Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Nisa


__ADS_3

"Ibu.. bapak.. tolong keluar dulu karena kami akan segera melakukan tindakan" pinta perawat yang sedang mempersiapkan sesuatu.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya" pinta ibu Alya penuh harap.


"Pasti Bu"


Keduanya keluar dan menunggu diluar ruangan.


Kekhawatiran diantara keduanya sangat terlihat. Tentu saja, orang tua mana yang tidak khawatir melihat kondisi anaknya yang sakit-sakitan. Bahkan selama ini banyak yang mereka tidak ketahui. Membuat mereka tidak bisa membayangkan penderitaan Alya selama ini memperjuangkan semuanya sendiri.


45 menit kemudian... dokter dan perawat mulai keluar.


"Bagaimana dok ?" tanya Ibu Alya menghampiri.


"Hasilnya akan keluar 2 hari lagi Bu. Anak ibu akan dirawat inap karena harus pemilihan dan kami juga harus melakukan pemantauan. Jika anak ibu sudah sadar, akan kami pindahkan keruang rawat" terang dokter.


Keduanya masuk kembali ke dalam ruangan. Sejenak keheningan ada diantara mereka. Mereka tampak sibuk bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Pak.. bapak sebaiknya pulang. Biar ibu yang nunggu disini. Kasian anak-anak kita tinggal. Nanti ibu minta Tuti untuk mengirimkan baju-baju Alya kesini." pinta Ibu Alya pada suaminya yang terlihat sudah sangat kelelahan.


"Tapi Bu..."


"Pak.." ucap ibu Alya memegang tangan suaminya.


Meskipun terpaksa, tapi Bapak Alya membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Di rumah, masih ada adik-adik Alya yang ditinggalkan sendirian karena mereka tadi belum sempat bilang sebab keduanya sedang bersekolah.


Sepulang suaminya, Ibu Alya sangat telaten merawat putri nya. Sesekali air mata nya keluar lagi melihat Alya yang tak kunjung sadar. Namun secepat mungkin ia selalu menyeka air matanya.

__ADS_1


Ia teringat harus menghubungi adik nya untuk membantunya menyiapkan baju-baju Alya. Tapi sayangnya karena kepanikan yang ada pada dirinya pagi tadi membuat ia meninggalkan handphonenya. Justru malah handphone Alya lah yang ia bawa. Karena pada saat menemukan Alya, handphone Alya ada di dekatnya dan ibunya langsung memasukkan handphone itu kedalam kantong bajunya.


Handphone nya mati. Tapi Alhamdulillah menyala ketika beliau mencoba menghidupkan nya. Namun seketika dirinya menarik nafas lagi karena ternyata handphone nya dikunci dan beliau tidak tau kata sandi untuk membuka handphone anaknya itu. Kini beliau hanya pasrah berharap nanti suaminya menelpon ke handphone Alya.


Beberapa jam kemudian handphone Alya berdering. Namun yang menelpon adalah Nisa.


"Apa Bu masuk rumah sakit ?" tanya Nisa dibalik telepon dengan kaget.


"Nisa ke kota sekarang Bu" lanjutnya.


"iya Nisa. Nak sebelum itu ibu boleh minta tolong telepon kan ke nomor ibu, minta siapapun yang mengangkat nya untuk mengirimkan baju-baju Alya. Handphone Alya dikunci jadi ibu tidak bisa menelpon nya sendiri"


"Baik Bu"


"Terimakasih banyak" ucapnya mengakhiri telepon.


Malam harinya setelah kedatangan Nisa, Ibu Alya tidak bisa membendung air matanya. Beliau menceritakan semuanya pada Nisa.


"Apa Bu Kista ovarium ?" tanya Nisa kaget mendengar apa yang diucapkan ibu Alya menyadarkan ia dari lamunannya.


"Iya nak. Apa kamu tau Alya pernah melakukan kemoterapi setelah tumornya lebih parah menjadi kanker ? Alya tidak pernah menceritakan itu sama ibu. Padahal ibu sudah melarangnya untuk tidak melakukan kemoterapi" jawab Ibu Alya dengan tangisnya.


Nisa yang mendengar itu hanya bisa tertunduk. Ia mengetahui semuanya, semua yang ditanyakan oleh ibu Alya barusan. Dimana saat puncak permasalahannya dan Kaffa waktu itu membuat kondisinya semakin hari semakin parah. Bahkan Alya hampir frustasi ketika dokter mengatakan bahwa tumornya berkembang menjadi kanker. Sebenarnya saat itu Alya masih ingat akan pesan ibunya, namun disisi lain ada Kaffa yang memaksanya untuk kemoterapi dan mau tidak mau Alya menuruti kemauan nya. Berharap bisa sembuh, justru kondisi Alya semakin parah.


"Bu.. Alya tidak cerita karena ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir" jawab Nisa mencoba menenangkan.


"Tapi lihatlah hasilnya sekarang. Justru karena kemo itu mengakibatkan dirinya harus mengidap penyakit lain. Kista ovarium itu bisa mempengaruhi kesuburan nya." ucap beliau dengan tersedu-sedu menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Apa Bu ?"


Suara itu sontak membuat keduanya berhenti dan memandang seseorang dihadapan mereka yang telah sadar dan sudah dibanjiri oleh air mata. Ya Alya sudah sadar dan tanpa sengaja ia mendengar semua yang dikatakan oleh ibunya. Keduanya langsung menghampiri Alya.


"Jawab Alya Bu. Bilang kalo yang Alya dengar tadi salah" ucap Alya histeris.


Kini Alya merasakan seluruh dunianya telah runtuh. Kanker pay*dara yang tak kunjung sembuh, ditambah penyakit baru yang lain. Apalagi kini ia teringat apa yang terjadi dengannya malam itu. Kedua sahabatnya. Mengingat itu membuat Alya semakin teriak histeris.


Beruntung Nisa segera cepat memanggil dokter dan segera memberikannya obat bius untuk menenangkan nya.


Alya pun kembali tertidur.


"Bu.. ibu sebaiknya istirahat. Ingat ibu harus tetap kuat demi Alya. Biar Nisa yang jaga gantiin Ibu" pinta Nisa.


Meskipun ia tetap ingin menemani putri nya hingga sadar kembali, tapi kondisi tubuhnya yang juga lemas karena kelelahan seharian ini tidak memungkinkan untuknya terus berjaga. Akhirnya ia istirahat dan menuruti permintaan Nisa.


Nisa terus memandangi wajah Alya, pikirannya penuh pertanyaan sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Sejenak Nisa teringat akan handphone Alya dan berniat mencari sesuatu disana. Nisa mencoba berulang kali kata sandi yang mungkin dipakai Alya pada handphone nya. Setelah usaha yang cukup lama, akhirnya Nisa berhasil. Ternyata kata sandi Alya adalah nama ibunya sendiri.


Tanpa fikir panjang Nisa langsung membuka WhatsApp nya. Ia melihat begitu banyak panggilan dari Malika dan Anggun yang tidak Alya jawab.


Ketika Nisa membaca pesan-pesan itu, ia refleks menutup mulut nya dan menangis. Sejenak ia melihat kearah Alya, seolah tidak mempercayai apa yang sedang dihadapi oleh sahabat nya itu. Kini Nisa sadar kenapa Malika dan Anggun begitu khawatir dan memaksanya untuk menghubungi Alya, karena memang nomor keduanya telah diblokir oleh Alya. Nisa juga menyadari kenapa kondisi Alya bisa seperti ini dan wajar jika Alya kecewa kepada mereka.


Karena takut membuat ibu Alya terbangun, Nisa melanjutkan tangisannya keluar ruangan. Ia benar-benar tidak menyangka akan kelakuan dua sahabat nya yang lain itu. Nisa menatap puluhan gambar yang dikirimkan oleh Alya itu. Tangannya semakin mencengkram kuat handphone itu ketika ia mendapatkan sesuatu yang juga membuat hatinya hancur.


"Ternyata kamu benar-benar tidak mendengarkan nasihat ku Malika. Kamu justru melanjutkan hubungan itu semakin parah. Anggun.. kenapa kamu juga harus terperangkap. Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua. Kenapa kalian tega melakukan ini pada Alya" batin Nisa yang juga merasakan kekecewaan yang sama.


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2