Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Pandemi


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak ikut KKN juga ? seharusnya kamu juga ikut dan sama seperti mereka yang pasti ingin menenangkan diri mencari kesibukan lain" ucap Malika.


"Tidak semudah itu. Untuk ikut KKN aku harus mengumpulkan uang dengan ekstra karena biayanya yang tidak sedikit" jawab Kaffa.


Mereka tampak terus mengobrol di perpus. Semenjak Alya dan Abira meninggalkan nya, Kaffa menjadi kesepian dan kesusahan yang ia hadapi ternyata ia tidak bisa bertahan sendiri. Untung ada Malika yang bersedia ada untuknya dan membantunya. Setelah mengantar kepergian Alya, Malika memang menyuruh Anggun dan Nisa untuk pulang lebih dulu karena ada urusan lain. Namun ternyata dia menemui Kaffa.


Sudah hampir sebulan KKN berjalan. Baik Alya ataupun Abira, mereka berdua tampak senang menikmati program kuliah itu. Berbaur hidup dengan orang di pelosok membuat mereka mempelajari banyak hal.


Alya yang berada disana hampir setiap hari merasakan kerinduan akan desa tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Ibu kades yang meminjamkan rumah untuk mereka tinggal pun sudah dianggap nya seperti ibunya sendiri. Perlahan-lahan keceriaan Alya mulai kembali. Bahkan ketika sakitnya sedikit kambuh, ia mulai bisa mengontrol dirinya sendiri. Kaffa mungkin masih terbesit dihatinya, namun kebaikan orang-orang disana menyadarkan nya. Bahwa masih banyak orang disekelilingnya yang perduli padanya, bukan hanya Kaffa.


Alya juga mengikuti ruqiah masal yang diadakan oleh sesepuh disana. Tanpa disangka tubuh Alya bereaksi begitu cepat. Alya yang memberontak diluar kendali membuat orang-orang kewalahan. Ditambah darah segar yang keluar dari hidung dan mulutnya membuat orang-orang semakin khawatir dan iba kepadanya. Mereka menyadari bahwa ada beban tersendiri yang sedang Alya hadapi.


Menyadari itu Alya tak berhenti menangis tersedu-sedu. Ia menyadari bahwa selama ini ia sangat jauh dari Tuhannya. Tak jarang Alya justru menyalahkan Tuhannya atas semua kejadian yang menimpa nya. Lulusan pesantren justru tidak membuat imannya kokoh, malah sangat mudah untuk roboh.


Alya langsung teringat akan kedua orangtuanya. Ia sadar selama ini dirinya banyak dosa kepada mereka. Membohongi mereka bahkan memperbudak mereka hanya untuk terus bersama Kaffa.


2 bulan berlalu.. Program KKN selesai. Alya kembali ke kota dan mengikuti kuliah seperti biasanya. Kali ini Alya bertekad untuk fokus menyelesaikan pendidikannya yang hanya tinggal 1 tahun lagi. Alya ingin lulus tepat waktu agar orang tuanya tidak terus berkerja keras membiayai kuliahnya. Alya ingin cepat lulus dan berkerja untuk membalas semua jasa mereka.


Namun kabar duka melanda Indonesia, bahkan dunia. Sebuah virus yang menyebar begitu cepat membuat orang-orang menjadi takut karena kesehatan mereka terancam.


Penyakit virus corona (COVID-19), penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Meskipun sebagian orang yang tertular COVID-19 yang mengalami gejala ringan akan pulih tanpa menjalani penanganan khusus. Namun, sebagian orang yang mengalami gejala serius akan mengalami sakit parah dan memerlukan bantuan medis.


Virus tersebut dapat menyebar dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi melalui partikel cairan kecil ketika orang tersebut batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bernapas. Partikel ini dapat berupa droplet yang lebih besar dari saluran pernapasan hingga aerosol yang lebih kecil.


Siapapun dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika berada di dekat orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Siapapun juga dapat tertular jika menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi. Apalagi Virus lebih mudah menyebar di dalam ruangan dan di tempat ramai.

__ADS_1


Itulah sebabnya kenapa virus ini menyebar begitu cepat, karena medianya yang begitu dekat dengan aktifitas manusia sehari-hari. Angka penyebaran yang setiap hari semakin bertambah, bahkan sudah ada yang meninggal dunia, membuat banyak negara menjadi khawatir.


Maka dari itu pemerintah memutuskan untuk melakukan lock down yang mengharuskan seluruh individu melakukan kegiatan dari rumah saja. Dalam upaya mencegah penyebaran nya. Banyak sekolahan, perusahaan dan semua lini menutup dan meliburkan kegiatannya. Termasuk universitas tempat Alya kuliah. Mengharuskan semua mahasiswa menjalani perkuliahan secara online.


Mengetahui itu tentu Alya menjadi bingung. Ditambah banyak anak rantau yang memanfaatkan kesempatan itu untuk pulang. Apalagi ketika mereka mendapatkan info bahwa banyak akses jalan yang akan ditutup. Alya tersentak saat mengetahui akses laut menuju desa nya juga akan ikut ditutup beberapa hari lagi. Tanpa fikir panjang Alya juga pulang ke desanya. Ia benar-benar mengkhawatirkan orangtuanya. Entah berapa lama pandemi ini akan terus berlangsung. Didalam benak Alya berharap dengan kepulangannya membuat ia menjadi lebih tenang dan benar-benar melupakan seluruh rasa sakit hatinya.


Sama halnya seperti Alya, Nisa dan Fara juga ikut pulang ke kampungnya. Namun Anggun masih harus berada di kota karena ia sudah terlanjur membayar kos penuh 1 tahun. Anggun ingin menghabiskan waktu sewanya dulu yang tinggal 2 bulan lagi. Anggun berharap keadaan cepat pulih dan tidak mengharuskan ia untuk pulang karena ongkosnya yang lumayan mahal.


Begitu juga dengan Malika, entah apa yang membuatnya untuk menetap di kota. Namun Malika beralasan bahwa di kampungnya sangat susah untuk mendapatkan sinyal dan akan sangat menyusahkan nya saat kuliah online nanti.


Mereka semua tampak mencoba saling memahami satu sama lain.


Sepulangnya Alya, Malika dan Anggun menjalani kehidupan berada dikosan mereka masing-masing seorang diri.


****


"Bu.. Alya ikut ke sawah ya karena sinyalnya tiba-tiba hilang"


"Yowes hayo" jawab ibu Alya.


"Yasudah ayo"


Berbeda dengan dikota yang melakukan pembatasan dengan ketat. Desa tempat Alya tinggal belum bisa melakukan itu mengingatkan mayoritas mereka adalah petani bukan pegawai negeri. Mereka hanya bisa makan jika melakukan pekerjaan. Pekerjaan mereka tentu tidak bisa dilakukan dirumah secara online. Membuat mereka harus bertaruh nyawa demi menghidupi keluarganya.


Sebenarnya dibalik pandemi yang sangat mengkhawatirkan ini, membuat Alya justru lebih banyak bersyukur mengambil hikmahnya. Alya bisa tinggal bersama kedua orangtuanya lagi dengan tetap bisa berkuliah. Kembali tinggal bersama dengan mereka membuat Alya semakin hari semakin membaik dengan seluruh aktivitas yang menyibukkan nya.

__ADS_1


Di kota...


"Ada apa ? sepertinya ada yang sedang kamu fikirkan" tanya Kaffa.


"Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya aku pulang. Keadaan tidak kunjung membaik. Seminggu lagi waktu sewa kos ku habis dan aku harus pulang" terang Anggun.


"Terus apa masalah nya ? bukannya seharusnya kamu senang karena bisa pulang" tanya Kaffa heran.


"Iya tapi tidak ada yang bisa menjemput ku, tempatku sudah lock down total. Ayahku tidak akan pernah mengizinkan ku untuk pulang sendiri" jawab Anggun yang tertunduk bingung.


"Yasudah biar aku yang mengantarkan mu"


Mendengar perkataan Kaffa membuat kepala Anggun bangkit menatap wajah Kaffa dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Apa katamu ?" tanya Anggun memastikan apa yang tadi didengar nya itu benar.


"Aku bersedia mengantarkan mu pulang" Kaffa mengulangi.


"Kamu serius ? kamu tau aku beda sendiri. Aku beda kota dengan kalian, bukan desa satu kota yang bisa ditempuh dengan waktu 2 atau 3 jam saja." terang Anggun lagi mencoba untuk memastikan kembali perkataan Kaffa.


"Aku serius. Justru karena jauh. Aku ingin refreshing. Kota nya lock down tapi desa tempat mu tinggal tidak kan ? aku tau tempatmu banyak sekali keindahan alamnya" jawab Kaffa menyakinkan.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2