Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Kista ovarium


__ADS_3

Alya melihat dan membaca dengan jelas bagaimana cara mereka bertukar kata. Kaffa menggunakan cara yang sama seperti Kaffa menaklukkan hatinya dulu. Ditambah dengan temannya, Malika. Dengan begitu manja nya Malika mengutarakan sayang dan keinginannya pada Kaffa.


Benak Alya dipenuhi banyak pertanyaan. Sebenarnya apa saja yang terjadi selama ia pulang ke desa. Sejenak Alya mengontrol dirinya dan kembali melihat pesan-pesan yang lainnya.


Pesan urutan nomor dua adalah Anggun, teman dekatnya juga. Dengan masih diiringi isak tangis, Alya membuka pesan itu. Alya juga memilih untuk membaca pesan mereka dari atas. Awalnya Alya hanya mendapatkan beberapa pesan biasa saja, namun semakin turun kebawah, mata Alya semakin terbelalak mendapati foto-foto kebersamaan mereka. Alya tau bahwa itu adalah desa tempat Anggun tinggal karena Anggun pernah menunjukkan keindahannya pada mereka. Air terjun, perkebunan, perbukitan, semua nya mereka kunjungi bersama. Tubuh Alya semakin melemas ketika melihat satu foto yang menunjukkan mereka saling bertatapan dengan begitu dekat. Dengan latar perbukitan yang hijau dan indah, terlihat tangan Kaffa melingkar di pinggang Anggun dan tangan Anggun melingkar di leher Kaffa. Ada foto lain juga yang menunjukkan Anggun bersandar mesra di bahu Kaffa.


Perasaan Alya semakin tak karuan, ia menangis semakin menjadi-jadi. Dengan tangan yang terus gemetar, Alya melakukan hal yang sama. Ia menangkap gambar seluruh pesan Anggun itu.


"Ya Allah apa semua ini, apa yang ingin Engkau tunjukkan kepadaku. Malika.. Anggun.. mereka semua sahabat ku, sudah ku anggap seperti keluargaku" ucap Alya lirih.


Tanpa melihat pesan yang lainnya, Alya beralih pada WhatsApp. Dadanya semakin sesak dan sakit, ditambah bagian bawah perutnya yang terus terang-terangan memunculkan rasa nyeri, namun dengan sisa-sisa kekuatan nya Alya mencoba mencari nomor seseorang.


Malika.. Alya mengirimkan semua gambar pesan yang sudah ia simpan tadi kepada Malika.


Anggun.. Alya juga mengirimkan semua gambar pesan yang sudah ia simpan tadi kepada Anggun. Meminta penjelasan kepada mereka tentang semua yang sudah Alya lihat.


brukkk.. seketika handphone yang dipegangnya terjatuh. Alya pingsan tak sadarkan diri.


****


Ditempat lain...


Malika dan Anggun yang mendapati pesan itu sangat kaget. Mereka berdua sangat gusar. Dalam hati mereka bertanya-tanya, darimana Alya bisa mendapatkan akses masuk ke akun Instagram Kaffa.


Pikiran mereka sama-sama kalut dipenuhi dengan rasa takut. Kini Alya sudah mengetahui semuanya. Mereka berdua sama-sama berkali-kali mencoba menghubungi Alya namun handphone nya mati. Pikiran mereka semakin kacau. Memikirkan bagaimana kondisi Alya sekarang. Mengingat Alya memiliki penyakit yang bisa membahayakan nyawanya. Secara bersamaan mereka menghubungi seseorang. Kaffa... siapa lagi kalau bukan laki-laki itu.


Kaffa yang mengetahui itu justru memperlihatkan sikap yang berbeda. Ia tampak santai dan melihat semuanya. Sejenak Kaffa teringat, memang dulu ia pernah meminjam handphone Alya dan ia menyadari mungkin saja akses akunnya masih tertinggal disana. Kaffa mencoba menjelaskan pada keduanya.


"Cepat ubah kata sandi akun Instagram mu !" pinta Malika diujung telepon.

__ADS_1


Malika dan Anggun semakin tidak bisa tidur. Bahkan sampai pagi pun mereka tidak bisa juga menghubungi Alya.


Ditempat lain..


"Bu, sebaik ibu bawa anak ibu ke kota. Karena peralatan disana lebih lengkap. Anak ibu harus secepatnya diberi penanganan karena dia sudah terlalu lama tidak sadarkan diri" pinta dokter puskesmas di desa Alya kepada ibunya.


Pagi itu, tidak biasanya Alya belum keluar dari kamar karena ia selalu bangun pagi untuk membantu pekerjaan dapur ibunya yang akan berangkat ke sawah. Namun ketika ibunya memasuki kamar Alya untuk membangunkan nya, betapa terkejutnya beliau melihat Alya tergelatak tak sadarkan diri dan sudah begitu pucat bak mayat. Ibu Alya terus menepuk pipi Alya berharap anaknya akan sadar, namun kenyataannya nihil. Dengan kekhawatiran yang begitu besar, tanpa fikir panjang ibunya langsung membawa Alya ke puskesmas karena memang hanya itulah tempat berobat yang ada disana.


"Yowes Bu.. kita ke kutha saiki ! Bapak bakal nyewa prau karo Pak Gatot kanggo nggawe luwih cepet" ucap Bapak Alya bergegas pergi.


"Yasudah Bu.. kita ke kota sekarang ! Bapak akan sewa perahu sama pak Gatot supaya lebih cepat"


Di rumah sakit..


Dengan air mata yang berlinang tak pernah berhenti, kedua orang tua Alya selalu mendoakannya. Mereka hanya bisa melihat anaknya dibalik kaca ruangan itu. Berharap keadaan Alya baik-baik saja.


"Alya.. Alya sing kuat Yo nduk" ucap Ibu Alya dengan isak tangis menutupi wajahnya.


Mereka bergegas beranjak dari tempat duduk ketika melihat dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan.


"Sudah berapa lama anak ibu pingsan ?" tanya dokter.


"Kami tidak tau pasti dok. Kami baru sadar pagi tadi waktu berniat ingin membangunkan nya, karena kami mengira dia masih tidur" jawab ibu Alya dengan terus menangis.


"Kami harus melakukan biopsi untuk mengambil sampel jaringan kista ovarium nya, kami harus segera menelitinya di laboratorium. Semoga kista ini tidak bersifat kanker seperti yang sama ada pada pay*dara nya. Kami juga melihat asam lambung nya sering naik" ucap dokter menjelaskan.


"Apa dok ? Kista ovarium ?" tanya ibu Alya dengan Kaget memastikan apa yang didengarnya tadi tidaklah benar.


"Iya Bu kista ovarium, tadi kami sudah melakukan USG untuk memastikannya"

__ADS_1


"Tapi anak saya masih gadis dok"


"Bu.. kondisi ini bisa terjadi pada wanita manapun yang masih mengalami masa menstruasi. Dari mereka pubertas sampai menopause semuanya berkemungkinan Bu. Apalagi anak ibu pernah melakukan kemoterapi tamoxifen untuk mengobati kanker pay*dara nya. Tamoxifen dapat menyebabkan terbentuknya benjolan di ovarium Bu dan bahkan memiliki risiko yang lebih tinggi. Inilah penyebabnya sekarang tubuh anak ibu justru mengalami komplikasi dan mengidap Kista ovarium juga" jelas dokter tersebut.


Mendengar itu tubuh ibu Alya terkulai lemas. Suaminya mencoba menyandarkan nya pada kursi yang tadi mereka duduki.


"Iki diminum dulu Bu"


Bukannya mengambil botol air minum yang diberikan suaminya, Ibu Alya justru menangis sejadi-jadinya dipelukan suaminya.


"Bapak.." suara ibu Alya semakin lirih.


"Kapan Alya melakukan kemoterapi pak. Kenapa kita tidak tau tentang itu. Kenapa dia melakukan itu padahal ibu sudah melarangnya pak" ucap Ibu Alya tersedu-sedu.


"Wess Bu. Yang penting sekarang kita pikirkan kondisi Alya" jawab suaminya mencoba menenangkan.


"Ibu mau masuk !"


Keduanya memasuki ruangan itu. Mereka sama-sama duduk disamping tempat tidur Alya. Mereka menatap wajah pucat Alya yang sekarang tengah berbaring lemas. Ibu Alya mengambil tangan anaknya dan terus menciumi nya.


"Knopo kok ora crito Karo ibu nduk" ucap ibu Alya dengan terus menangis memegangi tangan anaknya yang ia letakkan diwajahnya.


"Kenapa tidak pernah cerita sama ibu nak"


"Pokok e awakmu kudu waras !" lanjutnya.


"Pokoknya kamu harus sembuh !"


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2