
"BIRA..." panggil Kaffa khawatir.
Kaffa bergegas mendekat kearah Abira. Menepuk-nepuk halus pipinya berharap Abira akan sadar. Perlahan ia baringkan tubuh Abira pada posisi yang lebih nyaman.
"Wahh.. sekarang aku benar-benar melihat dengan mata kepala ku sendiri Kaf. Rasa cinta mu pada Abira, kamu begitu khawatir ketika Abira pingsan padahal aku tepat ada dihadapan mu" ucap Alya yang menghentikan pergerakan Kaffa.
Mengetahui itu, Alya langsung berjalan cepat menuju dapur. Kaffa yang melihat itu bergegas mengikutinya. Tampak Alya ingin mencari sesuatu. Alya yang sedang sangat kacau menjadi tidak fokus ketika mencari barang yang ia mau. Seluruh isi dapur menjadi berantakan karenanya. Apapun yang ada dihadapannya ia hempaskan begitu saja. Termasuk gelas-gelas dan piring-piring beling ia pecahkan.
"Mana sihh.. Aargghhh"
"Alya. sudah cukup !"
Alya tidak merespon Kaffa, ia tetap mencari sesuatu yang ia mau diiringi dengan tangisnya.
"Alya kumohon sudah ! lihat aku Alya, lihat aku !" ucap Kaffa memegang wajah Alya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu lakukan ini kepadaku Kaffa. Apa kurangnya aku selama ini dengan mu hah ! apa karena aku penyakitan ? aku banyak menyusahkan mu ? sedangkan Abira lebih cantik ? lebih pintar ? badannya lebih bagus ? iya kan ?. Lihatlah aku, tentu aku jauh dibawah Abira, penyakit ku bahkan perlahan-lahan membuat badanku semakin kurus kan ? hahaha" ucap Alya dengan kondisi yang sudah sangat berantakan.
"Nggak Al, itu ...."
"Aargghhh minggir !"
Belum sempat Kaffa menyelesaikan ucapannya, Alya segera menepis tangannya dan kembali mencari barang yang diinginkan nya.
Ternyata barang yang dari tadi Alya cari adalah pisau. Pisau dapur yang selama ini ia gunakan untuk memasak. Spontan Alya langsung mengarahkan pisau itu ke arah pergelangan tangannya. Melihat itu, Kaffa panik dan segera merebut pisau itu dari Alya.
"Apa yang kamu lakukan Alya ? apa kamu sudah gila !" sarkas Kaffa.
"Iya AKU GILA ! kamulah yang membuat aku gila ! setelah semuanya kamu dapatkan dariku, kamu mencampakkan aku begitu saja ! HABIS MANIS SEPAH DIBUANG ! Sini kembalikan pisau itu, lebih baik aku mati !" sarkas Alya mencoba merebut pisau ditangan Kaffa.
"Kalau kamu berani berbuat, aku juga akan menunjukkan hal yang lebih lagi pada mu Kaffa ! aku tidak akan mengizinkan mu bahagia, biar kematian ku membayang-bayangi mu seumur hidup !" lanjut Alya terus mencoba merebut pisau ditangan Kaffa.
Kaffa yang panik langsung mencari handphone nya dan mencoba menelepon seseorang untuk datang membantunya. Alya benar-benar sudah diluar kendali sekarang. Kaffa merasa perempuan yang didepannya sekarang adalah bukan sosok Alya. Alya yang sudah sangat patah hati mampu berbuat nekat diluar ekspektasi Kaffa. Hati Kaffa sangat kacau, di ruangan depan ada Abira yang pingsan, sedangkan dihadapannya sekarang ada Alya yang mencoba bunuh diri. Ia hanya bisa mempertahankan pisau yang ada ditangannya untuk mencegah keinginan Alya meskipun ia terus berusaha merebutnya.
Alya bersikeras merebut pisau itu, namun Kaffa mencengkram pisau itu begitu kuat sehingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
__ADS_1
"Aahhh" rintih Kaffa kesakitan.
Melihat dirinya yang tak kunjung mendapatkan pisau itu, Alya berjalan cepat menuju ruangan depan. Kaffa yang melihat itu pun mengikutinya dari belakang. Alya mencoba ingin keluar, belum sempat ia membuka pintu namun pintu sudah dibuka lebih dulu oleh Anggun dan Nisa. Yaa, merekalah orang yang ditelepon oleh Kaffa tadi untuk membantu nya.
"Ya Allah Alya .. kamu..." ucap Anggun kaget melihat kekacauan di sekeliling kosan itu.
"Ini ada apa Kaf ? kok Abira ada disini ? Abira kenapa ?" tanya Nisa khawatir.
Alya ditahan oleh mereka agar tidak keluar dengan kondisi yang seperti itu. Anggun perlahan menenangkan dan memeluknya. Alya menangis di pelukannya. Namun sedetik kemudian ia membalikkan badannya ke arah tembok dan membenturkan kepalanya berkali-kali. Anggun dan Nisa yang melihat itu mencoba menahannya, mereka ikut menangis melihat keadaan teman dekatnya itu.
"Mereka jahat.. mereka jahat denganku..Dia, dia mengkhianati ku, dasar laki-laki brengsek !" sarkas Alya sambil membenturkan kepala nya berkali-kali.
"Aku bodoh.. aku sangat bodoh memberikan semuanya untuk dia, aku bodoh"
Alya terus mengucapkan itu berulang kali meskipun Anggun dan Nisa terus mencoba menenangkan nya. Sampai akhirnya tubuhnya ambruk dan ia terus mengerang kesakitan pada bagian dadanya.
"Alya.. Alya... sadar Al kumohon jangan seperti ini, kamu kenapa" ucap Anggun yang begitu sangat khawatir.
Tanpa merespon, Alya hanya terus tetap mengerang kesakitan.
"Kita kerumah sakit" jawab Kaffa spontan
"Anggun kamu bantu dan ikut aku membawa Alya, pakai kan hijabnya. Nisa aku minta tolong kamu tetap disini tunggu sampai Abira sadar dan tolong bantu bereskan ini semua" lanjut Kaffa sambil melihat keadaan disekelilingnya yang sudah sangat kacau.
Setelah mereka pergi, Nisa yang ada disana sangat kaget ketika melihat bagian dapur yang lebih kacau dari ruangan depan. Pecahan beling dimana-mana, tepung dan seluruh bahan masakan berserakan. Hatinya dipenuhi dengan kebingungan, ia kembali mengingat kejadian beberapa menit lalu. Tapi ia segera bergegas membereskan itu semua tanpa ragu.
Beberapa menit kemudian..
"Aahhh" Abira sadar dari pingsannya. Ia tampak merasakan kesakitan dibagian kepalanya.
Melihat itu Nisa yang ada disana segera menghampiri Abira.
"Abira kamu sudah sadar ?" tanya Nisa khawatir.
"Kamu kenapa Ra ? apa yang terjadi ?"
__ADS_1
Abira yang perlahan sadar seketika teringat akan semuanya. Teriakan Alya pada dirinya yang mengakui perbuatan mereka pun terus berputar berkali-kali di telinga Abira. Air matanya mulai membahasi pipinya lagi.
"Ahhh.. nggak mungkin ! itu semua nggak mungkin" teriak Abira sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Ra.. sadar Ra.. apa yang nggak mungkin ?" tanya Nisa lagi yang semakin bingung dengan apa yang terjadi.
Abira terus menangis. Perlahan darah keluar dari hidungnya.
"Ra kamu mimisan"
Nisa yang melihat itu semakin panik dan bingung harus bagaimana. Sementara Abira tetap tidak meresponnya. Ia segera membersihkan darah yang terus keluar dari hidung Abira. Ia mencoba menenangkan Abira dengan memeluknya. Namun Abira tetap tidak berhenti. Sampai akhirnya tubuh Abira kembali ambruk pingsan lagi.
Nisa yang panik mencoba mencari handphone Abira didalam tasnya untuk menghubungi keluarganya. Namun sungguh disayangkan, handphone Abira terkunci dan Nisa tidak mengetahui kuncinya. Nisa mencoba menghubungi Anggun dan Kaffa dengan handphone tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab.
Nisa yang semakin gusar pun menelepon Malika untuk cepat pulang.
Beberapa menit kemudian..
"Lohh Abira, kok dia disini, ada apa Nis" tanya Malika heran.
"Jangan tanya aku Ka, aku nggak tau"
Nisa menceritakan semua kejadian yang dihadapinya beberapa menit lalu. Malika tampak menunjukkan raut wajah bingungnya.
"Ya Allah ada apa ini" ucap Malika.
Mereka berdua tetap berada disamping Abira menunggunya. Namun setelah waktu yang sudah cukup lama Abira tidak kunjung sadar. Tangannya sangat dingin. Malika dan Nisa mencoba untuk membangunkan nya, namun tetap saja tidak ada respon baik dari tubuhnya.
Sampai akhirnya....
.
.
bersambung..
__ADS_1