Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Harun al-Rasyid


__ADS_3

Hari jalan-jalan tiba..


Mereka berangkat dengan 2 Bus.. Satu bus didampingi oleh Farida, Sari dan Husein. Sedangkan satu bus lainnya didampingi oleh Abira, Harun dan Kaffa. Tentunya Kaffa merencanakan agar ia bisa bersama Abira dalam satu bus.


Diperjalanan, ada salah satu anak yang mabuk perjalanan di bus Abira. Abira sangat khawatir dan segera memberi kan obat pada saat itu. Melihat ketelatenan Abira mengasihi anak-anak, tampak ada dua pasang mata yang memperhatikan dia dengan decak kagum nya, Kaffa dan Harun.


Sesampainya di Masjid Raya, anak-anak begitu senang. Mereka bermain dan belajar. Semua pendamping memberikan materi mereka masing-masing. Tibalah saat giliran Abira, sebenarnya Abira sedikit gugup karena semua orang memandangi nya. Tapi Abira mencoba tenang dan segera menyampaikan materi pembelajaran nya. Demi anak-anak, Abira harus profesional.


Tidak hanya itu, sama seperti orang-orang yang lainnya, tidak lupa juga mereka mengabadikan momen bersama. Tentu saja Abira sangat senang, hari itu keinginannya bisa terwujud. Abira meminta salah satu temannya untuk memotret dirinya sendirian dengan latar belakang full masjid yang membuat foto itu sangatlah menawan.


Pandangan Kaffa tidak pernah lepas dari raut gembira wajah Abira. Sesekali Kaffa juga tersenyum melihat tingkah lucu gadis itu bersama anak-anak didiknya. Tanpa disengaja Kaffa juga melihat temannya Harun diam-diam memperhatikan Abira dengan pandangan yang sulit diartikan. Kaffa tampak mengerenyitkan keningnya menandakan ia tidak suka. Namun, semua perasaan itu buyar ketika adzan berkumandang dan mereka semua segera melaksanakan ibadah shalat bersama.


****


Sesampainya dirumah perasaan Abira sangat berbunga-bunga. Ditambah lagi dengan temannya yang mengirimkan foto-foto dirinya. Karena rasa senang yang memuncak, tanpa ragu Abira meng-upload foto itu pada story WhatsApp nya. Abira tidak pernah menyimpan nomor telepon laki-laki lain kecuali papa dan saudara laki-lakinya. Jadi Abira bisa leluasa mengekspresikan diri tanpa harus ada laki-laki yang bukan mahram memandangi foto cantiknya.


tingg.. tak lama ada pesan masuk


"Semoga kamu hari ini bahagia" -Kaffa


Membaca pesan itu Abira hanya sedikit mengangkat bibirnya untuk tersenyum. Abira sangat ingin membalasnya dengan ucapan terimakasih, namun semua itu ia urungkan.


Sementara ditempat lain... ada Alya yang termangu ketika ia melihat story WhatsApp Abira. Perasaan iri mulai menyeruak lagi dalam hatinya karena Alya juga sangat ingin kesana. Lagi dan lagi Alya merasa bahwa kehidupan Abira selalu lebih beruntung dari dirinya.


****


Keesokan harinya di kantin...


"Kamu kenapa Al ? sakit mu kambuh lagi ?" tanya Kaffa serius


"nggak kok Kaf"


"Tapi kamu keliatan lesu"


"Aku lagi iri aja sama Abira"


Seketika perkataan itu membuat Kaffa berhenti makan.


"Iri ? sama Abira ? emang dia kenapa ?


"Liat deh story WhatsApp nya, Abira ke Masjid Raya Kaf, kamu kan tau aku ingin sekali kesana" rengek Alya


Kaffa nampak bingung, karena story itu tidak ada padanya. Kaffa mulai berfikiran kalau Abira pasti tidak menyimpan nomornya. Tapi disatu sisi Kaffa tersenyum melihat foto yang menunjukkan bahwa hari itu Abira sangat senang. Kaffa merasa beruntung Abira hanya meng-upload foto dirinya seorang. Jika ia meng-upload foto bersama anak-anak tentu Alya akan langsung tau bahwa ia berbohong..


"Sabar ya Al, nanti kita kesana"


Melihat wajah laki-laki itu tampak berbeda, Alya jadi merasa bersalah karena terlalu ingin memaksakan semua kehendaknya.


***


Sore harinya...


Sebenarnya setiap hari Rabu Abira libur mengajar. Tapi saat itu Kaffa menyuruh tim pengajar datang karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.

__ADS_1


Abira datang lebih dulu. Jika berhubungan dengan waktu, Abira memang gadis yang sangat disiplin. Ia tampak canggung karena teman perempuan nya belum ada yang datang. Di sana hanya ada Kaffa dan Harun saja.


"Kita tunggu sampai semuanya datang dulu ya" ucap Kaffa kepada Harun dan Abira


Mendengar itu, Abira hanya mengangguk kecil saja.


Kedua laki-laki itu terus memandangi Abira. Seketika pandangan itu pecah ketika Harun mengatakan sesuatu yang membuat mata Kaffa terbelalak heran.


"Kaf.. kamu kenal Abira darimana ?


Kaffa heran, karena baru kali ini Harun menanyakan sesuatu tentang Abira.


"Temen sekolah ku dulu bang. Tapi sekarang satu kampus juga walaupun beda jurusan" jawab Kaffa memandang kearah Harun


"Apa Abira sudah punya calon suami ?"


Mendengar pertanyaan itu, Kaffa bukan hanya merasa heran. Namun hatinya bergejolak penuh pertanyaan. Untuk apa temannya menanyakan pertanyaan itu.


"Hmm.. kurang tau bang" jawab Kaffa singkat


"Mereka membicarakan apa ? Kenapa sambil menatap ku seperti itu" gumam batin Abira yang menyadari situasi


Karena merasa risih, Abira pun keluar duduk di gazebo sembari menunggu teman-temannya yang lain datang.


Selesainya setelah itu..


Ketika ingin pulang, pandangan Kaffa terlihat menatap lurus dengan tajam kepada sesuatu yang ada di hadapannya. Tampak Abira dan Harun yang sedang memperbincangkan sesuatu. Meskipun Abira terus menunduk, namun Kaffa bisa melihat Harun yang tampak serius bicara sesuatu.


Pandangan itu buyar ketika Harun selesai bicara dan berjalan kearah dirinya. Melihat itu hati Kaffa menjadi tak karuan, rasa penasaran yang menyeruak sudah tidak bisa lagi tertahan.


Seolah mengerti apa yang dimaksud dengan Kaffa, Harun pun tersenyum.


"Abira belum punya calon" jawab Harun sambil menepuk pundak Kaffa


Harun kembali hanya ingin mengambil tasnya yang tertinggal. Sama seperti Abira, Harun pun segera pulang meninggalkan Kaffa yang masih berdiri mematung disana.


"Belum punya calon ? apa maksudnya ia menanyakan itu ? apa bang Harun suka dengan Abira ?" gumam batin Kaffa


Sepanjang malam itu Kaffa sangat gusar. Bahkan ia beralasan kepada Alya ingin tidur lebih cepat ketika Alya ingin menelepon nya. Untungnya Alya memaklumi itu dan beranggapan bahwa hari itu ia pasti kelelahan.


Bagaimana tidak gusar, sosok Abira dan Harun terus ada dan memutar memori ingatannya. Ada rasa khawatir dan takut pada diri Kaffa. Kaffa mengingat kembali bagaimana Harun menatap Abira pada waktu itu. Kaffa juga mengingat kembali bagaimana Harun menanyakan tentang Abira pada hari itu. Karena sudah tidak bisa menahan, Kaffa mengambil handphone nya dan mencoba menghubungi seseorang. Abira, siapa lagi kalau bukan menghubungi Abira.


"Ada apa bang Harun menghampiri mu ketika pulang tadi ?"


Dikamar nya, Abira hanya melihat pesan itu dan tidak ingin menjawabnya.


Kaffa yang semakin gusar dan menunggu jawaban pun semakin kesal ketika Abira hanya melihat pesannya tanpa membalasnya. Lalu ia mengirimkan pesan lagi.


"Jangan hanya dilihat, jawab aku ! apa dia mengganggu mu ? ingat dirimu adalah tanggungjawab ku, aku sudah berjanji itu pada papa mu"


Kaffa mencoba beralasan mengatasnamakan papa nya berharap Abira akan membalasnya.


Abira yang kembali melihat pesan itu pun menghela nafas panjang. Ia rebahkan tubuhnya, pandangannya menatap ke atas plafon kamarnya sambil mengingat sesuatu ketika Harun menghampirinya.

__ADS_1


"Abira tunggu" ucap Harun berlari kecil menghampiri nya


"Iya ustadz ada apa" jawab Abira segera menundukkan pandangannya


"Jangan panggil ustadz, ustadz hanya panggilan ketika ada anak-anak saja. Aku merasa tidak pantas. Umur kita hanya beda 3 tahun, panggil aku bang saja seperti yang lainnya" pinta Harun menatap Abira


Abira yang mendengar itu pun hanya diam.


"Baiklah, maaf jika ini terkesan menganggu mu. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu...


Apa kamu sudah siap menikah ? Jika sudah, apa kamu sudah punya calon suami ?" ucap Harun melontarkan pertanyaan yang sudah menggebu didalam hati nya


Abira kaget bukan main. Ucapan itu seperti petir dalam hatinya. Tanpa adanya hujan terlebih dahulu, tiba-tiba sosok laki-laki itu menanyakan sesuatu yang pribadi kepada nya. Padahal Abira tau bahwa selama mengajar, ia dan Harun tidak pernah sekalipun terlibat kontak komunikasi. Baik itu hanya sekedar tak sengaja saling menatap.


"Aku sudah lama memperhatikan mu semenjak pertama kali kamu masuk kesini pandangan itu tertuju padamu. Mungkin ini sedikit lebay, tapi sungguh kurasakan cinta pandangan pertama itu memang benar ada. Kalau kamu sudah siap dan belum ada yang menginginkan mu, izinkan aku kerumah mu untuk melamar mu"


Darrr.. rasanya hati Abira dihujam bertubi-tubi. Sosok laki-laki yang sedang dihadapannya saat ini benar-benar mengatakan apa yang Abira pikirkan. Bagaimana bisa laki-laki itu mencintainya. Abira merasa selama ini ia sudah bersikap sebagaimana mestinya. Lamunan Abira pecah ketika laki-laki itu kembali berbicara padanya.


"Abira"


"Ohh i..iya ustadz.. ehh bang" jawab Abira sangat gugup


"jadi bagaimana ?"


Abira mencoba menghela nafas agar bisa mengendalikan dirinya.


"Abira belum ada calon, belum ada orang yang kerumah untuk melamar. Kalau untuk menikah... InShaaAllah siap kalau orang tua menyetujui"


"Alhamdulillah.. jadi kapan aku bisa Kerumah mu ?" jawab Harun dengan raut wajah bahagia


"Sebaiknya kita ta'aruf dulu agar bisa saling mengenal, Abira nggak mau nantinya timbul penyesalan. mengenai waktunya nanti diberi tau. Maaf Abira permisi dulu" jawab Abira mengakhiri percakapan dengan meninggalkan Harun yang sedang berbunga-bunga saat itu


Ya.. Harun al-Rasyid.. Laki-laki itu selama ini memang diam-diam menaruh perasaan pada Abira. Ia selalu jatuh hati ketika melihat cerminan dari akhlak baik yang dimiliki Abira. Hari ini perasaannya sudah membuncah dan ia pun mengungkapkan nya.


Seketika pandangan Abira terganggu ketika handphone nya berdering. Dilihatnya layar handphone itu ternyata Kaffa menelpon nya. Abira yang sedikit kesal mencoba untuk tidak menghiraukan nya.


"Abira.. angkat !" (Kaffa mengirimkan pesan lagi)


"Tidak ada, dia tidak menganggu" (jawab Abira mengalah agar Kaffa tidak terus menganggu waktu istirahat nya


"Apa yang kalian bicarakan" tanya Kaffa penasaran


"bukan urusanmu" jawab Abira singkat lalu segera mematikan handphone nya agar Kaffa berhenti menganggu nya


"Ya Allah apa yang aku lakukan ini benar ? Engkau tau betul perasaan ku untuk Kaffa meskipun aku tau perasaan Kaffa untuk Alya. Tapi ustadz Harun adalah laki-laki yang baik, aku bahkan tidak menyangka jika ia mencintai ku. Tanpa ragu dia bahkan ingin langsung melamar ku. Dia berniat baik kepadaku, akan sangat dzolim rasanya jika aku menolak niat baiknya tanpa memberikan kesempatan. Lagipula kami akan ta'aruf terlebih dulu" gumam batin Abira


Sementara ditempat lain, Kaffa semakin sangat dibuat kesal ketika Abira mendadak tidak bisa dihubungi. Kaffa yakin pasti Abira mematikan handphone nya.


"Aargghh.. aku yakin pasti bang Harun berniat melamar Abira. Aku yakin selama ini dia pasti diam-diam mencintai nya. Nggak ! nggak akan aku biarkan. Aku yang bertahun-tahun mencarinya, ketika sudah bersama tidak akan aku biarkan Abira jatuh pada orang lain" Sarkas Kaffa


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2