Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Cinta Malika


__ADS_3

"Telepon mereka" pinta Alya.


Tanpa berusaha mencegah lagi, Nisa melakukan keinginan Alya. Ia mengambil handphonenya dan mencari nomor seseorang.


Anggun.. Anggun lah yang Nisa coba telepon lebih dulu. Nisa melakukan video call agar Anggun bisa melihat lebih jelas keadaan Alya.


"Aku.. maafkan aku Alya" ucap Anggun dengan tangisannya.


"Tidak usah terus meminta maaf. Ceritakan saja semuanya apa yang terjadi" jawab Alya.


Anggun menceritakan semuanya. Kaffa yang menawarkan diri untuk mengantarkan nya pulang, sesampainya di desa mereka jalan-jalan bersama.


"Aku luluh akan semua perhatian yang Kaffa berikan. Perlahan rasa itu muncul. Bahkan aku sangat senang ketika dia tinggal di rumahku. Kebersamaan itu membuat aku semakin jatuh dan dia juga semakin terang-terangan menampakkan semuanya padaku. Tapi aku beruntung, aku berhasil disadarkan oleh orang tua ku sendiri. Entah kenapa orang tuaku melihat bahwa dia bukanlah laki-laki yang baik. Aku juga beruntung Allah langsung mengingatkan ku dengan kejadian mu dan Abira. Dari situlah aku sadar dan perlahan menolak bahkan menjauh darinya. Itu hanya terjadi sesaat Alya, kumohon percayalah padaku. Sekarang aku benar-benar tidak berhubungan apapun dengannya" terang Anggun mencoba menjelaskan semuanya.


"Apa kamu tau Malika juga menjalin hubungan dengannya ? tanya Alya.


"Iya aku tau. Kaffa justru mendekati Malika lebih dulu bukan mendekati ku. Saat Malika tau Kaffa dan aku sedang bersama, kami sempat cekcok memperebutkan nya. Tapi sekarang sudah baik-baik saja ketika dia juga tau kalau aku sudah melepas Kaffa" jawab Anggun.


Alya terdiam sejenak. Ia hanya bisa menyeka air matanya yang terus menerus mengalir. Ia harus dipaksa untuk kuat menerima kenyataan yang baru saja ia dapatkan.


"Apa kamu memaafkan ku Alya ? kumohon maafkan aku. Aku mengaku aku salah" pinta Anggun penuh harap.


"Aku memaafkan mu. Setelah ini minta maaflah pada Allah dan jangan pernah bilang dengan Malika kalau aku menelpon mu" jawab Alya.


"Terimakasih.. baiklah"


Panggilan diakhiri. Nisa kemudian berlanjut mencari nomor telepon yang kedua. Malika.. nomor Malika lah yang ia cari.


"Jangan telepon Malika Nis." pinta Alya membuat Nisa berhenti menatap layar handphone nya.


"Kenapa ? bukankah kamu juga ingin bicara dengannya ?" tanya Nisa dengan heran.


"Iya. Aku memang ingin bicara dengannya tapi nanti setelah aku keluar dari sini" jawab Alya.


"Tapi Al..."


Alya memegang tangan Nisa seolah memberikan isyarat untuk melakukan saja apa kemauannya. Nisa juga melihat air mata Alya terhenti, sehingga membuatnya berfikir bahwa Alya sudah lebih baik dan dia akan menuruti nya.


Padahal didalam benak Alya, penuh dengan rasa kekecewaan yang begitu besar. Meskipun Anggun sudah meminta maaf padanya dan ia memaafkan, namun tetap saja, luka tetaplah luka. Sebagus apapun obat untuk menyembuhkan nya, namun bekasnya akan tetap ada.


****

__ADS_1


2 hari kemudian.


"Alhamdulillah setelah melihat hasil lab nya, ternyata kista ovarium itu tidak bersifat kanker" jelas dokter.


"Alhamdulillah.." ucap ibu Alya dan Nisa bersamaan.


"Melihat kondisi nona Alya yang juga semakin membaik, jadi setelah infus ini habis nona Alya boleh pulang"


Alya, ibunya dan juga Nisa yang ada disana sangat senang mendengar itu. Kini kekhawatiran yang sudah berhari-hari menemani mereka kemarin perlahan memudar. Meskipun Alya harus tetap menjalankan pengobatan, tapi mendengar itu saja sudah bisa membuat ibunya mengucap syukur.


"Bu.. ibu pulanglah. Bantu bapak. Sekarang Alya sudah baik-baik saja" pinta Alya.


"Tapi Alya, kan kamu harus tetap rawat jalan. Ibu akan tetap disini. Nanti kita cari kontrakan"


"Bu.. Alya bisa sendiri Bu, Alya janji setelah ini tidak akan menutupi apapun lagi dari ibu. Alya juga harus melanjutkan skripsi Alya disini. Lagipula ada Nisa yang akan membantu Alya. Iya kan Nis ? ucap Alya mencoba meyakinkan. Ia melihat kearah Nisa, berharap Nisa bisa membuatnya.


"Iya Bu" jawab Nisa dengan senyuman nya.


Meskipun berat, tapi yang dikatakan Alya memang benar. Selama beberapa hari ini, selain memikirkan kondisi Alya, ibunya juga memikirkan kondisi suaminya dan anak-anaknya yang lain. Karena itu ia terpaksa harus meninggalkan Alya lagi di kota dan mempercayakan nya pada Nisa.


Alya diperbolehkan pulang..


"Kamu yakin Al ?"


"Malam ini kita ke kosan lamaku, temani aku bicara dengan Malika" Lanjutnya.


Nisa hanya mengangguk kecil. Padahal dalam hatinya penuh keraguan. Alya yang baru saja keluar dari rumah sakit, langsung ingin menemui Malika. Nisa takut tubuhnya bereaksi lebih parah dari sebelumnya.


Malam hari perjalanan ke kosan..


"Eh itu Malika.. iya itu Malika Al" ucap Nisa menunjuk ke salah satu pengendara motor yang baru saja lewat.


Alya yang melihat itu semakin merasa kecewa. Orang yang bersama dengan Malika bukanlah orang yang asing baginya. Kaffa, itu Kaffa. Kini Alya melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang semua yang diceritakan Nisa.


Malika yang baru saja sampai, masuk dan menutup pintu, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kosannya..


"Nisa.. kamu mau nginep lagi ?" tanya Malika yang masih kaget.


"Bukan mau menginap. Nisa hanya menemaniku untuk bicara denganmu" jawab Alya yang tiba-tiba muncul dari arah samping.


"Al.. Alya"

__ADS_1


Dengan tidak memperdulikan raut wajah Malika yang penuh ketakutan, Alya justru masuk begitu saja mengajak Nisa dan duduk didalam.


"Habis jalan-jalan kemana malam-malam begini ?" tanya Alya menatap wajah Malika dengan lekat.


"A.. aku.. aku itu" Malika tampak terbata-bata menjawab pertanyaan Alya.


"Jujur saja. Ceritakan semuanya padaku. Atau jika tidak sanggup, cukup jawab 2 pertanyaan ku saja. Sejak kapan kamu punya perasaan dengannya dan sejak kapan hubungan kalian dimulai ?" tanya Alya lagi yang terus berusaha tenang dan santai.


"Tapi Kaffa bilang kalian sudah tidak ada hubungan apapun lagi Al" jawab Malika.


"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku. Bukan itu jawaban yang aku inginkan. Atau aku harus mengeluarkan seluruh perkataan kasar dulu baru emosi mu terpancing dan mengatakan semuanya" ucap Alya mendekat ke arah Malika, menatap dengan tajam wajahnya.


"Al sudah Al.. ingat kesehatan mu" Nisa yang mencoba melerai Alya memegang kedua pundaknya.


"2 Minggu setelah kamu memutuskan untuk berpisah dengannya" jawab Malika sedikit takut.


"Hah.. waw luar biasa.. itu artinya kamu sebenarnya sudah lama memiliki perasaan dengannya" ucap Alya bertepuk tangan kecil dan tanpa diduga air matanya perlahan mengalir.


"Aku pikir kamu sahabatku, tapi ternyata bukan. Kamu hanyalah seorang perempuan yang diam-diam menunggu kehancuran hubungan sahabatmu dengan kekasihnya dan akhirnya kalian bisa bersama. Aku pikir kamu selalu ada untukku. Saat aku susah belajar, saat aku sakit. Bahkan kamu tau betul permasalahan ku dan Abira. Tapi ternyata itu hanya bayanganmu. Bayangan hitam yang ada disamping ku. Kamu tau ? kamu justru lebih buruk dari Abira !" Sarkas Alya.


"Jaga mulutmu Alya !" sarkas Malika yang terpancing emosi.


Dari semuanya, Malika lah yang paling tempramen dan kasar. Emosi nya cepat meledak ketika ada seseorang yang mencoba memancingnya.


"Malika !" teriak Nisa.


"Yang dikatakan Alya itu benar. Bahkan aku sangat kecewa padamu ketika mengetahui semuanya. Terlepas Alya dan Kaffa sudah tidak bersama, tapi kamu tau betul Alya memilih untuk menjauhi Kaffa demi kebaikannya. Sedangkan sekarang kamu malah memperparah nya. Melihatmu berboncengan mesra dengan Kaffa itu sangat menjijikkan. Kamu bahkan merelakan semua kepunyaan mu untuk laki-laki seperti itu" lanjut Nisa.


"Sudah Nisa. Ayo kita pulang. Aku rasa sudah cukup semuanya" pinta Alya.


Mereka berdua perlahan keluar dari kosan itu.


"Aku memang mencintainya dan dia juga berjanji menikahi ku. Maaf kalo ini menyakiti mu tapi inilah kebahagiaan ku" ucap Malika sedikit teriak agar Nisa dan Alya mendengarnya. Ia pun segera mengunci pintu.


Mau tidak mau Alya harus menerima semuanya. Menerima semua kenyataan pahit yang bertubi-tubi hadir dalam hidupnya. Ia sudah pernah berniat untuk menyerah, namun itu bukanlah solusinya. Yang ada dipikiran nya saat ini justru bagaimana caranya ia harus segera lulus dan membuat orang tuanya bangga.


Hari demi hari Alya jalani dengan banyak laporan teman-temannya tentang Malika dan Kaffa. Semenjak Alya yang sudah mengetahui semuanya, mereka semakin terang-terangan menunjukkan hubungan nya. Perasaan dingin masih sering menyelimuti hati Alya, namun sebisa mungkin semuanya segera ia hilangkan.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2