
Makan malam pun tiba shanum telah bersiap dengan pakaian yang telah di pilihkan, ia hanya diam mengikuti, dan ia pun berjalan menuju pusat istana untuk makan malam bersama keluarga kerajaan
Ia berjalan dengan hati hati seekali ia ingin terjatuh karena tak biasa mengenakan sepatu dengan hells tinggi.
"Ka laras, apakah aku boleh hanya memakai sendal jepit?" Tanya shanum seraya memasang wajah memelas
"Tidak boleh nona peraturan istana tidak boleh memakia alas kaki yang memperlihatkan jari jari kaki ketika berada di luar ruangan. Bahkan di dalam saja nona di haruskan memakai sandal tertutup" ucap laras denga tegas, shanum hanya menarik nafasnya dalam-dalam
Ia terkejut ia melihat sosok arthur yang tengah menunggunya di pintu istana.
Arthur memandangi wajah shanum yang terlihat cantik malm itu ia tersenyum melihat kedatangan shanum.
"Apakah aku harus ikut??". Ucap shanum
"Iya tentu saja"
"Seandainya aku boleh menolak" ucap shanum kembali arthur hanya tersenyum
"Kenapa??" Tanya Arthur
"Seandainya kamu tahu apa yang saat ini aku rasakan ingin rasanya aku pergi dan tak ikut makan malam bersama keluarga kerajaan" ucap shanum sembari menepuk dadanya yang terus berdebar
"Ada aku, ayoo" Arthur meraih jemari shanum dan menggenggam nya seraya berjalan bersama didalam ruang makan kerajaan telah duduk bersama seluruh keluarga.
"Selamat malam, ibu suri, ayahanda dan ibu ratu" ucap Arthur sembari membungkuk memberi hormat, begitu pula dengan shanum
"Duduklah, " ucap ibu suri dengan senyum ramahnya
Raja Theodore hanya diam tanpa senyum begitu pula ratu elisa, shanum menyadari bahwa ia orang asing ia hanya tertunduk.pelayanpun menyiapkan makan malam dengan berbagai hidangan spesial.
"Whooaa enak sekali dan sangat harum" ucap shanum dalam hatinya matanya berbinar-binar melihat hidangan makan malam, namun ia coba untuk tetap tenang
Arkana yang memperhatikan sikap shanum hanya tersenyum pelayan menyiapkan hidangan steak dengan daging terbaik dan cita rasa yang sangat nikmat di buat oleh koki terbaik di istana,shanum terkejut di meja banyak sekali peralatan makan dari sendok garpu dan pisau berbagai ukuran.semua telah mulai makan malam, shanum masih kebingungan
"Makan lah" ucap arthur seraya memberikan piring berisikan steak miliknya yang telah ia iris agar shanum lebih mudah untuk memakannya
"Ah, terima kasih" ucap shanum sembari tersenyum semua memandang heran pada Arthur, raja Theodore mengehentikan makan malamnya ia terus memandangi arthur dan shanum
"Whooaa enak banget dagingnya lumer di mulut pasti ini daging yang mahal itu yaa" ucap shanum dalam hatinya, ia sedikit tersenyum ceria
"Ehemm.." ratu elisa berdehem melihat tingkah shanum
__ADS_1
"Seperti nya nona shanum esok hari sudah harus memulai segala pelajaran di istana, bagaimana yang mulia ibu suri apakah ibu suri setuju" ucap ratu elisa dengan dingin, shanun terdiam ia tak melanjutkan makannya
" Yaa, lebih cepat lebih baik, bagaimana shanum??" Tanya ibu suri
"I..iyaa nek.." ucap shanum
"Nek...! Tolong lebih sopan pada ibu suri" ucap ratu elisa dengan tegas ,raja hanya diam sembari meminum air putih hangatnya
"Tak apa, aku yang menyuruhnya memanggil ku nenek, agar ia lebih nyaman, bukankah begitu shanum?,hehhe.hee" ucap ibu suri sembari tertawa dengan lembut
"Iyaa nek, maaf ibu suri" ucap shanum ia sedikit takut
"Braak!!" Arthur menaruh pisau steak dengan sedikit membanting
"Biarkan dia makan dahulu, setelah nya silahkan ibu ratu membicarakan semua hal di istana pada shanum" ucap Arthur dengan dingin, ratu elisa hanya diam menahan kesal.
"Shanum, apakah kamu mempunyai keluarga, ayah ibumu saudara saudarim handaitaulan mu" tanya raja Theodore pada shanum
"Maaf yang mulia raja, saya tak memiliki orang tua, saya..."
"Shanum, yatim piatu, sebaiknya ayahanda bertanya ini semua padaku saja" ucap arthur
"Ayoo habiskan makananmu" ucap arthur pada shanum, shanum hanya mengangguk perlahan
Lalu tal lama kemudian pelayan membawakan semangkung cream soup hangat semua menikmati hidangan shanum meraih sendok emas di hadapannya
"Ehem...apakah kamu tidak tahu,tata krama di meja makan tentang penggunaan alat makan sendok,garpu dan pisau" ucap ratu elisa, ia kembali berucap
"Shanum, pakai yang ini" ucap arkana sembari memperlihatkan sendok yang ia pegang
"Oh makasih " ucap shanum, arkana hanya tersenyum, Arthur menatap kesal pada arkana.
"Sudahlah, elisa jangan terlalu tergesa-gesa mengenalkan dan mengajari shanum tentang segala hal dalam istana ia butuh waktu untuk adaptasi" ucap ibu suri
"Iya ibu suri,"
"Shanum nanti akan di ajarkan table manner yang baik ya, semoga kamu bisa mengikuti nya" ucap ibu suri pada shanum dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya
"Table manner itu apa?" Bisik shanum pada arthur
"Pelajaran tentang tata krama yang baik di meja makan ini biasa di lakukan oleh keluarga kerajaan dan bangsawan" ucap arthur semberi berbisik
__ADS_1
"Ooh, begitu, jadi makan dengan anggunly agar kuku tetap slayyy ,tidak barbarly" ucap shanum dalam hatinya seraya mengikuti ucapan salah satu selebgram. Ia menahan tawa arthur hanya melirik dan ikut tersenyum
Setelah makan malam arthur mengantarkan shanum ke istana timur mereka berjalan dengan hati hati tiba tiba langkah shanum terhenti arthur yang berjalan lebih dulu menyadari bahwa shanum terhenti
"Kenapa?? Apa ada masalah?" Tanya arthur
"Ahh, heumm tidak" ucap shanum ia terlihat sangat tidak nyaman, arthur berjalan menghampiri shanum ia melihat shanum seperti menahan sakit
"Kaki mu sakit?"
"Hehe iyaa, seperti nya lecet, karena ini kali pertama aku pakai hells dan ini sangat tidak nyaman" ucap shanum.
Arthur pun bersimpuh di hadapan shanum membuat pada pengawal terkejut begitu pula pengawal shanum.
"Hei...mau apa??"
"Buka sepatu mu" ucap Arthur
"Tak usah aku baik baik saja" ucap shanum merasa tak enak hati, Arthur pun menatap shanum dengan dingin
"Baiklah ." Ucapnya perlahan,ia melihat luka di tumit shanum akibat terlalu lama memakai heels
"Laras....!" Ucap arthur
"Ya yang mulia,"
"Tolong pegang sepatu shanum biarkan dia berjalan bertelanjang kaki" ucap arthur
"Ta...tapi.. ini kan istana bukankah aturan di sini tak boleh bertelanjang kaki" ucap shanum
"Aturan di buat untuk di langgar kan!" Ucap arthur ia mencopot kedua sepatu shanum dan memberikan pada laras
"Ayo jalan" ucap Arthur ia menggandeng lengan shanum
"Sudah lebih baik kan??" Tanya arthur
"Hahaha iyaa, terima kasih, tapi apakah tidak akan mendapatkan masalah bila seperti ini"
"Tidak apa-apa" ucap Arthur dengan dingin
Jarak istana timur dan pusat memang cukup jauh, dan shanum harus terbiasa dengan sepatu heels nya malam itu Arthur berjalan bersama shanum ia mengantarkan shanum hingga istana timur.
__ADS_1