Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Keberanian


__ADS_3

Sudah satu bulan berjalan, tapi Kaffa tak kunjung juga mendapatkan teman mengajar. Ada pula yang masuk namun langsung berhenti. Tim pengajar benar-benar kewalahan.


Tampak Kaffa terus memikirkan itu, ia takut Pak Ridwan mempertanyakan kinerja nya.


Di taman..


"Abira" ucap Kaffa kaget melihat perempuan yang tidak jauh darinya


Tanpa fikir panjang tentu dia langsung menghampirinya.


"Abira"


Tanpa menjawab Abira hanya melirik Kaffa sekilas untuk memastikan siapa orang yang memanggilnya.


"Aku mau bicara sebentar, kumohon dengarkan dan respon aku serius kali ini saja. Aku bukan setan yang harus terus menerus dihindari dan ditakuti" ucap Kaffa dengan memohon


"ada apa ?" jawab Abira dengan ekspresi dinginnya


"aku butuh bantuan mu.."


Belum sempat Kaffa menyelesaikan perkataannya Abira langsung memotong pembicaraan.


"untuk mengajar ditempat mu mengajar ? maaf aku tidak bisa. Aku izin permisi, tidak baik laki-laki dan perempuan berdua-duaan jika sudah tidak ada lagi kepentingan. Bahaya fitnah akan mengintai"


Abira langsung bergegas meninggalkan Kaffa disana. Namun belum jauh ia melangkah...


"Kamu kikir Abira ! kamu punya ilmu tapi tidak mau diamalkan, apalagi kepada orang yang memang sangat butuh bantuan !" ucap Kaffa sedikit tegas


Sontak Abira kaget dengan apa yang dikatakan Kaffa. Perkataan itu membuat langkahnya terhenti.


"Jika papa mu kamu jadikan alasan. Beri aku kesempatan untuk meminta izin langsung kepada beliau" lanjut Kaffa


Seketika Abira berbalik badan dan menuliskan sesuatu disebuah kertas.

__ADS_1


"Aku bukanlah orang yang pelit ilmu Kaffa ! ini alamatku, aku tunggu jam 7 malam ini !" tegas Abira sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi alamatnya


"Kamu tidak pernah berubah Abira. Kamu tetap Abira yang dulu, Abira yang tidak mau direndahkan apalagi di tantang" gumam batin Kaffa, ia tersenyum sinis melihat kertas berisikan alamat itu


"Jl. Permai ? ternyata memang benar kamu sudah pindah, bahkan itu didekat rumahku ? Aargghh"


***


Di rumah Abira tampak sangat gelisah. Apa benar Kaffa akan datang kerumahnya menemui papa nya. Bagaimana jika dia benar-benar datang. Sebenarnya alasan Abira kepada Alya itu benar adanya. Abira tentu mau berbagi ilmu apalagi hanya sekedar menjadi guru ngaji, tapi ketika Abira meminta izin, papa nya tidak mengizinkan. Beliau tidak membiarkan anak kesayangannya bekerja, karena baginya beliau masih mampu membiayai seluruh keperluan anaknya.


"Assalamualaikum" ucap seseorang mengetok dibalik pintu


"Waalaikumussalam" sontak Abira kaget


"Kaffa.. em.. silahkan masuk. Tunggu sebentar aku panggilkan papaku" ucap Abira gugup sambil mempersilahkan Kaffa masuk dan duduk


"Dia benar-benar datang kesini ? Apa sungguh tidak ada orang lain yang bisa membantunya ?" gumam batin Abira heran sambil berjalan memanggil papa nya


Setelah membuatkan minum dan mengantarkan nya, Abira tidak duduk bersama mereka. Ia yakin papa nya tetap pada keputusannya. Ia juga tidak bisa membujuk sesuai keinginan nya ketika papa nya sudah mengambil keputusan. Sebagai anak yang ingin berbakti, ia hanya bisa menuruti. Apalagi ia sangat paham sifat papa nya yang over protektif.


"Abira" ucap papanya memanggil


"iya pa" jawab Abira menghampiri dan duduk disamping papanya


"Papa sudah memberikan izin kamu mengajar. Tapi ingat pesan papa, setelah mengajar langsung pulang. Kaffa yang akan bertanggung jawab mengiringi mu sampai kerumah. Papa juga sudah memberikan nomor mu dan nomor papa kepada Kaffa. Kalau ada apa-apa langsung cepat hubungi" ucap Papa Abira sambil melirik kearah Kaffa


"Hah ! ini mimpi. kok bisa ? apa yang dikatakan Kaffa pada Papa ? padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Aku tau betul keputusan papa itu sulit diubah" gumam batin Alya heran sambil melihat wajah Kaffa dengan pandangan yang sulit diartikan


"Yasudah kalau begitu om, Kaffa izin pamit dulu"


Dengan wajah yang masih diselimuti keheranan, Abira mengantar kan Kaffa keluar menemani papa nya.


"Aku berhasil meyakinkan papa mu bukan ? jangan lupa besok kerja" ucap Kaffa berbisik dekat dengan Alya disertai dengan senyuman sinis nya

__ADS_1


Melihat itu Abira benar-benar dibuat sangat geram. Sepulangnya Kaffa...


"Kenapa papa mengizinkan ? waktu Bira yang minta papa nggak ngasih izin" tanya Abira dengan ekspresi herannya


"Temanmu butuh bantuan, dia juga bisa menyakinkan dengan menjamin bisa menjaga Bira dengan baik" jawab papa


Tentu saja Kaffa yang sangat cakap dalam berbicara berhasil meyakinkan papa nya Abira. Bagi Kaffa itu hanya hal mudah. Karena itulah dia sangat yakin untuk mendatangi langsung rumah Abira.


***


Sesampainya di rumah, Kaffa langsung membagikan kebahagiaan nya dengan Alya. Memang hampir setiap malam mereka teleponan bahkan tak jarang melakukan video call.


Kaffa menceritakan mulai dari ia bertemu Abira ditaman, sampai ia berhasil kerumahnya.


"Alhamdulillah Kaf. semoga Abira bisa membantu mu. Tapi, apa yang kamu katakan sampai papanya luluh ?" ucap Alya dibalik telepon


"Cuma percakapan biasa antar sesama lelaki. Abira itu hanya terlalu takut sama papa nya"


Ucap Kaffa tanpa menceritakan bahwa sebenarnya dia menjamin dan bertanggungjawab sepenuhnya atas keselamatan Abira.


Sedangkan Abira, dikamar nya ia justru sangat merasa serba salah. Disatu sisi ia ingin membantu, tapi disisi lain ia merasa belum siap jika harus satu tempat kerja dengan Kaffa.


Hari pertama bekerja, Abira berusaha untuk beradaptasi. Ada 3 orang ustadz termasuk Kaffa dan ada 3 orang ummi termasuk dirinya yang berkerja dalam satu tim untuk mendidik anak-anak kecil agar berakhlak Qur'ani.


Hari berganti hari, Abira berusaha untuk sangat profesional. Meskipun Kaffa ada disana, namun ia tidak pernah membawa serta perasaannya. Melihat anak-anak kecil yang diamanahkan kepadanya, mampu mengalihkan semua kekhawatiran Abira. Tetapi justru saat moment itulah, melihat cara Abira mengajar perlahan membukakan kembali rasa kekaguman Kaffa yang dulu sempat hilang. Tak jarang Kaffa sesekali melirik bahkan memperhatikan Abira dengan dalih ingin melihat kinerjanya. Begitu juga sebaliknya dengan Abira. Dirinya berusaha untuk terus menahan dan menghindar, namun hatinya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi.


Setiap hari Kaffa mengiringi perjalanan pulangnya. Setiap hari juga Kaffa bercengkrama akrab dengan papa nya. Abira sadar akan posisi bahwa Kaffa adalah milik Alya temannya. Ditempat mengajar mereka hanya sebatas tim dan dirumah Kaffa hanya sebatas laki-laki yang sudah menawarkan diri untuk diberikan tanggung jawab menjaganya. Tak pernah ada komunikasi dan tak pernah ada juga kontak secara pribadi meskipun Kaffa menyimpan nomornya. Komunikasi mereka hanyalah sebatas pekerjaan saja.


Namun suatu hari, Pak Ridwan meminta mereka untuk rapat. Tentu hal tersebut mengharuskan Abira pulang malam dan terlambat. Hatinya gelisah, tapi Kaffa dengan cepat menyadari itu semua. Kaffa langsung menelpon papanya dan meminta izin. Tentu saja Kaffa kembali bisa meyakinkan papa Abira.


Sepulangnya dari rapat..


.

__ADS_1


.


bersambung..


__ADS_2