
Malam harinya setelah shanum makan malam dan minum obat ia sendirian di dalam ruang perawatan ia melihat keluar jendela dinlihat ada istana valuta yang tak jauh dari rumah sakit ,saat ini shanum berada dalam lingkungan istana, tiba tiba seseorang masuk perlahan
"Selamat malam nona shanum" ucapnya dengan dingin
”ohh, selamat malam tuan leo" ucap shanum dengan senyuman
"Bagaimana keadaan anda, saya di utus untuk melihat keadaan anda oleh yang mulia Arthur"
"Keadaan ku baik baik saja, oh dimana Arthur?"
"Yang mulia saat ini sedang ada di perbatasan, ia belum sempat mengunjungi dan menjenguk anda, beliau berpesan agar anda selalu menjaga kesehatan"
"Iyaa terima kasih, tapi boleh kah aku tahu, mengapa Arthur tahu bahwa aku dalam bahaya" tanya shanum, leo terdiam menatap shanum dengan dingin
"Maaf nona tuan Arthur tak ingin membicarakan ini lebih lanjut, harap anda mengikuti"
"Ahh baiklah, tapi terimakasih banyak telah menyelamatkan aku" ucap shanum dengan senyum manis nya leo hanya diam melihat sikap shanum yang hangat.
Setelah percakapan itu leopun pergi meninggalkan shanum yang akan beristirahat.
Sementara itu di istana, Arthur, Arkana dan kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam
"Dia telah siuman, dalam dua hari dia sudah bisa kembali ke desa valas, cukuplah sampai di sani kamu telah membalas budi padanya" ucap Theodore dengan dingin
"Aku akan membawa nya ke istana" ucap arthur dengan tenang membuat Theodore kesal dan sedikit membanting pisau tanda ia tak setuju
"Yang mulia" ucap ratu elisa istri Theodore sembari menenangkan
"Atas dasar apa kamu ingin membawanya ke istana"
"Aku hanya ingin melindungi nya"
"Maaf yang mulia ayahanda aku ikut menjawab, apa sebaiknya ayah ikuti keinginan kakak untuk saat ini" ucap arkana, Theodore hanya diam menatap dingin pada Arthur
"Cuih.. penjilat" ucap Arthur dalam hatinya.
"Apa menurutmu itu yang terbaik arkana??" Tanya ratu pada arkna
"Yaa ibu"
"Bagaimana yang mulia?" Tanya nya pada Theodore
"Aku belum bisa memutuskan" ucap Theodore ia lalu pergi meninggalkan ruang makan,semuanya terdiam tak ada yang berbicara namun Arthur masih tetap tenang mengunyah makanannya
"Arthur, apa kamu yakin ingin membawanya ke sini,. Bila kamu yakin semua akan ada aturan untuknya dan sebagai apa dia nanti bila tinggal di istana ini" ucap ibu ratu
__ADS_1
"Aku tak butuh saran darimu," ucap arthur ia beranjak meninggalkan ruangan
"Setidaknya kamu hargai ibuku, walaupun kamu tak menyukainya, aku tahu kamu ingi melindungi nya yang kami sendiri tak tahu karena hal apa" ucap arkana dengan lantang membuat langkah arthur terhenti
"Hargai, hargai ibumu?? Aku menghargai dia apa dia bisa menghargai mendiang ibuku!" Ucap arthur dengan sedikit meninggi,arkana kesal arthur masih membawa masa lalu,ia ingin beranjak namun di tahan oleh ibunya itu
"Sst .arkana sudah cukup"
Lalu Arthur pun pergi menuju kamar pribadi nya
Ketika Arthur tengah merebahkan tubuhnya tiba tiba
"Tokk..tok.." seseorang mengetuk pintu.
"Masuk.."
"Maaf yang mulia ibu suri memanggil anda untuk datang ke kamarnya" ucap pelayan itu
"Baiklah" ucap Arthur ia beranjak dan menghampiri kamar ibu suri yang tak lain adalah neneknya.
"Masuklah arthur" ucap ibu suri ia telah duduk dengan dua cangkir teh hangat
" Ada apa nenek memanggilku"
"Aku sudah mendengar berita itu, berita kamu membawa wanita dari desa valas" ucapnya dengan lembut
"Diakah yang menyelamatkan mu??"
"Iya nek"
"Siapakah namanya?"
"SHANUM MALAIKA ALMAHIRA, biasa kami memanggilnya shanum"
"Nama yang sangat indah, pasti orang tuanya memberikan nama itu dengan penuh doa dan harapan yang baik" ucap ibu suri. Arthur hanya tersenyum
"Kamu mencintainya??" Tanya ibu suri kembali
"Dia baik nek"
"Kamu mencintainya??" Tanya ibu suri kembali dengan tegas, Arthur hanya diam tak menjawab
"Nenek hanya ingin tahu jawaban darimu, apa kamu mencintainya" tanya ibu suri
"Iya, aku mencintai nya nek, aku menyukainya"
__ADS_1
"Begitu rupanya" ucap ibu suri sembari tersenyum
"Bawa ia kesini, dan ikuti semua peraturan dan tata krama di sini, tentunya dia harus mengikuti segala macam latihan dan belajar dengan guru privat" ucap ibu suri dengan lembut nya
"Mengapa nenek memberikan keputusan itu tanpa mencari tahu tentang shanum?"
"Karena nenek yakin kamu memilih seseorang itu pasti yang terbaik"
Arthur hanya diam sedangkan ibu suri terus tersenyum menatap arthur
"Kamu cucuku,aku tahu nantinya kamulah yang akan menjadi raja di valuta ini seteleh ayahmu turun tahta, akupun tahu banyak yang tidak menyukaimu karena mereka tak tahu akan dirimu,mereka lebih tahu tentang arkana"
"Ada alasan mengapa aku tak menunjukkan wajahku di luar sana nek"
"Yaa nenek tahu seteleh ibu mu meninggal kamu menjadi pemurung dan kamu juga lebih peka akan keadaan sekitar bahkan tanpa sepengetahuan ayahmu kamu terus melindungi nya" arthur hanya diam
"Kamu sudah menjenguknya?"
"Shanum??" Tanya arthur ibu suri hanya mengangguk mengiyakan
"Belum nek,"
"Jenguklah kasihan dia"
"Baiklah nek"
"Nenek yang akan bicara pada ayahmu untuk mengizinkan shanum tinggal di istana tanpa harus banyak yang tahu"
"Terima kasih nek.." ucap arthur
Dan seteleh percakapan itu arthurpun pergi.ibu suri terdiam, ia menarik nafasnya dalam dalam
"Tok...tok..tok" seseorang mengetuk pintu kamar ibu suri
"Masuklah,"
"Maaf ibu suri, ini data yang ibu suri inginkan" ia menyodorkan map coklat pada ibusuri
"Haeeh.. akhirnya hari ini tiba juga, cari pengawal wanita yang bener bener kompeten pintar dalam segala hal, ini akan menjadi masalah besar dan dia harus benar benar di lindungi, karena aku merasa dia sebagai ancaman untuk sebagian orang-orang yang tamak" ucap ibu suri
"Baik yang mulia ibu suri" ia pun pamit dan meninggalkan kamar ibu suri
Ia memandangi foto suaminya dalam dalam
"Aku tidak tahu kapan krisis akan melanda kerajaan dan ketamakan akan menguasai istana, tapi terima kasih kamu telah lebih cepat mengirimkan dia" ucap ibu suri dengan suara bergetar.
__ADS_1
Arthur berjalan di lorong rumah sakit yang gelap dan sepi waktu menunjukkan pukul 01.00 malam ia melihat pengawal tengah berjaga di depan kamar perawatan shanum.
Arthur membuka pintu dengan hati hati ia pun duduk di hadapan shanum ia melihat luka lebam di mata dan lengan shanum pipinya yang terluka akibat tergorespun harus menghiasi kulit wajahnya yang mulus