
Semenjak hari itu Kaffa tampak seperti orang yang berbeda. Bahkan saat bersama Alya pun pikirannya tetap lalu lalang kemana mana. Ketika Alya menanyakan ada apa dengan dirinya, lagi-lagi Kaffa memberikan jawaban yang sama bahwa dirinya baik-baik saja. Alya tentu tau Kaffa sedang menutupi sesuatu dan Alya terus memikirkan itu. Akibatnya, kesehatan Alya menjadi turun.
***
Saat dikelas ..
Malika terlihat sedang memandangi Abira yang duduk didekat jendela, Malika tampak ragu-ragu. Sepertinya ia ingin menanyakan sesuatu.
Ia menepiskan keraguannya sejenak dan berjalan menuju tempat duduk Abira.
"Abira" sapa Malika
"Ehh iya ka ada apa ?" jawab Abira yang sedikit kaget dengan kedatangan Malika
"Lagi sibuk nggak ? aku mau nanya sesuatu" ucap Malika dengan tatapan sendu
"InShaaAllah nggak. Ada apa ?" jawab Abira dengan senyumannya
"Hhmm.. menurutmu diam-diam menaruhkan rasa cinta kepada seseorang itu salah nggak sih ?"
"Nggak salah ka. Cinta itu fitrah. Setiap orang berhak memberikan atau pun mendapatkan cinta. Apalagi dengan cara diam-diam. Yang salah itu kalau kita gagal dalam mengekspresikan nya"
"Gagal mengekspresikan ? maksudnya ?" tanya Malika menatap Abira dengan lekat
"iya.. maksudnya seperti mengekspresikan cinta itu dengan cara pacaran, saling melempar sayang, berpegang tangan atau bahkan lebih dari itu. Kamu pasti tau kan QS. Al-Isra ayat 32. Allah melarang kita untuk mendekati zina. Mendekati aja kita dilarang apalagi melakukan nya. Ini Allah ka yang nyuruh"
"Termasuk mencintai seseorang yang sudah bersama orang lain?" tanya Malika lagi
Sontak pertanyaan itu membuat Abira kaget. Abira merasa Malika sedang menyindirnya. Namun sedetik kemudian Abira berfikir kembali kalau sama sekali tidak ada orang yang tau tentang perasaannya kepada Kaffa.
"Ya Allah nggak, nggak mungkin. Kenapa aku malah jadi suudzhon" gumam batin Abira
"Ra" panggil Malika memecah lamunan Abira
"Iya Ka, itu juga salah. Lagipula untuk apa mencintai orang yang jelas-jelas sedang menantang Allah karena melanggar perintah-Nya. Lebih baik berikan cinta itu kepada orang lain saja yang lebih pantas, daripada merasakan sakitnya cinta terlarang yang bertepuk sebelah tangan"
Malika tertegun mendengar itu, obrolan mereka terhenti ketika ternyata dosen sudah masuk kelas.
Sementara setelah kepergian Malika, Abira tampak memandang jauh keluar jendela, ia memejamkan matanya, sambil mengigit bibir bawahnya. Mulutnya keluh namun hatinya seakan runtuh.
__ADS_1
"Ya Allah apa yang aku katakan. Maafkan kemunafikan ku, aku bahkan mencintai orang yang sudah bersama orang lain, meskipun masing-masing mereka menyangkalnya tapi entah kenapa hatiku masih tidak leluasa mencintai nya" gumam batin Abira lagi
Sebenarnya Abira sendiri dari awal tidak mau dijadikan sebagai tempat untuk mendapatkan jawaban secara Islami dari setiap permasalahan teman-teman kelasnya. Apalagi sebagian besar masalah tentang cinta dan perasaan. Ada kalanya Abira merasa muak. Abira takut kalau sewaktu-waktu Allah akan menguji dirinya atas setiap perkataan nya. Tapi ia juga sadar harus tetap menasehati temannya sesuai dengan ilmu yang ia punya. Abira hanya bisa berdoa bahwa Allah selalu meridhoi setiap langkahnya.
Ketika pelajaran sedang berlangsung tiba-tiba...
"Alya.. Alya" ucap salah seorang yang sedang menggoyangkan tubuh Alya
"Bu Alya pingsan Bu" ucap salah seorang lainnya melapor kepada Dosen
Seketika kelas menjadi riuh khawatir. Tanpa terkecuali Abira yang refleks berdiri dan ingin menghampiri. Namun langkahnya terhenti ketika Bu dosen meminta untuk membawa Alya ke klinik kampus. Tentu Malika, Anggun dan Nisa sahabatnya lah yang sudah lebih dulu bergerak cepat melakukan itu.
"Yang lain tetap lanjutkan tugas yang telah ibu berikan" ucap dosen itu sambil meninggalkan kelas
***
Di klinik...
"Gimana keadaan Alya ?" ucap Kaffa dengan nafas terengah-engah
Laki-laki itu sangat mengkhawatirkan Alya ketika mendapatkan telepon dari Malika kalau Alya pingsan. Beruntung saat itu Kaffa sedang tidak ada mata kuliah, sehingga bisa cepat menghampiri mereka.
"Kamu nggak kuliah Kaf ?" tanya Malika
"Mata kuliahku di mulai siang nanti." jawab Kaffa dengan raut khawatir memandangi Alya
Malika dan yang lainnya harus kembali memasuki kelas karena mata kuliah mereka masih berlangsung. Kaffa yang menyuruh mereka untuk masuk karena ada dia yang akan menjaga Alya.
Beberapa menit kemudian...
"Kaffa" ucap Alya perlahan membuka matanya
"Alya.. kamu sudah sadar" jawab Kaffa memegang erat tangan Alya
Setelah beberapa jam Alya merasa sudah lebih baik. Kaffa melarang Alya untuk melanjutkan kuliah hari itu dan Alya pun menuruti nya. Kaffa lanjut mengantarkan Alya pulang ke kosan nya. Kaffa menyuapi Alya makan, menemaninya dan menghiburnya sampai jam kuliah Kaffa tiba.
"Sebentar lagi aku masuk. Kamu nggak papa disini sendiri ya ? Malika dan yang lainnya akan segera pulang. Aku sudah menelpon mereka"
Alya yang diperlakukan Kaffa dengan lembut pun mengangguk kecil sambil tersenyum.
__ADS_1
Cuppp..
Kaffa melayangkan ciumannya ke kening Alya sambil memegang erat tangan Alya.
"Jaga diri baik-baik, jangan banyak pikiran, jangan lupa makan dan minum obatnya" ucap Kaffa sambil perlahan pergi
Entah kenapa setiap kali Alya mendapatkan perlakuan seperti itu seketika hatinya luluh dan sakitnya sembuh. Padahal ia tau, kesehatan nya menurun karena memikirkan Kaffa. Tubuhnya lemas karena tidak nafsu makan dan tanpa makan dirinya tidak bisa minum obat.
Keesokan harinya, seperti biasa Kaffa mengantarkan Alya kuliah meskipun Kaffa melarangnya untuk jangan kuliah dulu. Apalagi setelah Alya pingsan kemarin, Kaffa semakin over protektif kepadanya. Namun sayangnya saat itu Alya bersikeras ingin kuliah. Tubuh yang masih sangat lemas itu membuat Alya kesiangan. Bahkan Malika pun sudah pergi lebih dulu.
Sesampainya di depan gedung belajar betapa kagetnya Alya kalau seluruh teman-teman nya berada didepan gedung itu. Ternyata dosen pengampu saat itu tiba-tiba mengabarkan kalau beliau tidak bisa hadir, sehingga membuat teman-temannya meninggalkan kelas. Alya tertunduk pasrah bahwa sekarang ia sudah tertangkap basah.
Ada yang lebih kaget lagi, yaitu Kaffa. Ketika ia melihat bahwa sepasang mata Abira memperhatikan dirinya dan Alya. Saat itu juga Kaffa memutuskan untuk mengantar kembali Alya ke kosannya karena kondisinya yang masih lemah.
Tampak Malika yang duduk disebelah Abira karena ia sedang melanjutkan pertanyaan nya yang tertunda kemarin. Namun sepeninggalnya Kaffa dan Alya...
"Hhmm ka.. boleh aku yang gantian tanya sesuatu ke kamu ?" ucap Abira
"Maaf sebelumnya, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak papa ya. Aku mau tanya apa hubungan Alya dan Kaffa ? Kamu kan teman dekatnya, satu kos lagi. Pasti banyak tau tentang mereka"
Karena Abira yang sudah banyak menjawab pertanyaan nya, Malika pun tidak segan untuk menjawab pertanyaan Abira. Malika berpikir, kalau Abira menanyakan itu pasti karena melihat pemandangan yang baru saja mereka lihat ketika Alya dibonceng oleh Kaffa.
"Ohh iya kamu kenal Kaffa kan ya. Kata Alya dulu kalian pernah satu sekolah. Hm hubungan mereka ya... apa ya... kalau ditanya itupun aku bingung Ra mau jawab apa. Setahuku mereka itu nggak ada status apapun, keduanya saling bantu satu sama lain, tapi emang deket banget udah kayak buku sama sampulnya. Kaffa yang selalu khawatir sama keadaan Alya, begitu pun juga dengan Alya yang selalu khawatir ketika Kaffa kesusahan. Tapi kami tau kok kalau mereka saling suka. Bahkan Kaffa pernah meminta izin ke ibu Alya kalau dia mau menikahinya saat dirumah sakit dulu" ucap Malika menjelaskan panjang lebar
Deggg..
Mendengar kenyataan itu seketika hati Abira sangat dingin, seperti ada yang perlahan mencair. Bibir nya kaku tak mampu menjawab. Tubuhnya seketika perlahan melemah. Air matanya ingin tumpah tapi tak bisa. Berapa pedih hatinya sekarang bahwa dugaannya selama ini benar.
"Ra" panggil Malika memegang tangan Abira
Suara itu segera menyadarkan Abira.
"iya ka ?"
"Aku duluan ya. Nanti kapan-kapan kita lanjut ngobrol lagi, aku harus ke kosan kasian Alya" ucap Malika perlahan berdiri
"iya ka" jawab Abira tersenyum tipis untuk menutupi perasaan dihatinya
.
__ADS_1
bersambung..