Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Menerima


__ADS_3

1 Minggu berlalu..


Satu minggu lebih sudah Abira berusaha menenangkan dirinya. Satu minggu lebih juga ia manfaatkan itu untuk lebih dekat kepada Tuhannya agar keimanannya tidak terus melemah.


Papa Abira yang sudah kembali dari luar kota mengharuskan Abira juga untuk kembali kerumah dan mulai kuliah. Abira berharap Allah membantu memperkuat hatinya dan memperluas sabarnya untuk menghadapi rintangan selanjutnya.


Sore itu Abira datang ke tempat kerjanya untuk resign secara baik-baik kepada Pak Ridwan, meskipun ia terhitung baru berkerja. Tak lupa juga ia pamit kepada anak-anak didiknya.


Kaffa yang melihat Abira ada disana sungguh tidak menyangka. Beberapa hari ia mencari Abira dan tidak mendapatkan hasil, namun lagi-lagi Abira sendiri yang datang dalam pandangannya. Semua yang berada di ruangan itu terkejut dengan keputusan yang disampaikan Abira. Air mata anak-anak yang tidak rela melepasnya sedikit mampu menggoyahkan Abira meskipun pada akhirnya ia tetap bersikeras pada keputusannya.


"Kamu yakin Abira ?" tanya Harun.


"Yakin Ustadz" jawab Abira singkat.


Harun yang mendapatkan jawaban itu sangat kecewa, dengan ujung mata yang sedikit melirik ke arah Kaffa. Harun beranggapan bahwa keluarnya Abira pasti ada hubungannya dengan Kaffa.


Setelahnya Abira pamit.


Keesokan harinya ia mulai masuk kuliah..


Dan benar saja kekhawatiran Rosa sungguh terjadi. Hampir semua mata menatap sinis ke arah Abira. Namun reaksi Abira diluar dugaan Rosa. Kekhawatiran nya akan perasaan Abira tidak terjadi. Meskipun ia berkali-kali melihat Abira seperti menarik nafas panjang mencoba menerima semuanya.


"Ra.. seharusnya kamu bilang yang sebenarnya ke meraka. Jangan biarkan mereka berasumsi sebelah mata Ra" pinta Rosa geram.


"Untuk apa Ros ? mencari pembenaran ? berusaha melakukan pembelaan ? mereka yang menyukaiku tidak butuh itu dan mereka yang tidak menyukaiku tidak akan mempercayai itu. Sudah biarkan saja, do'akan aku kuat menghadapi semuanya. Biarkan waktu yang akan memberikan semua kebenaran itu pada mereka" jawab Abira dengan pasrah.


Mendengar jawaban Abira membuat Rosa sangat terharu dan spontan memeluk sahabatnya itu berharap ia bisa mengalirkan kekuatan untuk Abira.


Bohong rasanya jika perasaan Abira tidak terguncang mendengar orang lain membicarakan keburukan yang sebenarnya itu tidak benar. Tapi Abira berusaha untuk menguatkan diri dan menjalankan perkuliahan seperti biasanya meskipun sekarang sikap dinginnya semakin bertambah.


Semenjak kejadian itu, Alya dan Abira seperti orang bermusuhan. Alya yang selalu menatap sinis ke arah Abira dan Abira yang semakin bersikap dingin dengannya.

__ADS_1


Sepulang kuliah, Abira pergi ke danau menenangkan dirinya sejenak dengan hembusan udara segar.


Tiba-tiba..


"Kamu tau Bira, semenjak hari itu hampir setiap hari aku kesini berharap kamu ada disini. Seminggu lebih aku mendapatkan kekecewaan tapi akhirnya hari ini aku mendapatkan kegembiraan karena kembali bisa melihat mu lagi" ucap Kaffa.


Abira yang mendengar itu justru pura-pura tidak menghiraukan kehadiran Kaffa yang berdiri tepat disampingnya. Abira terus bungkam dan asik dengan bukunya.


Melihat itu Kaffa justru duduk disampingnya.


"Kamu kemana selama ini ? aku kerumah mu tidak ada orang, mencoba menghubungi papamu juga tidak pernah ada balasan. Aku mengkhawatirkan mu Bira" ucap Kaffa lagi.


Abira tetap bungkam.


"Bira !" ucap Kaffa dengan kesal menutup buku Abira dan merebutnya.


Abira yang diperlakukan seperti itu membuat api dalam hatinya menjadi membara.


"Apa maksud mu ? Maafkan aku atas kejadian waktu itu, semua itu tidaklah benar"


Mendengar itu Abira sangat geram, namun berusaha bersikap tenang dan elegan.


" Tidak benar ? jadi apa yang benar ? melihat seorang perempuan yang sudah begitu hancurnya sampai menanggalkan mahkota penutup kepalanya begitu saja dihadapan laki-laki yang dicintainya karena memang sepenuhnya sudah kalian nikmati bersama, itu yang benar. Melakukan fitnah seolah aku adalah wanita murahan yang menggoda dan lebih dulu menyatakan cinta, itu yang benar. Kamu tau karena ulah mu seisi kelas membicarakan ku, kamu tau karena ulah mu nasib seorang perempuan dipertanyakan. Sekarang dengan rendahnya kamu mengatakan bahwa semua itu tidak benar ?"


"Tarik kembali kata-kata mu bahwa kamu yang sekarang itu adalah karena diriku. Aku tidak ingin menjadi inspirasi seseorang yang begitu menjijikkan seperti dirimu. Memanfaatkan kepolosan wanita untuk kepentingan mu. Kamu gunakan ilmu agamamu untuk memikat wanita-wanita seperti kami ? seharusnya sebutan ustadz tidak pantas untukmu."


"Aku bukan Alya. Jika kamu mengharapkan mendapatkan semuanya dariku seperti yang sudah kamu dapatkan dari Alya, itu tidak akan pernah kubiarkan." Sarkas Alya bertubi-tubi.


Kaffa mematung mendengar itu semua diucapkan langsung oleh Abira.


"Tapi aku tau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku Bira" pancing Kaffa.

__ADS_1


"Tapi yang ku tau perasaan ku sudah mati. Untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang tapi langsung dipatahkan oleh kenyataan."


"Dulu memang aku kagum dengan usahamu. Dulu aku juga sempat mencari mu. Dulu aku sempat iri denganmu karena kamu berhasil mengalahkan ku, meskipun kamu tidak pernah menyadari kehadiran ku. Aku tau kita satu kampus. Aku tau hubungan mu dan Alya. Aku tau aku juga mencintaimu tapi hatiku tidak sekotor dirimu. Apa ada sekali saja aku menghampiri mu ? Berusaha keras aku menjaganya dan kamu hancurkan begitu saja. Kamu buat hatiku mati rasa !" Sarkas Abira lagi.


Kaffa semakin kaget dengan semua pernyataan yang diucapkan oleh Abira.


"Kalian yang tidak jujur kepadaku ! Kalian juga yang menarik paksa diriku berada diantara kalian ! seharusnya aku tidak pernah menerima pekerjaan itu ! seharusnya aku tidak pernah memiliki rasa iba pada orang seperti mu !"


Kaffa seakan dibuat membisu, Abira berkali-kali memberondongnya dengan peluru tajam.


Merasa puas dengan seluruh keluh dihatinya yang sudah ia utarakan, Abira beranjak bangun dari duduknya dan berniat pergi meninggalkan Kaffa.


"Bira.. tunggu" cegah Kaffa memegang tangannya.


Dengan cepat Abira menghempaskan pegangan itu.


"Kubilang pergi dari hidup ku ! jangan sampai aku melayangkan pukulan yang sama ke pipimu seperti yang dilakukan Alya berulang kali kepadamu ! karena aku bukan perempuan seperti itu. Aku tidak akan membalas kesakitan dengan kesakitan. Biarkan Dia yang berhak sepenuhnya atas diriku, yang akan memberikan balasan padamu !" Sarkas Abira dan pergi meninggalkan Kaffa.


Kaffa tertunduk. ia menjambak rambutnya mencoba menyakinkan diri bahwa tadi yang bicara dengannya adalah Abira, perempuan yang ia cintai.


Sejenak ia berfikir. Menyadari bahwa sekarang perasaannya sudah hancur. Abira tidak akan pernah lagi ia dapatkan. Kaffa terus menyalahkan dirinya karena kebodohan yang dia lakukan.


Abira yang sudah melangkah jauh dari pandangan Kaffa melemah dengan isak tangis yang tak terbendung. Jantung nya berdegup dengan keras, ia masih tidak percaya bahwa dirinya mampu mengatakan semua itu pada Kaffa.


"Aku terima semua ketetapan-Mu Ya Allah" ucap Abira sambil mencengkram dadanya.


Sesekali ia usap air matanya yang terus membanjiri pipinya. Mengatur nafas perlahan-lahan agar ia bisa tenang dan pulang.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2