
Malam itu hujan deras disertai petir yang saling bersahutan semua terdengar sunyi terdengar suara samar seseorang menangis,shanum berjalan perlahan di lorong yang sangat gelap suara tangisan itu terdengar pilu di dapatinya seorang gadis kecil dengan rambut ia biarkan tergerai, ia menangis memeluk boneka shanum mendekatinya
" Iiii...tuuu" shanum tak bisa berkata ternyata itu bukanlah boneka melainkan seorang bayi,dan ia melihat sosok nya sendiri ketika masih kecil shanum perlahan mundur ia merasa ketakutan
" lariii...lariiii shanum " suara itu kembali muncul gadis kecil itupun berlari shanum hanya diam penuh rasa heran
"dimana peta itu" suara berat itu tiba tiba terdengar di telinga shanum
" haaah..haaah...haaaah" shanum membuka matanya keringat sudah bercucuran membasahi tubuhnya
"cuma mimpi" ucap shanum sembari menarik nafasnya dalam dalam ia meraih gelas berisikan air putih yang berada di samping tempat tidur nya
"arthur!" ucapnya lirih tatkala ia melihat arthur yang terduduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidurnya ia terlelap dalam tidurnya
arthur menggeliat ia membuka matanya ia melihat shanum yang terduduk dan tersenyum kepadanya
" sudah bangun, kenapa kamu tidak membangunkanku"
" tidak apa apa,sepertinya kamu lelah aku jadi tak tega untuk membangunkan mu" ucap shanum
Arthur berjalan menghampiri shanum ia membelai kening shanum seraya memeriksa keadaannya
" sudah tidak demam" ucap arthur
" aku tidak apa apa arthur,aku baik baik saja" ucapnya dengan berseloroh, arthur hanya diam tersenyum ketir lalu ia duduk di hadapan shanum dan memeluk shanum, Keduanya terdiam berpelukan erat, tiba tiba bulir air mata jatuh di ujung mata shanum ia menangis terisak
arthur paham saat ini keadaan hati shanum sedang tidak baik
'hiks..aaa..aku...rindu adikku taa..hikks..taapii kenapa dia seperti itu terhadapku,aku berfikir tak mengapa ia menikah dengan pria itu tetapi aku ingin shanaz tetap menjadi adikku, ini semua salahku" ucap shanum ia menangis terus menerus
" sstt.. Tidak ada yang harus di salahkan semua, aku janji akan menjaga kamu dan shanaz ;walaupun ia sudah tak berkenan untuk mengenalmu lagi, dan aku pastikan shanaz akan kembali menjadi adikmu yang dulu" ucap arthur sembari membelai dan mencium rambut shanum
"sekarang kamu tidur istirahat"
" aku ga mau menutup mata aku takut" ucap shanum lirih
" ada aku apa yang harus di takutkan"
__ADS_1
" suara ibu yang kesakitan suara tangis shanaz di malam yang mengerikan itu, suara pria itu aku takut sesak rasanya menahan rasa takut ini sendirian" ucap shanum arthur menatap dalam dalam wajah shanum ia membelai dan merebahkan tubuh shanum dan arthur pun berada di samping shanum ia membuka selimut lalu masuk ke dalam selimut shanum,sikap arthur membuat shanum terkejut
" ar..artthur" shanum terlihat panik
" tidur" ucap arthur dengan dingin nya mereka tidur berhadapan saling berpandangan'arthur membelai lembut pipi shanum
" selama kamu masih di sisi aku tak ada yang harus di takutkan,aku akan berjaga di sini hingga pagi" ucap arthur ia membelai dan mencium kening shanum
"kenapa kamu mengenalkan aku sebagi calon istrimu, bukannya kamu sudah di jodohkan"
"hhahah kamu mencari tahu bahkan aku belum bercerita"
" hemmm, aku mendengarnya ketika di toilet dan aku mencari tahu di sosial media walaupun dulu wajahmu tak ada di media manapun tapi berita perjodohan istana sudah menjadi konsumsi publik kan?"
" yaa,dia shakira"
"APAAAA!! SHAA..SHAKIRA !" teriak shanum sembari memukul bahu arthur
" berisik" arthur menutup mulut shanum
"aduh arthur ini akan jadi masalah besar"
"ihh iyalah kok kamu ga panik atau takut"
" aku" ucap arthur sembari menunjuk ke dirinya sendiri,shanum mengangguk mengiyakan.
"biasa saja" ucap arthur dengan senyumnya sembari berseloroh
"ck.ah aku mau pulang ke valas"
" ga boleh"
" aku rindu rumah"
" ada saatnya kamu akan pulang" ucap arthur sembari memejamkan matanya
"kamu mau tidur di sini" ucap shanum perlahan
__ADS_1
" hemmm" sahut arthur, shanum terdiam ia memandangi wajah arthur yang tertidur
"arthur kamu sudah tidur" tanya shanum namun arthur tak menjawab
"hem,tadi bilangnya mau nemenin taunya dia tidur'arthur kamu tau, tak pernah terlintas sedikitpun di pikiranku, aku masuk istana, berkhayal pun aku tak pernah, kadang aku bertanya sendiri,apa benar kamu mencintai aku, dan apa benar kamu akan menjagaku, banyak yang belum kamu tahu tentang aku,tentang rumahku semuanya,aku takut dengan orang orang baru yang hadir di kehidupanku,karena aku tahu rumah yang aku miliki itu istimewa, aku tak ingin mencintaimu begitu dalam arthur karena aku tahu aku hanya rakyat kecil yang dengan tak tahu sopan santun bisa ikut masuk ke dalam keluarga istana,hmm bila nanti aku pergi tanpa pamit aku mohon jangan membenci aku jangan mencari aku ya arthur, karena aku menyadari aku dan kamu terhalang tembok yang sangat tinggi' ucap shanum ia terus mengoceh.
ia kembali menatap arthur lalu dengan lembut shanum mencium bibir arthur.tiba tiba arthur membuka matanya betapa terkejutnya shanum ternyata arthur tak tertidur dengan cepat ia membalikan tubuh shanum
" aaaa" pekik shanum saat ini arthur berada di atas tubuhnya ia menatap shanum dengan tatapan tajam
"aa.. Arthur" shanum tak kuasa menatap mata arthur
"berniat pergi tanpa pamit" ucap arthur
"aaaakku"
"cup.. " dengan cepat arthur mengecup bibir shanum
"masih ragu akan diriku dan rasa cintaku hemm" ucapnya dengan terus menatap tajam pada shanum
"ii..tuu"shanum tak bisa menjawab
"cup.." lagi lagi arthur mencium cepat bibir shanum
"bila kamu pergi, tanpa pamit aku akan cari kamu sampai ke lubang semut sekali pun dan bila saat itu aku menemukanmu aku pastikan keadaanmu tak akan utuh" bisik arthur,ucapan arthur membuat degup jantung shanum menjadi tak beraturan ia sedikit takut
"maksudnya akuu akan kamu bunuh,mutilasi??" ucap shanum dengan terbata bata sembari ketakutan,arthur tersenyum menyeringai lalu ia mencium habis bibir shanum
"aar..heummpphh" ucap shanum ia tak di beri kesempatan untuk bicara karena Arthur terus menciumnya ,lambat laun ciuman bibir yang terasa liar itu pun melembut tatkala shanum pun larut dalam ciuman hangat yang di berikan oleh arthur
arthur melepaskan ciumannya ia membelai wajah shanum
" jangan pergi,tetap di sampingku apapun yang terjadi,perjodohan itu aku menentangnya, aku mencintaimu shanum tak perduli kamu dari golongan mana aku tak peduli" ucap arthur ia menjatuhkan kepala nya di dada shanum dan memeluk shanum
Shanum terdiam ia membelai lembut rambut arthur
" baiklah, tapi bolehkah aku menjenguk rumah ku di valas"
__ADS_1
"iyaa nanti bila keadaanmu telah membaik" ucap arthur sembari mengangguk mengiyakan
malam itu arthur bermalam di istana timur di kediaman shanum, mereka saling berpelukan malam itu, dan kedua terlelap dalam tidurnya.