Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Koma


__ADS_3

Sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membawa Abira kerumah sakit juga dan memesan taxi online.


Dirumah sakit.


Terlihat Kaffa dan Anggun yang sangat cemas menunggu diluar ruangan. Sampai akhirnya dokter keluar.


"Keluarga nona Alya.." panggil dokter.


"Kami temannya dok, bagaimana dokter ? Alya baik-baik saja kan" tanya Anggun khawatir.


"Nona Alya koma. Tolong segera hubungi keluarganya" pinta dokter.


"Apa ? koma ? Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan" suara batin Kaffa.


Mendengar itu, mereka berdua terduduk lesu. Keheningan menyelimuti keduanya, tidak ada percakapan yang membersamai. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kaffa.. Anggun" sapa Malika.


Suara itu menyadarkan keduanya.


"Bagaimana keadaan Alya ?" lanjut Malika.


"Ka kalian nyusul kesini ? Abira bagaimana ?" Tanya balik Anggun.


"Abira.. em.. Abira kami bawa kerumah sakit ini juga, sebelumnya dia sempat sadar, tapi kata Nisa dia terus menangis tanpa merespon panggilan Nisa sampai ia mimisan dan pingsan lagi. Kami khawatir karena sampai sekarang dia belum sadar. Untungnya aku melihat kalian disini, apa kalian tau dimana rumah Abira ? kita harus segera memberitahu orangtuanya. Aku ingin mencoba menelpon tapi handphone nya dikunci." ucap Malika dengan ragu melirik kearah Kaffa karena ia tau diantara mereka hanya Kaffa lah yang tau dimana rumah Abira.


"Alya gimana ?" tanya Nisa yang juga tak kalah khawatir.


"Alya koma" jawab Anggun tertunduk lesu menutup wajahnya.


"Apa ? koma ?" ucap Malika dan Nisa bersamaan.


"Sudah mengabari ibunya" tanya Nisa.


Anggun hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


Keheningan kembali menyelimuti mereka. Dengan perasaan yang penuh tanda tanya, ingin rasanya mereka meminta penjelasan Kaffa tentang keadaan yang sedang menimpa dua gadis malang itu. Namun, melihat Kaffa yang sangat kacau dan terus merenung, membuat mereka sejenak mengurungkan niatnya. Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah menunggu.


3 jam kemudian..


Tampak dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekat kearah mereka diiringi dengan isak tangisnya.


"Alya.. Alya.." panggil wanita itu dengan lirih.


Ibu Alya. Siapa lagi yang akan datang dengan sangat mengkhawatirkan putri tercintanya. Ketika mendapatkan kabar dari Anggun, Ibu Alya langsung berangkat ke kota.


Sesampainya didepan pintu, Anggun dan Malika menemani ibu Alya masuk kedalam ruangan. Sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan sekali ketika seorang ibu berada disamping anaknya yang sedang diantara hidup dan mati. Menangis dengan begitu lirih sambil menatap lekat wajah anaknya. Malika dan Anggun yang melihat itupun tak kuasa menahan tangis.


Diluar ruangan..


"Sekarang sudah ada ibunya, tolong antar aku ke kamar Abira dirawat" pinta Kaffa melirik kearah Nisa.


Nisa yang menyadari itu berjalan didepan Kaffa. Kaffa mengikutinya dari belakang.


ceklekk..


Pintu dibuka. Namun mata keduanya terbelalak melihat keanehan didalamnya.


Mereka terlihat kebingungan mendapati ruangan itu justru kosong. Tidak ada seorang pasien pun didalamnya.


"Ta.. tadi di ruangan ini, aku masih ingat" jawab Nisa terbata-bata.


"Syukurlah kalian kembali" ucap seorang suster mengagetkan mereka.


"Sus.. dimana pasien yang dirawat di ruangan ini tadi ?" tanya Nisa khawatir.


"Ketika nona Abira sadar, ia menangis tak terkendali, memberontak dan bersikeras memaksa untuk pulang serta mencabut paksa infusan nya. Saya mencoba mencegah tapi tidak bisa. Saya mencari kalian kemana-mana, ternyata kalian baru kembali. Tolong cari pasien, kondisinya sedang tidak baik-baik saja, dokter sangat mengkhawatirkan keadaan nya." jawab suster itu dan setelahnya pergi meninggalkan mereka.


Sejenak Kaffa dan Nisa saling pandang. Mereka khawatir memikirkan kemana Abira pergi. Nisa terus mencoba menghubungi namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Kaffa yang mendapati itu kembali gusar.


"Aargghhhh" spontan Kaffa memukul dinding yang ada dihadapan nya.

__ADS_1


Nisa sangat kaget. Sangat jelas nampak dimata Kaffa bahwa ia mengkhawatirkan keadaan Abira. Pertanyaan dibenaknya semakin menumpuk melihat Kaffa yang khawatir sampai melukai tangannya sendiri.


"Kaf tanganmu berdarah" ucap Nisa dengan ragu.


"Kamu temani Alya bersama yang lainnya. Aku akan cari Abira." jawab Kaffa bergegas pergi mempercepat langkahnya.


"Ya Tuhan sebenarnya apa yang sudah terjadi. Kenapa sulit sekali rasanya mencerna semua ini" suara batin Nisa yang melihat Kaffa semakin jauh dari pandangannya.


Sementara ditempat lain..


"Pa.. Bira mau berhenti kerja, Bira nggak mau ngajar lagi.. dan nanti kalo Kaffa atau siapapun mencari Bira, tolong bilang Bira nggak ada atau nggak usah respon pesan maupun telepon nya" pinta Abira dengan wajah datar dan tubuh yang lunglai.


Tanpa mendengarkan jawaban dari papa nya, Abira langsung masuk ke dalam kamarnya. Ya.. Abira pergi dari rumah sakit dan pulang menuju rumahnya.


Papa nya yang mendengar itu cukup paham perasaan anaknya. Menurutnya Abira sangat terganggu dengan kejadian beberapa hari lalu dan ingin menghindari itu semua. Demi puteri kesayangan satu-satunya, papa Abira rela melakukan apapun asalkan Abira mendapatkan kenyamanannya.


Sedangkan Kaffa yang tengah kebingungan membawa sepeda motornya kesana kemari menuju tempat-tempat yang mungkin akan dikunjungi Abira. Kaffa sangat gusar karena dari tadi tidak satupun pesan dan telepon nya yang direspon oleh papa Abira.


Kaffa bertanya pada Rosa, Rosa mengatakan Abira tidak bersamanya. Kaffa ke danau, Abira juga tidak ada. Setelah cukup lelah, Kaffa mengunjungi tempat terakhir yaitu rumahnya. Mau tidak mau Kaffa harus kesana memastikan keberadaan Abira dan dia sudah berfikir panjang atas konsekuensi yang akan dia dapatkan. Namun lagi-lagi Kaffa mendapatkan kekecewaan. Rumah Abira tampak kosong tak berpenghuni. Berulang kali ia mengucap salam, berulang kali juga tidak ada jawaban.


Padahal tampak dari dalam papa Abira yang diam-diam melihat Kaffa dari luar. Beliau tidak menghiraukan sosok laki-laki itu dan lebih memilih mendengarkan keinginan putrinya.


Abira yang mendengar suara Kaffa, menangis semakin menjadi. Kejadian yang dialaminya beberapa jam lalu terus menghantuinya. Teriakan Alya terus terdengar di telinga nya. Kenyataan yang ia dapatkan justru lebih buruk dari dugaannya. Abira terus menyalahkan dirinya sendiri.


Malam hari..


"Kamu dimana ? cepat kesini.. dari tadi Alya terus memanggil namamu" ucap Nisa dibalik telepon.


"Iya, aku segera kesana" jawab Kaffa mengakhiri telepon itu.


Alya menangis menyambut kedatangan Kaffa. Beruntung ia koma hanya beberapa jam saja. Semenjak ia sadar dari komanya, Alya sama sekali tidak ingin makan jika bukan Kaffa yang menyuapi nya. Seluruh teman-temannya bahkan ibunya sudah membujuk nya namun Alya tetap pada keinginan nya. Meskipun disatu sisi, Nisa dan yang lainnya agak sedikit keberatan jika Kaffa harus datang merawat Alya.


Seolah melupakan kejadian itu, Alya tampak bersikap seperti biasanya. Ibunya yang melihat anaknya yang begitu mencintai laki-laki itu seakan mengorbankan nalurinya demi kebahagiaan anaknya. Beruntung ibu Alya tidak menanyakan apapun selain fokus pada kondisi putri nya. Malika, Nisa dan Anggun yang masih ada disana pun ikut membisu demi kesehatan Alya.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2