
Hampir setengah tahun berlalu, namun dunia tidak kunjung membaik. Harapan Alya untuk lulus tepat waktu seakan memudar perlahan karena ia yang mengalami kesusahan saat bimbingan skripsi nya. Meskipun pihak kampus memberikan fasilitas bimbingan online, namun bagi Alya itu masih kurang efektif. Apalagi dosen akan membalas paling cepat 2 Minggu kemudian. Beda halnya jika tatap muka langsung, Alya bisa intens menemui pembimbing demi kelancaran skripsi nya.
Di semester akhir ini benar-benar Alya manfaatkan untuk lebih produktif. Mengingat tidak ada lagi mata kuliah yang harus ia tempuh secara online karena fokus utamanya saat ini hanyalah skripsi. Sembari menunggu balasan dari dosen pembimbing nya, Alya menggunakan waktu senggang nya untuk ke pesantren tempat ia sekolah dulu. Alya dengan sukarela membantu pesantren dan menyalurkan ilmu yang ia punya, meskipun awalnya Alya merasa tidak mampu. Bertemu dengan adik-adik kelasnya dan beberapa teman yang satu angkatan dengannya dulu membuat Alya bersemangat. Semakin hari semakin tipis bayangan Kaffa melintas di pikirannya.
"Apa kabar Al ? semenjak lulus kita sudah tidak pernah bertemu lagi" ucap salah seorang temannya menyalurkan rasa rindu lewat pelukan hangat.
"Alhamdulillah baik, kamu disini juga, gimana kabarnya ? apa kuliah mu online juga ?" tanya Alya.
"Aku baik. Aku nggak kuliah Al, orang tuaku nggak punya biaya untuk menguliahkan ku. Jadi aku memilih untuk mengabdi di pondok membantu para pengurus disini"
"Oh maafkan aku, aku benar-benar tidak tau" jawab Alya dengan rasa bersalah karena ia takut temannya tersinggung akan pertanyaannya.
"Tidak masalah. Oh iya boleh minta nomor telepon atau WhatsApp mu ? biar kita bisa menjalin silaturahmi meskipun nanti kamu sudah aktif kuliah lagi"
"Benar juga. Mana handphone mu ? biar aku yang masukkan"
"Nah sudah. Nanti hubungi saja ya biar aku save nomornya" ucap Alya memberikan kembali handphone temannya.
"Kalau Instragram mu apa ?"
"Hah Instagram ? em aku nggak punya"
"Wah sayang sekali Alya. Selama kamu di pondok kan aktif sekali, aku pikir kamu akan memanfaatkan teknologi untuk berdakwah setelah lulus dari pondok ini atau menyalurkan apa yang kamu sukai"
Alya menunduk bingung mendengar perkataan temannya itu.
Malam hari nya di rumah...
__ADS_1
Perkataan temannya di pondok tadi sangat mengusik pikiran Alya. Bagaimana bisa Alya berdakwah, sedangkan berada dikota justru membuatnya lupa akan agama. Bekal pesantren dilupakan begitu saja olehnya.
Alya merebahkan badannya. Sejenak ia berfikir memejamkan matanya. Menarik nafas perlahan agar dirinya bisa tenang. Sedetik kemudian Alya mengambil handphone nya, mencari-cari salah satu aplikasi yang tidak pernah disentuh olehnya. Bahkan aplikasi itu bisa ada di handphone nya pun karena waktu itu Kaffa yang mendownload nya. Alya ingat ketika Kaffa meminjam handphone nya untuk mendownload itu sebab ada tugas kuliah yang harus ia upload. Karena handphone Kaffa saat itu sedang rusak.
Instagram.. ya Instagram.. Aplikasi yang disebutkan oleh temannya tadi.
Alya tau jika aplikasi itu memang sangat terkenal dan bagus jika digunakan. Dulu memang Alya sempat ingin mempunyai akun Instagram. Namun sebuah ingatan kembali diputar oleh otaknya. Saat dimana Kaffa melarangnya untuk menggunakan aplikasi itu dan dirinya menurut begitu saja. Jangankan menggunakan Instagram, meng-upload status di WhatsApp saja Kaffa marah. Karena tidak ingin mengecewakan orang yang dicintai nya, tanpa disadari Alya seakan dikendalikan sesuai dengan keinginan Kaffa. Sekarang Alya sadar, bahwa dulu dia memang berubah karena terkekang.
"Apa sekarang aku buat saja ya akun Instagram. Benar yang dikatakan Siti tadi. Melalui Instagram ini aku bisa menyalurkan apapun yang aku sukai. Aku bisa mengembangkan diriku tanpa harus terkekang lagi" gumam Alya.
Alya mulai mencari tau dulu di YouTube bagaimana cara menggunakan Instagram. Bagaimana cara membuat akun Instagram. Melihat tayangan-tayangan itu membuat Alya semakin antusias. Menurutnya pantas saja banyak orang yang menyukai aplikasi itu karena daya tariknya begitu besar. Alya baru tau bahkan Instagram bisa menghasilkan uang bagi orang-orang yang memiliki banyak pengikut.
"Ya ampun kemana saja aku selama ini. Rasanya ketinggalan zaman sekali" gumam Alya.
Hampir satu jam kemudian, Alya merasa dirinya sudah cukup mengerti untuk menggunakannya. Dengan wajah sumringahnya, untuk pertama kalinya ia menyentuh aplikasi itu.
Namun senyumnya perlahan-lahan memudar. Tampilan awal yang ia buka sangat jauh berbeda dari yang ia lihat di YouTube. Justru disana terlihat akses masuk kedalam akun Kaffa. Alya teringat sesuatu dari yang sudah ia pelajari tadi.
Sejenak Alya hanya memandangi layar handphone nya. Terus melihat akun Instagram Kaffa yang tertulis disana. Awalnya Alya berfikir untuk langsung mengeluarkan nya saja. Tapi entah kenapa perasaannya mengatakan hal yang berbeda, seolah terus mendorong nya untuk membuka akun itu dan mencari tau apa saja yang dilakukan Kaffa didalamnya. Semakin lama ia memandangi, semakin besar rasa penasaran itu tertumpuk dalam hatinya.
Alya meyakinkan diri. Perlahan ia buka akun itu. Entah apa yang ingin Alya cari, namun jarinya berjalan sesuai hati nuraninya saja.
Pertama Alya hanya melihat 1 postingan saja di akun Instagram itu. Postingan tentang tugas kuliah Kaffa waktu itu. Kemudian mata nya melirik ke arah pengikut Kaffa yang hanya sedikit. Ketika ia lihat memang hanya akun-akun besar saja yang Kaffa ikuti.
Alya melanjutkan dengan postingan postingan yang Kaffa sukai dan Kaffa simpan. Di sana juga terlihat semuanya postingan yang baik-baik saja. Kaffa juga tidak pernah meng-upload status apapun.
Alya bergeser pada laman pencarian Kaffa. Alya cukup terkejut karena banyak sekali akun-akun perempuan yang Kaffa cari disana. Termasuk akun teman-teman dekatnya. Namun mata Alya terfokus pada satu akun yang bernama Abira. Seketika hatinya kembali dingin, namun rasa penasarannya lebih besar dari itu. Alya berniat melihat Instagram Abira. Tiga puluh menit Alya habiskan untuk melihat semua postingan Abira, membuat Alya hanya merasakan malu karena semua isinya tentang dakwah.
__ADS_1
Dengan sedikit berusaha tidak memikirkan itu, Alya lanjut bergeser pada halaman beranda. Matanya kembali terfokus pada icon pemberitahuan dan pesan disana. Alya melakukan scroll panjang pada laman pemberitahuan Kaffa tapi tidak menemukan keanehan apapun.
Sejenak Alya melihat ke arah jam dinding dikamar nya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebenarnya waktunya Alya harus istirahat demi kesehatan nya, namun entah kenapa ia ingin melanjutkan kegiatannya itu.
Alya bergeser pada icon pesan dan membukanya. Lagi-lagi Alya terkejut melihat begitu banyak pesan dari para perempuan. Mata Alya terfokus pada pesan yang berada paling atas. Malika, akun Malika tertulis disana. Dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, Alya membukanya.
Awalnya Alya tidak berfikiran aneh terhadap teman dekatnya itu, namun pesan pertama yang Alya lihat adalah...
"iya sayang"
Membaca 2 kata itu sontak membuat Alya menutup mulutnya. Jantung nya benar-benar berdegup tak karuan, nafasnya terasa sedikit sesak. Ia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya. Berulang kali Alya mengedipkan mata, namun tetap saja tulisan itu tidak berubah.
Dengan perasaan yang tak karuan, Alya memutuskan untuk melihat pesan mereka dari awal. Semakin kebawah semakin air mata Alya perlahan mulai turun membasahi pipinya. Hati Alya semakin merasakan sakit ketika mendengar langsung pesan suara Kaffa yang mengatakan...
"Aku sayang kamu Malika"
Begitu juga dibalas oleh ucapan yang sama dengan Malika. Semakin membaca pesan-pesan itu semakin membuat air mata Alya keluar dengan derasnya. Alya mulai merasakan sakit pada dadanya, namun ia mencoba menahan itu semua.
"Ya Allah" ucap Alya begitu lirih mencengkeram dadanya.
Alya berteriak bukan karena rasa sakit di dadanya, namun membaca pesan mereka yang sedang membicarakan tentang hubungan intim. Ya hubungan intim yang sama seperti yang pernah Alya lakukan dengan Kaffa dulu.
Hati Alya yang awalnya perlahan mulai ia benahi, justru semakin hancur tak beraturan. Tangannya gemeter, air mata itu bahkan sudah membuat pulau membasahi bantalnya. Dengan rasa tidak percaya ia harus menerima bahwa Malika berhubungan dengan Kaffa bahkan sampai saat ini.
Dengan perasaan sedih yang membuncah, Alya menangkap layar seluruh pesan itu.
.
__ADS_1
.
bersambung..