Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Penjelasan Nisa


__ADS_3

Keesokan harinya, Nisa terpaksa menjaga Alya seorang diri karena Ibu Alya harus ke dermaga untuk mengambil semua barang-barang yang ia titipkan.


"Nis.." panggil Alya dengan suara kecil.


"Alya.. Alya kamu sudah bangun" ucap Nisa menghampiri dengan wajah bahagianya.


"Aku kenapa ? Bapak ibuku mana ?" tanya Alya yang masih separuh sadar.


"Bapakmu harus pulang karena kasihan adik-adik mu ditinggal dirumah. Ibu mu belum lama pergi ke dermaga mengambil kebutuhan mu yang dikirimkan. Sebentar lagi pasti kembali. Tenang, kamu tidak sendirian, ada aku disini" jawab Nisa mencoba menenangkan dengan senyuman nya.


Sejenak keheningan hadir diantara mereka. Sebenarnya Nisa sangat khawatir terhadap kondisi Alya. Ia tau betul sifat Alya yang selalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Tak heran jika setiap masalah menimpanya, tubuhnya akan langsung melemah.


Sementara Alya, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Nis.. Malika Nis.. Anggun..." ucap Alya seketika dengan tangisan histeris nya.


Sontak Nisa kaget mendengar itu. Kini ia tau bahwa Alya sudah mengingat semuanya.


"Iya Al kenapa dengan mereka ? Istighfar Alya istighfar.. ingat orang tuamu, jangan sampai mereka melihat mu seperti ini" jawab Nisa dengan penuh rasa khawatir.


Nisa yang sudah mengetahui semua isi pesan itu berpura-pura bersikap seolah tidak tau apa-apa. Ia ingin Alya menceritakan semua hal kepadanya secara detail.


"Mana handphone ku" pinta Alya dengan gusar.


Nisa pun memberikannya.


"Ini.. lihat ini" Alya mencoba menunjukkan sesuatu.

__ADS_1


Nisa hanya menunduk, ia tak bisa membendung tangisnya.


"Dari mana kamu dapatkan ini ?" tanya Nisa.


Dengan sesak di dadanya, Alya mencoba menceritakan semuanya pada Nisa. Mulai dari ia yang mencoba ingin punya akun Instagram, akun Kaffa yang masih tertinggal di handphone nya, sampai ia menemukan semua pesan itu.


"Aku ingat sesuatu, pantas saja waktu aku ingin pergi KKN, aku melihat panggilan dari Kaffa yang menelepon Malika. Apa benar hubungan mereka sudah dari lama ? Apa sebenarnya yang terjadi ketika aku sudah pulang Nis ?" tanya Alya berlinangan air mata.


"Aku.. aku.." ucap Nisa terbata-bata yang bingung ingin menjawab apa.


"Dan kamu, kenapa bisa disini ?" tanya Alya memecah lamunannya.


"Pagi itu Malika dan Anggun menelpon ku. Dari suara mereka, aku tau ada kekhawatiran dan rasa takut. Aku tau pasti ada sesuatu tapi entah apa itu. Mereka meminta ku untuk mencoba menghubungi mu karena mereka tidak bisa melakukan itu. Ketika aku menelpon mu, Ibu mu yang mengangkat nya dan memberitahu kalau kamu masuk rumah sakit. Makanya aku langsung kesini" terang Nisa.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku. Lihat aku Nis ! Apa yang terjadi ketika aku pulang ? kamu pasti mengetahui sesuatu" pinta Alya dengan mata tajam yang berkaca-kaca.


Sejenak Nisa memejamkan matanya, mengambil nafas panjang dan berfikir sebentar. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Jika menceritakan apa yang ia tau, itu pasti membuat rasa sakit yang berlebih pada hati Alya. Namun jika ia tidak menceritakan yang ia ketahui, rasanya ia akan merasa sangat bersalah.


"Aku.. Aku tidak tau banyak. Seperti yang kamu tau kita sama-sama pulang ke desa hari itu. Tapi..." Nisa memutus penjelasannya karena ragu.


"Tapi apa"


"Tapi ada suatu hari aku pernah ke kampus untuk mengurus administrasi berkas berkas seminar proposal ku. Awalnya ku pikir tidak butuh waktu lama dan aku bisa pulang pergi dalam sehari. Tapi aku salah, ternyata aku kehabisan formulir pendaftaran nya dan harus menunggu besok lagi. Kamu tau kan aku juga sudah memutus kos karena pandemi ini. Saat itu aku bingung, kalau pulang dan balik lagi tentu ongkos nya mahal. Saat itu aku kepikiran Malika yang masih ngekos dan berniat menginap satu hari saja."


"Waktu itu aku tidak sempat mengabari Malika karena handphone ku mati. Jadi aku memutuskan untuk langsung ke kosan saja. Sesampainya disana, aku kaget kalau disana juga ada Kaffa" lanjut Nisa.


"Mereka hanya berdua ?" tanya Alya memotong penjelasan Nisa.

__ADS_1


Nisa pun mengangguk kecil.


"Lanjutkan Nis" pinta Alya ditengah derai air mata yang semakin deras.


"Mereka memang cukup kaget dengan kedatangan ku yang secara tiba-tiba. Tapi tidak lama dari itu Kaffa langsung pamit pulang. Melihat mereka yang bersikap biasa-biasa saja, aku jadi tidak berfikiran jelek sedikit pun dan disana juga banyak kertas-kertas. Malika bilang mereka saling membantu mengerjakan proposal skripsi, ya saat itu aku percaya percaya saja. Setelah urusanku selesai, aku pulang karena kata petugas disana berkas nya bisa diambil 2 Minggu sampai 1 bulan lagi."


"2 Minggu kemudian aku ke kampus lagi, tapi aku berangkat sore dan sampai malam hari. Lagi-lagi aku tidak mengabari Malika lebih dulu untuk menumpang di kosannya. Sesampainya aku disana kosan itu kosong. Aku coba ketuk berulang kali tetap tidak ada jawaban. Jadi aku memutuskan untuk menunggu saja sampai dia pulang."


"Aku menunggu cukup lama, hampir 2 jam-an dari itu Malika pulang. Tapi yang aku kaget adalah dia pulang diantar oleh Kaffa" terang Nisa.


Mendengar semua penjelasan Nisa, Alya hanya bisa terus menangis mencoba mencerna semuanya.


"Melihat kegugupan Malika malam itu membuat aku semakin merasakan bahwa ada yang tidak beres. Aku mendesak Malika untuk berkata jujur. Sebenarnya ada apa antara dia dan Kaffa. Tapi semakin aku mendesak, semakin Malika menepis semuanya. Saat itu aku hanya bisa menasehati saja Alya. Karena aku juga tidak tau apa-apa. Setelah membaca semua yang kamu tunjukkan tadi, kini aku tau bahwa memang mereka menjalin hubungan bahkan lebih dari sekedar hubungan" ucap Nisa mengakhiri penjelasannya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membendung tangis karena merasa bersalah pada Alya. Jika akhirnya menjadi seperti ini, ia tentu sudah lama menceritakan itu semua pada Alya.


"Terus Anggun ?" tanya Alya memecah tangisan Nisa.


"Itu dia, mengenai Anggun aku tidak tau apa-apa. Aku hanya tau tentang Malika saja. Karena setelah waktu sewa kos nya habis, dia juga pulang kan ? Makanya waktu itu aku hanya kepikiran untuk menginap dikosan Malika" jawab Nisa.


"Aku harus meminta penjelasan dari keduanya Nis"


"Sudahlah Alya, jangan pikirkan mereka. Kesehatan mu yang lebih utama sekarang. Lupakanlah Kaffa ! dia hanya terus membawa pengaruh buruk untuk hidupmu ! untuk kesehatan mu !"


"Justru itu Nis. Kalau menurutmu Kaffa membawa pengaruh buruk maka kita harus menyelamatkan sahabat-sahabat kita" Sarkas Alya.


Nisa yang mendengar itu sudah pasrah dan tidak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginan Alya. Memang benar, bagaimana pun juga kebenaran nya harus Malika dan Anggun sendirilah yang menjelaskan.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2