
Terlihat Kaffa yang didalam kelas mengikuti pelajaran. Namun dirinya masih tersenyum kecil mengingat kejadian yang membuatnya terlena.
Sedetik kemudian Ia teringat akan sesuatu.
"Aaarggghhhh tujuanku menemui Alya kan untuk menanyakan Bira. Kenapa aku malah terlena ?" gumam batin Kaffa sambil memukul meja
"Kenapa Kaffa ? ada yang salah ?" tanya Bapak dosen
"Ohhh.. em.. maaf pak.. nggak ada pak." Jawab Kaffa dengan gugup karena seisi kelas memperhatikan keanehannya
Meskipun Ia habis bersenang-senang dengan Alya, tapi masih saja sosok perempuan bernama Bira ini memenuhi pikirannya. Seolah tidak mau beranjak pergi.
Suatu pagi dikosan.
"Duhh uangku sudah menipis, padahal ini baru Minggu kedua, penghujung bulan masih lama" ucap Alya berbicara sendiri sambil melihat isi dompetnya
Ia langsung mengambil handphone nya untuk menelepon seseorang.
"Eneng opo nduk" ucap seorang perempuan didalam telepon dengan gaya bicara khas logat Jawa. Ya siapa lagi kalo bukan ibunya
"Ada apa nak ?"
"Bu.. em.. dhuwit Alya entek Bu. Iso ora Ibu ngirim dhuwit maneh ?" pinta Alya dengan ragu-ragu
"uang Alya habis Bu. Bisa tidak ibu kirim uang lagi ?"
"Lohh ndukk.. Wingi ibu ngirim liyane kanggo awakmu."
"Loh nak.. kemarin Ibu sudah kirim lebih kepadamu"
"Yoo wis entek Bu. Kebutuhan kuliah ini akeh tenan, buku-buku ne larang, opo maneh Alya kudu tuku obat"
"Iya sudah habis Bu. Kebutuhan kuliah ini banyak sekali, buku-bukunya juga mahal. Apalagi Alya harus beli obat"
__ADS_1
"Yowes.. sisuk Ibu ngirim maneh"
"Yasudah.. besok Ibu kirimkan lagi"
Alya tega membohongi orang tuanya. Padahal uang bulanan nya habis dipakainya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan Kaffa. Tapi Ia tidak pernah memikirkan itu semua. Demi Kaffa apapun rela Ia lakukan. Ia dikota bersenang-senang, sedangkan orang tuanya di desa banting tulang bersusah payah memenuhi kebutuhan kuliahnya.
"Kaffa nanti kita makan siangnya di kantin aja ya. Aku tidak sempat ke warung sayur pagi tadi, karena kesiangan jadi tidak sempat masak" jari Alya mengetik pesan dan mengirimkan nya ke Kaffa
Dikantin..
Keduanya fokus menghabiskan makanan masing-masing, namun Kaffa memecahnya dengan sebuah pertanyaan yang sudah dari lama sangat ingin Ia tanyakan.
"Emm.. Alya, apa kamu tau dengan Bira ? tanya Kaffa ragu-ragu namun tampaknya serius menatap Alya dengan pandangan yang sulit diartikan
"Bira ? Bira siapa ?" jawab Alya dengan santai sambil menikmati makanannya
"Iya Bira. Waktu itu aku pernah sekali melihat dia masuk ke gedung yang sama denganmu belajar. Emmm.. orangnya tinggi, hijabnya panjang melebihi mu, kulitnya kuning langsat" ucap Kaffa sambil memperagakan penjelasannya
"Nahh iya Abira. kamu tau ?"
"Bukan tau lagi bahkan aku kenal Kaf. Dia teman sekelasku. Memangnya ada apa ?"
Deg
"Apaaa.. sekelas.. kenapa aku tidak pernah tau selama ini. Padahal bertahun-tahun aku mencarinya. Dia ternyata ada di dekatku, tapi aku tidak pernah menyadari itu" batin Kaffa yang tidak menyangka akan kenyataan yang didengar nya
"Kaf.. Kaffa.. Halooo Kaffaaaaa.. kenapa bengong ?" panggil Alya sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah Kaffa
"Ohh nggak papa Al, kaget aja, kok aku baru tau ya hehe. Jutek ya dia orangnya"
"emmm.. jutek.. ga terlalu sih. Tapi emang dia orangnya agak tertutup. Jarang keluar kelas, paling ke masjid. Dia jarang mau gabung sama anak-anak yang lainnya. Meskipun hanya untuk sekedar ngobrol. Tapi kalau diajak ngobrol sih enak. Apalagi anak-anak suka jadikan dia tempat untuk cari solusi, karena nasehat-nasehat lembutnya menenangkan. Eh aku tanya kenapa kamu nanyain Abira ? kamu kenal ?"
"Dia temenku, kami pernah satu sekolah dulu"
__ADS_1
Flashback..
Kaffa yang memperhatikan sosok perempuan tomboi, dingin dan jutek. Tapi perempuan itu mampu membuat nya semakin penasaran. Semakin dia berusaha mendekat, semakin tampak sikap dingin perempuan itu kepadanya. Kecerdasan nya selalu membuat Kaffa terpukau. Karena dialah Kaffa mati-matian belajar lebih keras supaya Ia bisa mengimbanginya bahkan mengalahkannya. Kaffa berfikir dengan cara itulah Ia bisa mendekati Abira. Sikap saling sikut itu seperti anjing dan kucing di film kartun. Yang satu ingin bertahan dan yang satu ingin mengalahkan, justru masa-masa itu membuat Kaffa semakin mencintai nya. Benar, Abira Khanza Az-Zahra adalah cinta pertama nya. Namun sayang, sampai batas waktu masa sekolah menengah habis pun tujuan Kaffa tidak pernah terwujudkan. Mereka justru terpisah jauh karena Abira masuk ke sekolah yang berbeda dengan Kaffa.
"Tapi jujur sebenarnya aku kagum loh Kaf sama dia" ucap Alya memecah lamunan Kaffa
"Kagum ?"jawab Kaffa dengan heran
"Iya kagum. Meskipun sikapnya yang begitu dan jarang disukai anak-anak, temennya paling cuma Rosa yang cocok dengannya, tapi aku sering memperhatikan nya. Bahkan aku suka iri dengan dia. Aku yang satu-satunya lulusan pesantren dikelas itu tapi kalau soal ilmu islami dan nasehat anak-anak langsung ke dia. Dia emang jarang ngobrol, dia sangat menghindari pembahasan yang memang akan berujung menggosipkan seseorang. Tapi sekalinya dia ngomong itu daging semua. Apalagi tentang peradaban Islam, wahh dia jagonya. Pernah satu waktu awal kuliah dulu, dia pernah menghandle 3 jam waktu pelajaran dan menjawab semua pertanyaan anak-anak dengan cekatan. Karena dosen keislaman kami ga masuk. Dia tinggi, manis, posturnya sangat bagus, cara berpakaiannya apalagi. Meskipun hijabnya lebih panjang dariku, tapi dia pintar sekali memadupadankan semuanya. Melihat dia seolah menepiskan anggapan buruk orang-orang kalau berpakaian syar'i itu kuno, kayak ibu-ibu"
Mendengar penjelasan Alya, Kaffa justru hanyut dalam lamunannya. Ia terus tersenyum senyum tipis walaupun Alya tidak melihatnya.
"Tapi dia dulu tomboi loh anaknya" ucap Kaffa yang semakin penasaran akan sosok Abira
"Nah itu dia. Mungkin saat kamu satu sekolah dengannya dia belum seperti sekarang. Sekarang dia sudah berubah jauh. Soalnya aku pernah nanya cerita perubahan Abira. Dia emang menggambarkan dirinya yang dulu seperti itu dan sekarang dia berubah tau nggak karena apa ? Karena rasa sayangnya kepada orang tua dan saudara-saudara nya. Katanya dia nggak mau karena dosanya menyebabkan papa nya masuk kedalam neraka bahkan menyeret juga saudara laki-lakinya dan dia buktikan itu dengan perubahan nya. Dia juga bilang, sebenarnya dia jutek, dingin, itu untuk menekan nafsunya supaya tidak terus menerus memberikan kesempatan kepada setan yang menggoda nya untuk melakukan dosa. Dari rasa sayangnya itulah yang membuat dia semakin ingin mendalami Islam."
"Bahkan nih ya, dia nggak mau satu frame foto sama laki-laki yang bukan mahramnya, dia juga nggak mau naik ojek online yang drivernya laki-laki. Dia rela naik ojek perempuan yang harga nya jauh lebih mahal. Keren banget kan. Aku kagum sama cara dia menjaganya. Aku aja belum bisa seperti itu. Yaaa gimana ada yang selalu menggodaku." kode Abira yang matanya menuju ke arah Kaffa
"hehehehe" keduanya terkekeh meyadari apa yang dimaksud Alya
Setelah siang yang panjang itu. Dimalam hari Kaffa tampak menghayal memikirkan Abira. Penjelasan yang diberikan Alya membuatnya justru ingin berteman lagi dengan Abira. Kaffa tersenyum mengingat perselisihan mereka dulu yang membuatnya jatuh cinta kepada Abira, wanita masa lalu yang sempat ada didalam hatinya.
"Dulu saat aku mencari mu, aku bahkan tidak mendapatkan informasi apapun tentangmu. Tapi ketika aku sudah melupakan mu, Kamu justru datang lagi muncul dalam kehidupan ini tanpa aku harus bersusah-payah mencari. Aargghhh kenapa harus bertahun-tahun lamanya Abira"
"Kamu bahkan datang dengan sosok yang berbeda. Kenapa bisa sekarang kita lebih suka mendalami ilmu yang sama. Kenapa Islam ? kenapa kita dari dulu selalu menyukai hal yang sama ? Tapi fisika, ilmu fisika aarghh itu memang keahlian mu. Berarti kehausan mu akan ilmu tidak pernah berubah. Selalu ingin mengetahui hal-hal baru" gumam batin Kaffa sambil menutupkan bantal ke wajahnya yang tidak juga berhenti mengingat sosok Abira
.
.
.
bersambung..
__ADS_1