Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Masa lalu


__ADS_3

"Abira.. apa kamu lagi buru-buru ? aku mau bicara sebentar saja" pinta Alya


"Nggak juga Al, ada apa emangnya ?


"Gini.. em.. kamu teman Kaffa satu sekolah kan ? dia lagi butuh guru ngaji tambahan untuk ditempat kerjanya. Apa kamu bisa bantu ?" ucap Alya dengan ragu


Alya menjelaskan panjang lebar agar Abira mau menerima tawaran itu. Alya berusaha membujuknya, namun tetap saja...


"Maaf Alya, aku lagi nggak butuh pekerjaan sekarang. Lagipula itu terlalu sore untukku, sebelum papa ku pulang kerja aku sudah harus ada dirumah. Aku nggak mau membuat beliau khawatir"


Lagi-lagi Alya dibuat tertegun oleh Abira. Ada rasa kekecewaan dihatinya. Tapi tentu Alya tidak bisa memaksakan kehendaknya.


***


"Dia bilang begitu ?" ucap Kaffa


"iya" jawab Alya mengangguk


"Kamu sudah bujuk dia ?"


"Sudah tapi tetap saja dia bersikeras tidak mau"

__ADS_1


Kaffa sedikit kecewa, besar harapannya untuk Abira mau menerima tawaran itu. Sebenarnya dia sudah sangat senang sekali ketika Alya sendiri yang merekomendasikan nama Abira untuknya. Tapi tetap saja, semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Dia tau betul bagaimana sikap Abira, pasti dia menolak dengan sikap dinginnya.


***


Dimalam hari Abira tampak merenung memikirkan tawaran yang didapatkannya itu. Matanya mencoba untuk terpejam, namun sayang hatinya terus bergumam. Pikirannya mencoba memutar kembali memori lama tentang seseorang.


"Kenapa aku ? apa tidak ada orang lain ? temannya tentu banyak" gumam batin Abira


Flashback..


Abira mencoba mengingat bagaimana dulu Kaffa berusaha mengambil perhatiannya. Sebenarnya dia tau usaha yang dilakukan Kaffa, tapi Abira tidak ingin terbelenggu. Abira tau betul jika dia mengikuti teman-temannya yang lain yaitu berpacaran, itu bisa mengganggu konsentrasi belajarnya. Abira takut prestasinya turun, apalagi kalau harus terkalahkan oleh seorang laki-laki. Dia sama sekali tidak mau membuat orang tuanya kecewa.


Meskipun begitu, tetap saja sebagai perempuan normal, Abira tentu terkesan dengan usaha Kaffa. Tapi dia bisa menahan itu semua sampai keduanya lulus bersama.


Tiba suatu hari saat SMA, Abira mengikuti lomba di salah satu sekolah terkenal di kota itu. Tanpa disangka ia bertemu Kaffa setelah 2 tahun melupakannya. Tapi Kaffa tidak tau jika Abira ada disana. Abira mengira Kaffa juga salah satu peserta cerdas cermat seperti dirinya, namun dugaan nya salah ternyata Kaffa peserta lomba ceramah dan Kaffa memenangkannya.


Mulai dari saat itu lah Abira tertarik akan ilmu agama. Mengingat persaingan sengit dulu diantara keduanya, sikap ambisius Abira tumbuh dan ingin kembali bertemu Kaffa dilomba yang sama serta mengalahkan nya.


Namun takdir berkata lain, kecerdasan Abira justru membawa nya kepada kesadaran akan identitas nya sebagai muslimah dan dia perlahan berhijrah. Mungkin inilah yang dinamakan sebuah hidayah. Semakin belajar, Abira semakin merasa bodoh karena begitu banyak hal yang tidak ia ketahui padahal itu tentang agamanya sendiri. Apalagi ketika dia mendengar ceramah tentang menutup aurat yang berkaitan dengan limpahan dosa kepada Papa nya, saat itu juga Abira bertekad berubah.


Suatu waktu keinginan Abira terwujud, ia mendapatkan panggung yang sama seperti Kaffa. Tapi sayangnya lagi-lagi mereka tidak bertemu dan Kaffa juga tidak mengetahui semua itu karena mereka berada di sesi yang berbeda. Lebih menyakitkan lagi bagi Abira ketika dia harus mendengar bahwa Kaffa memenangkan lomba itu. Dengan berat hati Abira harus menerima untuk pertama kalinya Kaffa bisa mengalahkannya. Karena itulah Abira semakin haus akan ilmu agama dan justru keadaan berbalik, dialah yang mengagumi Kaffa.

__ADS_1


Masa perkuliahan tiba, sedari ospek sebenarnya Abira sudah mengetahui bahwa ia dan Kaffa berada dikampus yang sama. Namun, Abira menepis jauh perasaannya karena ia tau itu bisa menjeratnya dalam sebuah dosa. Baginya Kaffa bisa menjadi ujian terbesar dalam keistiqomahan nya.


Masa perkuliahan terus berjalan, sepanjang masa itu juga Abira mengetahui Kaffa dan Alya berhubungan. Yaa Alya teman sekelasnya. Sering sekali Abira melihat mereka berduaan, baik di perpus, dijalan, dikantin, bahkan di depan gedung belajar ketika Kaffa mengantar Alya saat itu.


Yaa saat dimana pertama kali Kaffa menyadari keberadaannya. Saat pertama kali Kaffa berteriak memanggil namanya. Abira tau betul betapa kagetnya ia saat itu, jantungnya berdegup kencang, namun secepat mungkin ia berusaha untuk menghindar.


Abira berfikir bahwa mereka berdua berpacaran. Abira sering menahan sakit ketika teman-teman kelasnya menggosipkan Alya dan Kaffa. Sebaik apapun Alya menutupi itu semua, tetap saja setiap orang punya sepasang mata dan telinga yang tajam. Apalagi ketika Abira melihat kemenangan Kaffa saat lomba debat dan Alya ada disisinya. Semua itu sangat jelas cukup membuktikan apa yang selama ini Abira pikirkan.


Ditambah kejadian siang tadi, justru Alya sendirilah yang memberinya jalan untuk masuk kembali dalam kehidupan Kaffa. Tentu saja Abira harus menolaknya. Sakit sekali rasanya jika harus satu tempat kerja dengan orang yang selama ini mengisi ruang kekaguman didalam hatinya. Seseorang yang berkembang begitu cepat dengan kecerdasan dan kecakapannya dalam berbicara, Muhammad Kaffa Adzikra.


Disatu sisi Abira mengakui kecocokan mereka. Ternyata semasa kuliah juga Abira diam-diam memperhatikan Alya dan ikut mengaguminya. Background nya yang dari pondok pesantren tentu membekalinya kecakapan dalam berbahasa Arab. Itulah hal yang selama ini Abira inginkan sepanjang masa hijrahnya, bisa berbahasa Arab. Namun kecerdasan Abira belum cukup memenuhi keinginannya. Mempelajari bahasa Arab tidaklah semudah yang ia bayangkan.


Semua itu cukup membuat nya sadar diri dan insecure kepada Alya. Meskipun selama ini jika tentang Islam teman-temannya mengandalkan dirinya, namun jika bahasa Arab tentu Alya lebih unggul. Abira terus merasa dia tidaklah sebanding dengan sosok Alya.


"Ya Allah bantu aku. Jangan biarkan hatiku terbelenggu oleh nafsu. Beri aku kekuatan dan kesabaran yang begitu luas sehingga aku bisa menjalani hari-hari ku. Jangan datangkan lagi masa lalu itu dalam hidupku, Engkau tau betul bagaimana perasaanku"


"Biarkan aku untuk tetap Istiqomah dijalan-Mu. Yakinkan aku bahwa dia bukanlah laki-laki yang baik untukku. Jangan bangkitkan hatiku hanya untuk memikirkan perasaan pada dunia yang semu" gumam batin Abira


Tangan Abira terus mendekap dadanya. Detak jantung yang berdetak tak beraturan itu menemani malamnya. Ada kekhawatiran yang ia rasakan, namun ia berusaha tidak memikirkan nya. Ia terus mengingat sosok Kaffa yang sekarang bersama dengan temannya Alya. Pikiran itu menemani Abira hingga malam yang panjang membuatnya terlelap.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2