Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Jaket


__ADS_3

Sepulangnya dari rapat tiba-tiba hujan turun. Segera Abira mencari tempat untuk berteduh, diikuti oleh Kaffa dibelakangnya. Abira tau betul bahwa tubuhnya tidak bisa terkena air hujan. Jika ia hujan-hujanan bisa-bisa tubuhnya demam dan papa nya pasti khawatir kepadanya. Baginya lebih baik berteduh sebentar sampai hujannya reda.


Keheningan ada diantara mereka yang berdiri dengan cukup berjarak. Menatapi tetesan air yang turun dihadapan mereka, berharap air itu cepat berhenti. Menggulung tangan ke dada untuk mendekap tubuh masing-masing sesekali mengusap lengan.


"Pakailah jaket ku, aku tau kamu alergi dingin" ucap Kaffa menghampiri, mengulurkan jaket yang ada ditangannya


Abira hanya sedikit melirik tanpa mengambil jaket itu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, dari mana Kaffa tau jika dirinya alergi terhadap dingin.


"Hhm.. ayolah jangan keras kepala. Turunkan sedikit gengsi mu. Kamu bisa sesak nafas kalau terus seperti ini. Aku akan menelpon papa mu lagi kalau kita terjebak hujan"


Sebenarnya Abira merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Ditambah hujan yang semakin deras dan tak kunjung reda. Terpaksa ia mengambil jaket Kaffa dan menyelimuti dirinya.


Keadaan hening datang kembali diantara mereka.


Tidak lama handphone Kaffa berdering menandakan ada seseorang yang menelepon nya. Dalam hati Abira ia menerka-nerka, itu pasti panggilan dari Alya temannya yang mengkhawatirkan keadaan Kaffa. Bahkan Kaffa harus menjauh sedikit darinya. Mungkin ia tidak mau Abira mendengar percakapannya. Abira hanya tertunduk kedinginan sambil terus mendekap tubuhnya semakin erat.


"Kamu tau Abira, sejauh apapun dirimu berubah sekarang, kamu tetaplah Abira yang ku kenal dulu. Abira yang aku kagumi. Memang benar dunia itu sempit ya. Bertahun-tahun aku mencari mu tapi ternyata tanpa aku sadari kita sangat dekat." ucap Kaffa memecah keheningan dalam diri Abira


Abira yang tidak mengetahui bahwa Kaffa sudah kembali berada didekatnya pun sangat terkejut mendengar perkataan itu. Abira hanya diam, namun hatinya terus bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Kaffa.


Setelah beberapa menit hujan reda dan mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya dirumah...


"Maaf ya om terlalu malam karena kami tadi terjebak hujan jadi berteduh dulu"


"iya tidak apa-apa, lebih baik kalian berteduh daripada harus hujan-hujanan. Abira bisa sakit"


***

__ADS_1


Setelah mandi membersihkan dirinya, ketika memasuki kamar, Abira baru sadar bahwa jaket Kaffa masih ada padanya. Karena terlalu kedinginan Abira lupa mengembalikan nya. Ia menghela nafas panjang karena kecerobohan nya dan berniat mengembalikan jaket itu di keesokan hari.


"Apa maksudnya dia mengatakan itu ? mengangumi ku ? bertahun-tahun mencari ku ? apa dia merasakan dan melakukan hal yang sama denganku ?" gumam batin Abira mempertanyakan semua keluh hati nya atas semua ucapan Kaffa


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. apa yang aku pikirkan. Hus hus pergilah setan jangan coba menghasut ku" ucap Abira dengan gusar


Sementara Kaffa di kamarnya yang terus mengingat detik demi detik ia memandangi wajah Abira dibawah turunnya hujan dalam keheningan. Sesekali ia merekah kan senyuman pada bibirnya. Ia beruntung Abira yang terus menghindar darinya tidak menyadari hal itu.


"Tetap Abira yang cantik, wajahnya bersinar meskipun raut wajahnya sangat dingin" gumam batin Kaffa sambil tersenyum


Kaffa kembali mengingat bagaimana anak-anak bimbingan Abira di taman Qur'an menghampiri nya. Mereka sangat senang Kaffa membawa Abira ke tempat itu sehingga mereka bisa merasakan didikan dari seseorang yang begitu tulus mengajari mereka.


Tanpa disadari senyuman kembali lagi ke wajah Kaffa.


"Diriku ini kenapa ? apa perasaan ku pada Abira benar-benar kembali ? ahhh tidak Kaffa kamu sudah punya Alya wanita yang selama ini setia membantu mu" gumam batin Kaffa yang mencoba menepis perasaannya


***


"Abira.. maaf itu kayaknya jaket Kaffa ya ?"


Abira yang kaget dihampiri tiba-tiba oleh Alya menyadari bahwa Alya pasti berfikiran yang tidak-tidak dengannya karena memegang jaket itu.


"Ohh ini iya Alya. Semalam kami kehujanan, Kaffa meminjamkan nya karena aku kedinginan, aku alergi dingin Alya, aku bisa sesak nafas kalau terus kedinginan sementara hujannya cukup lama" ucap Abira berusaha meyakinkan Alya


"Hari ini aku mau kembalikan, atau aku boleh minta tolong denganmu ? tolong kembalikan jaket ini kepada Kaffa" pinta Abira sambil mengulurkan jaket yang ada ditangannya


Tanpa menjawab Alya hanya mengangguk dan mengambil jaket itu dari tangan Abira.

__ADS_1


Disepanjang pelajaran pikiran Alya terus lalu lalang. Pikiran pikiran negatif mulai memasuki dirinya. Ia terus bertanya-tanya ada apa Kaffa dan Abira. Apa benar yang dikatakan Abira. Mereka dalam ruangan kerja yang sama, apa saja yang mereka lakukan sementara Alya tidak ada disana. Apa mereka selalu pulang bersama.


Alya merasa over thinking. Ia harus segera bertemu Kaffa untuk menanyakan semuanya sembari mengembalikan jaketnya.


"ini jaket mu, Abira minta tolong aku untuk mengembalikan kepadamu" ucap Alya memberikan jaket yang ada ditangannya


"Ohh iya terimakasih Alya"


"Kok bisa jaket mu ada padanya ?"


"Kemarin kami rapat dan pulang malam. Ketika dijalan hujan. Aku ingat dulu waktu sekolah kalau Abira tidak bisa kena air hujan, terlebih lagi dia alergi dingin dan bisa sesak nafas. Dia sudah mau membantu ku, jadi apa salahnya aku membantunya juga" ucap Kaffa menatap Alya dengan lekat, Kaffa tau bahwa Alya sedang cemburu


"Kamu jangan berfikiran aneh-aneh. Lihatlah dia bahkan memintamu yang mengembalikannya padaku kan. Kamu sendiri yang cerita bagaimana dia begitu menjaga dirinya. Kami kerja secara profesional saja. Tidak ada komunikasi pribadi apapun diantara kami. Percayalah padaku" ucap Kaffa mencoba meyakinkan Alya


Melihat Alya yang terus diam dan tidak kunjung merespon penjelasan nya. Kaffa Langsung melayangkan ciuman ke kening Alya. Sambil mengatakan...


"Sudah jangan berfikir macam-macam"


Alya seketika luluh dengan perlakuan Kaffa dan memilih untuk menepiskan seluruh gundah dihatinya. Alya sangat mempercayai laki-laki yang dicintai nya itu. Alya memilih untuk melupakan kecemburuan nya daripada hubungannya dan Kaffa harus mengalami masalah.


***


Hari weekend tiba. Abira yang sangat nyaman dengan keheningan dan kedamaian, mengunjungi tempat favorit nya disetiap libur kuliah. Sebuah danau buatan yang terkenal di kota nya. Di sana Abira sangat betah menghabiskan waktu berjam-jam walaupun hanya sendiri. Duduk di kursi tepi danau, dibawah pohon rindang yang memberikan kesejukan.


Tampak dari kejauhan ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan nya...


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2