Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Kenyataan pahit #2


__ADS_3

Malam harinya Abira benar-benar tak bisa berhenti menangis. Memori ingatannya terus memutar kenyataan pahit itu. Abira merasakan dadanya begitu sesak. Air terjun mata itu terus mengalir hingga membasahi bantalnya.


"Ya Allah maafkan aku karena selama ini menempatkan perasaanku kepada orang yang salah. Ya Allah terimakasih Engkau sudah membuatku ragu untuk mencintai nya sepenuh hati. Ya Allah maafkan mereka karena sudah membohongi ku sehingga aku merasakan apa itu sakit hati" gumam batin Abira lirih


Abira terus beristighfar untuk menenangkan hatinya. Beberapa menit kemudian ia teringat akan sosok Harun, laki-laki yang berniat melamarnya. Abira perlahan menghapus air matanya. Ia berfikir sejenak. Jika kemarin ia ragu akan Harun karena perasaannya kepada Kaffa, namun sekarang Abira merasa yakin bahwa menerima lamaran Harun bukanlah suatu kesalahan untuknya. Laki-laki itu memiliki niat baik, bahkan rasa cintanya pada Abira tidak lantas membuatnya melampaui batasan agama. Ia bahkan menempuh jalan yang baik, yaitu berniat melamarnya. Abira berfikir cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.


****


Setelah selesai kuliah, Kaffa langsung menuju tempat kerja. Memang begitulah rutinitas nya setiap hari. Namun dirinya yang baru saja sampai lagi-lagi dibuat tercengang oleh pemandangan yang perlahan ia lewati.


Mata nya tidak lepas memandang sosok Harun dan Abira yang kembali sedang membicarakan sesuatu. Terlebih lagi Abira tampak memberikan sesuatu kepada Harun.


Selama mengajar, fokus Kaffa hilang. Apalagi ketika melihat Harun yang tersenyum diam-diam mencuri pandang dengan Abira. Hati Kaffa merasakan panas yang membara. Entah apa yang ada dipikiran Kaffa saat itu.


"Kayaknya Abang lagi senang sekali ya hari ini. Senyum-senyum terus" pancing Kaffa


"Hehehe iya Kaf" jawab Harun tersipu malu


"Ada apa bang ? dapet rezeki ya ?" pancing Kaffa lagi


"Bagi Abang ini lebih dari rezeki Kaf. Abang akan melamar Abira besok malam" jawab Harun antusias


Mendengar itu seakan jantung Kaffa berhenti berdetak. Hatinya dingin. Perlahan energi yang ada pada tubuhnya seolah menghilang. Kaffa tidak bisa percaya akan hal itu, namun ia sadari bahwa ini bukanlah mimpi.


"Ohhh heh em.. emang Abang tau rumahnya ?" jawab Kaffa terbata-bata


"Belum sih, tapi Abang sudah dapat alamat nya. ini Abira sendiri yang kasih ke Abang tadi" ucap Harun sambil menunjukkan secarik kertas berisi alamat rumah Abira yang dia ambil dari saku bajunya


Tanpa merespon lagi, melihat itu Kaffa hanya tersenyum tipis untuk menutupi perasaan yang ada didalam hatinya. Kaffa benar-benar tidak menyangka, hatinya seakan hancur begitu saja. Perempuan yang ia cintai akan dilamar oleh seseorang yang selama ini sudah ia anggap seperti kakak sendiri.


Mendapati kenyataan itu, perasaan Kaffa gusar tak karuan. Dalam hatinya ia ingin sekali mengajak Abira bicara dan memastikan langsung kebenaran itu. Meskipun kenyataannya sudah ia terima, tapi tetap saja Kaffa tidak percaya sebelum Abira yang mengatakannya.


Kaffa merencanakan sesuatu.


"Aku dipanggil pak Ridwan, tunggu sebentar." -Kaffa


Melihat pesan itu Abira langsung mencari keberadaan Kaffa yang ternyata sudah berjalan keluar menuju ruangan Pak Ridwan. Melihat hal itu tidak ada pilihan lain bagi Abira selain menunggu.

__ADS_1


Sebenarnya Pak Ridwan sama sekali tidak memanggil Kaffa. Ia hanya mengobrol biasa di ruangan itu. Kaffa merencanakan itu semua untuk mengulur waktu sampai semua teman-teman dan anak-anak pulang, sehingga ia bisa bicara berdua dengan Abira.


Disisi lain Abira tampak gelisah, ia terus berkali-kali melihat ke arah jam karena waktu sudah semakin sore sementara Kaffa tidak kunjung kembali.


"Bira"


Suara itu mengagetkan Abira. Ternyata Kaffa sudah berada dibelakangnya.


"Aku mau bicara sebentar denganmu" pinta Kaffa


"Ini sudah terlalu sore, kita terlambat pulang. Aku sudah terlalu lama menunggu mu" jawab Abira perlahan berdiri melangkah meninggalkan Kaffa


Baru saja selangkah. Kaffa menghentikan nya.


"Tunggu dulu" ucap Kaffa refleks memegang tangan Abira


Melihat itu Abira kaget. Ia juga refleks segera menghempaskan tangan agar Kaffa melepas tangannya.


"Maaf. Aku tidak sengaja dan tidak bermaksud apapun. Makanya tolong dengarkan aku dan jangan terus menghindar" ucap Kaffa dengan sendu


"Apa benar bang Harun akan melamar mu ?" tanya Kaffa tanpa basa-basi


Mendengar itu mata Abira terbelalak. Darimana Kaffa tau tentang hal itu. Sedetik kemudian ia sadar bahwa mereka berdua sangat dekat dan sudah pasti Harun menceritakan kebahagiaan nya.


Memori ingatan Abira memutar kembali perjumpaannya dan Harun beberapa jam yang lalu.


"Ustadz Harun, dipanggil ummi Abira. Ummi tunggu didepan" ucap salah seorang anak


Anak itu tentu suruhan Abira. Mendengar itu, tanpa ragu Harun langsung menghampiri nya.


"Ada apa Abira ?" sapa Harun mengagetkan nya


"Ohh ini ustadz.. em.. ini alamat rumah Bira, ustadz bisa datang besok malam ba'da Maghrib untuk mengutarakan niat baik ustadz" jawab Abira memberikan secarik kertas berisikan alamat rumahnya


Mendengar itu Harun sangat bahagia. Diambil dan dipandangi kertas itu yang akan menjadi alamat masa depannya. Rasa senangnya itu kemudian di buyarkan lagi oleh perkataan Abira selanjutnya.


"Bukan untuk ta'aruf. Tapi Bira sudah memikirkan dengan matang kalau ustadz Harun boleh langsung melamar Bira" lanjut Abira

__ADS_1


Daarrrr.. hati Harun bahagia bukan main. Ia terus mengucap syukur kepada Allah sambil melihat punggung Abira yang perlahan pergi menjauh dari pandangannya.


"Abira jawab aku !" suara Kaffa yang memecahkan lamunan Abira akan ingatan itu


"Iya" jawab Abira singkat dengan terus menunduk kan wajahnya


"Apa ? kenapa kamu lakukan itu Bira ?" ucap Kaffa menahan tangisnya mendengar kenyataan mutlak yang ia dapatkan


"Memang kenapa ? ada yang salah ? itu hak ku"


Mendengar itu perasaan Kaffa memuncak dan meledak tak tertahankan. Dipegangnya pundak Abira yang membuat kepala nya terangkat dan membuat mereka saling menatap.


"Salah. Sangat salah ! Sikap dingin itu membuatmu pura-pura sadar akan perasaanku padamu Bira. Kenapa kamu lakukan ini, kenapa kamu menutup diri dariku ? Kamu malah menerima lamaran orang yang selama ini sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Jangan hancurkan hatiku lagi dengan harus merelakan kehilangan mu untuk yang kedua kalinya Abira !" Sarkas Kaffa


Mendengar itu Abira sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Perlahan air mata itu keluar dan turun membasahi pipinya. Perasaan nya juga turut memuncak dan meledak tak tertahankan.


"Perasaan apa maksud mu ? Kamu mengatakan terus tentang perasaan kepadaku sementara perasaan mu itu untuk orang lain ! Bahkan kamu sudah meminta izin pada Ibunya untuk menikah dengannya dan kamu masih berani membicarakan tentang perasaan denganku !" Sarkas Abira membalas


"Jika bukan karena papaku, aku bisa pulang sendiri tanpa harus setiap hari bersamamu bahkan menunggumu !" lanjut Abira sembari mengusap air matanya dan pergi meninggalkan Kaffa yang mematung disana


****


Dikamar nya, Kaffa sangat terlihat kacau. Berulang kali Alya menelpon nya, berulang kali juga Kaffa tidak menghiraukan nya. Dalam otaknya saat itu hanya ada Abira, Abira yang mengakui kebenaran lamaran itu.


"Darimana Abira tau semuanya ? Ada apa denganku ini Ya Tuhannnnnn... kenapa aku mencintai dua orang sekaligus.. aku bahkan tidak bisa memilih, aku juga tidak bisa menerima jika Abira akan dilamar"


Aargghhhh... Kaffa terus mengerang menjambak rambutnya


Sementara ditempat lain, Alya sangat khawatir kenapa Kaffa tidak kunjung mengangkat telepon nya. Sikapnya juga belakangan ini cukup aneh. Alya menghubungi adik Kaffa dan teman kerja Kaffa kaget ketika mendapati jawaban yang sama bahwa Kaffa sudah pulang. Tapi hatinya kembali bertanya kenapa Kaffa tidak mengangkat teleponnya.


Sedangkan Abira dikamar nya tampak sedang menekan rasa sakit yang ada di dada nya. Nafasnya mulai sesak tak beraturan. Sosoknya yang tertutup membuat ia harus menahan semua perasaan itu seorang diri. Kaffa membuat hatinya merasakan dilema. Kepalanya mulai terasa sakit. Sampai ia terlelap tidur karena kelelahan akibat perasaan nya sendiri.


.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2