Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Dosa besar


__ADS_3

Hampir seminggu sudah berlalu. Tapi pesona gadis dalam perjumpaan 30 detik itu tidak pernah hilang dari ingatan Kaffa meskipun Ia selalu melewati hari-hari manisnya bersama Alya.


"Apa aku tanya Alya aja ya ? siapa tau Alya kenal dengan Bira" (gumam Kaffa yang bicara sendiri)


drrttt... drttt... getar handphone Alya mendapatkan panggilan yang siapa lagi kalau bukan dari Kaffa.


"Hallo.. assalamualaikum Alya"


"Waalaikumussalam iya Kaffa ?"


"Kamu ngampus hari ini ?"


"Nggak Kaf, hari ini nggak ada jadwal kuliah. Tapi nanti aku ke kampus sebentar mengantarkan bekal untukmu kalau masakanku sudah selesai"


"Di kosan ada siapa ?"


"Nggak ada siapapun Kaf. Malika lagi bantu Anggun dan Nisa di kosannya untuk mengerjakan tugas. Kalau Fara lagi kuliah"


"Yasudah kalau gitu kamu nggak perlu ke kampus, aku aja yang ke kosan mu"


"Ehh tapiii..."


tutt.. tutt.. tutt.. suara panggilan telepon berakhir. Belum sempat Alya menjawab peryataan Kaffa, Kaffa sudah lebih dulu menutup teleponnya.


tok tok tok..


"Eh masuk Kaf" (ucap Alya mengajak Kaffa masuk)


"Seharusnya kamu nggak perlu kesini, lagian aku juga belum selesai masak"


"Udah nggak papa. Dosenku nggak masuk, mata kuliah selanjutnya dimulai 2 jam lagi, aku bosen ke perpustakaan terus. Kamu lagi buat apa ? sini aku bantu"


"Aku mau buat tempe mendoan. Kamu siapkan adonan tepung nya aja ya"


Sambil menyiapkan bahan-bahan, Kaffa justru hanyut dalam pandangannya yang fokus pada wajah teduh Alya. Alya begitu telaten menyiapkan semua makanan itu untuknya. Selama ini Kaffa belum pernah melihat langsung proses Alya ketika masak. Kaffa tertegun melihat wanita didepannya yang melakukan semua itu setiap hari untuknya.


Melihat Alya yang begitu fokus, Kaffa justru ingin menjahilinya.


sstttt..


Usil seorang Kaffa yang menempelkan tepung dengan jari telunjuknya ke pipi gembul Alya.


"Yahh Kaffa... kamuuuuu" (ucap Alya yang sedikit kesal)


sstttt...


Alya justru membalas perbuatan Kaffa dan mereka lakukan itu berulang kali diiringi dengan gelak tawa sampai saling kejar hingga keruangan depan. Terlihat jelas wajah lucu mereka yang sudah dipenuhi dengan tepung.


Segera Kaffa menyudahi kejahilannya itu dengan menangkap kedua tangan Alya dengan tangannya dan menahannya dengan cukup kuat.


Kejahilan yang seketika terhenti itu justru membuat suasana hening. Keduanya saling pandang melihat wajah masing-masing. Tampak Kaffa menggerakkan tangannya mengusap pipi Alya untuk menyingkirkan tepung itu dari wajahnya. Tindakan itu justru membuat Kaffa salah fokus kepada bunga mawar merah merekah karena senyum manisnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari jarinya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali Alya" (ucap Kaffa dengan lembutnya)


Ceklekk.. Kaffa mengunci pintu kosan itu.


"Kenapa dikunci Kaf ?" (tanya Alya dengan heran)


Tanpa menjawab pertanyaan itu. Kaffa langsung jatuh mendudukkan badan mereka berdua ke kasur lantai single kecil yang menjadi tempat tidur Alya di ruangan depan yang letaknya tepat didekat mereka.


"Kamu mau apa Kaf ?" (tanya Alya dengan nafas yang sudah terengah-engah karena jantungnya berdebar begitu kencang)


"Aku mau kamu Al" (jawab Kaffa dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas memandangi wajah Alya)


Tanpa mendengar balasan Alya. Seperti orang yang tengah kehausan, Kaffa langsung mendekap punggung Alya mendekat kearah nya. Tangannya dengan begitu cepat menarik dagunya sampai ia menikmati manisnya madu yang ada pada bunga mawar merah nan merekah itu.


Dalam benaknya Alya kaget bukan main melihat sikap agresif pria yang dicintainya begitu ganas saat itu. Belum hilang rasa kaget Alya...


brukkkkkk...


Kaffa menjatuhkan badan mereka hingga keduanya saling menyatu.


degg.. degg.. degg.. degg.. degg..


Suara detak jantung keduanya yang sangat jelas saling beradu.


Karena merasakan sesak, Alya menggerakkan badan sedikit memberontak. Namun tenaga nya tak cukup kuat untuk melawan cengkraman tangan Kaffa yang begitu kuat saat itu.


Kaffa melepas Alya sejenak dan menatap wajahnya. Tapi sedetik tidak lama kemudian Kaffa kembali menguasai nya. Kaffa seperti hewan buas yang memakan mangsa nya. Tangan Kaffa semakin kuat mendekap keduanya. Anggota gerak itu semakin ganas menjelajahi apapun yang ada didalamnya.


Tangannya berusaha mendorong dada Kaffa yang terus-menerus ingin semakin jauh menjamah dirinya. Seolah Kaffa ingin menghabiskan nya detik itu juga.


"Al.. kumohon. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku mencintaimu ! Bukankah kamu juga mencintaiku ? ini bentuk rasa sayangku, kenapa kamu terus berusaha menolak ? aku bahkan tidak pernah meninggalkan mu dalam keadaan apapun !" (sarkas Kaffa yang sejenak berhenti karena terganggu akan pemberontakan Alya)


Pernyataan Kaffa itu membuat Alya tidak bergerak dan bersuara lagi. Dalam hatinya Ia membenarkan semua yang diucapkan Kaffa dan memberikan dirinya seutuhnya kepada Kaffa.


Keringat sebesar biji jagung yang membersamai keduanya. Keadaan itu benar-benar membuat Alya hanyut dalam kehangatan kulit yang saling bersentuhan. Setan benar-benar sudah mendekap keduanya dalam rayuan kenikmatan.


Kaffa terus memberondong nya dengan sejuta sentuhan yang melemahkan, membuai keduanya hingga mereka menggila bersama. Tak Ada lagi penolakan. Keduanya saling berbagi rasa dengan begitu hangatnya. Kehangatan yang memenuhi seisi ruangan. Kosan itu menjadi saksi bisu atas dosa besar yang mereka lakukan.


Akal sehat Alya seketika menghilang karena terlalu hanyut akan dekapan dosa. Ia begitu pasrah dibodohi oleh rasa cinta.


Tibalah hal yang paling menakutkan ketika Kaffa memaksa masuk menerobos harta Alya yang paling berharga.


"Kaffaaaaa.." (rintih Alya kesakitan dan disertai dengan air mata)


.


.


Setelah sekian lama, terlihat keduanya berbaring kelelahan dengan wujud yang sudah tak karuan.


"Kaffa.. aku juga mencintaimu. Kumohon jangan pernah tinggalkan aku. Aku sudah memberikan semua yang kupunya untukmu dan jangan pernah memberitahukan kepada siapapun tentang ini" (ucap Alya dengan tangis rintihan kesakitan)

__ADS_1


Cuppp


"Aku janji Alya. Kamu segalanya untukku" (ucap Kaffa setelah mencium kening Alya)


.


.


Setelah keheningan beberapa saat, tanpa sadar waktu sudah berlalu hampir 2 jam. Kaffa sontak teringat kalau sebentar lagi jam belajar nya dimulai.


"Aku kekampus dulu ya. Setelah selesai aku akan segera menghubungi mu" (ucap Kaffa sambil merapikan tubuhnya yang begitu berantakan)


Cuppp..


.


Keheningan masih menyelimuti diri Alya. Ia terus membayangkan apa yang sudah dilakukannya tadi.


"Maafkan aku Ya Allah. Maafkan aku. Aku sangat mencintai nya. Aku tidak ingin kehilangannya. Dia begitu berharga untukku" (batin Alya begitu lirih)


Alya melihat dirinya pada cermin dilantai. Dengan segera Ia sudahi keheningan itu dan merapikan semua kerusuhan yang ada. Ia takut teman-teman nya lebih cepat kembali ke kosan sementara dirinya sedang dalam kekacauan.


Alya bereskan semuanya, termasuk mengganti sprey bernoda merah yang menandakan kesuciannya sudah tidak ada. Ia bergegas masuk kamar mandi membersihkan tubuhnya, membersihkan semua jejak Kaffa yang ada pada dirinya. Gayung demi gayung air ia jatuhkan, tapi tatapan matanya tampak kosong termenung mengingat semuanya.


Tidak lama kemudian..


"Alya.. Alya.. apa kamu ada dikamar mandi ?" (ucap Malika yang sudah pulang ke kosan bersama Anggun dan juga Nisa)


Alya yang terlalu lama dikamar mandi pun tersadarkan oleh suara Malika yang memanggilnya. Dengan cepat Ia bereskan semuanya dan keluar menemui teman-teman nya.


"Kok kamu lama banget sih Alya ?" (tanya Malika)


"Maaf, aku lagi selesaikan cucian ku" (jawab Alya sambil menjauh meninggalkan Malika, mengambil hijabnya dan segera menjemur cuciannya)


"nyuci kok rambutnya basah sih ? itu namanya keramas. Tapi bukannya Alya selalu mandi setiap subuh ya ? Ahhhh udahlah ngapain juga aku memikirkan itu, mungkin karena libur jadi mandinya siang" (batin Malika yang terus bergumam memandangi punggung Alya yang perlahan menjauh darinya)


"Alya kamu kenapa ? kok jalanmu gitu ? kamu kenapa ?" (tanya Anggun dengan penasaran ketika Alya sudah masuk kembali)


"ohh em... ini.. aku tadi nyuci sprei. Kan berat dan butuh tenaga lebih. Karena nggak hati-hati aku jadi kepeleset" (jawab Alya dengan gugup)


"ohh hati-hati Al lain kali, itu pasti sakit"


Bagaimana bisa tidak sakit. Itu adalah kepedihan yang diperbuat Kaffa kepadanya. Tapi karena cinta, Alya menjadi buta bahkan bodoh. Keimanannya perlahan-lahan semakin menghilang. Yang ada dipikirannya hanyalah Kaffa Kaffa dan Kaffa.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2