Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Masjid Raya


__ADS_3

Baik Kaffa maupun Alya masing-masing menutupi hubungan mereka dan berbohong kepada Abira. Kaffa jelas berbohong karena ia tidak mau Abira berfikiran kalau dia menyukai dua perempuan sekaligus. Sedangkan Alya berbohong tentu karena ia malu kepada Abira, ia yang lulusan pesantren kalah taat dengan Abira yang sama sekali tidak ada background islami. Alya juga mengetahui akan larangan mendekati zina, namun karena Kaffa ia seakan buta dan tuli terhadap itu semua.


***


"Apa semuanya itu benar ? mereka hanya sebatas teman.. Keduanya memberikan jawaban yang sama.. berarti perasaan ku selama ini tidak pernah salah ? tapi kedekatan mereka sungguh tidak wajar.. Kaffa bahkan membawa Alya kerumahnya dan Kaffa bahkan sering ke kosan Alya.. Apa mereka berbohong ?" gumam batin Abira yang terus menghujani dirinya dengan pertanyaan


"Ya Allah beri aku petunjuk.. dekatkan yang menurut-Mu baik untukku dan jauhkanlah apa yang menurut-Mu tidak baik untukku" pinta Abira dengan lirih


Kebohongan yang diperbuat Alya dan Kaffa kepada Abira, membuat Abira beranggapan bahwa selama ini perasaannya kepada Kaffa tidaklah salah. Abira beranggapan bahwa selama ini ia sama sekali tidak mencintai kekasih orang lain karena Kaffa dan Alya hanya sebatas teman, bukan sepasang kekasih.


Meskipun Abira tetap bersikeras bahwa pertemanan mereka tidak wajar karena melanggar syariat, tapi apa yang dikatakan Kaffa tentang penyakit Alya memanglah benar. Naluri kemanusiaan Abira membenarkan nya saat itu. Alya memang tidak memiliki siapapun di kota ini, kalau bukan teman-teman nya siapa lagi orang yang akan membantu nya.


****


Ditempat kerja.. Kaffa terus memperhatikan Abira yang sedang asik mengobrol dengan anak-anak didiknya. Dari kejauhan, Abira tampak menunjukkan sesuatu di handphone nya. Raut wajah terpesona terlihat dari masing-masing mereka. Kaffa penasaran dan mencoba menghampiri mereka dengan alasan menyuruh mereka masuk karena waktu belajar akan segera dimulai.


"Anak-anak ayo masuk, sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai" ucap Kaffa sambil melihat layar handphone Abira


Mendengar perintah Kaffa semuanya langsung memasuki kelas tanpa terkecuali Abira.


"Masjid Raya.. apa Abira juga ingin kesana ?" gumam batin Kaffa setelah melihat foto yang ada di layar handphone Abira


Masjid Raya adalah masjid yang terletak di luar kota tempat mereka tinggal. Masjid Raya baru selesai pembangunan dan sedang sangat terkenal di media karena arsitektur nya yang menawan. Untuk menuju kesana butuh sekitar 2 jam perjalanan. Setiap orang pasti ingin kesana meskipun harus menempuh perjalanan jauh. Masjid Raya adalah masjid yang sama dengan masjid yang ingin dikunjungi Alya, namun saat itu Kaffa tidak menyanggupi nya.


Kaffa yang semakin kepikiran dan penasaran pun diam-diam menanyakan hal itu kepada salah satu anak didik Abira.


"Iya ustadz, ummi Abira tadi menunjukkan foto Masjid yang sangat cantik kepada kami. Ummi Abira sangat ingin kesana dan beliau berharap bisa kesana bersama kami suatu saat nanti" ucap salah satu anak


Mendengar itu Kaffa tersenyum. Ia memikirkan sesuatu untuk mewujudkan keinginan Abira dan ia bertekad akan mencoba itu tanpa harus mendapatkan penolakan dari Abira. Kaffa sangat yakin bahwa Abira akan sangat senang dengan itu.

__ADS_1


Keesokan harinya Kaffa menghadap kepada ketua yayasan. Kaffa menyarankan kepada Pak Ridwan untuk mengajak anak-anak jalan-jalan atau education rihlah agar mereka semakin semangat mengaji sambil belajar.


"Memang rencana tujuannya kemana Kaf ?" tanya Pak Ridwan


"Masjid Raya pak, Bapak pasti tahu masjid itu sedang sangat diperbincangkan sekarang. Halamannya sangat luas. Nanti kami bisa belajar disana. Ada kebun kurma kecil juga didekat nya"


"MaaShaaAllah iya bagus-bagus"


Pak Ridwan yang mendengar itupun antusias. Ia menyetujui saran dari Kaffa dan akan segera mengurus anggarannya. Kaffa yang mengetahui itupun sangat senang dan tersenyum puas. Kaffa berharap dengan cara itu Abira bisa luluh padanya.


****


Dirumah..


tingg... suara handphone Abira menandakan ada pesan masuk.


"Aku sedang mengusahakan sesuatu untuk mewujudkan keinginan mu dan kamu harus ikut untuk menjaga anak-anak"


Mata Abira seketika terbelalak membaca pesan itu. Abira bertanya-tanya sesuatu apa yang dimaksud Kaffa dalam pesan itu. Usaha apa yang sedang dilakukan Kaffa untuknya dan kenapa ia berusaha melakukan itu semua.


Meskipun Abira kepikiran dan penasaran, tetap saja ia tidak merespon pesan itu, Abira menarik nafas panjang dan merebahkan tubuhnya. Hampir setiap malam Abira memikirkan Kaffa dan Alya. Hampir setiap malam juga Abira berusaha membuang jauh-jauh perasaan nya terlepas dari usaha apapun yang sedang Kaffa lakukan untuknya.


3 hari kemudian ditempat kerja..


"anak-anak.. tolong diam sebentar karena ustadz mau mengumumkan sesuatu" ucap Kaffa


"Pekan depan kita akan mengadakan education trip ke Masjid Raya, persiapkan diri kalian. Nanti ustadz akan kasih surat untuk izin orangtua" lanjut Kaffa sambil menatap ke arah Abira


Mendengar hal itu Abira sangat kaget. Jantungnya berdebar. Abira refleks mengangkat kepalanya yang tertunduk. Lebih kaget lagi saat itu ketika ia bertatapan langsung dengan Kaffa meskipun berjarak beberapa meter. Ia bisa melihat dengan jelas Kaffa tersenyum dengannya. Untungnya Abira cepat sadar dan kembali menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Ternyata ini yang dimaksud Kaffa pada pesan itu. Darimana dia tau kalau aku sangat ingin ke Masjid Raya, Apalagi bersama anak-anak" gumam batin Abira


Seketika Abira mengingat sesuatu. Saat Kaffa menghampiri dirinya dan anak-anak dihari itu.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Kaf. Kamu terus membuat perasaanku serba salah."


***


"Kaf.. Minggu depan temani aku pulang ya. Aku mau mengenalkan mu ke ibu dan bapak serta keluarga ku yang lain" pinta Alya dengan wajah gembira


Berbeda dengan Kaffa. Dia yang mendengar itu saat sedang minum seketika tersedak.


"Hah.. apa.. ke rumahmu ?" jawab Kaffa terbata-bata


"Iya kerumahku. Kenapa ? kamu juga kan membawaku kerumah mu. Apa ada masalah ?"


Tentu saja itu masalah bagi Kaffa karena pekan depan adalah perjalanan nya bersama anak-anak dan juga tim kerjanya untuk mewujudkan impian Abira. Tidak mungkin ia yang mengusahakan itu semua, tapi ia yang tidak mengikutinya.


"Maaf Al bukannya aku nggak mau, tapi aku sudah ada pekerjaan tambahan dengan temanku dan aku sudah menyanggupi itu" jawab Kaffa berbohong


"Ohh yasudah lain waktu saja"


Walaupun Alya tampak santai menyikapi penolakan Kaffa, namun hatinya memikirkan hal yang berbeda. Alya beranggapan bahwa Kaffa menghindari untuk bertemu dengan ibunya mengingat kejadian waktu itu ketika pertemuan pertama mereka yang tidak baik. Alya mencoba memaklumi itu dan berfikir bahwa Kaffa juga butuh waktu.


Padahal Kaffa sama sekali tidak masalah dengan itu. Kaffa menolak karena yang dipikiran nya saat itu adalah mewujudkan keinginan Abira. Perasaan nya kepada Abira membuat Kaffa semakin sering membohongi Alya.


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2