
Abira selalu menghabiskan lebih banyak waktu di kamarnya. Ia sangat takut untuk keluar karena tidak ingin orang lain khawatir akan keadaannya. Begitulah Abira, ia sangat tidak ingin berbagi rasa sakitnya.
Meskipun diluar rumah Abira dikenal sebagai sosok yang tertutup dan dingin, namun ketika dirumah Abira merupakan gadis yang sangat ceria. Ia selalu bertukar tawa dengan papa nya. Sikap jahil dan petakilan yang selalu bisa membuat seisi rumah tertawa karena nya. Menjadi putri satu-satunya tentu membuat sikap manja ada pada Abira. Semua sikap itu iya tutupi karena ingin membuat laki-laki tidak tertarik padanya dan hanya orang-orang yang tulus lah yang mau berteman dengannya.
Akan tetapi semenjak kejadian itu, perlahan Abira membawa sikap dinginnya kedalam rumah.
"Pa.. selama papa keluar kota, Bira izin nginep di kosan temen Bira ya pa" ucap Abira penuh harap karena ia tau akan susah sekali meminta izin dengan papa nya.
"Temen yang mana ? siapa namanya ? kosan nya dimana ? perempuan kan ? apa pernah main kesini ?" tanya papa Abira dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Abira sudah tau bahwa ia pasti akan diinterogasi dengan begitu banyak pertanyaan. Tapi melihat anaknya yang sedikit berubah, akhirnya papa Abira mengizinkan nya dengan bantuan Rosa.
3 hari kemudian..
"Ra.. kamu yakin masih belum mau masuk kuliah ?" tanya Rosa.
Abira hanya mengangguk kecil.
"Yasudah, aku tinggal kuliah 2 jam saja. Setelah selesai aku langsung pulang. Tunggu aku ya, dimakan sarapannya" lanjut Rosa.
Lagi-lagi Rosa harus pasrah. ia tau betul bagaimana sikap sahabatnya itu. Meskipun sudah tiga hari tinggal dikosan nya, namun Abira tetap bersikap dingin padanya. Rasanya percuma membujuk Abira untuk cerita jika itu bukan keinginannya sendiri. Jangankan untuk cerita, diajak bicara pun sangat minimalis sekali jawabannya.
Rosa mengerti akan semua itu. Semenjak hari dimana Abira meninggalkan kelas sambil menangis, semenjak itu pula Abira menjadi berubah. Cenderung lebih banyak melamun. Bahkan setiap malam Rosa harus mendengarkan Abira mengigau tak karuan.
Sementara dikampus tampak Alya yang sudah mulai masuk kuliah setelah ia sehat dan keluar dari rumah sakit. Alya mengetahui bahwa selama 3 hari Abira tidak masuk kuliah tanpa keterangan. Ada sedikit pertanyaan dalam hatinya, namun sedetik kemudian ia tepiskan.
3 hari tidak mendapatkan kabar sedikit pun tentang Abira sangat membuat Kaffa gila. Entah kenapa meskipun saat itu Alya mencoba bunuh diri sampai kemudian ia koma, hatinya justru memikirkan Abira yang menghilang tak ada kabar. Kini Kaffa tau, meskipun ia menginginkan keduanya, namun hatinya lebih condong kepada Abira.
"Ada apa denganmu Alya" tanya Kaffa.
"Aku ? kenapa ?"
"Kamu aneh, tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini"
Alya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Lantas aku harus bagaimana ? membiarkan mu begitu saja setelah semua yang kamu inginkan dariku sudah kamu dapatkan ?" jawab Alya dengan wajah datarnya.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku harus mencari Abira, kamu pasti tau ia sudah tidak ada kabar selama 3 hari ini. Bagaimana pun juga keadaannya yang begitu adalah karena diriku"
"Terus bagaimana dengan aku ? kenapa kamu tidak memikirkan aku seperti kamu memikirkan Abira ?"
"Kamu sudah membaik Alya. Aku menjagamu dan tidak meninggalkan mu sampai kamu keluar dari rumah sakit. Fokus ku pada dirimu. Sekarang mengertilah ! jangan egois ! dia sama sekali tidak bersalah" sarkas Kaffa meninggalkan Alya yang mematung seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya.
Dikosan..
"Arghh.. karena Abira sikap Kaffa menjadi berubah. Kenapa Abira harus kembali dalam kehidupan Kaffa bahkan ketika dia sudah bersamaku Tuhan.. Aku baru merasakan kebahagiaan. Kenapa semua ini terjadi padaku" sarkas Alya meratapi kehidupannya.
Malika yang baru sampai dibuat sangat terkejut dengan teriakan Alya.
"Alya kamu kenapa" tanya Malika khawatir.
"Kaffa" jawab Alya dengan isak tangisnya yang melebur di pelukan Malika.
"Ada apa dengan Kaffa, ceritakan semuanya padaku. Jangan menyakiti dirimu dengan menahan semuanya sendirian"
Mendengar itu Alya sadar akan dirinya yang lemah sekarang. Perlahan ia menceritakan keluh hatinya berharap itu bisa mengurangi rasa sakit yang sedang ia hadapi sekarang.
Malika kaget terbelalak, ia sibuk berfikir berdasarkan sudut pandangnya sendiri tanpa bertanya detail kepada Alya. Mendengar Alya mengatakan itu membuat Malika menyimpulkan sesuatu, bahwa Abira merebut Kaffa dari Alya. Dalam hatinya ia sungguh tidak menyangka Abira tega melakukan itu.
tinggg... suara pesan masuk dari handphone Abira.
Awalnya Abira tidak ingin menghiraukan itu, tapi ia takut itu adalah pesan dari papanya. Ternyata dugaan nya salah.
"Dasar wanita tidak tau malu ! tega-teganya kamu merebut pasangan temanmu sendiri ! dimana hati nurani mu ! kamu perempuan yang tidak punya hati ! aku benar-benar tidak menyangka akan kelakuan mu, pasti kamu menggoda Kaffa kan ! aku pikir kamu baik tapi ternyata selama ini kamu hanya berpura-pura baik, berlindung dibalik tampilan islami mu ! kamu tau betapa Alya sangat menderita sekarang melihat Kaffa yang sudah berubah karenamu, ditambah ia harus melawan penyakitnya sendiri ! bukannya meminta maaf tapi kamu malah menghindar berhari-hari !" -Malika.
Melihat dan membaca pesan itu membuat Abira kembali menangis, tangannya gemetar seolah tidak percaya akan kata-kata tidak pantas yang dilayangkan untuk dirinya.
Rosa yang mendengar itu bergegas menghampiri nya.
"Ada apa Ra" tanya Rosa khawatir.
__ADS_1
Abira hanya terus menangis sambil mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya. Sesekali ia memukul kepalanya sendiri, berharap ingatan itu tidak terus kembali.
"Ra kumohon jawablah" ucap Rosa yang ikut menangis memeluk Abira.
Melihat Abira yang tak kunjung meresponnya, Rosa langsung mengambil handphone Abira yang ada didekatnya. Ia membaca pesan keji itu, kini dia tau penyebab air mata sahabatnya.
"Apa ini Ra ?" tanya Rosa dengan lembut.
Abira yang sudah tidak tahan akan rasa sakit yang sudah memenuhi hatinya pun mulai ingin menceritakan nya. Ia ceritakan semua yang dialaminya.
Mendengar itu Rosa menutup mulutnya. Rasa kaget itu membuat detak jantungnya tidak karuan. Ia benar-benar tidak menyangka akan keadaan rumit yang sedang menimpa temannya. Tangannya mengepal karena tau sahabatnya tidak pantas mendapatkan kata-kata keji itu.
"Ini salah Ra, kamu difitnah. Kita harus membersihkan namamu"
"Apa Alya ada buat story seperti ini di WhatsApp mu" tanya Abira dalam tangisnya.
Rosa melihat foto-foto story WhatsApp yang diunggah Alya. Pandangan matanya dipenuhi oleh foto-foto mesra Alya dan Kaffa, terlihat itu adalah foto yang diabadikan dari berbagai moment yang mereka lalui bersama. Sejenak Rosa juga mengecek handphone nya, namun ia tidak mendapati story yang sama pada WhatsApp Alya.
"Nggak ada" ucap Rosa melirik ke arah Abira.
"Ya Allah.. kenapa tega sekali dia menyakitiku" ucap Abira menangis tak percaya akan semuanya.
Ya.. Alya meng-upload foto-foto mesra kebersamaan mereka hanya untuk Abira saja. Dalam keadaan seperti itu pun Abira masih sempat berprasangka baik dengan menanyakan dulu semuanya kepada Rosa, namun sayang jawaban Rosa membenarkan dugaannya.
Abira dengan cepat meminum obatnya. Rosa hanya membiarkan berharap sahabatnya itu bisa sedikit lebih tenang. Meskipun ia tidak tau entah obat apa yang sedang diminum Abira. Sejak mereka tinggal bersama, Abira terus menkonsumsi obat itu. Tapi seketika Rosa sedikit lega karena tidak lama setelahnya Abira pasti tertidur.
"Kasihan sekali kamu Abira. Selama ini kamu melindungi perasaan mu, kamu merelakan kebahagiaan mu tapi tetap saja kamu yang dituduh. Kamu baik, kamu perempuan terbaik yang pernah kutemui" ucap Rosa yang terus memandangi dan membelai lembut rambut Abira yang tidur dihadapan nya.
Keesokan harinya..
Berita begitu cepat menyebar dikampus akibat ulah mulut ember Malika yang terlalu membela Alya. Tentu semua anak-anak memihak Alya karena memang yang selama ini yang mereka tau adalah Alya bersama Kaffa. Ditambah selama ini mereka cenderung tidak menyukai Abira karena sikap dinginnya. Berbeda dengan Alya yang sangat humble dan ceria.
Rosa yang menyadari semua itu sangat takut. Jika nanti Abira sudah ingin masuk kuliah ia pasti segera mengetahui semuanya. ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan Abira.
.
__ADS_1
.
bersambung..