanan hijrahnya, perkuliahan yang menemukan kembali ia dan Kaffa, hubungan Kaffa dan Alya, sampai kemarin malam ketika dua lamaran itu datang bersamaan ke rumahnya.

__ADS_1


"Apa aku salah Ros ? apa Allah lagi uji aku dengan semua perkataan ku selama ini ? aku sering memberikan nasihat kepada kalian. Tapi ketika aku yang diuji tentang perasaan kenapa aku jadi selemah ini. Aku hanya tau teori tapi aku gagal dalam prakteknya" ucap Abira menutupi tangis diwajah dengan tangannya


"Kamu nggak salah Ra, yang kamu lakukan itu benar. Aku tau betul gimana usahamu selama ini dalam menjaga diri. Perasaan mu ke Kaffa juga nggak salah karena kamu tidak melewati batasan itu bahkan kamu nggak pernah mengungkapkannya. Kalau Kaffa sudah berniat ingin menikah dengan Alya, tapi kenapa mereka membohongi mu ? Kaffa justru malah menikung temannya sendiri. Sebaiknya kamu bicarakan ini baik-baik dengan Alya agar tidak terjadi hal-hal buruk nantinya. Kamu nggak tau kehidupan apa yang sudah mereka jalani kan ? Minta kejujuran dari mereka agar hatimu lega apapun itu hasilnya" ucap Rosa


"Tapi aku mengkhawatirkan kesehatan Alya Ros. Apalagi kesehatan nya sedang menurun sekarang"


"Terserah dirimu, tapi menurutku lebih cepat itu lebih baik. Sekarang istirahatlah tubuhmu sangat lemah"


Setelah berbagi rasa gundah di hati, perasaan Abira sedikit damai. Abira memikirkan perkataan Rosa dan itu benar. Bagaimana pun juga Abira harus menanyakan langsung dan meminta kejujuran pada Alya agar semuanya jelas dan hatinya lega.


4 jam berlalu..


"Yah dosennya nggak masuk Ra, padahal kita udah nunggu" ucap Rosa sedikit kesal


"Iya Ros, udah nggak papa" jawab Abira menenangkan sahabat nya


"Jadi kamu mau kemana ? langsung pulang atau.."


"Aku nggak langsung pulang, aku mau ke suatu tempat dulu"


"Kamu yakin Ra ?"


"Ya sudah hati-hati ya"


Dijalan keluar kosan, tampak ada sepasang mata yang menyadari keberadaan Abira yang baru saja melewatinya. Kaffa yang baru pulang dari kosan Alya setelah merawatnya, berniat mengikuti Abira karena ia harus bicara empat mata dengannya.


Abira tidak berniat langsung pulang kerumah, dirinya berniat ke danau untuk menenangkan diri agar bisa mengambil keputusan yang tepat untuknya. Kaffa yang setia mengikutinya dari belakang pun sadar akan arah tujuan Abira.


Melihat hamparan air danau yang luas memenuhi pandangan, kesejukan angin dibawah pohon rindang, membuat Abira sedikit tenang. Perlahan ia tarik nafasnya dalam sembari memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya sejenak ke badan kursi yang didudukinya.


"Bira" sapa Kaffa


Abira yang kaget akan suara itu, langsung cepat membuka matanya. Ketenangan sejenak yang didapatnya kembali berubah ketika ia melihat bahwa yang memanggil namanya adalah Kaffa.


Tanpa ragu, Kaffa langsung duduk disampingnya. Abira yang masih teringat akan kejadian semalam pun segera menjauh dan berniat ingin pergi, namun tangannya tertahan oleh Kaffa.


"Bira tunggu ! tetap diam disini atau aku akan buat keributan hingga semua mata orang-orang tertuju pada kita" sarkas Kaffa memegang tangan Abira


Mendengar hal itu, hati Abira semakin panas, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tak habis fikir dengan jalan pemikiran laki-laki yang sekarang ada dihadapannya. Secepatnya mungkin ia hempaskan pegangan tangan Kaffa dan terpaksa diam menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Maaf aku terpaksa melakukan ini agar kamu mau bicara denganku" ucap Kaffa menunduk penuh sesal


"Darimana kamu tau aku disini"


"Aku mengikuti mu tadi ketika melihat mu keluar wilayah kosan"


"Heh.. kosan, dirimu pasti habis dari kosan Alya kan. ? Alya tidak masuk hari ini dan kamu pasti sedang merawat nya" jawab Abira sedikit sinis


Mendengar itu Kaffa menarik nafas panjang, bersiap ingin mengatakan sesuatu.


"Aku sedang tidak ingin berbicara tentang Alya. Aku ingin membicarakan tentang kita. Aku tau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku kan Bira ? air matamu hari itu menandakan kecemburuan mu pada Alya" ucap Kaffa mencoba memancing kenyataan yang ada pada hati Abira


"omong kosong apa yang sedang kamu katakan" jawab Abira menggeleng kecil sambil tetap tertunduk tak mampu menatap


"Jawab aku dengan serius Bira ! lihat dan tatap mataku ! aku tau kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Apa yang aku katakan kemarin itu benar Bira, Aku mencintaimu !" tegas Kaffa memutar duduknya berhadapan dengan Abira


Mendengar Kaffa mengatakan itu, membuat Abira kembali mengingat malam kemarin, malam dimana Kaffa mengacaukan semuanya. Panas yang membara dalam hatinya kini meluap menumpahkan seluruh lahar panasnya.


"Cinta kamu bilang ? bisa-bisanya kamu mengatakan cinta dan melamar dua perempuan sekaligus. Subhanallah hebat sekali" ledek Abira dengan tepuk tangan kecil


"Iya ! aku akui, aku memang pernah mengatakan pada ibunya kalau aku ingin menikahi Alya. Malam itu aku sangat khawatir pada Alya dan aku kesal pada ibunya yang tidak mengikuti saran dokter agar Alya di kemo. Tapi aku dan Alya benar-benar tidak ada status apapun Bira !" ucap Kaffa mencoba meyakinkan Abira


"Besarnya khawatir mu cukup menegaskan bahwa besar pula rasa cintamu padanya. Aku tidak memiliki perasaan apapun dengan mu Kaffa. Pergilah ! Alya membutuhkan mu" jawab Abira perlahan meninggalkan laki-laki itu


"Baiklah ! aku akan mengatakan semuanya dengan Alya jika itu bisa membuat hatimu luluh !" ucap Kaffa mengancam


Mendengar itu membuat Abira kembali memutar langkahnya menghampiri Kaffa. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mencoba menghadapi laki-laki ambisius dihadapan nya.


"Kamu jangan gila Kaffa. Pikirkan kesehatan Alya, jangan kedepankan hasrat mu untuk memiliki ku. Dia baik padamu, aku yakin dia juga mencintai mu. Jadi pergilah dari hidupku" sarkas Abira dan kembali pergi meninggalkan Kaffa


Melihat punggung Abira yang perlahan menjauh dari pandangannya membuat hati Kaffa sangat membara.


"Lihat saja Bira. Aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari hidupku" gumam batin Kaffa


.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2