Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Obat Nyata


__ADS_3

"hahahah.. Alya.. Alya.. orang itu lucu banget" ucap Kaffa sambil tertawa menikmati film yang sedang mereka tonton


Alya justru tidak merespon Kaffa. Dilihat Kaffa ternyata Alya tertidur. Suasana bioskop membuat Alya nyaman. Kaffa terus memandangi wajah teduh Alya. Bibir yang ranum pink merona menguji keimanan Kaffa.


Refleks jempol Kaffa mengelus bibir Alya. Perasaan hati yang semakin tidak karuan membuat Kaffa tidak bisa lagi menahan hasratnya. Ia dekatkan kepalanya kearah Alya, Ia tarik perlahan dagu Alya untuk mendekat kearah nya.


dannn....


Cuuppppp..


Bibir keduanya menyatu, diiringi dengan suara dari film yang terus berlangsung, didukung oleh suasana bioskop yang gelap remang-remang dan dinginnya suhu AC saat itu.


Alya yang tertidur pun kaget. Ia membuka matanya dan yang ada dihadapannya adalah wajah Kaffa yang begitu dekat tanpa jarak.


Degg.. deggg..


Degg.. deggg..


Detak jantung Alya memompa begitu cepat. Tarikan nafas Alya yang terengah-engah membuat Kaffa sadar kalau Alya terbangun. Kaffa langsung menghentikan tindakannya.


Sepanjang film berlangsung keduanya hanya diam. Sepanjang perjalanan pulang pun keduanya hanya terdiam tanpa ada obrolan seperti biasanya yang menghiasi.


Setibanya di kosan Alya termenung tanpa aktivitas. Alya terus memikirkan kejadian yang baru dialaminya di bioskop itu benar atau hanya bunga tidurnya.


"Ya Allah.. apa itu tadi. Apa Kaffa mencium ku ? atau aku hanya bermimpi ? jika benar berarti itu adalah ciuman pertamaku" batin Alya dalam hati sambil mengusap-usap bibirnya, memejamkan matanya sambil mengingat kejadian yang dialaminya


Drrtttt.. drrttt... handphone Alya bergetar mendapatkan panggilan dari Kaffa


"Hallo Assalamualaikum Alya"


"Waalaikumussalam Kaf"


"E.. e.. Alya, aku mau minta maaf atas kelancangan ku di bioskop tadi, aku tidak bermaksud mencium mu, aku khilaf Alya.. aku mohon maafkan aku" Kaffa memohon meminta maaf dengan gugupnya


"hmm iya Kaf" jawab Alya dengan datar


Pernyataan Kaffa itu membenarkan pikiran Alya, bahwa memang benar saat di bioskop tadi Kaffa mencium nya. Alya justru berfikiran kalau Kaffa juga mencintainya, cintanya berbalas. Alya tersenyum memejamkan matanya sambil mengingat semua kebersamaan nya dengan Kaffa.


Godaan setan mulai merasuki iman Alya.


 


Brukkkk..


Datang Malika dan yang lainnya meletakkan buku diatas meja perpustakaan. Kedatangan mereka memecahkan keheningan diantara Kaffa dan Alya yang sudah lebih dulu berada disana.


"Gimana Al sudah selesai ?" tanya Malika kepada Alya


"Sedikit lagi selesai. Oh iya Malika, aku bersyukur bisa ketemu kamu. Kamu sudah kayak guru Fisika ku. Entah sudah berapa banyak bantuan yang kamu kasih. Di kosan pun kamu selalu ikhlas mengajari ku"

__ADS_1


"Sama-sama Al.. kamu kan sahabat ku bahkan sudah ku anggap saudara. Jadi nggak perlu merasa begitu"


"Iyyaa nih guru fisika kita jugaaaa" goda Anggun dan Nisa kepada Malika


Kaffa yang ada disana hanya bisa memandangi kebersamaan mereka.


*****


Keesokan harinya di kosan...


"Alya berangkat bareng yuk, temenin aku ke perpus, aku mau balikin buku. Kita pergi lebih awal biar nggak telat" pinta Malika kepada Alya


"Hmm maaf Malika bukannya aku nggak mau, tapi masakan ku belum selesai. Kalo aku nggak masak nanti Kaffa nggak sarapan. Fara juga bentar lagi mau pulang, bukunya ada yang ketinggalan" jawab Alya yang tidak enak hati menolak permintaan Malika


"Hhmm.. yaudah deh kalau gitu nggak papa. Bukunya Fara biar aku aja yang bawa"


Treeengggg... suara sendok jatuh


"Aduhhh ahhh... sakit"


Rintih Alya kesakitan memegang dadanya. Alya menelpon Kaffa untuk datang membantunya. Alya tidak mau merepotkan Malika yang belum lama pergi, Fara yang lagi sibuk kuliah, Anggun dan Nisa yang kosan nya jauh. Saat itu yang ada dipikiran Alya hanyalah Kaffa.


"Hallo Kaffa.. Ahhh kamu dimana ? apa kamu lagi sibuk ? bisa kamu ke kosan ku sekarang ? dadaku sakit lagi"


10 menit kemudian..


tok.. tokk.. tokkkk...


Ceklekkkk..


Kaffa menyelonong masuk begitu saja karena terlalu khawatir kepada Alya.


Dilihatnya Alya yang sudah terbaring merintih kesakitan.


"Alya... kita kerumah sakit ya"


"Nggak usah Kaf.. tolong ambilkan obatku aja"


Setelah meminum obat rasa sakit Alya mereda. Kaffa yang masih berada disana menemani Alya sampai kondisinya membaik.


"Apa rasanya sakit sekali Al ?"


"iya Kaf, tapi berkat obat sudah agak reda"


"Dibagian mana benjolannya ?"


"Disini" Alya menunjuk bagian dadanya yang sakit


Plekkkk

__ADS_1


Kaffa justru tanpa sadar refleks ikut memegang bagian dada Alya yang terdapat benjolan.


"Disini.. oh iya besar... ehh.. ehhh" Kaffa yang gugup menyadari tindakannya


"Maaf.. maaf Alya aku refleks"


Alya hanya terdiam saling pandang melihat Kaffa. Alya bangun dan duduk bersama Kaffa.


"Kaffa.. terimakasih, kamu selalu ada untukku, apapun kondisiku kamu tidak pernah meninggalkan ku, perhatian mu, kepedulian mu. Aku belum pernah sebelumnya mendapatkan itu semua"


Kaffa yang terus memandangi Alya justru melayangkan ciuman ke bibir ranum nya.


Cuppp..


Keduanya terdiam mematung saling pandang. Kaffa justru melayangkan ciuman lagi namun kali ini lebih dalam. Alya yang hanyut dalam kehangatan yang diberikan Kaffa hanya bisa pasrah karena rasa cintanya yang sudah begitu besar.


Perlahan Kaffa menggerakkan tangannya yang mulai nakal berjalan melewati hijab panjang Alya.


Kaffa perlahan membuka hijab Alya. Terlihat lah rambut hitam panjang yang terurai menghiasi wajah teduhnya.


Suasana kosan yang sepi diujung gang sangat menguntungkan Kaffa. Suara Alya yang mendominasi di kesepian itu semakin membangkitkan hasrat Kaffa.


"Kamu mau apa ?" (ucap Alya mencegah Kaffa yang ingin melepaskan kain yang menutupi tubuhnya)


"Hentikan, sudah cukup !"


Setitik Iman Alya mampu menyelamatkan keduanya dari godaan setan yang saat itu merasuki mereka.


Keadaan seketika hening.


"Apa yang sudah kita lakukan tadi Kaf"


"Aku minta maaf Alya, aku tidak tahan, aku menyayangimu, aku mencintaimu, maafkan aku yang sudah lancang kepadamu. Aku menginginkan mu"


"Kumohon pergilah" ucap Alya


Apa yang dikatakan Kaffa memenuhi pikiran Alya. Tindakan yang Kaffa lakukan juga memenuhi pikiran Alya. Alya senang Kaffa juga mencintainya. Tapi disatu sisi Alya merasa bersalah karena Ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya.


Rasa cintanya kepada Kaffa begitu besar. Cinta itu mampu perlahan-lahan meruntuhkan tembok keimanannya. Alya mengerti agama, namun untuk Kaffa iya tepiskan itu semua.


Seperti anak ayam yang dibebaskan keluar kandang. Seperti itu juga perumpamaan Alya dikota. Apa yang didapatkan nya dari Kaffa mampu menyentuh perasaan nya dan Kaffa lah yang mendominasi hatinya.


Tak jarang Kaffa semakin sering mencuri-curi kesempatan untuk mencium nya. Di bioskop, di parkiran, di kosan bahkan didapur meskipun ada Malika dan yang lainnya di ruangan depan.


Hari-hari Alya dipenuhi kegembiraan. Bahkan Ia sama sekali tidak memikirkan rasa sakit yang timbul dari penyakit nya. Menurutnya Kaffa lah obat nyata yang mampu menyembuhkan nya.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2