Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Tawaran


__ADS_3

"Al universitas kita mengadakan lomba, aku rasanya ingin mengikuti lomba-lomba lagi seperti dulu"


"Dulu ? memangnya dulu kamu sering mengikuti lomba ?"


"Sering, bahkan hampir setiap lomba aku menang. Apa kamu ingat seluruh piala yang ada di rumahku ? yang di lemari. Itu semua pialaku"


Alya mengingat kembali, memang banyak sekali piala yang memenuhi ruang keluarga nya. Piala dari berbagai macam-macam cabang lomba akademik maupun non akademik. Alya tidak pernah berfikiran untuk menanyakannya setiap kali menyambangi rumahnya. Alya fikir itu piala adik-adiknya.


"Kalau begitu ikutlah. Aku akan mendukung mu" jawab Alya dengan antusias nya


"Baiklah, aku akan ikut lomba debat. Aku harus belajar dan mencari informasi sebanyak-banyaknya sebagai bahan ku nanti. Dengan uang hadiahnya nanti aku bisa membantu orangtuaku" ucap Kaffa dengan semangat dan penuh harap


"Iya benar. Kalau kamu butuh bantuan ku, aku siap membantu apapun yang kamu butuhkan" ucap Alya dengan senyuman semangat nya


Cuppp


Melihat bunga mawar merah yang indah merekah di wajah Alya, Kaffa justru melayangkan ciuman mesra ke bibir nya.


"Terimakasih selalu ada membantuku"


Hati Alya tentu melayang dipenuhi bunga-bunga.


***


Hari yang dinanti pun tiba. Kampus menjadi sangat ramai karena kedatangan peserta-peserta lomba dari berbagai universitas lainnya. Perkuliahan juga ada yang diliburkan karena dosen yang bersangkutan sibuk ikut serta berpartisipasi dalam kesuksesan lomba-lomba tersebut. Termasuk kelas Alya yang libur hari itu.


Tentu saja Alya tidak akan menyia-nyiakan waktunya karena ia bersyukur bisa melihat orang yang dia cintai berjuang diatas panggung panas itu. Malika dan yang lainnya menemani Alya.


Alya khawatir melihat lawan-lawan Kaffa yang cukup kuat dengan argumen nya masing-masing. Tapi Kaffa juga tidak kalah gigihnya melawan semua argumen itu. Dari sekian banyak lomba, lomba debat lah yang paling ditunggu-tunggu. Panggung lomba itu menjadi panas karena peserta yang semakin bersitegang. Suara penonton pun menyoraki tak kala setiap kali peserta dari satu sisi melayangkan argumennya. Alya yakin Kaffa bisa memenangkan lomba ini karena Alya tau betul kemampuan laki-laki yang dicintai nya itu.


Dan ya benar. Diakhir Kaffa menang telak dan lawannya tidak bisa berkutik lagi. Alya sangat bahagia dengan itu. Semua orang mengucapkan selamat untuknya.


"Selamat Kaf kamu berhasil" ucap Alya dengan bahagianya menghampiri Kaffa


"Terimakasih, ini semua juga berkat bantuan mu"


Sejak saat itu Kaffa semakin dikenal. Terutama di prodi dan dosen-dosen nya karena dia sudah mengharumkan nama prodi nya. Sejak saat itu juga Kaffa semakin ketagihan untuk terus ikut lomba dan berkali-kali juga Kaffa memenangkan nya.


***


Ditempat kerja.


"Bang Kaffa .. dipanggil Pak Ridwan keruangan nya" ucap salah seorang teman kerja Kaffa

__ADS_1


"Ada apa Pak Ridwan memanggilku ? apa aku ada buat kesalahan ?" gumam batin Kaffa sambil berjalan menghampiri ruang atasannya


"Sebelumnya selamat ya Kaf, saya dengar kamu banyak mendapatkan kemenangan diberbagai lomba" ucap Pak Ridwan


Tanpa menjawab Kaffa hanya tersenyum mengangguk.


"Langsung ke intinya saja. Pasti kamu bertanya-tanya kenapa saya memanggil mu kesini. Kamu mau saya angkat menjadi ketua untuk menghandle segala urusan yang ada di taman Al-Qur'an yayasan ini"


Mendengar itu Kaffa sontak kaget mengangkat kepalanya.


"Dan saya juga minta tolong carikan satu lagi guru ngaji perempuan. Karena anak-anak yang mengaji disini semakin banyak. Farida dan Sari merasa kewalahan. Tidak perlu lagi melalui saya. Sesuai dengan kualifikasi mu saja. Saya yakin kamu lebih tau mana yang cocok untuk perkembangan tempat mengaji ini." ucap Pak Ridwan melanjutkan pembicaraannya


Dalam hatinya, Kaffa merasa senang karena ini adalah kesempatan yang bagus untuknya, tapi juga merasa ragu apakah dia bisa mengemban amanah ini dengan baik. Mengingat kepercayaan Pak Ridwan terhadap dirinya begitu besar.


"Baiklah Pak. Do'akan saya agar bisa amanah dalam mengemban amanah baru ini. Mengenai guru ngaji baru saya akan segera mencarinya"


***


Beberapa hari kemudian.


"duhh aku harus mencari kemana lagi. Semua orang sudah ku tawarkan. Aku tidak mau mengecewakan Pak Ridwan." gumam batin Kaffa yang sedari tadi menunduk kebingungan menggaruk-garuk kepalanya


"Ada apa Kaf ? apa ada masalah ?" tanya Alya memecahkan pikirannya


"Kenapa tempat kerjamu ? apalagi yang menimpamu disana ?" tanya Alya khawatir


Selama ia bersama Kaffa, Alya tau betul begitu banyak permasalahan Kaffa ditempat itu. Kaffa sering berbagi cerita dengannya. Tapi keluhan Kaffa tidak lantas membuatnya berhenti karena ia membutuhkan pekerjaan.


Tentu saja mengingat dia yang belum lulus kuliah, akan susah mencari pekerjaan yang layak dengan hanya bermodalkan ijazah SMA. Rata-rata mahasiswa hanya bisa mencari pekerjaan sampingan seperti mengajar karena pekerjaan itu bisa fleksibel menyesuaikan jam kuliah mereka.


"Tidak. Aku diangkat pak Ridwan menjadi ketua, tapi aku juga disuruh mencari guru ngaji tambahan. Belum apa-apa aku sudah mulai menyerah dengan tugas pertama ku"


"ahh Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Hmm guru ngaji tambahan ya ? kenapa kamu tidak coba menawarkan teman-teman mu ?"


"heh.. sudah aku lakukan beberapa hari ini tapi hasilnya nihil. Kami butuh guru perempuan. Teman-teman ku semua tidak bisa. Semuanya menolak karena lokasinya yang terlalu jauh sedangkan gajinya kecil dan menurut mereka tidak akan sesuai. Yang ada mereka hanya akan terkesan menjadi relawan" ucap Kaffa sambil menghela nafas panjang


"Aku juga tidak mungkin mengajakmu kerja denganku kan ? masa iya setiap hari aku harus mengantar jemput mu ketempat itu. Aku memikirkan kesehatan mu. Bantu aku Alya, mungkin ada teman-teman mu yang mempunyai kemampuan mengaji tinggi dan ilmu yang cukup agar bisa bergabung denganku. Kamu kan dari pondok, pasti banyak kan. Ohh iya yang punya kendaraan dan menerima apa adanya semua hal yang menyangkut tempat kerjaku" lanjut Kaffa dengan sedikit raut kecewa


"Iya nanti coba aku bantu cari ya"


Dikelas Alya tentu tidak fokus memikirkan kegundahan laki-laki yang dia cintai. Alya benar-benar tidak bisa membiarkan Kaffa sedikit saja dalam kesusahan. Yang ada dipikirannya, bagaimana pun caranya ia harus membantu Kaffa. Tapi dalam hatinya juga bingung. Siapa orang yang harus dia tawarkan dan cocok untuk pekerjaan itu. Teman pondoknya di kampus ini memang banyak, tapi tentu mereka anak rantau yang sama seperti Alya. Mengingat yang diucapkan Kaffa, pasti mereka tidak punya kendaraan. Jikalau pun harus naik kendaraan umum, pastinya gaji kecil itu akan habis untuk ongkos saja.


Ditengah lamunannya, Alya melihat seorang perempuan yang ada didepan kelas sedang mempresentasikan materi kuliah.

__ADS_1


"Jadi begitulah teman-teman semuanya. Memang benar Islam mempunyai andil yang sangat besar dalam keilmuan. Contoh sederhananya seperti jurusan kita ini, fisika.. yang identik dengan rumus dan angka. Kalian harus tau penemu angka 0 itu adalah seorang ilmuan muslim. Al-Khawarizm namanya...." jelas perempuan itu


Suara perempuan itu terus mendominasi ruangan kelas. Membuat seisi kelas mengangguk-ngangguk mengartikan bahwa mereka semua telah mendapatkan pengetahuan baru dari penjelasan perempuan itu.


"Abira ? apa harus Abira ? kurasa Abira sangat cocok untuk pekerjaan itu. Mungkin dia bisa membantu. Abira kan teman lama Kaffa, mereka pasti cocok dan bisa kerjasama. Keilmuannya sudah tidak diragukan. Mengajinya juga sesuai Tartil Al-Qur'an" gumam batin Alya sambil memperhatikan penjelasannya


Sebenarnya dalam hati Alya muncul keraguan. Apa ia harus merekomendasikan Abira kepada Kaffa. Mengingat kejadian di perpus dulu dan saat itu Alya cemburu. Bagaimana tidak cemburu, Abira perempuan yang ia kagumi sedang bersama laki-laki yang ia cintai. Alya takut kalah saing dengan Abira.


Tapi Kaffa butuh bantuan. Alya tidak bisa membiarkan Kaffa dalam kesusahan. Ia hanya bisa meyakini Kaffa dengan kepercayaan nya yang begitu besar. Toh juga mereka hanya sekedar teman lama.


***


"APA ??? ABIRA ??? apa kamu tidak salah" ucap Kaffa dengan kekagetan nya


"Iya benar Abira. Apa salahnya ? mungkin dia bisa membantu, Abira juga kan sudah berubah bahkan ilmu agamanya jauh diatasku."


"Apa kamu sudah membicarakan nya dengan Abira ?"


"Hmm belum sih, aku hanya baru kepikiran"


"Dia pasti tidak mau dan menolak dengan alasan yang sama seperti teman-teman ku yang lainnya"


"Kenapa kamu pesimis seperti itu. Memangnya rumah Abira juga jauh ?"


"Iya dia tinggal di daerah Cendana"


"Cendana ? tapi seingat ku waktu perkenalan awal kuliah dulu dia bilang tinggal di daerah permai" jawab Alya dengan kebingungan nya


Deggg..


"Permai ? apa Abira pindah rumah ? Permai itu dekat dengan rumahku. Berarti selama ini kami tinggal tidak terlalu jauh ?" gumam batin Kaffa


"Jadi gimana Kaf ? aku tidak tau lagi harus merekomendasikan siapa untukmu" ucap Alya memecah lamunan Kaffa, Alya memang sudah menjelaskan alasannya hanya bisa merekomendasikan nama Abira. Mengingat temannya yang juga jauh-jauh dan tidak punya kendaraan


"Boleh saja kalau dia mau. Sebaiknya kamu saja yang bicara lebih dulu dengannya"


"Baiklah"


Mendengar yang dikatakan Kaffa, Alya justru tersenyum. Pikirnya Kaffa sangat peka terhadap keraguannya bahkan dialah yang menghilangkan keraguan itu dengan menyuruhnya langsung yang bicara dengan Abira. Alya beranggapan Kaffa memang benar-benar tidak ingin membuat dirinya cemburu dan meyakinkan bahwa memang tidak ada apa-apa diantara dia dan Abira temannya.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2