
Tampak dari kejauhan ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan nya.
"Abira.. ngapain kamu disini ?" tanya Kaffa
Abira melirik asal suara itu, betapa ia sangat kaget ternyata itu adalah Kaffa.
Melihat Abira hanya diam dan tak kunjung menjawab, Kaffa langsung duduk tepat di samping Abira.
"Kenapa malah duduk disini ?" tanya Abira takut dengan sedikit menjauh
"Kenapa ? ini tempat umum dan semua orang berhak kesini, termasuk duduk di kursi ini. Mau beralasan terkesan berdua-duaan ? tenanglah Abira, ini tempat umum lihatlah sekeliling mu banyak orang. Jangan bilang kamu asik dengan dunia mu sendiri sampai-sampai tidak menganggap orang-orang itu. Kita tidak sedang berdua-duaan. Ini tempat umum bukan sebuah ruangan" ucap Kaffa sambil melihat Abira yang terus menunduk tidak ingin menatapnya
Abira hanya diam tanpa mengatakan apapun. Kali ini ia merasa tersudut kan oleh Kaffa.
"Kamu sendirian saja di sini" tanya Kaffa lagi sambil melihat sekelilingnya, tidak ada seorang pun yang menemani Abira
Tanpa mengeluarkan kata-kata, Abira hanya mengangguk kecil.
"Kamu tau.. bicara denganmu itu seperti bicara dengan tembok" ucap Kaffa yang mencoba meledek Abira
Mendengar itu Abira sangat geram. Dirinya sudah tidak bisa menahan rasa risih karena Kaffa duduk disampingnya.
"Apa mau mu ? jika tidak ada kepentingan pergilah ! aku tau ini tempat umum, tapi aku lebih dulu duduk disini" Jawab Abira yang tampak kesal
Tanpa diduga Kaffa justru membelokkan badannya tepat kehadapan Abira. Meskipun terus menunduk, tapi Abira bisa merasakan pergerakan tubuh Kaffa yang menghadap kearahnya. Saat itu jantungnya berdegup tak karuan, Abira serba salah, ia nyaman ditempat itu dan belum ingin pulang, tapi kehadiran Kaffa mengganggu nya.
"Kenapa dari dulu kamu bersikap dingin denganku ? kita sudah tidak lagi sekelas dan sudah tidak sedang bersaing Abira"
Abira tetap tidak menjawab. Ia hanya tertunduk diam mendengarkan meskipun hatinya penuh kegundahan.
Kaffa menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di badan kursi sambil menatap danau yang luas dihadapan nya. Sejenak ia menikmati kesejukan itu.
"Kenapa tuhan membuat jalan hidupku seperti ini ? Meskipun kamu bersikap dingin denganku, tapi aku yakin dulu kamu tau betul bahwa aku begitu mengagumi mu"
"Kamu tau Abira. Aku yang sekarang ini adalah hasil dari perasaan ku padamu. Aku giat belajar sampai aku begitu ingin mengalahkan mu"
"Tapi takdir memisahkan kita bertahun-tahun, aku mencari mu sampai aku pasrah dan melupakan mu. Tapi sekarang tanpa harus aku bersusah-payah mencari, kamu datang dihidupku lagi. Kita begitu dekat. Hanya berjarak puluhan senti saja"
"Seperti mimpi rasanya, apalagi melihat perubahan mu. Kamu semakin dingin seperti gunung es. Sikap itulah yang semakin membuat ku ingin mendekati mu. Meskipun kita tidak pernah ada komunikasi khusus secara pribadi, tapi sadarlah hampir setiap hari kita berada satu atap dan aku terus memperhatikan mu"
Kaffa tertunduk.
__ADS_1
"Dan aku merasa kekaguman itu semakin muncul ke permukaan. Keluarga mu juga begitu baik menyambut ku."
Mendengar semua itu Abira berusaha menahan tangisnya. Wajahnya tetap tertunduk. Tangannya mengepal menahan seluruh perasaan yang membuncah hatinya. Apa yang didengarnya barusan membuat ia menyadari satu hal. Bahwa selama ini ia dan Kaffa saling mencari satu sama lain. Diam-diam saling mengagumi, yang paling penting adalah dirinya lah yang membuat Kaffa berubah dan Kaffa lah yang membuatnya hijrah. Semua itu didasari oleh ambisi yang tak ingin kalah.
"Apa maksudmu ? apa yang kamu inginkan dariku ?" tanya Abira yang masih tak kuat menatap lawan bicaranya
"Entahlah... aku sendiri tidak mengerti akan perasaan ini...."
"Kamu mengagumi ku tapi kamu mencintai Alya" ucap Abira memotong perkataan Kaffa
"Alya ? apa maksudmu ?"
"Sudahlah, semua orang juga tau kalau kalian pacaran. Buang jauh-jauh perasaan kagum itu karena aku bukanlah perempuan yang pantas untuk dikagumi. Aku hanya wanita biasa. Ingatlah akan Alya !" jawab Abira dengan tegas
"Aku dan Alya memang dekat, sangat dekat, tapi kami tidak punya status apapun. Dia perempuan yang ku kenal saat ospek dulu, kami satu kelompok. Dia sangat baik kepadaku, banyak membantu ku. Kamu tau kan Alya punya penyakit tumor ? dia anak rantau yang sendirian di kota ini, aku kasian dengannya dan ingin membalas budi dengan balik membantunya melawan penyakit itu. Baik itu kerumah sakit mengurusi banyak berkas, atau bahkan hanya sekedar mengantarnya ke tempat yang dia mau. Fisiknya lemah Abira"
Mendengar itu Abira hanya tersenyum sinis seolah tidak mempercayai semua yang diucapkan oleh Kaffa. Didalam pikirannya tidak ada seorang perempuan dan laki-laki yang bisa murni hanya berteman tanpa ada perasaan. Abira mencoba meyakinkan dirinya bahwa Kaffa bukanlah laki-laki yang baik karena tidak menghiraukan batasan pertemanan antara laki-laki dan perempuan meskipun itu didasari atas rasa kasihan.
Tentu Abira tidak mengetahui secara jelas kehidupan Kaffa selama ini. Apalagi kehidupan Kaffa bersama Alya. Abira hanya tau sekarang Kaffa adalah seseorang yang paham dan sangat cakap dalam ilmu agama.
Sedetik kemudian Abira pergi meninggalkan Kaffa sendirian tanpa merespon semua penjelasannya.
Kaffa hanya bisa melihat punggung Abira yang perlahan menjauh dari pandangan nya. Kembali ia menghela nafas yang panjang.
"Aarrghhh serakah, kamu serakah Kaffa !" sarkas Kaffa kepada dirinya
***
Sepanjang malam Abira tampak gusar memikirkan semua kejadian tadi siang yang terus menganggu pikiran nya. Kata demi kata kembali terdengar ditelinga nya. Sebentar Abira menangis, sebentar juga ia langsung menyadarkan dirinya akan keadaan.
"Ya muqollibal qulub.. tsabbit qolbi 'ala diinik.. Wahai Dzat yang maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu" suara batin Abira sungguh lirih
Semenjak kejadian itu, Abira semakin menjaga jaraknya dengan Kaffa. Ketika mengantarkan nya pulang pun Abira tidak menunggu sampai Kaffa pulang seperti biasanya. Abira langsung masuk menuju kamarnya.
***
Dikelas.. Abira terus memperhatikan Alya dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya menatap namun tampak sendu dan kosong.
Pelajaran dimulai, dosen pengampu mata kuliah meminta mereka berhitung untuk membagi kelompok yang berisikan dua orang guna berkerjasama dalam mengerjakan tugas. Tanpa diduga, Alya dan Abira masuk kedalam satu kelompok. Tampak muncul Keraguan didalam hati Alya karena ini pertama kalinya ia dan Abira satu kelompok. Mengingat sikap Abira yang dingin dan cenderung hanya ingin berkerja seorang diri, Alya semakin tak enak hati.
"Hmm.. Abira.. kita mengerjakan nya di kosan ku aja ya sepulang kuliah ini ? gimana ? Malika mengerjakan tugas ini di kosan Nisa dan Fara lagi kerja kelompok jadi kosanku nggak ada orang" pinta Alya dengan ragu
__ADS_1
"Iya Alya" jawab Abira dengan singkat
Dikosan Alya mereka berkerjasama. Pertamakali nya satu kelompok dengan Abira, pertamakali nya juga membuat Alya sadar bahwa Abira tidak seburuk yang dipikirkan orang-orang. Abira partner yang baik, bahkan mereka sesekali menyelipkan pengerjaan tugas kuliah itu dengan obrolan khas perempuan yang membuat mereka tertawa bersama. Alya sadar kenapa hanya Rosa yang mengerti Abira, karena memang mengenal Abira tidak cukup hanya dengan obrolan singkat dan pandangan sesaat saja.
Tiba-tiba aktifitas mereka sejenak terhenti karena kedatangan seseorang.
"Assalamualaikum" ucap seseorang
"Waalaikumussalam" jawab Alya dan Abira bersamaan
Betapa kagetnya Abira melihat orang yang datang itu ternyata Kaffa. Begitu juga sebaliknya Kaffa yang kaget melihat Abira dikosan Alya. Hatinya penuh tanya sedang apa mereka berdua.
"Ada apa Kaf ? kok kesini tanpa memberi tahu ?" tanya Alya memecah pandangan Kaffa yang menatap kaget pada Abira
"Ohh ini.. anu.. aku mau ambil buku yang dibeli kemarin" jawab Kaffa terbata-bata
"Ohh buku itu, sebentar aku ambilkan"
"ini" ucap Alya menyerahkan buku yang ada ditangannya
"Terimakasih.. aku pergi dulu"
"iya sama-sama"
Sepeninggal nya Kaffa dari kosan membuat ruangan itu hening sejenak. Alya yang kembali sibuk akan tugasnya sedangkan Abira yang sibuk akan pikirannya.
"Sepertinya Kaffa sering kesini" gumam batin Abira
Abira menatap Alya yang duduk dihadapan nya. Tatapan penuh dengan tanya.
"Hmm.. maaf Alya, mungkin aku sedikit lancang. Aku mau nanya, ada hubungan apa kamu dan Kaffa ? keliatannya kalian begitu dekat. Sekali lagi maaf sebelumnya, jika pertanyaan ini mengganggu mu dan kalau kamu tidak berkenan menjawab, tidak usah dijawab ya. Aku hanya penasaran karena hampir semua anak-anak dikelas membicarakan mu" ucap Abira yang memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan
"Ohh Kaffa ya.. dia itu temanku, kami kenal karena satu kelompok saat ospek, kami memang sangat dekat, karena ini kali pertama nya aku punya teman laki-laki setelah aku lulus dari pondok. Dia sangat baik kepadaku, dia seperti guru fisika untukku. Kamu pasti tau Abira, background ku pondok pesantren dan kami tidak intens belajar mata pelajaran umum. Aku kesusahan dan ada Kaffa yang membantu ku. Bahkan saat aku tau akan penyakit ku pun dia tidak pernah meninggalkan ku dan selalu ada untuk membantuku. Bahkan bukan hanya dia, kelurga nya pun begitu baik kepadaku. Sama seperti Kaffa mereka juga menerima ku dengan baik terlepas dari penyakit ku yang selalu menyusahkan mereka. Aku anak rantau dan nggak punya siapa-siapa dikota ini, Kaffa dan keluarganya sudah seperti keluarga kedua ku"
"Mengenai gosip anak-anak kelas aku sama sekali tidak memikirkan itu. Mereka berhak berpendapat, sedangkan aku tidak berhak memaksa mereka untuk beranggapan sesuai dengan kemauan ku" jawab Alya
Mendengar itu Abira tertegun. Abira menunduk menahan semua kebingungan yang ada dalam hati dan pikiran nya.
.
.
__ADS_1
bersambung..