
"Loh Rosa" ucap Nisa kaget.
"Hai Nis, apa kabar ? udah setahun lebih nggak ketemu" jawab Nisa antusias bertemu teman sekelasnya itu.
"Baik Alhamdulillah. Sendirian aja Ros ?" tanya Nisa.
"Nggak. Aku sama Abira. Tinggal nunggu Abira daftar wisuda aja nih. Kalau urusan ku sudah selesai" jawab Rosa.
"Abira ? wisuda ?" tanya Nisa lagi seolah tidak percaya.
"Iya Alhamdulillah Abira mau wisuda. Nggak kayak kita semua yang ngaret hehe. Abira emang totalitas kalau sudah fokus. Hhm.. kayaknya kuliah online karena pandemi ini buat kita sekelas lost contacts semua ya, sibuk masing-masing sampai pencapaian temennya sendiri nggak tau"
"Rosa udah nih.. yuk pulang" ucap Abira yang baru datang menghampiri mereka.
Mata Nisa yang mencoba mencari asal suara itu seketika terbelalak melihat penampilan perempuan yang ada dihadapannya dengan penuh kekaguman. Dengan keanggunan dibalik pakaiannya, kini ia juga mengenakan penutup wajah. Yaa.. Abira kini semakin tertutup, sekarang ia mengenakan cadar.
"Eh Nisa kamu juga disini ?" sapa Abira.
"Abira.. ini kamu ?"
Abira hanya tersenyum. Meskipun wajahnya sekarang tertutup oleh kain suci yang melindungi kecantikannya, tapi Nisa bisa melihat dari sudut matanya yang sedikit menyipit menandakan bahwa Abira tersenyum.
"Kalian mau kemana setelah ini ? kita ke perpus yuk. Udah lama kan nggak kesana ?" ajak Nisa.
"Hhm.. sebenarnya aku juga mau ke perpus Nis, tapi aku harus menemani Abira ke satu tempat lagi" jawab Rosa.
"Nggak papa Ros. Kamu duluan aja sama Nisa nanti aku nyusul kalian. Kita kan udah sering berdua. Lagian kamu sama Nisa kan baru ketemu. Kapan lagi ada kesempatan untuk ke perpus cari buku bareng."
"Baiklah Ra"
Di perpus..
Sebenarnya pikiran Nisa masih dipenuhi oleh rasa penasarannya akan Abira. Baru saja bertemu, Abira sudah menunjukkan berbagai hal mengejutkan. Dirinya yang mau wisuda, memutuskan bercadar bahkan sikapnya yang sudah tidak sedingin dulu.
Nisa terus melihat ke arah Rosa. Nisa sangat yakin pasti Rosa bisa menjawab semua pertanyaan nya.
"Ros. Boleh aku tanya sesuatu ?" ucap Nisa ragu-ragu.
"Iya Nis. Tanya saja"
"Tentang Abira" Terang Nisa.
"Aku tau pasti kamu akan menanyakan tentang Abira setelah bertemu dengannya tadi. Kamu yang merasa heran dengan seluruh perubahan nya"
Nisa menyeringai mendengar Rosa mengetahui semua isi kepalanya.
__ADS_1
Dengan senang hati Rosa mulai menceritakan satu persatu tentang Abira.
Mulai dari kenyataan sebenarnya ia dan Kaffa. Fitnah keji yang meluas untuknya. Sampai pandemi muncul dan menenggelamkan nya dari keramaian tetapi justru merubahnya menjadi seperti berlian.
"Apa ?" ucap Nisa kaget.
"Iya itulah yang sebenarnya. Memang tidak ada apapun antara Abira dan Kaffa. Meskipun Kaffa selalu mencoba mencari celah untuk mendekati nya, tapi Abira juga selalu menghindar. Dengan tega Kaffa memutarbalikkan fakta pada Alya dan membuat namanya jelek karena fitnah yang bermunculan. Aku berani bersumpah. Akulah saksi dimana Abira begitu menjaga kehormatannya. Akulah saksi bagaimana Abira menahan semua rasa sakitnya akan lidah tajam manusia yang diarahkan menusuk ke hatinya."
"Tapi adakah sekali saja dia membalas ? tidak ada Nis. Dia tidak pernah sekalipun membalas kesakitan dengan kesakitan, ia menerima semuanya dan justru berharap Allah memperluas sabarnya. Padahal semua itu salah mereka sendiri yang tidak jujur. Apalagi Alya, dia bahkan berulang kali menyakiti Abira dengan foto-foto mesra nya bersama Kaffa, aku bahkan tidak menyangka Alya Setega itu. Alya hanya membuat status itu untuk Abira dan saat itu Abira justru masih berprasangka baik dengannya."
"Beruntung pandemi datang dan membuatnya lebih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Sehingga membuat nya menjadi seperti yang sekarang. Lihatlah betapa Allah memperlancar segala urusannya, ketika ia terus berprasangka baik kepada Allah atas segala ketetapan yang telah Allah berikan untuk nya. Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah menyerah. Itulah kenapa aku begitu kagum pada sosok Abira" jelas Rosa panjang lebar.
Nisa tertegun mendengar semua kenyataan nya. Meskipun selama ini ia tidak pernah menyalahkan Abira, tapi tetap saja kabar miring itu memang cukup mempengaruhinya. Alya memang tidak pernah menceritakan seluruhnya pada dirinya. Jadi ia berfikir seperti yang orang lain fikirkan. Sedetik kemudian ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati Nisa.
"Tapi kenapa mereka malah bermusuhan ?" tanya Nisa penasaran.
"Bermusuhan ? heh.. itu bukan kemauan Abira. Abira bahkan berulang kali mencoba menyapa Alya, menghubungi nya, menawarkan bantuan padanya. Hanya saja Alya saat itu selalu tidak mau dan menghindar. Setiap melihat cara Alya memandangnya, Abira selalu menangis. Abira tidak ingin ada seseorang yang membencinya tapi ia sadar semua itu diluar kuasanya. Jadi Abira memilih untuk memberi waktu dulu pada Alya dan Abira yakin suatu saat nanti mereka akan kembali seperti dulu" jawab Rosa.
"Oh iya sebenarnya juga Abira sangat ingin bicara dengan Alya berdua, tapi... ya begitulah" lanjut Rosa.
Mendengar itu, Nisa sudah tau apa yang dimaksud oleh Rosa. Untuk mewujudkan itu, mereka mencoba merencanakan sesuatu.
Sepulangnya ke kosan, Nisa langsung menceritakan semuanya ke Alya. Tentang pertemuan nya dengan Abira dan tentang kebenaran dari cerita Rosa.
Alya yang mendengar itupun hanya menunduk. Alya sadar pernah melakukan semuanya dulu hanya untuk menyakiti Abira. Kini ia juga sadar kelakuan nya dulu itu adalah sebuah kesalahan. Karena perasaan nya pada Kaffa dulu yang begitu besar, membuat matanya tertutup dari kebenaran.
****
Keesokan harinya..
"Nisa mana ya.. Katanya sudah nunggu disini" gumam Alya.
"Alya" ucap Abira kaget.
Alya yang mendengar suara itu nampak tidak asing. Yang asing baginya adalah sosok perempuan yang ada dihadapannya membuat ia ragu akan kebenaran yang ada dipikirannya saat itu.
"Abira.. apa ini Abira, Dia...." batin Alya.
"Apa kabar ?" tanya Abira.
"Baik" Jawab Alya singkat.
"Ternyata bener apa yang diceritakan oleh Nisa" batin Alya lagi.
Nisa dan Rosa yang merencanakan pertemuan itupun hanya bisa melihat mereka dari kejauhan dan mengirimkan keduanya pesan secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka pun yang dikirimkan pesan itu, membacanya secara bersamaan.
"Oh ternyata mereka sengaja mempertemukan kita disini" ucap Abira memecahkan lamunan Alya.
Seketika keheningan hadir diantara mereka. Keduanya tampak kikuk untuk memulai obrolan. Namun lagi-lagi Abira berbesar hati dan memulainya lebih dulu.
"Mumpung kita bertemu disini. Hmm maksudku mereka sudah bersusah payah mempertemukan kita disini, Aku mau minta maaf padamu atas sega..."
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu" ucap Alya memotong perkataan Abira.
"Aku sudah banyak salah padamu. Rasa cintaku dulu membutakan ku sehingga aku tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar untukku"
Alya meluapkan seluruh isi hatinya. Rasa sakit yang ia rasakan setelah semua kenyataan yang menimpa dirinya. Seluruh penyesalan nya tentang Kaffa pun ia ceritakan.
"Sudah Alya. Sebaiknya minta maaflah pada Allah dan juga orang tua mu. Bertaubat lah dengan taubat nasuha, Allah Maha pengampun."
"Tolong jaga semua aibku" pinta Alya dengan lirih.
"Iya Alya, pasti"
"Abira... rasanya aku sudah tidak sanggup" ucap Alya lirih dengan seluruh air matanya bersimpuh di paha Alya.
"Jangan seperti itu, lihatlah syaitan tengah bergembira dengan semua air matamu"
"Malika.. Anggun.. mereka juga..."
"Aku sudah tau" ucap Abira memotong perkataan Alya.
Mendengar itu, Alya sontak mengangkat kepala nya dan menatap Abira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu sudah tau semuanya ?"
"Tidak semuanya. Aku tau dari kabar yang berhembus. Aku bilang seperti itu karena aku sudah tidak kaget lagi, Kaffa pasti melakukan itu"
"Pasti ? kenapa kamu begitu yakin ?"
"Karena Kaffa dulu pernah bilang padaku Bahwa 'kalian akan merasa lebih sakit ketika aku bersama dengan orang terdekat kalian'. Mungkin kalian yang dimaksud adalah kita berdua. Tapi nyatanya itu tidak berlaku untukku. Melihat nya benar-benar melakukan itu semakin membuat ku benci akan semua perilakunya." jawab Abira.
"Malika berharap dengan rasa cintanya ia bisa merubah Kaffa, padahal itu bukanlah ranah miliknya. Itu milik Allah. Merupakan kesalahan besar bagi kita perempuan jika berharap bisa merubah sifat seseorang karena kita. Meskipun benar sampai ke pernikahan, aku takut ada penyesalan nantinya. Tapi terserah itu urusan mereka. Fokus sama diri kita masing-masing saja. Yakinlah setelah ini akan ada banyak kebahagiaan untuk kita" lanjut Abira.
Hampir 5 jam mereka bercengkrama meluapkan seluruh resah. Kini Alya tau bahwa Abira memang sosok yang pantas untuk dikagumi.
Mereka mengakhiri obrolan panjang itu dengan saling berpelukan hangat, menandakan kini hubungan keduanya telah baik-baik saja.
.
__ADS_1
.
bersambung..