Kiamat Kecil Hatiku

Kiamat Kecil Hatiku
Nasihat


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


"Bagaimana keadaan mu sekarang ? apa sudah jauh lebih baik ?" tanya Kaffa kepada Alya


"Iya sudah jauh lebih baik"


"Kaffa.. em maafkan ibuku yang bersikap seperti itu kepadamu, Ibu hanya mencemaskan keadaan ku"


"Apa beliau sudah pulang ?"


"iya sudah"


"Kamu yakin untuk tetap menjalani berobat alternatif saja ?"


"Maaf aku harus menuruti ibuku, tapi kalau ini tidak berjalan dengan baik, aku akan meyakinkan ibuku untuk kemoterapi" jawab Alya dengan sendu


"Kaf apa boleh aku tanya sesuatu ? apa yang kamu katakan ke ibu waktu itu serius ?"


"Apa kamu pikir aku main-main setelah bersitegang dengan ibumu seperti itu ?" jawab Kaffa tampak sedikit kesal


"Bukan begitu maksudku"

__ADS_1


"Apa kamu ragu denganku ? meskipun aku hanya seorang marbot dan guru ngaji, aku yakin bisa menghidupi mu !"


"Kaf.. bukan begitu maksudku, aku sama sekali tidak ragu kepadamu, aku yakin padamu. Tapi orang tua kita ? umur kita baru beranjak dua puluh tahun, kita bahkan masih kuliah" ucap Alya menenangkan Kaffa sambil memegang kedua tangannya


"Yasudah sepulang kuliah ini kita kerumah. Kita tanyakan sama Ayah dan ibu"


"Tap.."


Tanpa mendengarkan lagi jawaban Alya, Kaffa langsung pergi meninggalkan nya begitu saja membawa amarahnya. Didalam benaknya Alya justru berfikir, melalui sikap yang ditunjukkan Kaffa, betapa Kaffa tidak mau kehilangan dirinya. Alya lagi-lagi dibuat merasa beruntung akan kehadiran Kaffa disampingnya.


***


"Kamu baru menginjak umur 20 tahun. Kalau kamu mau menikah sekarang berarti kalian ingin menikah muda. Kalian berdua masih kuliah. Anggaplah orang tua Alya juga menyetujui semuanya. Tapi ketika kalian menikah, satu hal yang pasti adalah kami sebagai orang tua angkat tangan terhadap semua biaya kuliah dan keperluan kehidupan kalian. Karena kalian sudah berkeluarga dan mempunyai tanggungjawab sendiri."


"Kuliah mu, kuliah Alya, kalian biayai sendiri. Belum lagi keperluan sehari-hari. Bukan ayah bermaksud meragukan mu, mungkin uang gaji mu cukup hanya untuk menghidupi kalian berdua. Tapi bagaimana jika kalian cepat diberikan amanah untuk menjadi orang tua ? beban kalian akan bertambah. Kalian bisa menghadapi nya ? belum lagi dicampur dengan urusan kuliah. Kalian bisa putus kuliah jika tidak sanggup menghadapi semuanya. Ayah tidak mau kalau diujung nanti kalian merasakan penyesalan dan berakhir perceraian. Menikah itu bukan ketika kita ingin tapi ketika kita siap. Pikirkanlah itu baik-baik"


Kaffa hanya merunduk tanpa mengucapkan apapun mendengarkan nasehat ayahnya.


Pikiran Kaffa kacau, ia berusaha mencerna semua perkataan demi perkataan ayahnya. Dirinya sudah sedikit lebih tenang dan bisa berfikir jernih. Dalam hatinya ia membenarkan semua itu. Bagaimana kuliahnya ? Bagaimana cita-citanya ? disatu sisi dia juga tidak mau membuat hidup Alya susah karena bersamanya. Dia kembali mengingat kondisi ekonomi keluarganya. Sebagai anak pertama, meskipun seandainya nanti sudah menikah, ia harus tetap membantu biaya sekolah adik bungsunya. Kepercayaan dirinya sekarang seolah menciut.


***

__ADS_1


Dikosan.


"Apa yang dikatakan ayah Kaffa itu semuanya benar Al. Mungkin kemarin dia hanya terbawa perasaan ketika ibumu tidak mengizinkan dirimu di kemo" ucap Malika


"Iya Al. apalagi perjuangan kuliahmu baru separuh jalan. Tunggulah sedikit lagi sampai kalian lulus" tambah Anggun


"Sabar Al.. kita semuanya ada disini untukmu. Kami tau kalian dekat tapi menikah bukanlah keputusan yang tepat untuk sekarang" ucap Nisa menatap Alya dengan lekat


"Lagipula Al.. maaf sebelumnya, bukannya aku mau mengecilkan hatimu tapi melihat kejadian waktu itu sepertinya ibumu tidak suka pada Kaffa. Apalagi itu pertemuan pertama mereka" ucap Fara dengan ragu


Mendengar semua perkataan teman-teman nya Alya hanya bisa menunduk diam.


Entah apa yang harus ia ucapkan. Dua-duanya adalah orang yang ia sayangi. Satu ibunya dan yang satu lagi adalah Kaffa. Alya hanya bisa menarik nafas panjang untuk membuang segala gundah dihatinya. Mengakhiri hari itu dengan tidak terlalu memikirkan semuanya. Mereka semuanya benar. Ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan keluh hatinya demi kesehatan nya. Bagaimana pun dia harus sembuh agar bisa meyakinkan ibunya tentang perasaannya.


Hari-hari berlalu begitu saja. Mereka berdua sepakat untuk memilih jalan sesuai dengan yang Alya pikirkan, menjalani hari-hari seperti biasanya tanpa harus membebani perasaan mereka masing-masing dengan keputusan yang dipenuhi emosi dan melupakan semua yang sudah terjadi.


.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2