
Arthur terus memandangi wajah shanum ia dengan lembut membelai wajah shanum, shanum menggeliat dan perlahan membuka matanya
"Arthur..." Ucap shanum setengah mengantuk
"Hai...bagaimana keadaanmu" ucap arthur dengan lembut
"Tulangku terasa remuk," ucap shanum sembari menutup matanya.
Dengan lembut arthur mencium kening shanum, shanum hanya tersenyum ia mulai merasakan hangatnya cinta yang di berikan oleh Arthur, ia merasa di lindungi oleh arthur namun tiba tiba ia ingat akan ucapan Theodore ia tak boleh larut dalam perasaan itu, karena ini hanyalah balas budi.
"Arthur, tolong mulai hari ini seteleh aku sembuh nanti jangan pernah menemui ku yaa" ucap shanum
"Kenapa,kamu melarangku,??" Tanya Arthur
"Iyaa"
"Sudah berani rupanya??" Ucap arthur sembari menatap tajam pada shanum, shanum tak berani menatap arthur ia membuang pandangannya
"Lihat aku.." ucap Arthur namun shanum tetap tak ingin melihat mata Arthur
Dengan kesal Arthur memaksa shanum untuk menatapnya dengan lembut ia mencium bibir shanum, shanum ingin menolak namun ciuman arthur terasa hangat, dan shanumpun larut dalam ciuman yang hangat itu, Arthur melepaskan ciumannya ia membelai lembut pipi shanum
"Apa kamu bisa melarangku sedangkan aku sudah terlanjur mencintaimu, apa kamu bisa melarangku untuk menemui kamu sedangkan aku ingin melindungi dan menyayangi mu ,heuh..!" Ucap arthur dengan lembut
"A..aku...hanya merasa tak pantas"
"Aku tak peduli, aku haya mencintaimu shanum,aku ingin kamu di sisiku"
"Tapi ...!"
"Berani menolak seorang tiran!" Ucap arthur dengan nada menekan
"Maaf ." ucap shanum terkadang ia lupa bahwa banyak rumor arthur adalah putra mahkota yang tiran
"Sebegitu takutnya kamu Padaku?"
"Aku hanya rakyat yang tak ingin membantah perintah keluarga kerajaan itu saja" ucap shanum
Arthur memeluk shanum setelah mendengar ucapan shanum,
"Istirahat lah, aku akan menunggumu di sini"
"Yaa.." ucap shanum ia pun merebahkan tubuhnya kembali dan Arthur menyelimuti tubuh shanum ia terus membelai wajah shanum
"Oh arthur, boleh aku bertanya?"
"Boleh"
"Mengapa kamu tahu aku sedang dalam bahaya"
__ADS_1
"Heum, itu.. intuisi ku saja,pasti saat itu kamu ketakutan kan?"
"Heum, iyaa aku merasa saat itu adalah hari terakhir aku hidup, aku tak akan bertemu shanaz lagi, aku tak akan..." Shanum terdiam
" bertemu aku lagi" ucap arthur melanjutkan
"Hahaha, percaya dirimu tinggi sekali" goda shanum
"Aku akan terus jaga kamu shanum, tak ada seorangpun yang akan berani menyentuh mu sedikitpu aku janji itu"
"Haahahah jangan begitu, semua sudah takdir tuhan perjalanan ini, pertemuan ini kita hanya menjalani saja" ucap shanum arthur hanya diam mendengarkan ucapan shanum.
Keesokan harinya keadaan shanum sudah membaik tiba tiba seorang wanita dengan pakain kerajaan datang mendatangi kamar perawatan shanum
Shanum terkejut ia berdiri dan membungkuk
"Hormat saya yang mulia ratu" ucap shanum,ia hanya tersenyum memandangi shanum
" Namamu shanum," ucapnya sembari meraih jemari shanum,
"Iya yang mulia"
"Bagaiman keadaanmu, pasti sangat sakit,"
"Saya baik baik saja"
"Arthur mengatakan kamu mengalami kecelakaan, dan sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kamu sudah menolong arthur"
"Anak baik, tapi apakah benar atas dasar itu, ohh maksudku apakan bener kamu tak tahu bahwa dia adalah putra mahkota" ucap ratu elisa dengan dingin dan tegas
"Iyaa yang mulia saya tidak tahu beliau adalah putra mahkota"
"Esok hari kamu akan kembali ke desa valas, kami sudah menyiapkan kompensasi untuk mu semoga kamu bisa menerimanya" ucapnya shanum hanya diam
"Tak ada kompensasi dan shanum tetap di sini" ucap Arthur yang tiba tiba masuk bersama leo
ratu elisa hanya diam, tak menjawab
"Silahkan yang mulia ibu ratu tinggalkan tempat ini dengan penuh hormat" ucap arthur, ratu elisa hanya menarik nafasnya dalam dalam
"Baiklah, senang berkenalan dengan mu nona shanum"
"Iya yang mulia ibu ratu" ucap shanum sembari sedikit membungkuk lalu ratu elisa pun pergi menatap sedikit sinis pada Arthur
Arthur berjalan perlahan dia menghampiri shanum dengan kesal
"Kenapa tidak menghubungi ku karena kedatangan ratu" ucap arthur shanum hanya diam ia kebingungan
"Ma...maksud kamu, menghubungi dengan cara apa??, telepati,aku ga bisa, telepon aku tak bawa handphone"
__ADS_1
"Aaaissshh..aku lupa, leooo" panggil arthur,
"Ya yang mulia"
"Kembali ke istana ambil kotak yang aku simpan di dalam ruang kerjaku di meja laci ke 3" ucapnya dengan tegas
"Baik yang mulia" leo meninggalkan ruangan dengan cepat
"Apa yang dia bicarakan??"
",Heum tidak ada,ibu ratu hanya menyapaku"
"Benarkah?" Ucap arthur dengan tatapan memburu
"Benar,aku tak akan bohong"
"Mulai hari ini kamu akan tinggal di istana!" Ucap Arthur
"Apaaa!!!" Shanum berteriak
"Aku tidak mau, bagaimana dengan rumahku, tanamanku,kebunku semuanya" ucap shanum dengan panik
"Semua sudah ada yang mengatur dan mengurus mulai Sekarang kamu tinggal di istana"
"Tapi.." ucap shanum, ia ingin menolaknya namun tatapan dingin arthur membuat shanum tak kuasa untuk menolak
"Rumahmu akan baik baik saja"
"Tapi apakah sesekali aku boleh pulang"
"Boleh, di saat semuanya sudah aman kamu boleh pulang tapi aku akan tetap ikut dan beberapa pengawal"
"Hhhaaahhh...baiklah"
"Maaf,aku lakukan ini hanya untuk melindungi mu shanum" ucap arthur dalam hatinya.
Sementara itu raja Theodore bersama ratu elisa sedang berada di ruangan ibu suri, Dan mereka berbincang tentang shanum yang akan tinggal di istana
"Apakah ibu suri yakin akan keputusan ini" tanya raja Theodore
"Ya, aku akan mengajari semuanya tentang tata krama kerajaan pada shanum, dan aku akan menjadikan nya pendamping untuk arthur"
"Tapi ibu suri, dia dari kalangan bawah" ucap raja Theodore
"Bila shanum dari kalangan bawah yang menjadi persolan bagaimana dengan istrimu ini yang datang dari kalangan yang sama??" Ucap ibu suri denga tegas
"Maaf yang mulia ibu suri" ucap raja Theodore,ratu elisa hanya diam tak ikut menjawab
"Aku hanya ingin melihat Arthur memiliki pendamping yang ia cintai, tanpa menjodohkan aku tak peduli akan ucapan dari para tetua, aku hanya ingin arthur tak mengikuti jejakmu dan mendiang istrimu" ucap ibu suri berkaca kaca
__ADS_1
Semua hanya diam tak ada yang berani membantah perintah dari ibu suri akan kedatangan shanum ke istana.