Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Menerima #2


__ADS_3

Semenjak hari itu, Kaffa selalu memperlakukan Alya dengan buruk. Dirinya seakan lupa dengan semua pengorbanan Alya selama ini untuknya. Apa yang di katakan Abira padanya benar-benar membuat Kaffa terluka dan ia melampiaskan nya pada Alya. Sikap Kaffa membuat Alya semakin benci pada Abira dan menyalahkan nya. Tak jarang Alya menyakiti dirinya sendiri untuk membuat Kaffa kembali bersikap seperti dulu kepadanya. Alya rela sengaja menahan tidak makan, agar dirinya jatuh sakit dan membuat Kaffa mengkhawatirkan nya. Sampai ia terkulai lemas dan dilarikan kerumah sakit karena asam lambungnya naik.


"Makanlah kumohon.. jangan menyakiti dirimu sendiri untuk orang seperti aku" ucap Kaffa dengan lemas.


Tanpa menjawab, Alya membuka mulutnya dan memakan makanan yang diberikan Kaffa. Ia terus memperhatikan wajah Kaffa dan menyadari sesuatu.


"Dirimu memang ada disini bersamaku, merawat ku. Tapi hati dan pikiran mu ditempat lain" batin Alya mencoba menahan tangisnya.


Setelah selesai makan, Kaffa meminta Alya untuk segera istirahat dan meminta Nisa bergantian menunggu nya sebentar karena Kaffa harus bertemu dokter.


Kaffa pun kembali.


"Apa Alya sudah tidur ?" tanya Kaffa.


Nisa mengangguk kecil.


"Kamu pulanglah Nis, terimakasih sudah bersedia kesini" pinta Kaffa.


"Iya, tolong jaga Alya. Besok aku akan mengajak yang lainnya kesini" jawab Nisa perlahan pergi meninggalkan ruangan itu.


Kini sisa mereka berdua saja. Kaffa terus memandangi wajah Alya yang tengah tertidur pulas. Keheningan menyelimuti mereka, ia menundukkan kepala mengambil nafasnya.


"Maafkan aku Alya, maafkan aku" ucap Kaffa memegang tangan Alya.


"Aku memang telah melakukan kesalahan padamu. Kamu begitu baik denganku, tapi nafsuku menghancurkan mu. Hatiku .. hatiku untuk Abira, tapi kamu, kamu yang selama ini menemani ku. Aku memang pantas dibenci Alya. Apa yang dikatakan Abira waktu itu memang benar, aku begitu menjijikkan" lanjut Kaffa menenggelamkan wajahnya disamping tempat tidur Alya.


Ia beranjak menuju sofa yang ada dibelakang nya. Menyandarkan badannya dan memejamkan matanya. Kaffa yang begitu lelah seharian ini mengurus Alya, ditambah dengan pikirannya yang benar-benar kacau, dengan cepat tertidur pulas begitu saja.


Tanpa disadari Alya perlahan membuka matanya, air matanya mulai membasahi wajahnya. Ternyata sebenarnya tidur Alya terusik karena Kaffa memegang tangannya. Namun Alya tak ingin membuka matanya, ia pun tak sengaja mendengar semua yang diucapkan Kaffa. Hatinya teriris karena dugaannya benar, hati Kaffa condong pada Abira. Meskipun Abira sudah membenci dan meninggalkan nya, Kaffa tetap terus memikirkannya.


Beberapa hari kemudian, Alya keluar rumah sakit dan mengikuti kuliah seperti biasanya.


"Apa semua itu benar Abira ?" tanya salah seorang teman.

__ADS_1


"Sejauh yang aku pahami begitu. Allah akan menguji kita sesuai dengan kemampuan kita." jawab Abira.


"Tapi terkadang manusia merasa ujiannya terlalu berat dan tidak sanggup melewati nya" sanggah teman yang lain.


"Sederhana nya begini. Jika kita tau kita bisa melewati itu, tentu Allah tidak akan mendatangkan ujian-Nya. Allah menguji kita agar kita lebih kuat dan Allah yakin kita mampu. Maka dari itu, mungkin awalnya kita merasa tidak mampu, Tapi yakinlah jika keimanan kita teguh dan menerima semua ketetapan-Nya, pasti kita bisa melewati sekalipun itu membutuhkan waktu. Dengan ikhlas dan sabar tentunya. Itulah kenapa Allah sebutkan didalam Al-Qur'an bahwa Dia akan memberikan pahala tanpa batas kepada orang yang senantiasa bersabar menerima ujiannya. Usahanya besar dan butuh pengorbanan, tentu reward dari Allah juga besar. Kita akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang kita lakukan" terang Abira.


Teman-teman kelasnya nampak tertegun mendengar penjelasan Abira. Terkadang sesekali terbesit didalam hati mereka kabar miring tentang Abira yang merebut kekasih temannya sendiri, namun kadang juga semua itu bisa sementara ditepis kan kembali oleh ilmu-ilmu yang Abira beri untuk mereka.


Tak terkecuali juga Alya yang berada disana. Ia nampak tertunduk mencerna semuanya. Sesekali ia sadar akan kesalahannya, namun sedetik kemudian rasa sakit hatinya pada Kaffa membuat Alya kembali tidak suka pada Abira.


Lain halnya dengan Abira, ia justru memilih untuk tidak memikirkan itu semua. Justru yang ada dipikirannya sekarang adalah rasa tidak pantas yang muncul berulang kali dalam hatinya ketika ia diminta untuk menghandle kelas keagamaan saat dosen yang bersangkutan berhalangan hadir.


.


"Temui aku di taman, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tunggu" -Alya.


Kaffa yang membaca pesan itu bergegas untuk memenuhi keinginan Alya. Sebenarnya ia penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Alya karena menurutnya ini seperti hal yang serius.


"Aku ingin belajar menerima semuanya dan berusaha hidup tanpa bergantung denganmu Kaffa" ucap Alya sedikit pasrah.


"Apa maksud mu ?"


Alya sejenak menarik nafasnya.


"Aku tau dan aku sadar sekarang. Aku tidak ingin memaksakan dirimu. Ragamu bersamaku tapi hati dan pikiranmu untuk orang lain. Percuma rasanya dan itu justru semakin menyakiti ku" lanjut Alya.


"Maafkan aku Alya"


"Sudahlah percuma meminta maaf karena itu tidak akan bisa merubah apapun" jawab Alya beranjak pergi meninggalkan Kaffa dengan menahan tangisnya karena ia tau betul perasannya yang masih sangat mencintai Kaffa.


Sejenak Kaffa terdiam, ia menyadari kini semuanya pergi meninggalkan dia. Kaffa merasa pantas mendapatkan itu semua.


Seminggu berlalu..

__ADS_1


Menjalani hari-hari tanpa ada Alya disisi nya membuat Kaffa sangat kesusahan. Kini ia harus berusaha sendiri untuk mengerjakan tugas-tugasnya, ia harus berusaha menghemat uang makannya. Bahkan tak jarang Kaffa sering menahan lapar. Beruntung Alya mengizinkan Kaffa untuk terus memakai semua barang pemberian Alya, jika Alya mengambilnya kembali, Kaffa benar-benar tidak tau apa yang akan dialaminya setelah itu.


****


"Kamu serius Al mau ikut KKN duluan ?" tanya Nisa dengan kaget.


"Iya aku serius. Dengan begitu aku berharap kegiatan ini bisa menyibukkan ku, membuat ku tenang karena berada jauh dari hiruk pikuk kota yang menyakitkan ini dan tentunya aku berharap ketika disana pikiranku tidak terus menerus memikirkan Kaffa" jawab Alya sendu.


"Berarti kita tidak akan bertemu selama 2 bulan" sambung Malika.


Mendengar itu Alya langsung menghambur memeluk ketiga temannya itu.


"Aku akan sangat merindukan kalian"


"Aku juga" jawab mereka bertiga bergantian.


Hari keberangkatan tiba.


Malika, Anggun dan Nisa tampak sangat sibuk membantu mempersiapkan semua keperluan Alya. Memastikan bahwa temannya itu tidak kekurangan sesuatu apapun. Ketika Alya selesai mandi dan ingin memakai baju, pandangannya teralihkan dengan handphone Malika yang bergetar, yang Malika charge di kamar. Tanpa sengaja Alya melihat nama Kaffa yang tertera dilayar handphone itu. Sejenak Alya bertanya-tanya untuk apa Kaffa menelpon Malika. Namun sedetik kemudian ia berfikir mungkin karena Kaffa tau tentang dirinya yang ikut program KKN lebih dulu dan ingin menanyakan nya. Alya berusaha untuk tidak menghiraukannya.


Ternyata ketika di lapangan, Alya melihat seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri tengah beradu peluk dengan orang-orang terdekat untuk melepas kepergiannya.


"Abira.. ternyata dia ikut KKN duluan juga." batin Alya.


Memang selama ini Alya berusaha untuk tidak menghiraukan apapun tentang Abira. Meskipun ketika dikelas ia sesekali masih menyimpan kagum pada sosok perempuan itu. Lamunan Abira kemudian terhenti ketika panitia mengintruksikan mereka untuk segera menaiki bus.


"Jaga dirimu baik-baik ya" pinta Nisa.


Mereka bertiga memeluk Alya secara bergantian dan melepaskan kepergiannya.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2