
drrttt... drrttt...
Dering handphone Kaffa membangunkan nya setelah malam panjang yang membuat dirinya kelelahan.
"Apa ! tunggu aku kesana" Sontak Kaffa kaget
Kaffa bergegas bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke suatu tempat. Dirinya sangat khawatir setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Sesampainya...
"Mana Alya" tanya Kaffa tergesa-gesa
"Ada didalam, dia terus memanggil namamu" jawab Anggun
Tanpa fikir panjang, Kaffa langsung membuka pintu ruang rawat rumah sakit itu.
"Alya.. kamu kenapa ?" ucap Kaffa menyentuh lembut pipi Alya
Alya yang perlahan membuka matanya pun langsung memeluk laki-laki yang ada di hadapannya ketika sadar bahwa yang datang adalah Kaffa. Alya menangis tersedu-sedu karena khawatir sepanjang malam Kaffa tidak memberinya kabar.
"Kamu kemana aja ?" ucap Alya sambil menangis
Perlahan Kaffa menenangkan nya. Ia mencoba meregangkan pelukan itu dan merebahkan Alya kembali ke kasurnya.
"Aku disini, dihadapan kamu Al"
Kaffa begitu telaten merawat Alya. Sepanjang hari ia terus berada dirumah sakit itu. Beruntung itu adalah hari libur kuliah dan kerja. Sesekali ia menatap lekat wajah sendu yang begitu mengkhawatirkan nya. Kaffa sekarang benar-benar berada pada posisi rumit yang dibuatnya sendiri.
"Kaf.. kamu kenapa" tanya Alya memegang tangannya
"Aku nggak papa Al"
"Kamu semalam kemana ? kenapa menghilang ? aku tanya sama adikmu katanya kamu sudah pulang, tapi kenapa telepon ku tidak diangkat ?. Beberapa hari ini juga kamu terlihat aneh Kaf. Ada apa ? cerita dengan ku."
"Maaf, semalam aku ketiduran, karena terlalu lelah bahkan pagi ini aku kesiangan"
"Aku tanya kamu kenapa Kaf ? Apa yang kamu pikirkan ?"
Melihat Alya yang terus bertanya mendesaknya, Kaffa terpaksa harus menjawabnya agar Alya berhenti mengkhawatirkan nya.
"Aku nggak papa Alya. Ini hanya tentang keluarga ku dan aku bisa mengatasi nya sendiri"
"Aku nggak akan maksa kamu kalau kamu nggak mau cerita Kaf. Tapi satu yang perlu kamu tahu, kalau aku selalu ada untukmu ketika kamu butuh bantuan"
"Aku sudah terlalu banyak merepotkan mu Alya"
__ADS_1
Mereka saling menatap dalam. Kaffa kembali membohongi Alya dengan mengatasnamakan keluarganya. Padahal Kaffa tau betul yang mengusik pikirannya saat ini adalah Abira.
Dengan hanya Kaffa menemuinya dan berhasil menenangkan nya pun, Alya merasa dirinya sudah lebih baik. Ia memaksa untuk pulang dan istirahat dikosan saja.
Menit demi menit berlalu. Gemerlap matahari berganti terangnya sinar bulan. Meskipun dikosan itu ada Malika dan yang lainnya, namun Alya tetap ingin Kaffa lah yang merawatnya. Menyuapinya makan, memastikan nya minum obat. Seketika Kaffa teringat sesuatu dan segera izin pulang kepada Alya kalau dia lupa ada urusan penting.
Sementara di tempat lain...
"Pa nanti ada temen Bira yang datang mau ketemu sama papa" (ucap Abira kepada papa nya)
Abira memang sengaja memberitahukan rencana kedatangan Harun beberapa menit sebelumnya saja. Abira tau betul bahwa papa nya akan menginterogasi dirinya kalau ia memberitahu itu jauh-jauh hari. Dengan suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja, Abira pun melakukan itu. Ia tau dirinya tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan papa nya saat itu.
"Kok mau ketemu papa ? emang ada apa ?" tanya papa Abira heran
"Assalamualaikum"
Belum sempat Abira menjawab pertanyaan papanya, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengucapkan salam dibalik pintu. Ketika pintu dibuka, ternyata Harun sudah sampai lebih dulu. Abira mempersilahkan nya masuk dan duduk. Tak lupa pula ia membuatkan minuman dan membawa cemilan untuk dua laki-laki itu.
Abira duduk disamping papa nya. Tampak Abira lihat mereka berdua saling ingin mengenal lebih dulu. Masing-masing melayangkan pertanyaan basa-basi untuk mencairkan suasana yang sebenarnya sangat menegangkan bagi Harun.
Setelah perbincangan panjang, Harun menarik nafasnya dalam-dalam.
"Jadi begini om, sebenarnya kedatangan Harun kesini berniat untuk melamar anak om, Abira"
Harun kembali melanjutkan perkataannya dengan bercerita bagaimana ia bisa mengambil keputusan itu. Hingga Harun ekspresikan rasa cintanya dengan berniat melamar Abira.
Mendengar itu semua seketika Papa Abira menarik nafas panjang dan sejenak memikirkan sesuatu.
"Sebelumnya om sangat tersanjung dan sangat berterimakasih kepada nak Harun yang sudah bersilaturahmi kesini berniat melamar Abira dan om memutuskan....."
"Tunggu om"
Belum sempat papa Abira melanjutkan bicaranya, tiba-tiba dihentikan oleh seseorang yang datang dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kaffa" ucap serentak tiga orang itu
"Kaffa juga berniat melamar Abira om"
Deggg... suasana ruang tamu itu seketika berubah menjadi panas. Mereka semua tampak bingung dengan apa yang dikatakan Kaffa barusan.
"Maksudnya apa Kaf ?" tanya Harun
"Iya seperti yang Abang dengar, aku juga ingin melamar Abira" jawab Kaffa tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Abira
__ADS_1
"Tapi kenapa mendadak seperti ini ? ..."
"Karena aku juga mencintai Abira" ucap Kaffa memotong perkataan Harun
Mendengar itu mata Abira terbelalak, ia pusatkan pandangan nya pada sosok laki-laki yang tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa lalu menyatakan cinta. Begitu juga dengan papa nya yang tampak bingung mendengar itu semua.
"Apa ? kamu mencintai Abira ? kenapa baru sekarang kamu bicara ini Kaf ? kenapa setelah Abang berniat melamar nya ? kamu tau betul kan bahwa malam ini Abang ingin melamar Abira"
"Justru itu bang, Aku datang juga untuk niat yang sama. Maafin Kaffa bang, tapi Kaffa nggak bisa menahan ini semua. Biar papa Abira yang memutuskan hasil akhirnya" jawab Kaffa memandang papa Abira dengan penuh harap
"Abang benar-benar nggak nyangka sama kamu Kaf"
Seketika persaudaraan itu sekarang berubah menjadi persaingan. Tampak kekecewaan yang sangat nyata pada mata Harun. Ia yang selama ini sangat dekat dengan Kaffa yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri, justru malah ingin menikung perasaannya.
"Sudah hentikan" ucap Papa Abira melerai pertikaian dua orang yang saling menatap sengit itu
"Kalian ini sudah dewasa, seharusnya kalian bisa menyelesaikan ini terlebih dahulu sebelum kalian kesini. Anak saya bukan makanan yang bisa dibagi. Saya benar-benar tidak menyangka dengan situasi ini"
"Tapi om, sungguh Harun benar-benar tidak tau kalau Kaffa juga mencintai Abira dan ia tiba-tiba datang kesini dengan tujuan yang sama" ucap Harun membela diri
"Sudah nak Harun, sebenarnya tadi om mau bilang bahwa om memutuskan untuk belum bisa menerima lamaran ini karena Abira masih kuliah, biarkan dia fokus dulu dengan kuliahnya dan menamatkan nya" ucap Papa Abira menatap putri kesayangannya
Mendengar itu hati Harun seakan runtuh. Pada waktu bersamaan ia harus mendapat kan kenyataan menyakitkan, bahwa ia dan temannya mencintai perempuan yang sama dan ia juga mendapatkan penolakan.
"Dan itu juga berlaku untuk Kaffa, Om minta maaf dengan kalian tapi om juga kecewa dengan kalian karena keadaan rumit ini. Sebaiknya kalian berdua pulang dan saling instrospeksi" lanjut papa Abira
Setelah mengatakan keputusan nya, papa Abira pergi meninggalkan ruang tamu itu. Tampak Abira yang sedari tadi hanya diam pun ikut menyusul papa nya masuk. Sementara kedua laki-laki itu pulang dengan masing-masing membawa rasa kekecewaan nya.
"Apa semua ini Bira ? Tanpa memberitahu papa sebelumnya dan tiba-tiba papa harus dihadapkan dengan kenyataan yang seperti ini" ucap papa kepada Abira yang menyatakan kekecewaannya
"Maafin Bira pa.. Bira juga nggak tau kalau akhirnya akan jadi seperti ini" jawab Abira dengan raut wajah penyesalan
"Yasudah jangan diulangi lagi. Sekarang masuklah ke kamar"
Tanpa menjawab, Abira langsung menuruti perintah papa nya.
Dikamar, perasaan Abira sangat campur aduk. Ia menyesal sudah mengecewakan papa nya dan disatu sisi ia memikirkan Harun, namun disisi lain terus terngiang-ngiang pengakuan cinta dari Kaffa. Abira benar-benar tidak menyangka kalau Kaffa akan melakukan ini semua, ia begitu nekat melakukan segala macam cara untuk mendapatkan yang dia mau. Abira semakin kesal dan kecewa dengan Kaffa, bisa-bisanya ia menyatakan cinta dan meminta izin untuk menikahi dua perempuan yang berbeda. Abira pun memenuhi malam panjangnya dengan air mata.
.
.
bersambung..
__ADS_1