Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Terungkap


__ADS_3

Keesokan harinya, Abira datang ke kampus lebih awal. Ia menghindari tatapan orang-orang dirumah, terutama papanya yang akan langsung tau bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Namun ketika ingin memasuki kelas, dari kejauhan Abira melihat Alya yang terduduk lesu dipinggir balkon. Semakin dekat matanya memandang Alya, semakin dekat pula Abira mendapatkan bahwa Alya sedang menangis. Melihat itu muncul kekhawatiran di hati Abira.


"Alya, kamu kenapa ?" tanya Abira memegang pundaknya


"Nggak papa Ra cuma kangen sama keluarga" jawab Alya datar sambil mengusap air mata yang membasahi pipi nya


Mendengar itu Abira sedikit merasakan keanehan. Hatinya mengatakan bahwa Alya sedang berbohong padanya. Abira masih duduk bersebelahan dengan Alya sampai beberapa menit kemudian Malika dan yang lainnya datang. Betapa kagetnya Abira karena Alya langsung berdiri menghampiri teman-temanya itu, Alya melewati Abira begitu saja, ia memeluk mereka dan menumpahkan air mata nya. Melihat itu hati Abira terasa sakit, dari tadi ia setia menemani Alya disampingnya namun tidak melakukan hal yang sama saat ia menyapanya.


Perasaan Abira semakin aneh ketika Alya justru minta diantar pulang oleh Anggun ke kosan dan tidak ingin ikut kuliah di hari itu. Anggun pun menuruti nya karena ia pikir Alya belum sepenuhnya sehat.


Saat sedang menunggu kedatangan dosen, tiba-tiba handphone Abira bunyi.


Tinggg.. sebuah pesan masuk.


"Aku sudah mengatakan semuanya pada Alya" -Kaffa


Membaca pesan itu membuat sekujur tubuh Abira gemetar. Hatinya mencair. Seluruh tenaga yang ada pada dirinya seolah menghilang begitu saja. Ingatan langsung memutar kejadian beberapa menit lalu saat ia menyapa Alya. Ternyata airmata Alya tumpah itu karena dirinya.


"Ya Allah Alya..." ucap Abira lirih dengan airmata nya


"Kamu kenapa Ra ?" tanya Rosa khawatir melihat sahabatnya yang tiba-tiba menangis


Tanpa menjawab pertanyaan Rosa, Abira langsung bergegas membereskan buku-bukunya dan berjalan keluar kelas dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.


"Kamu mau kemana Ra ?" teriak Rosa khawatir


Rosa ingin menyusul, tapi baru saja selangkah ia keluar pintu, dosen yang ditunggu sedang berjalan kearahnya. Rosa tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Abira kembali. Jika ingin memaksa menyusul pun, ia tidak tau kemana arah Abira pergi.


Dengan perasaan yang campur aduk tak menentu, ternyata Abira berjalan melangkahkan kakinya ke kosan Alya.


"Assalamualaikum.. Al" ucap Abira didepan pintu kosannya


"waalaikumussalam" jawab Fara teman kosan Alya yang terlihat sudah bersiap ingin pergi kuliah


"Maaf aku Abira teman sekelasnya Alya, Alya nya ada ?"


"Ohh Alya.. ada di kamar mandi Abira.. kamu masuk aja tunggu didalam, karena aku mau pergi kuliah" jawab Fara perlahan meninggalkan kosan


"Iya terimakasih" ucap Abira dengan sedikit mengangkat ujung bibirnya


Beberapa menit kemudian..


"Loh Abira ? kenapa kamu disini ?" tanya Alya heran dan pura-pura sedang baik-baik saja

__ADS_1


"Aku kesini karena ada yang mau aku bicarakan denganmu" jawab Abira sambil memperhatikan Alya yang perlahan duduk dihadapan nya


"Apa yang mau kamu bicarakan"


Melihat sikap Alya yang tenang namun datar, membuat Abira serba salah. Disatu sisi ia mendapatkan pesan dari Kaffa yang menyatakan bahwa ia sudah menceritakan semuanya pada Alya. Namun disisi lain Abira mendapati raut wajah Alya yang seolah sekarang sudah baik-baik saja.


Seketika ia ingat kembali akan pesan Rosa. Bagaimana pun juga inilah saat yang tepat baginya untuk menanyakan semuanya. Terlepas pesan dari Kaffa itu benar atau tidak.


"Tentang Kaffa" jawab Abira singkat


"Kaffa ? ada apa dengannya ?"


"Aku mohon jawab aku dengan jujur Al. Hubungan apa yang sebenarnya sedang kamu jalani bersama Kaffa ?" tanya Abira menatap Alya dengan lekat


"Memangnya kenapa ? kamu mencintai nya ?" tanya Alya balik


Seketika Abira tidak percaya mendengar Alya mengatakan itu. Keanehan yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.


"Maksudmu apa Alya ? aku mencintai nya ?" tanya Abira kembali dengan heran


"Iya.. tadi pagi Kaffa bilang padaku bahwa ada perempuan yang suka padanya. Ketika aku desak dia untuk menjawab siapa perempuan itu, dia bilang kamu Abira. Kenapa kamu tidak mengatakan itu padaku ?" jawab Alya dengan air mata yang kembali menetes


Mengetahui kenyataan itu, ternyata perasaan Abira benar bahwa ada yang salah antara ini semua.


"Hah ! itu semua nggak benar Al. Aku tidak pernah menyatakan cinta padanya. Justru Kaffa lah yang dua hari lalu melamar ku" jawab Abira membela diri


"Itulah kebenaran nya Alya. Ketika dia mengungkapkan semuanya, maka dari itu aku bertanya padamu, ada hubungan apa kamu dan Kaffa. Karena aku tau kalian sangat dekat dan aku tidak ingin menganggu hubungan siapapun. Tapi ternyata kalian menjawab dengan jawaban yang sama. Kenapa kalian tidak jujur ? Kaffa bahkan melakukan segala cara untuk meluluhkan hatiku, mewujudkan keinginan ku ke masjid raya..."


"Apa ? Masjid Raya ? jadi kamu ke masjid raya itu bersama Kaffa Ra ?" ucap Alya memotong penjelasan Abira


"Iya, dia mengusahakan itu ke ketua yayasan untuk melakukan trip ketika ia tau dari anak-anak kalau aku ingin ke masjid raya. Jika kamu tidak percaya padaku kamu bisa baca semua pesan yang dia kirim" jawab Abira sambil memberikan handphone nya


Membaca semua itu tangan Alya gemetar, air matanya jatuh semakin deras. Asma Allah terus terucap dari bibirnya.


"Ya Allah Kaffaaaaa.." teriak Alya dengan lirih


"Kamu tau Abira, aku bahkan sangat ingin kesana tapi Kaffa terus mengatakan sabar dengan alasannya. Ternyata selama ini dia membohongi ku ? bahkan dia menikung temannya sendiri dan bersamaan datang kerumah mu ? melamar mu ? Ya Allah" ucap Alya dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi


"Iya, kami memang tidak punya status apapun. Tapi kami saling mencintai. Aku jatuh cinta padanya begitu juga dengan dia yang mengatakan bahwa dia mencintai ku. Status itu tidak penting. Aku yang selalu memikirkan dia, semua keperluan nya, makannya, pakaiannya, tugas-tugas nya, seluruh masalahnya. Karena cintaku yang begitu besar bahkan aku tidak bisa sedikit pun melihat dia dalam kesusahan. Dia yang begitu baik, peduli dan perhatian padaku, sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan semua itu. Bahkan dia tidak pergi meninggalkan ku saat tau penyakit ku. Perasaan ku semakin dalam Ra... Aku tidak tau jika dia memiliki perasaan yang sama denganmu"


Alya mencari Handphone nya dan menghubungi seseorang.


"Sekarang ! ke kosan ku ! aku tunggu !"


Beberapa menit kemudian datanglah seorang laki-laki mengucapkan salam. Betapa kagetnya Abira melihat Kaffa yang datang. Begitu juga sebaliknya dengan Kaffa, ia sangat kaget melihat dua wanita yang ada dalam hatinya sedang berdua bercucuran air mata.

__ADS_1


"Duduk kamu ! ini jelaskan semua ini ! kenapa kamu berbohong padaku dan memfitnah Abira ! jelaskan !" sarkas Alya


Melihat itu Kaffa hanya mematung berdiam diri. Mungkin ia sudah menyadari bahwa hari itu dirinya akan tamat.


"Jawab !!!" teriak Alya


"Oke aku akui aku salah. Memang benar aku yang menyatakan cinta padanya dan dia adalah cinta pertama ku. Cinta pertama yang hilang dari hidup ku. Setelah aku mengenalmu, Abira justru datang lagi dalam hidupku dan kamulah yang membawa dia semakin dalam masuk kedalam hatiku Alya ! jika dari awal aku menyadari kehadiran Abira dikampus ini, aku tidak akan menjalin hubungan denganmu !" jawab Kaffa


Plakkkk... tamparan mendarat ke pipi Kaffa.


"Jadi maksudmu ? selama ini aku hanya kamu jadikan sebagai pelarian saja Kaf ? hah ?" ucap Alya datar memandang wajah Kaffa dengan begitu dekat


Mendengar itu Kaffa kembali mematung berdiam diri.


"Hahahaha Ya Allah Kaffa... mana yang katanya kamu mencintai ku, tidak akan meninggalkan ku... selalu ada untukku, mana... kamu bahkan mencintai wanita lain, temanku sendiri" ucap Alya dengan raut wajah yang sudah sangat berantakan dengan berulang kali mendorong badan Kaffa


"Tapi aku juga mencintaimu Alya !" jawab Kaffa memegang kedua pundak Alya


Plakkkk... tamparan kedua mendarat kembali di pipi Kaffa melepaskan pegangannya.


"Mencintai ku ? apa maksud mu ? kamu menginginkan keduanya ? hah ? kamu menginginkan keduanya ?"


Kaffa kembali mematung. Abira yang melihat adegan didepan matanya sungguh kacau. Hatinya benar-benar tidak karuan.


"Ya Allah sudah cukup Alya jangan seperti ini. Apa ini ? kehidupan apa yang sudah kalian jalani sampai kamu seperti ini ? maafkan aku yang sudah hadir diantara kalian. Aku tidak tau apa-apa Alya maafkan aku" ucap Abira lirih menenangkan Alya


"Apa Abira harus tau semua yang sudah kita lakukan Kaf ? hah ? sayang lihat aku" ucap Alya menghempaskan tangan Abira dan kembali mendekati Kaffa, memegang kedua pipinya dan mereka berpandangan


"Apa maksudnya ? apa yang sudah kalian lakukan ?" tanya Abira memandangi wajah keduanya


"Kamu tau Abira, aku memang lulusan pesantren tapi aku sudah menjadi wanita liar sejak kenal dengan dia. Dia berhasil meruntuhkan tembok keimanan ku" ucap Alya menunjuk nunjuk kearah Kaffa


Abira mendengar itu semakin ketakutan akan sosok Alya yang ada dihadapannya. Ia seperti bukan melihat Alya. Kepalanya sangat sakit melihat pertikaian dua orang dihadapannya.


"Kamu mau tau sejauh apa kami menjalin hubungan kan ? kami sangat dekat Abira, sangat dekat.. kami sudah berzina Abira ! dia sering memelukku, memberikan ciuman mesra kepadaku, bahkan kami pernah tidur bersama.. dia sudah berhasil merenggut kesucian ku dan ini balasannya untukku !" sarkas Alya seketika membuka hijabnya dan meluapkan semua isi hatinya.


"Apa ? zina ?"


Melihat rambut panjang hitam Alya yang tergerai tanpa kain penutup nya, tanpa ragu Ia tampakkan itu pada Kaffa. Seketika hati Abira hancur mendengar dan melihat kenyataan yang didapat nya. Air matanya semakin turun tak terbendung. Ia menatap lekat kearah dua orang dihadapannya. Apa yang dilakukan Alya seolah membenarkan semua perkataan nya. Dunianya seakan terhenti. Pandangan nya mulai meredup. Tubuhnya lemas tak berdaya, sampai akhirnya...


brukkkk... Abira pingsan untuk yang pertama kali seumur hidupnya.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2