KING OF VALUTA

KING OF VALUTA
KOV 27


__ADS_3

Shanum terdiam, dengan tertatih ia merapihkan selimutnya tiba tiba terdengar suara seseorang berlari masuk ke dalam kamar shanum


"shanum..!" Arthur berlari dan memeluk shanum, shanum hanya tersenyum


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arthur seraya membelai pipi shanum


" aku baik baik saja,memang nya kenapa"


" ayahanda tadi menemui mu tanpa sepengetahuan ku"


" haaaah beliau menjenguk Arthur" ucap shanum


" benarkah?, kamu tidak bohong kan?"


" buat apa berbohong, ayahmu baik beliau tanya keadaan ku" ucap shanum dengan senyumnya, Arthur terus menatap mata shanum


" jangan tatap mataku" ucap shanum sembari tertawa dan menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya


"iiisshh, satu satunya organ tubuh manusia yang memberikan sinyal-sinyal akan apa yang dirasa cuma mata, mata tidak akan pernah bisa berbohong, ayah menyakitimu??" ucap Arthur


" tidak" ucap shanum seraya menggelengkan kepalanya


" ayah mengancam mu?"


" tidakkk"


"hmmm,ayah pasti ingin kamu keluar dari istana ini"


"tidak Arthur, beliau hanya menjenguk keadaan ku, beliau baik, perhatian,ayahmu tak seburuk yang kamu kira, dia sangat menyayangi mu Arthur" ucap shanum sembari membelai lembut pipi Arthur, Arthur menghela napasnya


" yasudah ayo bersiap setelah makan siang kita ke aula istana pusat" ucap Arthur


" oke".


sesampainya di aula istana pusat semua awak media telah memenuhi seluruh ruangan kilatan blitz dari kamera membuat shanum sedikit pusing Arthur yang terus berada di samping shanum terus merangkul shanum satu persatu wartawan mulai melontarkan segala macam pertanyaan pada Arthur dan shanum.satu persatu Arthur menjawab pertanyaan ia tak memberikan kesempatan pada shanum untuk berbicara karena Arthur khawatir pertanyaan itu Akan meluas ke arah yang tak diinginkan terlihat raut kekecewaan pada semua wartawan yang hadir mereka sangat menantikan shanum untuk berbicara namun shanum hanya tersenyum. setelah konprensi pers selesai arthur segera membawa shanum meninggalkan aula istana pusat,


shanum berjalan cepat Arthur masih terus menggenggam jemari shanum


"kenapa aku harus diam dan tersenyum padahal aku bisa menjawab pertanyaan mereka" ucap shanum,Arthur hanya diam


" dan kenapa harus berbohong, aku kan memang berasal dari desa dan anak yatim piatu" ucap shanum dengan lirih, Arthur menarik nafasnya dalam dalam ia menghentikan langkah dan memberikan kode kepada pengawal untuk meninggalkan Mereka berdua


Arthur memandangi wajah shanum yang tertunduk lalu memeluknya dengan erat


"maaf, aku lakukan ini semua untuk kebaikanmu shanum"


" aku tahu, yaa bila aku jujur reputasi dan citra kerajaan akan buruk" ucap shanum ia tak membalas pelukan Arthur

__ADS_1


"syukurlah bila mengerti dan terimakasih kamu mau mengerti akan keadaan istana"


"tapi apa benar aku akan menjadi calon istrimu, bukan hanya di depan media saja kita kan.." shanum tak melanjutkan ucapannya Arthur melipat kedua tangannya dan menatap shanum


" bisa ga sih kalo aku lagi bicara serius kamu tidak menatap seperti itu" ucap shanum sembari membuang pandangannya


"kenapa??!, heumm, takut?, mau ngomong apa, masih ga yakin kalo kamu beneran calon istri aku" ucap Arthur dengan pertanyaan memburu.


" apa aku bisa"


"pasti bisa" ucap Arthur dengan tegas


" aku mau pulang"


" oke" lagi lagi Arthur menjawab dengan cepat


" kapan aku bisa keluar istana dan tinggal di desa lagi"


"gak akan pernah, selamanya kamu di sini" ucap Arthur sembari menatap shanum, terlihat bulir air mata mulai memenuhi pelupuk mata shanum, Arthur menarik nafasnya dalam dalam lalu membelai kepala shanum dengan lembut


"apa yang kamu takutkan, apa yang kamu khawatirkan" tanya Arthur,shanum hanya diam dan tertunduk sembari menggelengkan kepalanya


Arthur memeluk shanum dan menenangkannya ia menepuk lembut bahu shanum.


" malam ini kita ke valas yaa" bisik Arthur pada shanum, shanum hanya menganggukkan kepalanya sembari terisak.


malam keberangkatan pun tiba, semua sudah bersiap dengan pakaian casualnya dan ternyata keberangkatan Arthur ke desa valas diketahui oleh raja Theodore tiba tiba Merry datang menghampiri Arthur dan shanum yang tengah bersiap


" haaah, selalu saja seperti itu pasti ia akan mengulur waktu sehingga aku tak jadi menuju desa valas" ucap Arthur dalam hatinya


" ohh iya ka Merry aku ke sana " ucap shanum ia berjalan namun tiba tiba Arthur menarik lengan shanum


" tidak usah aku tahu apa yang Akan ayahanda bicarakan" ucap Arthur dengan dengan dinginnya


" Arthur, kita mau keluar istana apa salahnya pamitan dulu, apa ada yang salah?" ucap shanum ia sedikit kesal pada Arthur


"aku ga mau!" ucap Arthur memandangi wajah shanum dengan dingin tanpa senyum


" aku mau!" ucap shanum Mery hanya diam melihat Arthur dan shanum sedikit bersitegang, shanum mulai melangkahkan kakinya


" kamu keluar dari sini dan menemui ayahanda percaya sama aku malam ini tidak jadi ke valas!! " langkah shanum terhenti. ia menahan kesal


" seburuk apapun mereka tetap orang tuamu kita harus pamit"


" ayo berangkat pesawat sudah siap, Mery sampaikan pada ayah aku tak sempat berpamitan ayoo" ucap Arthur ia menarik paksa lengan shanum membuat shanum semakin kesal di perjalan shanum menepis lengan Arthur,


"dayang sun. bareng aku ajah" ucap shanum ia menghampiri dayang sun dan menarik lengan dayang sun

__ADS_1


"taaaa..taaapiii nona" ia terlihat ketakutan melihat tatapan Arthur yang menyeramkan


" hhhaaaehhh" Arthur menarik nafasnya dalam dalam semua sudah berada dalam pesawat semuanya terdiam aura dalam pesawat begitu panas dan tak nyaman. Arthur dan shanum terdiam Leo Laras dan dayang sun saling berpandangan, suasananya sangat hening.


"ah,apa semuanya mau cemilan kebetulan aku bawa begitu juga cemilan kesukaan yang mulia" ucap dayang sun memecah kesunyian


"ck.." Leo berdecak sembari ,memicingkan matanya pada dayang sun.


" dayang sun perjalan hanya satu jam kenapa kamu terpikirkan untuk membawa makanan ringan simpan sa.."


" aku mau, sini " shanum memotong ucapan Arthur dan meraih makanan ringan di tangan dayang sun ia makan cemilan itu tanpa mempedulikan Arthur ia terus memandangi ke luar jendela, Arthur kembali terdiam ia melirik pada shanum


" haah,perang dingin ini sih namanya" ucap Laras dalam hatinya sembari melirik ke Leo


"pasangan kekasih sedang bertengkar" ucap Leo dalam hatinya sembari melirik ke Laras seolah mereka saling bicara lewat tatapan mata


"ga seruu nih, haeeh cuma gara gara ga pamit jadi seperti ini" bisik dayang sun dalam hatinya ia hanya bisa memanyunkan bibirnya sembari membulak balikan makanan ringan di tangannya


"heumm " ucap dayang sun sembari menawari makanan ringan ke Leo, Leo menggelengkan kepalanya menolak


"haaehhh, heumm" ia kembali menawari makanan ringan ke Laras, Laras pun menggelengkan kepalanya seraya menolak


" kenapa jadi jadi tidak enak begini suasananya" sektika terucap dari mulut dayang sun membuat Arthur,Leo dan laras menolah ke dayang sun wajahnya memucat ia tak sengaja berucap seperti itu


" maaf..yang mulia saya lancang"


" gak apa apa ini di luar istana gak ada raja pengawal atau apapun semua sama seperti rakyat jelata kamu boleh bicara apapun. sesuka kamu dayang sun, aku yang izinkan" ucap shanum Arthur kembali menarik nafasnya dalam dalam


"maaf.." ucap Arthur pada shanum, leo dan Laras terlihat sedikit lega, mendengar Arthur meminta maaf pada shanum


" kamu hanya kehilangan ibu, dan memiliki pengganti, tapi kamu ga akan pernah tau rasanya kehilangan keduanya, bagaimana rasanya mereka khawatir akan keselamatan anak anaknya seburuk-buruk nya orang tua, ia tetap orang tua kalo kamu egois tanamkan saja di dirimu sendiri jangan ajak orang lain" ucap shanum dengan tenang namun menusuk


"karena aku tau ayah akan bicara apa beliau pasti akan melarang"


"sok tahu!!" ucap shanum kembali


"shanum, kamu gak tau apa apa " ucap Arthur


"iyaa karena aku tidak tahu apa-apa makanya kamu ajak aku ke istana kan"


"ayah akan melarang kita ke valas"ucap Arthur menahan emosi


" oh yaa, yakin? kata siapa?" ucap shanum sembari membuka ponselnya lalu ia mendekati layar ponsel itu pada Arthur,Arthur terdiam


" beliau menelpon ku berkali kali Arthur,padahal beliau seorang raja sedangkan aku hanya rakyat biasa, kamu tau apa yang ayahmu katakan, dia tidak melarang, dia hanya mengucapkan hati hati tetap waspada ia meminta jangan jauh dari kamu begitu, menurut mu melarang" ucap shanum dengan kesal


Arthur kembali menghela nafas panjang begitu juga Leo dan Laras dayang sun hanya diam

__ADS_1


"sudahlah lupakan" ucap Arthur , shanum terdiam kembali suasana malam itu sangat tak nyaman untuk semuanya.


Leo, Laras dan dayang sun hanya bisa menaikan kedua alisnya dan saling menarik nafas.


__ADS_2